
Malam hari, Sikap Aldo begitu manis dengan Nadia. Dia membuatkan susu buat Nadia supaya kandungan sehat. Ini sudah berlangsung selama satu bulan. Nadia mulai luluh dengan sikap manis Aldo.
"Besok jalan2 yuk!" ajak Aldo.
"Jalan-jalan kemana?" jawab Nadia tersenyum melihat Aldo.
"Ke pantai, kayaknya kita harus sering-sering keluar pagi deh, supaya bayi kamu dapat vitamin D alami dari sinar matahari."
"Boleh. Mumpung besok hari libur."
"Oke ... fix besok kita ke pantai," ucap Aldo.
Nadia menatap Aldo sambil tersenyum cukup lama. Aldo sedang merapikan tempat tidur Nadia supaya nyaman. Nadia memegang lembut wajah Aldo sambil menatapnya lekat.
"Makasih ya, Sayang."
Aldo terdiam menatap Nadia, lalu tersenyum memegang jemari Nadia yang menempel di wajahnya.
"Sudah seharusnya aku melakukan ini. Maaf ya kemarin-kemarin aku selalu membuatmu kesal," ucap Aldo lirih.
Nadia tersenyum tipis. "Yang penting kamu sudah berubah."
Suasana lengang, mata mereka berdua saling beradu cukup lama. Malam itu Nadia ingin berhubungan badan dengan Aldo. Namun, karena mereka masih terikat perjanjian, Nadia pun mengurungkan niatnya. Mereka berdua menjadi salah tingkah.
"Ya sudah, sekarang kamu tidur, besok kita berangkat ke pantai," ucap Aldo.
Nadia memejamkan mata, Aldo menarikan selimut Nadia. Aldo ikut berbaring di bawah ranjang. Satu jam kemudian, Nadia terlihat tertidur pulas. Aldo tersenyum sinis menatap Nadia. Rencananya berhasil.
Kali ini tinggal bagaimana caranya Aldo membujuk Nadia untuk membatalkan perjanjian itu. Aldo sudah tidak sabar masuk ke diskotik berdansa dengan perempuan cantik.
Esok harinya, Nadia bangun lebih awal dari pada Aldo. Suaminya masih tertidur di bawah. Nadia melihat jam dinding yang ada di kamarnya. Masih jam empat pagi. Nadia keluar kamar untuk mengambil air minum.
Terlihat seseorang sedang duduk di ruang tamu sambil terisak. Nadia menghampiri orang itu. Ternyata itu adalah Audy.
"Kak Audy." Nadia lamat-lamat menatap Audy.
Audy terkejut melihat Nadia. Dia segera menyeka pipi tersenyum kepada Nadia. "Eh, lo Nad? Sudah bangun."
"Kak Audy nangis?" tanya Nadia memicingkan matanya.
__ADS_1
"Tadi habis nonton drakor, Kak Audy sedih. Masak si cowok tega ninggalin ceweknya pas dia lagi hamil," alasan Audy.
Nadia tidak percaya, dilihat dari baju kakaknya yang memakai dress serta make up tebal dan sepatu high hels yang dibuang di sembarang tempat, pasti habis keluar malam.
"Kak Audy baru pulang?" tanya Nadia lagi.
"Gak kok, Nad. Kakak sudah dari tadi pulang. Cuma tadi gak bisa tidur, terus kakak nonton drakor deh, malah semakin membuat Kakak gak bisa tidur," ucap Audy.
"Kemarin Kakak jalan sama siapa?"
"Sa-sama teman kampus." Audy terlihat kikuk menjawab. "Gimana kandungan lo?" Audy mengalihkan pembicaraan.
"Baik, sehat kata dokter," jawab Nadia.
"Kakak ke atas dulu ya, mau tidur." Audy segera naik ke atas meninggalkan sepatu high hels nya yang terbuang di lantai. Nadia merasakan ada yang tidak beres dengan kakaknya. Nadia meminum seteguk air sambil menatap Audy yang masuk menuju kamar, lalu berjalan menuju kamarnya.
Di kamar Aldo terlihat sudah bangun, tubuhnya terlihat segar tersenyum mengucapkan selamat pagi kepada Nadia.
"Pagi juga suamiku," jawab Nadia riang.
"Kita berangkat sekarang yuk!"
Aldo mengangguk sambil tersenyum.
