
"Kamu pakai mobil saja biar Ryan atau Aldo yang menyetir untukmu," ucap Tio.
"Siap, Pak!" Mereka bertiga segera berangkat menuju kediamannya Siska.
Di perjalanan pandangan mata Fatah terlihat serius. Aldo yang menyetir di samping Fatah memperhatikan pria bertubuh tegap itu.
"Saya belum pernah melihat anda, sejak kapan papa saya mengenal anda?" tanya Aldo.
Fatah malah tersenyum sinis. "Itu bukan urusan kamu, sekalipun kamu anaknya Pak Tio. Yang jelas saya sudah cukup lama bekerja untuk pak Tio."
Aldo sedikit kesal, Fatah sangat misterius. Penampilannya rapi dengan pakaian serba hitam. Aldo berhenti di gang rumah Siska.
"Rumah yang di tengah nomor tiga puluh satu," ucap Aldo memberitahu Fatah.
"Oke. Kalian tunggu di sini saja." Fatah segera keluar dari mobil menuju rumah nomor tiga puluh satu. Dia mengendap memperhatikan rumah itu, terdapat banyak cctv di halaman rumah itu. Fatah tidak bisa masuk sembarangan. Dia kembali ke mobil sambil menunggu sampai yang punya rumah keluar.
"Gimana, Bang?" tanya Ryan.
"Kita tidak bisa sembarangan masuk, ada tiga cctv di halaman rumahnya. Lebih baik kita tunggu di sini dulu," ucap Fatah.
Sekitar dua jam menunggu, dua mobil keluar dari rumah Siska.
"Itu mobil gue dulu, pasti Sonia dan dua anak buahnya ada di dalam mobil itu!" seru Ryan.
"Kita ikuti mobil itu," ucap Fatah.
Aldo langsung tancap gas mengikuti dari belakang.
"Hati-hati jangan sampai kita ketahuan," ucap Fatah.
"Beres, Bos!" seru Aldo.
Dua mobil itu berhenti di suatu ruko yang terlihat lusuh dan tidak layak pakai. Sonia dan beberapa temannya dan dua anak buahnya bertubuh besar itu turun dari mobil. Dua anak buah Sonia yang memakai celana levis hitam dan singlet hitam itu berdiri di depan pintu masuk.
"Ngapain mereka?" tanya Aldo pelan.
Fatah terus mengamati. "Kira tetap di sini. Terlalu berbahaya jika kita ke sana."
"Memang Abang tau itu tempat apa?" tanya Ryan yang duduk di belakang mobil.
Fatah menggeleng pelan sambil matanya terus menatap ruko itu. "Entahlah, yang jelas itu tempat pasti ilegal. Lebih baik kita menjauh dari tempat itu terlebih dahulu."
Aldo memutar mobil, tapi putarannya terlalu kuat sehingga decitan ban mobilnya terdengar sampai ke telinga dua penjaga itu.
__ADS_1
"Siapa kalian!" pekik orang itu.
Dua anak buah Sonia segera mengejar mobil yang di kendarai Aldo.
"Sial, kita ketahuan." Aldo menancap gas, mempercepat laju mobilnya.
Dua anak buah Sonia itu tidak mau kalah, mereka juga mempercepat laju mobilnya hingga bisa mengimbangi Aldo. Saling kejar pun terjadi.
"Lebih cepat lagi, Do!" seru Ryan.
"Gak bisa ini sudah yang paling cepat!" teriak Aldo berusaha mengalahkan suara mesin mobil.
Mobil yang di kendarai anak buah Sonia berhasil sejajar dengan mobil yang dikendarai Aldo. Salah satu anak buah Sonia melihat Ryan ada di dalam mobil dan juga Aldo.
"Dua bocah itu." Salah satu anak buah Sonia menodongkan pistol, lalu menembak ke arah Aldo.
"Door!" Peluru pistol itu melesat dengan cepat. Namun, meleset dari sasaran. Peluru itu mengenai pembatas jalan.
Aldo yang tau akan menjadi sasaran, mengerem mobilnya secara tiba-tiba. Untung Jalanan Ibu Kota di hari minggu sepi. Dengan segera, Aldo memutar arah dan menjauhi dari kejaran.
