Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Reihan Mau Dibujuk.


__ADS_3

Reihan sedang menyendiri duduk di taman siswa. Dia sedang memikirkan perkataan Audy. Walaupun Audy tampak marah, tapi ucapan itu memang benar adanya. Reihan terlalu pengecut untuk bertemu dengan Audy. Reihan tidak berani untuk dekat dengan Audy. Reihan takut kalau nanti perasaan cintanya tumbuh lagi.


Audy tanpa sengaja melihat Reihan duduk di taman siswa.


"Reihan gue mau ngomong sama lo," ucap Audy saat menghampiri Reihan.


Reihan terperanjat. "Ngapain lo kesini!"


"Lo gak usah kayak anak kecil deh. Lo gak kasian apa, sama Levi dan Vita."


Reihan tersenyum sinis. "Ngapain gue harus kasian, mereka sudah gede."


"Kalau kita kurang kelompok, mereka akan kesusahan mungkin KKN kita juga bisa tertunda. Kita lupain dulu masalah kita. Gue janji setiba disana gak akan ngungkit tentang masalah lo, gue, dan Ryan. Gue juga janji akan profesional disana," jelas Audy.


Reihan berdiri, lalu mengulurkan tangannya. "Oke."


Audy tersenyum, membalas uluran tangan Reihan. "Ya sudah kita balik ke mereka."


Reihan mengangguk, mengikuti langkah Audy dari belakang. Levi dan Vita masih duduk di kantin.


"Hay ..." sapa Audy.


"Wah ... bisa juga lo bawa jambang satu ini kesini." Levi meninju kecil perut Reihan.


"Iya dong," ucap Audy membanggakan diri.


"Lo mau 'kan gabung sama kita," ucap Vita.


Reihan mengangguk.


"Gitu dong, dari tadi kek. Emang nie anak suka main drama," ucap Levi menyinggung Reihan.


"Mau KKN dimana?" tanya Reihan.


"Lamongan, kita mau meneliti tentang tambak."


"Oke, gue setuju."


"Ya harus setuju. Dan inget, ketuanya di sini gue," ucap Levi membusungkan dada.


"Yakin lo bisa jadi ketua? Di suruh beli bakso di depan saja kesasar," cibir Reihan.


"Iya nie Levi. Mending Reihan saja yang jadi ketua." Audy membela Reihan.


"Mentang-mentang sudah baikan, gue dikeroyok. Gue sumpahin lo jadi suami istri," ucap Levi.


Vita mengamini. Wajah Reihan dan Audy bersemu merah setelah sekian lama mereka tidak saling bertegur sapa. Levi dengan iseng memukul meja hingga Reihan dan Audy terperanjat. Vita dan Levi tertawa lepas melihat kelakar mereka berdua.


"Pulang yuk!" ajak Vita.


Levi mengangguk di ikuti Audy dan Reihan.


"Lo bonceng gue gak, Lev?" tanya Reihan.


"Gak usah, gue mau pulang bareng Vita." Levi dan Vita berjalan menjauh.


Reihan dan Audy mulai terlihat canggung, Reihan sebenarnya ingin menawarkan tumpangan buat Audy, tapi Reihan takut ditolak. Sedangkan Audy berharap Reihan menawarkan tumpangan untuknya. Audy ingin merasakan hal-hal seru saat dia duduk bersama Reihan menaiki motor vespanya.

__ADS_1


Namun, harapan itu tidak bisa tercapai saat bunyi handphone Audy mengganggu suasana senang Audy. Ryan menelpone Audy, Reihan terlihat kecewa, dia pergi menjauh dari Audy.


📲"Halo, sayang."


📲"Ada apa, sayang." Audy memutar manik matanya terlihat jengah.


📲"Aku ada di kampus kamu nie, kita jalan yuk!"


📲"Aku sudah pulang, sayang."


📲"Aku jemput ke rumah kamu ya."


📲"Jangan, aku lagi sibuk besok berangkat KKN."


📲"Katanya minggu depan."


📲"Di percepat, sayang."


📲"Oke deh, aku ngerti."


📲"Hehehe ... maaf ya, sayang. Sebenarnya mau banget jalan sama kamu, cuma aku lagi sibuk."


📲"Ya ...." Ryan mematikan panggilannya dia tampak kesal.