"Aku ganti baju dulu ya." Tidak seperti biasa yang mengganti bajunya di kamar mandi, Nadia kini membuka baju tidurnya di depan Aldo. Aldo yang melihatnya tidak bisa berkedip melihat kemolekan tubuh Nadia. Dia hanya bisa menaik-turunkan jakunnya sambil menelan ludah.
Walaupun Nadia sedang hamil, tapi kulit dan bentuk tubuhnya masih terjaga. Pagi itu Nadia benar-benar membuat gairah Aldo naik.
"Yuk."
Aldo masih belum sadar dari fantasinya.
Nadia menepuk pundak Aldo. "Ayo."
Aldo baru tersadar, mengusap wajahnya, menahan nafsu birahinya. Nadia tau tadi Aldo terangsang. Nadia hanya ingin menguji Aldo saja. Penilaian Nadia, Aldo lulus dari ujiannya.
Mereka menuju pantai ancol, hari libur seperti ini biasanya padat pengunjung. Butuh waktu setengah jam untuk sampai di pantai Ancol. Aldo memarkirkan mobilnya di depan rumah makan sefood. Hamparan pantai tebentang dari ujung teluk.
Aldo mengajak Nadia berjalan di bibir pantai sekalian mengajaknya melihat sunset. Nadia bermain diantara ombak yang pasang surut. senyum sumringah yang terpancar di bibir Nadia mengisyaratkan kebahagiaannya.
__ADS_1
"Sayang, sini!" panggil Nadia.
Aldo menghampirinya, bermain air bersama. Udara masih terasa dingin, sunset sebentar lagi datang. Aldo dan Nadia memakai kacamata hitam melingkarkan tangan dipingang satu sama lain.
Tak berselang lama, Cahaya keemasan itu muncul. Nadia dan Aldo termenung melihat keindahan sunset di pantai ancol.
Nadia mengelus perutnya. "Setelah anak ini lahir aku akan menamakannya Juang Sunset Jingga."
Aldo tersenyum tipis menatap Nadia. "Nama yang bagus."
Nadia melepas kacamatanya, dia ingin melihat wajah tampan Aldo yang disinari cahaya sunset. Nadia mendekatkan wajahnya, mulutnya terbuka, dengan deruan napas, Nadia dan Aldo saling berciuman di tepi pantai disinari cahaya sunset.
Hasrat yang saling menyatu menciptakan suasana hening diantara mereka. Lidah mereka saling tarik menarik menyatu di dalam mulut. Nadia dan Aldo terbuai dalam lautan asmara yang diciptakan mereka berdua sendiri.
Aldo melepas pagutan bibirnya, melihat dan termangu menatap Nadia.
"Aku percaya denganmu kali ini, tolong jangan nistakan kepercayaanku padamu," ucap Nadia bersandar di dada bidang Aldo.
Aldo tersenyum sinis, sebentar lagi rencananya akan berhasil.
"Tapi, bagaimana dengan perjanjian itu," ucap Aldo membelai rambut lurus Nadia.
"Akan aku batalkan." Nadia masih terbenam di dada bidang Aldo. Nadia masuk di dalam permainan Aldo.
"Kalau begitu kita harus pulang segera menyelesaikan masalah kita. Aku tidak sabar ingin hidup layaknya suami istri pada umumnya," ucap Aldo.
Nadia mendongak, lalu tersenyum dan mengangguk menatap Aldo. Mereka berdua segera menuju rumah. Aldo menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah, Aldo membopong Nadia, mereka masih bercanda satu sama lain sampai di kamar Aldo melempar tubuh Nadia di atas ranjang.
Aldo setengah menindih tubuh Nadia, lalu berucap lirih. "Aku ingin bukti itu."
Nadia tersenyum, lalu beranjak dari tempat tidurnya, dia mengambil surat perjanjian itu, menempelkan materai dan menandatanganinya. Bagaimanapun juga Nadia masih gadis berumur belum genap dua pukul tahun. Dia masih bisa diperdaya oleh Aldo.
Aldo tersenyum lebar. "Terima kasih ya, sayang."
"Kamu gak akan ninggalin aku, kan?" tanya Nadia tersipu malu.
Aldo memegang dagu Nadia. "Tentu, sayang. Mulai hari ini kita bebas melakukan apa saja."
Nadia terbenam di pusara kenikmatan yang disuguhkan Aldo. Aldo yang sedari tadi mengincar tubuh Nadia, tidak Akan menyia-nyiakannya. Mereka kembali melakukan hubungan suami istri.
__ADS_1
Bersambung ...