
Aldo segera membawa Nadia masuk kamar. Di situlah Aldo mulai menikmati tubuh mulus Nadia.
Flash Back on.
"Bro ... lo punya obat perangsang wanita yang tokcer?" tanya Aldo kepada Ryan.
"Buat apa, cewek lo 'kan sudah banyak. Tinggal pilih saja mana yang mau lo pake," ucap Ryan.
"Tapi yang ini agak susah, bro. butuh sedikit trik untuk bisa menaklukannya," ucap Aldo
"Maksud lo, Nadia?"
Aldo mengangguk.
"Aldo, Aldo ... lo tu ya, gak pernah puas kalau gak nikmatin tubuh cewek."
Aldo tersenyum sinis. "Gue pengen buat pelajaran saja dengan Nadia. Soalnya dia satu-satunya cewek yang berani nolak gue."
"Jadi selama ini lo hanya mempermainkan Nadia?" tanya Ryan.
Aldo mengangguk. "Setelah gue dapetin tubuh Nadia. Baru gue tinggalin."
Ryan terkekeh menepuk pundak Aldo. "Lo memang bajingan, Do. Tapi ingat, resiko ditanggung sendiri."
"Lo tenang saja, bokap sama nyokap gue pengacara. Mereka pasti tidak akan membiarkan anak satu-satunya celaka."
Ryan tertekekeh. "PD sekali kamu. Bukankah ayah Nadia juga seorang pengacara."
"Sudahlah ... lo ada gak obatnya. Gue bayar berapapun yang lo mau."
"Oke deh ... habis ini lo ke cafe gue. Gue kasih gratis buat lo."
Aldo tersenyum memegang pundak Ryan. "Thank you ya, bro."
Aldo pun mengambil obat perangsang berbentuk pil di ruang kerjanya Ryan.
"Kalau boleh tau apa rencana lo untuk ngejebak Nadia?" tanya Ryan saat memberikan obat perangsang kepada Aldo.
"Nanti malam gue mau ngrayain ulang tahun bareng Nadia."
Ryan tertawa. "Gue paham maksud lo. Jadi lo mau mencampur obat perangsang itu ke minumannya Nadia."
"Tepat. Tapi, gak sesederhana itu. Gue butuh trik supaya Nadia terkagum dengan gue. Saat dia lengah baru gue serang dia."
Ryan terkekeh. "Terserah lo deh. Gue gak mau ikutan. good luck saja buat lo."
malam harinya Aldo mulai mempersiapkan semuanya. Menyewa pelayan yang bisa di ajak kerja sama supaya rencananya lancar.
Flash Back Off.
Malam semakin larut, Ayu di rumah terlihat khawatir. Sudah jam satu pagi Nadia belum pulang juga. Biasanya Nadia tidak pernah pulang selarut ini. Ayu menuju kamarnya Audy.
__ADS_1
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Siapa?"
"Ini, Mama."
Audy membuka pintu. "Ada apa, Ma."
"Kamu jam segini belum tidur?"
Audy tersenyum nyengir. "Lagi nonton film, Ma."
Ayu menggeleng.
"Ada apa, Ma?" tanya Audy sekali lagi.
"Adik kamu jam segini belum pulang," jawab Ayu.
"Hah ... belum pulang! Kok bisa." Audy ikut panik.
"Jangan gitu ah, bikin Mama kaget saja."
"Tadi ngomongnya ke rumah siapa, Ma?"
Audy segera mengambil handphone, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Telpon Nadia tersambung, tapi tidak di angkat.
"Coba sekali lagi," ucap Ayu semakin khawatir.
Audy mencobanya sekali lagi. Aldo yang sudah selesai menikmati tubuh Nadia tergangggu dengan suara telpone yang ada di dalam tas gantungnya Nadia. Aldo mengambil handphone nya, lalu melihat siapa yang menelponenya. Ternyata Audy, Aldo segera mematikan sambungan telpone itu.
"Dimatiin, Ma."
"Aduh ... kemana itu anak."
"Mama gak usah khawatir, Kita berdoa saja mudah-mudahan Nadia baik-baik saja." Audy mencoba menenangkan Ayu.
Pagi hari di sebuah apartemen, Nadia mulai terbangun dengang kepala yang masih pusing. tatapannya samar menatap atap langit-langit.
