Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Kelinci Percobaan.


__ADS_3

Audy tidak bisa mengelak lagi. Dia menggaruk belakang kepalanya, tampak berpikir.


"Kak Audy mau makan, lapar." Audy beranjak dari kamarnya sebelum Nadia bertanya yang membuat Audy mati kutu.


"Kak Audy belum jawab pertanyaanku!" pekik Nadia.


Ayu dan seorang asisten rumah tangga sedang menyiapkan makan siang.


"Sore, Ma. Masak apa hari ini." Audy terlihat sumringah.


Ayu tersenyum menatap Audy. "Masak sayur bayam sama Ayam goreng."


"Baunya harum ... bikin perut makin lapar." Audy mencicipi satu paha ayam yang tersaji di meja."


"Makannya nanti dulu ya, setelah magrib," ucap Ayu.


"Iya, Ma ...." Audy terlihat cemberut.


Audy mencoba melupakan masalahnya sendiri. Berikutnya dia ingin bertemu dengan Sonia Jubaedah istri dari Ryan.


Di tempat lain, Ryan mulai terbangun, kepala masih terasa pusing, matanya masih samar menatap ke depan. Dia hanya teringat saat terakhir kali menenggak minuman bersama Audy.


Dilhatnya meja kerja terlihat berantakan. Ryan sedikit panik memeriksa berkas yang ada di dalam laci meja kerjanya. Masih utuh, tidak ada yang hilang, tapi sedikit berantakan. Ryan belum tau kalau Audy pelakunya. Dia juga belum sadar kalau obat perangsang yang di taruh di dalam laci sudah di ambil oleh Audy.


Dengan kepala yang masih berat, Ryan turun memeriksa keadaan. Suara handphone terdengar di saku celananya. Itu dari istrinya yang berada di Jepang.


📲"Halo, sayang ... gimana kabar kamu disana?"


📲" I am fine. But the way aku mau balik ke Indo minggu depan."


Ryan tampak tidak suka istrinya datang


📲"O ya ... kapan? Biar nanti aku jemput."


📲"No darling ... aku naik taksi saja. Kamu jaga cafe saja. Oke."


📲"Oke kalau begitu. Aku tunggu di cafeshop kita."


📲"Oke. Sampai ketemu minggu depan. Muachh."


Ryan membalas ciuman itu, lalu mematikan panggilan handphone nya.


"Jangan sampai Audy ketemu dengan istriku." Ryan bermonolog.


Hari selasa, Audy berusaha bangkit dari keterpurukannya. Yang lalu biarlah berlalu, masih ada skripsi yang siap menanti. Minggu depan juga ada KKN. Audy berdandan secukupnya menunggu ojeg online yang dia pesan melalui aplikasi.


Reihan terlihat mendekat memakai sepeda motornya. Audy berharap Reihan berhenti dan mengajaknya berangkat bersama. Namun, Reihan hanya berlalu tanpa menatap Audy. Reihan pantas melakukan itu, ini salah Audy yang tidak pernah mendengar nasehat dari Reihan. Nasi sudah menjadi bubur, Audy harus menerimanya.


Ojeg online sudah sampai di depan rumah Audy. Audy masih terperangkap pemikiran tentang Reihan. Hingga Audy terperanjat saat abang ojeg memanggil namanya. Audy segera naik berangkat menuju kampus.


Lima belas menit Audy sudah sampai di depan pintu gerbang kampusnya. Levi menyapanya dengan wajah sumringah.


"Pagi putri keong, tumben gak diantar sama pangeran."


Audy tertawa kecil, Levi memang paling bisa memecah suasana.

__ADS_1


"Malah ketawa, masuk yuk!" ajak Levi.


Audy mengangguk berjalan di belakang Levi. Reihan menyapa Levi, Reihan tidak tahu kalau di belakangnya ada Audy.


"Gue tungguin, jadi gak kita KKN bareng," ucap Reihan.


"Jadi dong, kita butuh berapa orang?" tanya Levi.


"Empat orang."


"Ya udah ajak Audy sekalian."Levi menoleh menunjuk Audy.


Reihan menepuk pundak Levi, langsung pergi saat melihat Audy.


"Woy ... mau kemana!" Panggil Levi.


Reihan tidak menoleh, dia cuek berjalan menjauhi Levi dan Audy. Levi menjadi bingung mengendikan kepala ke arah Audy. Audy terlihat menunduk.


"Lo masih berantem sama Reihan?"


