
Malam harinya Aldo seperti biasa bekerja sebagai pengantar makanan online. Kali ini dia tidak di temani dengan Reihan. Aldo merasa kalau tante Sonia tidak akan mencelakainya lagi setelah kejadian di cafenya Ryan.
Pukul sembilan malam, Aldo mendapat orderan sepuluh nasi padang komplit dengan rendangnya. Ini bukan dari tante Sonia, Aldo begitu semangat menggantarkan pesanan setelah cukup lama mengantre.
Setelah sampai, Aldo di arahkan di sebuah gudang yang terlihat tidak berpenghuni. Aldo pun ragu, dia nenelpon customer untuk memastikan alamatnya di tuju.
Tiba-tiba dari balik gudang datang dua orang tinggi besar dengan wajah sangar menghampiri Aldo.
Aldo tersenyum. "Pak Rudi?"
Dua orang itu hanya terdiam menatap Aldo tajam. Aldo pun mulai merasakan ada yang tidak beres dengan kedua orang ini. Segera Aldo menyalakan motornya, namun dengan sigap kedua orang tinggi besar itu menendang motornya Aldo hingga dia tersungkur ke tanah.
"Brengsek! Siapa kamu!" teriak Aldo.
Kedua orang itu tidak menjawab, mereka mendekati Aldo. Dengan satu kepalan tangan bogem mentah mendarat di pipi kiri Aldo. Aldo kembali terjatuh merasakan sakit di pipi. Orang tinggi besar itu mencengkram kerah jaket Aldo. Bibirnya berdarah akibat pukulan dari orang itu.
Aldo dipaksa berdiri, lalu dengan sekali tinju di perut Aldo, dia kembali tersungkur memegangi perutnya. Tubuh Aldo mulai lemah, matanya samar melihat kedua orang itu. Dengan suara lirih, Aldo bertanya kepada dua orang tinggi besar itu.
"Siapa kalian?"
Bukannya dapat jawaban, wajah Aldo malah di tendang salah satu orang itu hingga dia pingsan dengan wajah berlumuran darah. Salah satu dari orang itu memeriksa keadaan Aldo.
"Dia hanya pingsan, ayo tinggalkan tempat ini." Dua orang tinggi besar itu pun segera pergi tanpa meninggalkan jejak.
Pagi harinya saat matahari menyinari wajah Aldo, dia tersadar dengan wajah yang penuh lebam. Aldo mencoba berdiri sambil memegang wajahnya yang terasa sakit. Dia bersandar di tembok yang penuh dengan coretan dinding.
"Sial, siapa orang itu. Awas saja kalau ketemu lagi." Tubuh Aldo masih terasa sakit. Hari ini dia tidak bisa berangkat ke kampus.
Sementara itu, Levi yang mencari Aldo di kampus tidak menemukanya. Ditelpon juga tidak diangkat. Levi memutuskan untuk ke tempat kost nya Aldo. Levi mengira Aldo masih tidur.
Saat sampai di sana, kostnya masih terkunci. Levi semakin bingung kemana perginya Aldo. Levi bertanya kepada pemilik kost.
"Maaf, Pak. yang nempatin kamar kost ini dimana ya?"
"Waduh Bapak juga gak tau, Nak. Dari pagi Bapak lihatin kostnya masih terkunci," jawab Bapak pemilik kost itu.
Levi tersenyum mengucapkan terima kasih kepada bapak penghuni kost. Motornya Aldo juga tidak ada di depan. Levi pun kembali ke kampus.
Di kampus, Reihan baru saja di telpon Aldo untuk menjemputnya di daerah cakung. Reihan segera mencari Levi di segala tempat, Levi terlihat berjalan dari pintu masuk kampus.
"Levi!" Reihan menghampiri Levi.
"Apa?"
"Ikut gue sekarang," desak Reihan.
__ADS_1
"Kemana? Kan kita mau ada jam kelas?"
"Sudah, gak usah banyak nanya. Aldo dalam bahaya," ucap Reihan.
"Hah! Dimana sekarang bos gue!" Levi terbelalak.
"Ya sudah ayo ikut gue. Ini gue sudah dikasih tau lokasinya." Reihan dan Levi segera menuju tempatnya Aldo.
