
"Lha kok bisa?" Tanya Levi yang tampak belum mengerti.
"Ryan itu punya istri mucikari," ucap Reihan pelan.
Levi terkejut menatap Reihan, mengernyitkan dahi. "Sumpah lo!"
Reihan mengangguk. "Aldo ini mau dijadikan objek tante Sonia."
"Siapa itu tante Sonia?" tanya Levi lagi.
"Istrinya Ryan."
Levi memegang dagunya sambil menaik-turunkan kepalanya. "Gue mulai paham. Tapi kenapa lo bisa tau kalau Ryan istrinya mucikari. Setau gue Ryan masih lajang."
"Lo gak tau saja, Aldo beberapa kali hampir terkena jebakannya Ryan, untung ada gue." Reihan membusungkan dada.
Audy melengos tidak percaya apa yang dikatakan Reihan. Aldo hanya tersenyum melihat bercandaan mereka berdua.
"Lo mau 'kan bantu gue," ucap Levi.
"Kalau Bos yang minta, gue gak bisa nolak," jawab Levi.
"Nah gitu dong." Reihan menepuk keras punggung Levi hingga hampir tersengkur.
"Lo kira-kira dong, kalau mata gue tiba-tiba copot gimana!" cibir Levi.
"Iya, Maaf." Mereka semua tertawa.
"Tugas Levi dan Reihan memantau aktifitas Ryan. Jika ada kesempatan langsung bawa ke markas," ucap Audy.
"Memang markasnya dimana?" tanya Audy.
"Tenang bokap gue punya tempat rahasia di daerah pasar minggu. Nanti gue serlock tempatnya," ucap Audy.
"Terserah lo deh putri keong," ucap Levi.
"Kapan kita bisa bekerja?" tanya Reihan.
"Besok juga bisa, sambil cari lebih banyak lagi informasi tentang Sonia Jubaedah," jawab Audy.
"Bakalan seru nie." Levi tampak tidak sabar menjalankan tugas ini.
"Tadi ogah-ogahan, sekarang bilang gak sabar. Dasar kutu kupret," cibir Reihan.
"Tadi 'kan gue belum tau masalahnya, kalau sudah jelas kaya gini gue jadi semangat." Levi mengepalkan tangan memasang kuda-kuda seperti petinju, lalu memukul angin.
"Terserah lo deh, cungkring."
"Sudah ah, berantem mulu kayak suami istri. Do, kita pamit dulu ya. Cepet sembuh lo." Audy pamit disusul Levi dan Reihan yang keluar dari kost.
"Audy, gue antar ya," ucap Reihan menawarkan boncengan.
Audy mengangguk sambil tersenyum.
"Lha, gue gimana? Masak harus jalan kaki," protes Levi.
"Lo 'kan katanya kemarin menang taruhan bola," ucap Reihan.
"Itu 'kan kemarin, kalau sekarang ya sudah habis duitnya," jawab Levi.
__ADS_1
"Ya sudah nie buat lo." Audy memberikan uang lima puluh ribu.
"Jangan, Dy. Nanti dia keterusan lagi." Reihan menimpali.
Levi dengan cepat mengambil uang dari tangan Audy. "Apaan si lo jambang! Audy saja gak keberatan. Iya 'kan cantik."
"Sudah gak usah muji gue, cepet lo pulang naik taksi biar pulas tidurnya," ucap Audy.
"Baik putri keong, Aa' mau naik angkot cuma bayar lima ribu sisa empat puluh lima ribu lumayan buat taruhan lagi." Levi segera pergi dari hadapan Reihan dan Audy.
"Dasar Kutu kupret!" teriak Reihan.
Kini tinggal Audy dan Reihan.
"Mari." Reihan masih tampak malu.
Audy berjalan di belakang Reihan dengan wajah tertunduk. Sesekali mereka berdua saling curi pandang.
Malam harinya, Levi dan Reihan masuk ke cafenya Ryan. Suasana cafe cukup ramai, seorang waiter berbaju biru dengan celemek berwarna hitam menghampiri mereka berdua.
"Mau pesan apa, Mas?" tanya waiter itu.
"Pesen cappucino hangat satu," jawab Reihan.
"Gue roti bakar ukuran jumbo sama es cappucino," sahut Levi.
"Memang lo punya duit, Lev?"