Audy melirik Levi, lalu menganggukkan kepala perlahan.


"Pantes saja. Kirain lo berdua sudah baikan."


"Baikan apanya, yang ada Reihan malah semakin marah sama gue," ucap Audy lirih.


"Dia kecewa tu, cintanya lo tolak."


Audy mengangkat kepalanya, terlihat geram. "Gue gak nolak, Levi. Dia nya saja yang egois."


Audy pergi meninggalkan Levi dengan wajah masam. Levi semakin tidak mengerti, pagi-pagi sudah di suguhkan kisah percintaan anak manusia yang membingungkan baginya.


Saat jam makan siang, Audy hendak mentraktir Levi. Audy ingin menaruh obat kapsul kedalam minumannya Levi, dia ingin tau bagaimana reaksi Levi saat meminum obat itu.


Jam segini Levi biasanya sudah ada di kantin, Audy menuju kesana. Benar saja Levi terlihat celingukan seperti mencari seorang.


"Levi!" Audy menepuk pundak Levi dari belakang.


Levi terperanjat. "Eh, lo, Dy. Ada apa?"


"Mau makan gak?"


"Ya maulah!" seru Levi.


"Ayo."


"Lo mau traktir gue?"


Audy mengangguk sambil menyunggingkan senyum.


Levi tertawa senang. "Jarang-jarang ada cewek cantik yang mau traktir gue."


Audy berwajah cemberut. "Gue sering kali traktir lo."


"Itu 'kan karena gue paksa. kalau ini 'kan lo yang ngajakin." Levi tersenyum lebar.

__ADS_1


Audy ikut tersenyum, lalu mereka berdua duduk di satu meja saling berhadapan.


"Lo di sini saja biar gue yang pesenin buat lo," ucap Audy.


"Tumben banget nie gue di service."


"Sudah gak pa-pa, lo mau pesan apa?" tanya Audy.


"Nasi rames pake ayam, minumnya es teh manis saja," jawab Levi tersenyum riang.


"Oke." Audy segera memesankan makanan untuk Levi.


Tak berselang lama, Audy membawa makanan sesuai pesanan. "Ini pesanan lo."


Levi tersenyum. "Thank you putri keong."


"Yah ... gue lupa pesan minuman buat gue." Audy menepuk keningnya.


"Ya sudah lo mau pesan apa?" tanya Levi.


"Jus Alpukat sajalah."


Levi beranjak dari tempat duduknya. Dengan segera Audy mencampur obat itu ke dalam munuman Levi.


"Nie es teh." Levi menaruh jus alpukat di meja depan Audy.


"Makan, Lev." Audy memulai duluan.


Levi dengan lahap memakan nasi yang ada di hadapannya. Sebagai penutup, Levi meminum es teh yang sudah dicampur dengan obat sampai habis.


beberapa menit kemudian, badan Levi terasa panas. Dia mengibas-ibaskan tangannya.


"Lo kenapa, Lev?" tanya Audy.


"Gak tau nie ... tubuh gue rasanya panas." Levi terus menggeliyat menggaruk badannya tidak beraturan.


Audy baru menyadari kalau itu adalah obat perangsang. Berarti waktu itu Ryan memberikan obat perangsang supaya Audy mau melayani nafsu bejatnya. Audy semakin geram mengingat kejadian itu.


"Gue ke kamar mandi dulu ya." Levi segera berlari ke kamar mandi. Wajahnya mulai memerah. Semakin lama semakin panas, sepertinya harus ada hasrat yang ingin dia keluarkan. Napasnya semakin menderu.


Saat keluar dari kamar mandi, Levi tidak sengaja menabrak Reihan hingga dia terjatuh.


"Lo kenapa, Lev?" tanya Reihan.


"Gak tau, badan gue panas. Rasanya pengen main sama cewek."


Reihan mengangkat satu alisnya.


"Bawa Levi ke ruang kesehatan. Cepet!" perintah Audy.


Tanpa pikir panjang, Reihan segera memapah Levi menuju ruang kesehatan, lalu membaringkan Levi yang terus menggeliyat.


"Berikan vitamin K." Audy dan Reihan mencari vitamin K di dalam kotak P3K.


"Sebenarnya apa sih yang terjadi pada Levi?" tanya Reihan yang ikut panik.

__ADS_1


"Sudah gak usah banyak nanya," jawab Audy yang sibuk memberi obat pereda.


Bersambung ...


__ADS_2