Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Mulai Ada Tanda.


__ADS_3

Audy memalingkan wajahnya kepada Nadia. Rasanya sakit saat berkata tidak sesuai dengan kata hati.


"Nadia kira Kakak suka sama Reihan."


"Memang kenapa, Nad. Kamu suka sama Reihan?"


Nadia tersenyum, lalu beranjak dari tempatnya. Audy menunduk saat Nadia masuk ke dalam. kelihatannya Nadia juga suka dengan Reihan. Tapi 'kan Nadia sudah punya Aldo. Pikiran Audy sudah di penuhi hal negatif tentang Reihan.


Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Audy. Itu Ayu baru pulang dari toko kue. Audy membuka pintu pagar untuk mamanya. mobil Ayu masuk menuju garasi rumah. Audy berjalan lunglai menundukkan kepala.


Ayu sudah ada di depannya, tersenyum dengan kacamata hitam menatap Audy. "Kalau kayak gini Mama sudah bisa menebak, pasti lagi pusing gak punya uang."


Audy menyunggingkan senyum, lalu berjalan melewati Ayu.


"pintu pagarnya ditutup dulu dong, sayang." pinta Ayu.


Audy menoleh dengan malas. "Mama sajalah yang nutup."


Ayu menggeleng.


Audy masuk rumah melihat Nadia tengah asyik memakan jeruk.


"Mama sudah pulang, Kak?" tanya Nadia.


"Sudah." Audy naik tangga menuju kamarnya.


Suara handphone Audy berbunyi. Itu panggilan dari Reihan. Audy gerak cepat mengangkat panggilan itu.


📲"Halo, Rei."


📲"Lo sudah denger kabar belum?"


📲"Belum, memang ada apa?"


📲"Satu bulan lagi kita liburan, Audy. Anak-anak mau ngajak camping. Lo ikut ya."


Audy tersenyum lebar menggenggam tangannya.


📲"Boleh."


📲"Nanti lo jadi wakil ketua ya."


📲"Terus ketuanya siapa."


📲"Ya gue lah. Lo siapin semuanya mulai dari sekarang."


📲"Oke."


Audy menutup hp nya dengan wajah berseri. Ini kesempatan Audy supaya bisa lebih dekat dengan Reihan. Audy bercermin melihat lekuk tubuhnya. Dia masih kurang puas dengan bentuk tubuhnya saat ini. Audy ingin punya bentuk tubuh seperti Nadia. Mulai saat ini Audy harus berolah raga dengan disiplin.


Pagi harinya, Audy bangun lebih awal. Mulai hari ini dan seterusnya Audy tidak mau membuat Reihan harus membunyikan klakson motornya untuk menghampirinya. Audy terlihat cantik dengan celana skinny dan kemeja biru polos serta rambut panjang kemerahan yang tergerai indah.


Tak berselang lama Reihan datang tersenyum menatap Audy.

__ADS_1


"Tumben lo sudah ada di depan," ucap Reihan.


Tiba-tiba Nadia berlari dengan napas terengah berhenti di depan motor Reihan.


"Rei, bisa tolongin gue gak." Nadia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Apa, Nad."


"Gue pagi ini harus ngumpulin tugas. Lo bisa nganterin gue gak? Kalau nunggu taksi gak sempat," ucap Nadia menderu.


"Ya sudah ayo naik."


Nadia segera naik di belakang Reihan.


Reihan menghidupkan motornya. "Gue duluan ya, Dy."


Audy kecewa memanyunkan bibir, dia sudah berdandan cantik untuk Reihan. Namun, yang dapat perhatian malah Nadia. Audy akhirnya memesan ojeg online.


Di kampus Nadia dan Reihan datang lebih awal. Nadia berterima kasih kepada Reihan Karena sudah mengantarnya. Reihan tersenyum menatap Nadia, mata mereka saling beradu cukup lama.


Aldo yang sedari tadi ada di parkiran, membuyarkan pandangan mereka. Reihan dan Nadia terperanjat menatap Aldo.


"Lo kok mau sih diantar sama motor butut, Nad" umpat Aldo.


"Memang kenapa, lo gak suka," timpal Nadia.


"Iya gue gak suka. Gue gak suka kalau lo deket-deket sama pria lain. Kita belum putus, Nad."


Nadia tersenyum kecut menatap Aldo. "Oke ... sekarang kita putus. Gue gak mau ngelihat muka lo lagi." Nadia berlalu meninggalkan Aldo.