Mobil yang dikendarai anak bush Sonia sudah terlanjur melaju kencang. Terlalu jauh untuk mengejar mobil itu, apalagi harus memutar jalan.
"Keren juga skil nyetir lo," puji Fatah.
"Badung ternyata dulu kamu ya," ucap Fatah.
"Kenapa Abang tadi sembunyi?" tanya Ryan.
"Rencananya aku mau ke tempat itu lagi, kalau wajahku ketahuan mereka, bisa susah nanti masuknya," jawab Fatah.
"Gitu ya." Ryan baru mengerti.
"Nanti malam kalian tidak usah ikut, biar aku sendiri saja yang menyelidikinya," ucap Fatah.
"Hati-hati, Bang."
"Beres. Aku sudah biasa menghadapi situasi seperti ini," ucap Fatih keceplosan.
"Jangan-jangan bang Fatah ini intel ya," tebak Aldo.
"Bu-bukan, aku hanya anak buah pak Tio.Cuma sudah terlatih," alasan Fatah.
Sementara itu kedua anak buah Sonia melapor ke bosnya. Salah satunya berbisik. Sonia terlihat membulatkan mata, menatap tidak ramah. Dia mengajak kedua anak buahnya ke ruangan belakang.
__ADS_1
"Bodoh kalian, bagaimana kalau yang bersama mereka ada polisi. Bisa hancur semua ini!" pekik Sonia.
"Ini pasti ulah Ryan yang memberitahu Aldo," ucap salah satu anak buahnya.
"Ryan tidak mungkin tau tempat ini, pasti ada bantuan orang lain yang memberi tahu tempat ini. Aku yakin pasti ada yang meminta bantuan polisi," ucap Sonia.
"Lebih baik untuk sementara waktu kita tutup tempat ini. Untuk menjaga ke selamatan Bos," ucap Salah satu anak buahnya.
"Ini semua gara-gara ketidakbecusan kalian. Aku mau memberitahu klien ku dulu. Baru setelah itu aku pergi. Kalian tunggu di luar," perintah Sonia.
"Baik, Bos." Dua orang itu pergi dari hadapan Sonia.
Sonia menuju ruangan kerjanya menelpone salah satu temannya.
📲"Halo, Beb. Ke ruangku dulu. Ada yang perlu aku bicarakan. Ajak juga teman-teman yang lainnya."
📲"Oke, Beb."
Sonia duduk di kursi empuknya sambil mendongak ke atas. Tak berselang lama ke tiga temannya datang menemuinya.
"Kenapa, Beb. Penting banget kayaknya."
"Gawat, Beb. Anak buahku tadi mengejar mobil yang mencurigakan. Aku takut kalau itu polisi."
Teman-teman Sonia terkejut menutup mulutnya. "Beneran, Beb."
"Kamu gimana sih, katanya tempat ini aman, taunya malah ketahuan. Payah! Tau gini aku mending ke tempat lain saja," timpal seorang teman yang tidak terima.
Sonia berdiri dngan tatapan tajam. "Ini di luar kemampuanku. Siapa yang menyangka kalau ads polisi yang mengintai."
"Sudah, kita tidak perlu bertengkar, lebih baik kita pindakan anak buah kita ke tempat yang lebih aman."
Mereka berempat setuju. Salah satu dari teman Sonia memberi pengumuman untuk bergegas mengemasi barangnya Karena ada seorang yang mencurigakan sedang mengendus tempat ini.
Para pengunjung, dan orang-orang yang ada di ruko pun segera keluar. Ruko di tutup untuk sementara waktu. Mereka semua cari tempat yang lebih aman.
"Tenang saja, Beb. Kita bisa memindahkan para pekerja hiburan malam ke tempat lain. Aku masih punya banyak tempat untuk memindahkan mereka," ucap Sonia.
"Kita percaya sama lo, Beb. Bagaimanapun juga kita sudah lama bekerja sama. Kita harus kompak supaya bisnis kita lancar," ucap Siska teman Sonia.
Keempat tante girang itu pun kembali ke rumahnya. Sonia menyuruh kedua anak buahnya menjaga ketat keamanan. Setiap sudut rumah mulai dipasang cctv.
Bersambung ...
__ADS_1