Setengah jam perjalanan, Reihan dan Levi sudah tiba di lokasi. Mereka berteriak memanggil Aldo. Reihan melihat Aldo yang terlihat lemas duduk bersandar dengan wajah lebam.
"Aldo, siapa yang mukulin lo?" tanya Reihan sambil memapah Aldo.
"Bawa gue ke rumah sakit," ucap Aldo lirih.
"Bos!" Levi datang.
Segera Aldo dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pengobatan pertama.
Reihan menunggu di koridor duduk di kursi panjang dengan Levi.
Setelah setengah jam dirawat, Aldo keluar dengan tempelan perban di tulang pipi dan pelipisnya. Dokter mengatakan Aldo baik-baik saja, hanya memar dan kelelahan. Dokter menyuruh Aldo untuk istirahat lebih banyak. Levi memapah Aldo berjalan keluar rumah sakit menuju parkiran motor.
"Bos, lo habis di hajar sama siapa?" tanya Levi.
"Gue gak kenal orangnya, tadi malam sepertinya gue sengaja dijebak sama dua orang itu," jawab Reihan.
Sementara Audy terlihat mencari Reihan karena tadi pagi dia dan Levi tidak mengikuti jam kelas. Handphonenya tidak aktif, Audy jadi khawatir dengan Reihan.
Audy menelpone Aldo, juga tidak aktif, giliran Levi, handphonenya aktif cuma tidak diangkat. Levi mendengar suara handphonenya bunyi, tapi dia tidak bisa mengangkat karena dia sedang menyetir.
Audy pun kesal meracau tidak jelas. Dia berinisiatif mencari Reihan di kostnya Aldo. Saat sampai di sana, kost Aldo terkunci. Audy bertanya kepada pemilik kost yang terlihat menyapu halaman.
"Bapak ...."
"Iya, Neng."
"Kamar kost paling ujung itu, kemana ya?"
"Bapak tidak tau, Neng. Tadi juga ada dua orang laki-laki nyariin Mas Aldo."
"Siapa, Pak?" tanya Audy.
"Temennya mungkin, soalnya mereka sering kesini?"
"tubuhnya kurus pake kacamata tebal ya, Pak."
__ADS_1
"Iya, Neng. Satunya kulitnya sawo matang pake kemeja kotak-kotak. Wajahnya kayak orang India."
Audy tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama," jawab Bapak penghuni kost.
Sudah dipastikan ada sesuatu dengan mereka bertiga. Tak berselang lama Reihan dan Levi datang bersama Aldo yang terlihat babak belur.
"Kalian habis dari mana?" tanya Audy menghampiri mereka bertiga.
"Ceritanya panjang," jawab Levi sambil melempar kunci kost kepada Reihan.
"Lo kenapa, Do? Babak belur gitu?"
Aldo tidak menjawab, tubuhnya masih lemah. Levi segera membaringkan Aldo di kamarnya. Audy masih tampak penasaran dengan Aldo.
"Sebenarnya kalian ini habis dari mana sih?" tanya Audy kesal.
"Kita habis jemput Aldo, dia habis dipukulin orang."
"Kok bisa, kejadiannya gimana?" Audy begitu penasaran dengan apa yang terjadi.
"Mana kita tau, gue sama Reihan cuma jemput Aldo. Pas kejadian kita gak ada di sana," ucap Levi yang mulai kesal dngan Audy.
"Do, gue sama Audy balik dulu ya," ucap Reihan.
"Kalian mau ninggalin gue," protes Levi.
"Kan kita mau ke kampus, Lev?"
"Memang gue kagak?"
"Terus yang jagain Aldo siapa?"
Levi terdiam menatap Aldo.
"Sudah gak pa-pa, gue bisa sendiri kok. Makasih ya Lev, Rei." Aldo tersenyum menatap Levi dan Reihan.
"Sorry ya, Bos. Nanti siang gue kesini lagi," ucap Levi.
Aldo mengangguk pelan.
"Parah lo, Lev. Gak punya rasa terima kasih. Masak Bosnya sakit di tinggalin," pancing Audy.
"Gue gak niat ninggalin ya, gue mau ngasih kejutan ke Bos," ucap Levi.
__ADS_1
Bersambung ...