Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Bicara Dengan Sonia.


__ADS_3

Audy pun terkejut saat Reihan meyodorkan makanan dari belakangnya.


"Ngapain lo kesini?" tanya Audy kesal.


Reihan menempel jari telunjuk ke bibirnya. Audy mengernyitkan dahi.


"Ikut gue," ajak Reihan mencari tempat yang lebih nyaman untuk mengawasi.


Audy dan Reihan mengendap, Reihan memakai topi gunung, sedang Audy menutupi wajahnya menggunakan jilbab dan masker. Mereka berdua duduk di dekat mejanya Ryan dan Sonia. Pelayan restoran memberikan menu makanan. Audy dan Reihan hanya memesan minuman karena harga di restoran tersebut termasuk mahal untuk ukuran mahasiswa seperti Audy apalagi Reihan.


"Sayang, besok aku gak ke cafe dulu ya. Aku mau fitnes sama temen," ucap Sonia sambil membersihkan bibirnya pakai tisu.


Ryan mengangguk sambil mengunyah makanan. "Butuh supir?"


"Gak usah, biar aku nyetir sendiri saja," jawab perempuan berambut berambut lebat itu.


"Oke."


Setelah selesai makan, Ryan dan Sonia segera kembali ke cafe. Ryan tidak tau kalau Audy dan Reihan sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Audy menatap tajam punggung Ryan, dia terlihat benci dengan pria berwajah oriental itu.


"Kamu cemburu sama Ryan ya," tebak Reihan.


Audy menghela napas, terpaksa dia menceritakan mengapa dia berada di tempat ini.


"Lo tau siapa perempuan itu?" tanya Audy.


Reihan mengangkat bahunya. "Mana gue tau."


"Perempuan itu istri nya," ucap Audy.


"Apa!" Reihan tampak terkejut. "Gue kira tantenya."


"Gue datang kesini karena gue ingin membongkar siapa Ryan sebenarnya di depan istrinya."


"Berarti lo cemburu dong." Reihan terlihat kesal.


"Gue gak cemburu, Reihan. Harus berapa kali sih, gue ngomong sama lo."


"Kalau lo gak cemburu, lo gak mungkin repot-repot pengen ngebongkar kebusukan Ryan."


"Ihhh ...." Audy menjadi kesal dengan Reihan, dia meninggalkan restoran itu. Audy tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Reihan. Bisa pingsan nanti dia, kalau Audy menceritakan kalau dia pernah di pake sama Ryan.


"Audy, tungguin gue!" Reihan menyusul Audy.


Audy sudah terlanjur kesal dengan Reihan, dia melepas kerudungnya, lalu berjalan cepat sebisa mungkin menjauh dari Reihan. Reihan mengikuti Audy memakai motor vespanya. Jelas saja Reihan bisa mengejar Audy.


"Mau pulang bareng gak?"


"Gak!"

__ADS_1


"Gue minta maaf deh sama lo, kita lupain masalah tadi, mending lo naik motor gue dari pada lo naik taksi," ucap Reihan.


"Awas kalau lo ngungkit masalah di restoran lagi," ancam Audy.


"Iya ... sudah cepet naik," desak Reihan.


Di perjalanan mereka saling diam, Reihan mau memulai pembicaraan, tapi dia tidak tau harus memulainya dari mana. Audy memikirkan tentang Sonia yang mau berangkat fitnes. Besok mungkin kesempatan Audy kalau Sonia mau berbicara empat mata dengannya. Audy harus mencari tau, dimana Sonia fitnes


Reihan memberhentikan motornya tepat di depan rumah Audy.


"Sudah sampai!" teriak Reihan.


Audy menepuk keras punggung Reihan. "Gue sudah tau, gak usah teriak juga kali."


"Habisnya dari tadi lo betah banget duduk di belakang gue," balas Reihan.


"Ya iya lah, dari tadi motor lo 'kan jalan, kalau gue turun badan gue yang mulus ini bisa lecet," ucap Audy.


"Iya deh yang suka perawatan." Reihan menyalakan mesin motornya.


"Makasih ya, Rei."


"Sama-sama." Reihan melajukan motornya. Audy tersenyum menatap punggung Reihan. Seketika mereka berdua teringat tentang saat mereka saling bercanda melempar sindiran. Ada kalanya masa itu ingin diulangi Audy dan Reihan.


