
"Memang sekarang apa bedanya, Nadia masih adik lo, kan?"
"Ya masihlah. Cuma dia sekarang sudah punya suami. Sudah ada yang ngelindungi. Mending fokus sama urusan gue sendiri," jawab Audy.
"Gak asyik lo." Reihan beranjak dari tempat duduknya.
Audy tersenyum kecut menatap punggung Reihan. "Rasain lo, emang enak dicuekin."
Di tempat lain, Nadia dan Aldo masih berada di kamar. Aldo mendesak Nadia untuk segera berangkat ke kampus atau Aldo meninggalkannya.
"Jawab dulu pertanyaan gue. Kemarin malam lo nelpone siapa!" tanya Nadia ketus.
"Aku nelpone papa, minta kiriman uang," jawab Aldo.
Nadia tersenyum sinis. "Kemarin om Tio chattingan sama aku. Dia bertanya kabarmu."
Aldo terdiam menatap Nadia, dia sudah tidak bisa mengelak lagi.
"Mau bohong apa lagi kamu!" hardik Nadia.
"Oke aku jujur sama kamu. Aku kemarin nelpon Ryan," jawab Aldo.
"Lo pikir gue gak tau. Lo nelpone amanda, kan?"
"Please deh, aku mau kuliah. Jadi tolong izinkan aku berangkat."
"Oke kali ini gue maafin. Tapi seharian lo harus bareng sama gue." Nadia mendelik ke arah Aldo.
Aldo tidak punya pilihan lain, terpaksa dia menuruti kemauan istrinya. Sebenarnya pagi ini Aldo tidak ada jam kuliah. Aldo hanya beralasan saja kepada Nadia. Dia ingin bertemu dengan Amanda. dedeknya sudah gatal pengen bersetubuh dengan Amanda. Tapi karena Nadia memaksa ikut, terpaksa Aldo mengurungkan niatnya.
Nadia tidak pernah mau diajak tidur. Itu sudah merupakan perjanjian yang tertera. Padahal Aldo setiap habis mandi selalu membuka bajunya supaya Nadia bisa tergoda. Namun, Nadia tidak bergeming, menoleh pun tidak.
Sesampainya di kampus Aldo menuju kantin.
"Kok lo malah kesini? Katanya mau ada jam kuliah penting?" tanya Nadia saat Aldo duduk di kursi makan.
"Gak jadi, mood gue sudah hilang."
"Halah ... bilang saja lo bohong sama gue. Percuma lo mau bohong, gue sudah tau modus buaya darat kayak lo," cibir Nadia.
Aldo berdecak kesal. "Lo bisa gak sih, kasih gue bernapas sehari ... saja."
"Gak bisa." Nadia mendekatkan wajahnya. "Lo mau tau kenapa?"
Aldo nenelan ludah menatap Nadia.
"Karena buaya kayak lo kalau di lepas itu akan berkeliaran kemana-mana," ucap Nadia.
Aldo hanya bisa menjambak rambutnya, dia terlihat stres.
Levi melihat Aldo duduk di kantin dengan istrinya.
"Waduh ... pengantin baru akrab bener?"
Aldo melirik kesal ke arah Levi.
"Levi!" panggil Nadia.
Levi mengendikan kepalanya.
"Lo punya obat stres, gak?" tanya Nadia iseng.
"Kagak punya. Kalau stres diperiksa dong ke rumah sakit. Memang siapa yang stres?" tanya Levi.
__ADS_1
"Bos lo tu, liat saja rambutnya pada rontok," jawab Nadia.
Levi menoleh ke Aldo. "Memang bener, bos."
Aldo melirik Levi kesal. "Apa kau Levi! Berani lo sama gue!"
Levi terperanjat, langsung meminta maaf kepada Aldo.
Kantin sudah mulai banyak pengunjung, waktunya jam makan siang. Nadia dan Aldo yang tadi sudah makan beranjak dari tempatnya. Namun, Audy menghampirinya.
"Kok pergi sih, Memangnya kalian gak makan siang?"
"Kita tadi sudah, Kak." Kebetulan hari ini gak ada jam kuliah," jawab Nadia.
Audy mengangguk duduk dengan Levi. Tak berselang lama Reihan keluar dari kamar mandi dekat kantin, berpapasan dengan Nadia dan Aldo. Reihan menatap Aldo tajam.
"Apa lo!" Aldo tidak terima.
Reihan melawan, terjadi percekcokan, namun Nadia berhasil melerainya dan membawa Aldo pergi menjauh.