"Ngeremehin gue lo." Levi menunjukan lembaran uang seratus ribu kepada Reihan.
"Dapat duit sebanyak itu dari mana lo?" tanya Reihan curiga.
"Gue tau akal bulus lo. Pasti lo minta uang jalan, kan."
"Yoi, ini tugas berat, bro. Jadi gue minta imbalan." Levi begitu senang.
"Lo emang banyak akal bulus, tapi kali gue setuju sama lo."
Tak berselang lama pesanan mereka datang. Levi tampak tidak sabar segera menikmati roti bakar isi coklat itu.
"Pelan-pelan makannya, Lev?" Reihan sambil melihat sekeliling. Tidak ada Ryan, mungkin di lantai atas.
Reihan memanggil salah satu pelayan cafe. "Ryan mana ya?"
"Mas ini siapanya bos Ryan ya?"
"Kita temannya, masak lo gak kenal gue sih. Gue 'kan sering kesini sama Aldo," sahut Levi.
Pelayan itu tersenyum melongo. "Kalau mas Aldo sih tau?"
"Gue tinggal serumah sama Aldo. Ryan mana gue ada perlu," ucap Levi.
"Bos Ryan dari tadi pagi tidak kelihatan, mungkin sibuk karena istrinya mau ulang tahun."
Levi dan Reihan saling menatap melempar senyum.
"Terima kasih ya informasinya," ucap Levi.
Setelah membayar makanan, Levi dan Reihan segera bergegas menuju rumah Sonia di cempaka putih. Di depan rumah terdapat banner 'Selamat Datang'. Levi dan Reihan berusaha mengendap lebih dalam rumah tampak terang. Handphone Ryan berbunyi, itu dari Audy.
__ADS_1
📲"Halo, Audy."
📲"Lo ada di mana sekarang?"
📲"Gue lagi ada di rumahnya tante Sonia, katanya dia besok mau ulang tahun."
📲"Oke. Terima kasih atas informasinya." Audy mematikan panggilannya.
"Kita pulang, Lev. Tunggu perintah dari Audy berikutnya."
"Oke."
Pagi harinya, Mereka berempat berkumpul di taman siswa. Aldo baru ingat kalau dia diundang di acara ulang tahun tante Sonia.
"Ini kesempatan yang bagus, lo bisa mencari informasi lebih banyak lagi," ucap Audy.
"Tapi gue butuh temen," ucap Aldo.
"Tenang saja, Bos. Gue akan temenin lo," ucap Levi.
"Biar Reihan saja, Lev. Yang nemenin gue. Lo tunggu di luar saja. Jaga-jaga kalau kita ketahuan."
"Gue saja, Bos. Reihan mah gak tau apa-apa," desak Levi.
Audy menonyor kepala Levi. "Badan lo kurus, nanti kalau terjadi apa-apa sama Aldo, memang lo kuat memapah Aldo."
"Iya gue gak kuat." Levi kesal memegang kepalanya.
"Gue tau dia pengen banget nemenin Aldo. Karena di sana banyak makanan enak. Ngaku lo," ucap Reihan.
"Salah satunya sih itu."
"Dasar lo perut karet," cibir Audy.
"Sudah-sudah stop dulu bercandanya. Lo datang bareng gue nanti malam, Rei. Biar Levi tunggu dari luar."
"Oke, gue ikut saja apa kata lo."
"Ngomong-ngomong lo sudah bilang belum sama tante Sonia kalau lo mau bawa teman?" tanya Audy.
"Gak usah, nanti tante Sonia malah curiga. Lagian mereka sudah curiga sama gue. Sekalian saja kalau ketahuan kita adalah mata-mata."
"Oke."
"Terus, lo ngapain, Dy?" tanya Levi.
"Gue stay di rumah sambil berdoa semoga kalian selamat."
"Huuuu .... enak banget tugas lo," seru Levi.
"Gue 'kan cewek, masak gue harus ikut kalian. Lagian tante Sonia sudah tau wajah gue dan Reihan."
"Nah itu maksud gue, Reihan 'kan sudah di kenali sama tante Sonia, apa gak bahaya tu."
"Benar juga apa kata Levi."
"Emang nyebelin lo, Lev!" cibir Reihan.
"Oke kita rubah rencana, lo ikut sama gue, Lev. Biar Reihan tunggu di luar."
__ADS_1
Bersambung ...