...***...


Sementara itu Aldo mulai bekerja sebagai pengantar makanan online. Aldo sudah tidak peduli lagi apa kata orang. Dia ingin membuktikan kepada papanya kalau dia bisa mandiri, dan kelak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.


Pagi sampai sore Aldo kuliah, malam harinya dia mulai bertebaran di jalan untuk menyambung hidup. Tengah malam baru dia beristirahat, lelah itu pasti. Namun, Aldo tidak mau menuruti rasa lelahnya.


Pagi harinya Aldo mulai berangkat ke kampus, buku menjadi temannya. Aldo kini aktif berdiskusi, dia juga ingin lulus dengan nilai yang memuaskan.


"Bos!" Levi memanggil Aldo.


"Ada apa, Lev?"


"Ada yang bawain Bos makanan." Levi menyerahkan kotak makanan yang ada di tangannya.


"Dari siapa?" tanya Aldo.


"Dari istrinya Bos."


Aldo tersenyum simpul menatap kotak makanan itu. "Terima kasih ya."


"Jangan terima kasih sama gue dong, Bos. Terima kasih sama Nadia yang sudah baik mengirimkan makanan ini," ucap Levi


"Sampaikan salam gue sama Nadia."


"Itu sih pasti, Bos!"

__ADS_1


"Reihan mana? Tumben dia gak sama lo?"


"Gak tau dari tadi gue cariin kagak ada," jawab Levi.


Aldo tersenyum simpul.


"Tumben lo nanyain Reihan." Levi merasa heran.


"Gak pa-pa, sudah lama gak lihat Reihan soalnya."


Sedangkan Reihan bersama dengan Audy mengikuti Sonia Jubaedah isrtinya Ryan. Sebenarnya Audy tidak mau merepotkan Reihan karena anak semester akhir ada tugas skripsi, tapi karena Reihan memaksa ikut, Audy pun tidak bisa menolaknya.


Sonia terlihat masuk mobil, Audy dan Reihan mengikutinya sampai berhenti di salah satu tempat kebugaran.


"Kita tunggu di sini saja," ucap Audy.


"Mending kita masuk saja, biar lo bisa langsung ngomong sama bu Sonia," ucap Reihan.


"Gak usah, nanti dia malah terganggu. Mending kita nunggu di sini saja, setelah orangnya keluar baru kita samperin," balas Audy.


"Terserah lo saja deh."


Lama Audy menunggu hingga jam makan siang tiba Sonia bersama dengan beberapa temannya keluar gedung kebugaran. Audy tidak menyia-nyiakannya, dia langsung menghampiri Sonia.


"Bu Sonia." Audy berlari.


Sonia menoleh ke sumber suara. "Kamu, kan ...."


"Iya bu betul, saya yang dulu di cafenya Bu Sonia," ucap Audy.


Sonia mendelik menatap Audy. "Ada apa kamu kemari, kamu mau menuduh suami saya yang gak-gak."


"Dengerin dulu penjelasin saya, Bu." Audy memohon.


Sonia menatap Audy cukup lama dan menyuruh teman-temannya untuk berangkat duluan. "Apa yang ingin kamu katakan?"


Audy segera mengambil hp nya lalu memperlihatkan chatingannya dengan Ryan dulu.


"Ini chat dari suami ibu ke saya pada saat Bu sonia ada di luar negeri."


Sonia terbelalak, lalu mengambil hp Audy untuk memastikan chat itu benar adanya.


Wajah Sonia semakin memerah. "Sejak kapan kamu mengenal Ryan?"


"Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Saya tidak tau kalau Ryan sudah beristri. Awalnya saya mengenal Ryan lebih dalam saat saya datang ke cafe dengan teman saya, disitu saya berkenalan dengan Ryan dan lama-lama kita pacaran," ucap Audy menundukan kepala.


"Kita cerita di mobil saja, sambil cari makan," ucap Sonia.


"Tapi ada satu temen saya juga, Bu."

__ADS_1


Sonia menoleh ke arah terlunjuk tangan Audy. "Teman kamu sekalian ajak makan."


Bersambung ...


__ADS_2