"Lo apaan sih! Belain dia!" Aldo marah dengan Nadia.
"Gue gak belain Reihan, gue hanya gak mau ada keributan. Kayak anak kecil saja lo."
"Dia yang mulai?"
"Kalian itu sama saja, gak bisa move on dari masa lalu!" cibir Nadia.
"Maksud lo apa?"
Nadia mengibaskan tangan. "Sudahlah gak usah dibahas. Gak penting!"
Di kantin, Audy juga sedang menceramahi Reihan. Audy tau Reihan marah karena Nadia tidak ingin disakiti, tapi Audy pura-pura tidak tau.
"Lo kenapa sih, Rei? Datang-datang sudah ngajak berantem suami orang."
"Maksud lo apa, Rei!" Audy belum mengerti maksud Reihan.
Reihan tidak menjelaskannya, dia berlalu tanpa melihat ke belakang. Audy menjadi kesal memajukan bibirnya. Levi yang berada di sampingnya mengusap lengan Audy.
"Apaan sih lo!" Audy langsung bereaksi melepas tangan Levi.
"Yaela ... cuma nenangin lo biar gak kesel."
"Gue kesel gara-gara lihat muka lo." Audy memukul meja, lalu beranjak dari dari tempatnya.
Levi hanya bisa menggaruk kepalanya. "Kenapa ya hari ini pada sensi semua."
Audy sedang mencari Reihan di taman. Suara handpone nya berdering. Audy mengambil handphone nya dari dalam tas. Itu panggilan dari Ryan.
📲"Halo, Ryan."
📲"Gue ada di kampus lo nie."
📲"Ngapain?"
📲"Gue bawain sesuatu buat lo."
📲"Apa."
📲"Cuma makanan sih ... lo ada dimana?"
📲"Di taman."
__ADS_1
📲"Gue kesana."
Ryan mematikan telpon nya, lalu beranjak menuju taman siswa. Ryan bertanya kepada salah satu mahasiswa untuk menunjukan taman siswa.
"Lurus saja, Mas."
"Oke. Makasih ya." Ryan memegang pundak mahasiswa itu.
Audy terlihat duduk sendiri. Ryan berjalan mengendap dari belakang.
"Dor!"
Audy pun terperanjat. Ryan tertawa.
"Ryan! Kamu ini bikin kaget saja," cibir Audy.
Ryan terkekeh. "Sorry ... ini aku bawakan makanan untukmu.
Audy tersenyum mengambil kotak makanan itu. "Kebetulan gue lapar."
"Lo ngapain di sini sendiri?" Tanya Reihan duduk disamping Audy.
"Lagi nyari temen, cuma gak ketemu," jawab Audy sambil menguyah makanan.
"temen pria kamu yang biasa naik vespa itu?"
Audy mengangguk. "Tadi dia lagi ngambek."
Ryan terkekeh. "Butuh perhatian kali.
Audy menyeruput jus buah, lalu tertawa.
"Kampus lo keren juga ya," ucap Ryan basa-basi.
"Lo dulu kuliah dimana?" tanya Audy.
"Di Universitas Pancasila. Lulus langsung buka kedai kopi."
"Dan sukses." Audy tersenyum.
"Kalau di bilang sukses belum lah. masih banyak belajar."
"Tapi gue kagum sama lo, masih muda dan pekerja keras," ucap Audy.
Ryan tertekekeh, lalu memegang punggung tangan Audy. "Berarti lo tertarik dong sama gue."
Audy menaik-turunkan kepala sambil mengulum bibirnya. "Sedikit."
"Mau banyak gak?"
Audy menatap Ryan menaikan satu alisnya.
"Lo jadi cewek gue. nanti lo pasti semakin tertarik sama gue."
Audy tertawa. "Bisa saja modusnya cowok."
Ryan pun ikut tertawa. Reihan melihatnya dari kejauhan. Hatinya serasa hancur melihat mereka saling lempar tawa. Reihan pun memiliki ide untuk menjauhkan mereka berdua.
"Dy, dicari pak Bambang di ruang dosen," ucap Reihan saat menghampiri Audy dan Ryan.
"Hah ... ngapain."
"Gak tau ... sudah sono ke ruang dosen. Nanti beliau marah lo. Tau sendiri 'kan pak Bambang kayak gimana."
__ADS_1
Audy segera bergegas. "Lo temenin gue dong, Rei? Gue ngeri kalau sama pak Bambang."
Bersambung ...