Audy merasa puas bisa mengerjai Ryan. Audy tau, Ryan hanya ingin mnginginkan kemolekan tubuhnya. Audy sudah gak mau lagi jalan dengan Ryan kalau tidak menyangkut tentang istrinya. Setelah KKN ini dia akan membongkar kebusukan Ryan kepada tante Sonia.


...***...


Malam harinya, Aldo sedang bermain ke cafenya Ryan.


Aldo tersenyum fokus menatap layar handphone nya.


"Lo lagi chattingan sama siapa sih, sampai temen sendiri lo cuekin." Ryan duduk di depan meja Aldo.


"Biasalah?"


Ryan terkekeh. "Amanda?"


Aldo mengangguk.


"Lo gak bosen apa tiap hari sama Amanda?"


"Gak, karena dia selalu bisa buat gue puas tiap main sama dia." Aldo tersenyum masih menatap layar handphonenya.


"Berarti Amanda sukses dong, buat Renaldo promes klepek-klepek," ucap Ryan.


"Gak juga, gue lebih nganggap Amanda sebagai nafsu pelampiasan saja. Orang yang buat gue klepek-klepek sebenarnya istri gue. Cuma dia susah ditaklukan," jelas Aldo.


"Lo 'kan sudah nikah sama dia, lo bisa sepuasnya berhubungan badan sama dia," ucap Ryan.


"Di atas kertas mungkin iya, tapi istri gue orangnya ribet, bro. Dia seolah gak ikhlas kalau tubuhnya gue jamah."


"Lo sih, main cewek mulu," ucap Ryan.


Aldo menaruh handphone nya di meja. "Lo sendiri ngapain di sini. Lo gak nemuin ipar gue?" tanya Aldo.


"Sibuk katanya, bro. Mau KKN, tadi siang gue sudah ngajakin dia jalan, cuma ditolak," jawab Ryan.

__ADS_1


Aldo tertawa. "Lo dibohongin sama Audy. KKN itu hari senin, masih empat hari lagi."


Ryan membulatkan mata. "Beneran lo?"


Aldo mengangguk. "Lo sudah nidurin Audy, belum?


"Sudah. Bahkan dia gak marah saat gue tidurin." Ryan berkata lirih.


"Terus kenapa Audy gak mau lo ajak jalan?"


Ryan mengangkat bahunya, dia menatap lampu yang berkerlap-kerlip. Ryan jadi curiga dengan Audy. Jangan-jangan Audy yang membuat Ryan tertidur saat hendak menyetubuhinya.


"Woy!"


Ryan terperanjat.


"Di ajak ngobrol malah ngelamun," cibir Aldo.


"Lo apaan sih! Gue itu lagi mikir."


"Mikir apaan? tante Sonia yang mau datang kesini?" ledek Aldo.


"Rese lo."


Aldo tertawa. "Makanya, kerja. Jangan ngandelin penghasilan dari istri."


Dari pintu masuk Amanda datang berjalan lenggak-lengggok bak seorang model.


"Sayang ...?" Amanda mencium pipi Aldo dari belakang, lalu mengambil kursi duduk disamping Aldo.


"Kamu sudah bawa pesananku, sayang." Aldo membelai wajah Amanda.


Amanda tersenyum sambil mengangguk. Diberikannya satu kotak ****** untuk Aldo. Ryan yang melihatnya merasa jengah sekaligus iri.


"Thank you ya, sayang." Aldo mencium kening Amanda.


"Lo mau saja sama si Aldo, dia 'kan sudah punya istri," celetuk Ryan.


"Apaan sih lo, Aldo nikah sama cewek murahan itu 'kan karena terpaksa! Iya 'kan, sayang." Amanda memastikan.


Aldo mengangguk, sambil menjawil hidung mancung Amanda. "Aku cuma cinta sama kamu, sayang.


"Terserah kalian deh."


"Kenapa sih dia, sayang?" tanya Amanda kesal.


"Biasalah, belum dapat asupan gizi dari ceweknya, makanya bawaannya iri mulu sama orang yang bermesraan kayak kita," jawab Aldo.


Amanda tertawa menutup mulutnya. "Ceweknya takut kali, sama burungnya."


"Enak saja lo, gue celup baru tau rasa lo," cibir Ryan.


"Sorry ya, gue sudah punya Aldo. Gue gak butuh pria lain selama ayang Aldo ada disampingku." Amanda bersandar manja di pundak Aldo.


Ryan berdecak, lalu beranjak dari tempat duduk nya. "Ya sudah deh, gue ke atas dulu. Dari pada lihat kalian, bikin pusing kepala."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2