Reihan tersenyum sinis menepuk pundak Aldo. "Sabar ya bro. Mungkin lo gak pantes sama Nadia."


Aldo dengan sigap langsung mencengkram kerah bajunya Reihan. "Lo jangan macam-macam sama gue ya!"


Reihan terkekeh. "Cowok kayak lo memang pantas di gituin sama cewek!"


Aldo semakin emosi, dia sudah berancang-ancang ingin memukul Reihan. Audy yang melihat Reihan hendak di pukul pun meneriaki Aldo.


"Woy ...! Mau apa lo!" Audy menghampiri Reihan.


Aldo menoleh, lalu melepas cakalan tangannya.


"Awas lo ya, tunggu balasan dari gue," ancam Aldo, lalu pergi meninggalkan Reihan.


"Lo gak pa-pa 'kan, Rei?"


Reihan tersenyum. "Gak pa-pa, Dy. Makasih ya."


"Aldo marah-marah sama lo pasti karena Nadia ya?" tanya Audy.


Reihan mengangguk. "Habis di putusin sama Nadia."


Audy terkejut. "Diputusin, kok bisa."

__ADS_1


Aldo mengangkat bahu. Audy semakin menyimpulkan kalau Nadia memang suka dengan Reihan. Masak iya Audy harus saingan sama adiknya sendiri.


"Audy, lo kenapa?" Reihan membuyarkan lamunan Audy.


Audy gelagapan. "Gak pa-pa kok. Yuk masuk."


Audy dan Reihan berjalan beriringan masuk kelas.


Dalam sebuah diam Audy tetap mengagumi Reihan. Audy tidak bisa membenci Reihan. Untuk saat ini Audy hanya bisa mencintai Reihan tanpa Reihan perlu tau perasaannya.


Sejak saat itu sikap Audy dan Reihan mulai berubah. Audy tidak bisa lagi ceplas-ceplos ngomong sama Reihan. Audy lebih sering diam kalau gak di ajak ngobrol duluan sama Reihan.


...***...


Satu minggu sudah berlalu, Nadia semakin dekat dengan Reihan. Setiap hari, bukan Audy yang berada di belakang motor Reihan. Audy yang memintanya, Kini dia ke kampus berangkat sendiri. Posisinya telah diganti dengan Nadia. Entah mereka sudah jadian atau belum. Audy tidak tau, yang jelas Audy mulai terbiasa dengan perasaan ini.


Reihan hanya memberikan tugas kepada Audy tentang persiapan camping tiga minggu lagi. Audy dengan senang hati mengerjakannya.


Pagi di hari senin, Reihan sudah menunggu Nadia di depan rumahnya. Di depan sudah ada Audy yang menunggu ojeg online datang.


"Nadia mana, Dy?" tanya Reihan.


"Ada di dalam. Masuk saja dulu."


"Tunggu di dini sajalah, bentar lagi juga keluar."


Bunyi handphone terdengar dari celana Reihan. Pesan dari Nadia, berhalangan hadir karena sakit.


"Nadia gak berangkat, Lo bareng gue saja, Dy?"


"Gak bisa, Rei. Gue sudah pesan ojeg, kasian nanti abangnya."


"Di batalin saja kenapa sih," desak Reihan.


"Tukang ojeg juga cari makan. Enak saja main batal-batalin saja," omel Audy.


Reihan menatap sinis. "Iya, iya. Tapi gue nunggu lo sampai tukang ojegnya datang."


Audy berdecak. "Terserah lo."


Tak berselang lama ojeg pesanan Audy datang.


"Duluan ya, Rei."


Reihan mengikuti dari belakang. Sedangkan Nadia beralasan tidak masuk karena dia mulai merasakan mual. Apa yang ditakutinya selama ini mulai nampak di bayangannya. Rencananya hari ini Nadia akan periksa ke dokter.


"Nadia kamu sakit, Nak." Ayu mengusap wajah Nadia yang terlihat pucat.


Nadia menggeleng. "Hanya masuk angin, Ma."


"Mama antar ke dokter ya."


"Gak usah, Ma. Bentar lagi juga sembuh. Lagian Mama 'kan mau berangkat kerja."

__ADS_1


Ayu tersenyum simpul menatap anak bungsunya. "Ya sudah. Istirahat yang cukup ya. Jangan telat makan."


Bersambung ...


__ADS_2