"Dimana gue?" Nadia mencoba bangun dengan kepala yang masih berat.
Nadia menoleh ke kiri. betapa terkejutnya dia saat Aldo tidur disampingnya tanpa menggunakan sehelai benang. Nadia membuka selimut yang menutupi tubuhnya, dia baru sadar kalau dia juga telanjang. Nadia merintih sambil memukul-mukul springbed.
"Apa yang lo lakuin ke gue, Do," ucap Nadia lirih.
Aldo masih tertidur dengan posisi tengkurap. Nadia memukul kepala Aldo hingga terbangun. Aldo sayup-sayup membuka matanya. Nadia baru teringat saat dia makan malam dengan Aldo. Nadia merasakan ada yang aneh dengan badannya. Aldo mulai terbangun bersandar di springbed.
"Ada apa sih, Yang." Aldo merangkul Nadia yang sedang menangis.
__ADS_1
Nadia berontak melepas rangkulan Aldo. "Kamu jahat, Do."
Aldo pura-pura tidak bersalah. "Sorry, Nad. Sorry banget ... lagian kemarin malam kamu godain aku terus."
Nadia sambil terisak mendorong Aldo hingga jatuh ke lantai, lalu kembali menutup tubuhnya menggunakan selimut. "Lo sudah ngrencanain ini semua, kan?"
Aldo yang masih telanjang mengambil pakaiannya. "Oke gue salah ... tapi gue ngelakuin ini karena gue sayang sama lo, Nad. Gue gak mau kehilangan lo lagi."
Nadia marah melempar bantal ke arah Aldo. "Dasar pembohong! Kalau benar-benar cinta, lo gak mungkin ngelakuin ini ke gue."
Aldo mendekati Nadia. "Gue bakal tanggung jawab kalau lo kenapa-kenapa."
"Diam ...!" Nadia menutup telinganya. Berusaha tidak mau mendengar ucapan Aldo.
Aldo perlahan membelai rambut Nadia, lalu meyandarkan kepala Nadia di pundaknya.
"Lo kok tega sih, Do. Sama gue," ucap Nadia terisak.
Aldo hanya diam, dia tetap menyandarkan kepala Nadia di pundaknya. Setelah cukup tenang, Nadia segera mengambil pakaian. Dia tidak mau di antar Aldo. Kemarahannya begitu nyata kepada Aldo karena keperawananya telah direnggut oleh Aldo.
Kini Nadia baru sadar, kalau sebenarnya yang hendak berbuat kurang ajar adalah Aldo. Bukan Reihan. Nadia terus menangis di dalam taksi hingga sampai di depan rumahnya
Audy yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah melihat Nadia dengan mata sembab dan rambut acak-acakan.
"Lo kenapa, Nad?" tanya Audy.
Nadia hanya berlalu melewati Audy sambil menutup mulutnya. Dia langsung menuju kamar, lalu menutup pintu rapat-rapat. Di kamar Nadia menangis tidur tengkurap dengan bantal sebagai sandaran.
Kini dia mulai dilema, di satu sisi dia benci dengan Aldo, tapi di sisi lain dia juga butuh Aldo untuk bertanggung jawab kalau dia hamil. Nadia mulai merasa telah mengecewakan mama dan papa nya.
Audy segera memberitahu Ayu. "Mama, Nadia sudah pulang. Coba deh Mama deketin, kelihatannya habis nangis."
Ayu mengangguk, dia lalu ke kamar Nadia mengetik pintu. "Nadia ..makan dulu, Nak?"
Nadia menyeka pipinya. "Nadia sudah makan, Ma!"
"Gimana, Ma?" bisik Audy.
Ayu mengangkat bahunya. "Nanti saja deh. Kelihatannya Nadia gak mau di ganggu.
"Nadia kelihatannya lagi sedih deh, Ma. Soalnya gak biasanya Nadia kayak gitu," ucap Audy.
"Kayak gitu gimana?" tanya Ayu.
"Rambutnya acak-acakan, Ma. Biasanya 'kan Nadia bersih," jawab Audy.
"Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin saja Nadia lagi capek." Ayu mencoba berpikir positif.
Di kamar Nadia masih menangis, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi kepadanya. Aldo yang dia pikir bisa melindungi dirinya, ternyata malah berbuat mesum kepadanya.
Bersambung ...
__ADS_1