
Teman-teman Nadia menjauh, memberikan ruang untuk pasangan suami-istri itu mengobrol.
Nadia melepas genggagaman tangan Aldo. "Lo mau sandiwara apa lagi sih, Do?" Lo sudah bebas, bentar lagi lo juga cerai dari gue."
"Nad, Kali ini gue bener-bener minta maaf. Gue gak bakalan cerai sama lo." Aldo kembali meraih jemari Nadia.
Nadia kembali melepas genggaman tangan Aldo, laku berbalik badan. Nadia tampak ragu dengan Aldo. Sudah berapa kali dia minta maaf, tapi besoknya dilakukan lagi.
Aldo mengubah posisi menghadap Nadia. "Kalau perlu lo bisa bawa hp gue. Gue gak bawa hp gak masalah asal lo maafin gue."
Nadia tersenyum, lalu mengambil handphone yang ada di tangan Aldo. "Oke gue maafin lo."
Seketika itu Aldo menyesal. Di dalam handphone itu ada video tidak senonoh dan chat mesra dengan Amanda. Kalau Nadia melihat, bisa gawat.
"Sebentar, Sayang. Ada beberapa teman yang perlu aku hubungi, habis itu aku berikan hp ku ke kamu," pinta Aldo.
"Gak bisa." Nadia mendelik menatap Aldo.
Aldo tidak bisa berbuat apa-apa. Kini dia hanya bisa pasrah dengan keadaannya.
Di sisi lain, Audy hendak mencari Reihan. Audy ingin tau dari mana Reihan tau kalau dia sedang mencari Aldo. Reihan terlihat berada di kantin sedang makan siang.
Audy menghampiri Reihan duduk di depannya. "Tumben gak ada Levi."
Reihan terkejut melihat Audy ada di depannya sampai dia tersedak. Audy segera mengambilkan air untuknya. Reihan langsung meminum dengan buru-buru. Audy tidak heran dengan tingkah Reihan yang seperti itu. Dari dulu dia tidak pernah berubah, gampang panik.
"Gimana? Sudah lega," ucap Audy.
"Lo ngapain sih, bikin kaget saja," balas Reihan.
Audy menghela napas. "Gue hanya pengen tau saja. Lo bisa tau kalau gue nyariin Aldo dari mana?"
"Bukan urusan lo," jawab Reihan dingin.
"Ya jelas urusan gue lah, lo ikut campur masalah gue!" bentak Audy sambil memukul meja.
Reihan terperanjat. "Lo nyari Aldo, kan? Gue bantu lo. Bukannya terima kasih malah marah ke gue."
"Gue gak butuh bantuan lo. Gue bisa nyari sendiri."
__ADS_1
Reihan berdecak. "Gue malas ngomong sama lo."
"Dasar pria pengecut! Kalau suka sama cewek itu diungkapin, bukan di diemin," sindir Audy saat Reihan pergi dari tempat duduknya.
Reihan terus berjalan menjauh dari Audy. Reihan sebenarnya gugup saat bicara dengan Audy. Emosinya hanya karena dia tidak bisa menahan rasa kecewa Audy karena sudah jadian dengan Ryan.
Dari lubuk hati yang paling dalam, Reihan sebenarnya ingin bersama dengan Audy seperti dulu. Namun, bagi Reihan itu sudah tidak mungkin terjadi. Gaya hidupnya kini berbeda dengan Audy.
Dari segi pemilihan makanan saja sudah beda. Reihan lebih memilih makanan dengan lauk seadanya, yang penting perutnya kenyang. Audy lebih memilih makanan yang sehat dan bersih yang tentunya mahal harganya. Untuk mengimbangi gaya hidup Audy yang sekarang Reihan tidak sanggup.
Di sisi lain, Audy masih cemberut duduk di meja kantin. Audy merasa Reihan orang yang pasif. Masak harus Audy yang memulai, padahal harusnya Reihan yang mencari cara untuk bisa mendekatinya kembali. Audy dalam hati sudah membuka perasaannya untuk Reihan. Tapi, Reihan masih sok cuek dan selalu membuat Audy kesal.
Sebenarnya hanya formalitas saja menanyakan tentang 'kenapa Reihan ikut mencari Aldo.' Audy hanya ingin bertemu denhan Reihan. Namun, Reihan malah menanggapinya dengan wajah yang tidak bersahabat. Audy menjadi kesal dan meluapkan amarahnya.
...***...
Keberangkatan menuju lamongan pun di mulai. Audy, Levi, Vita, dan Reihan sudah berada di stasiun pasar senen. Kereta mereka akan berangkat jam satu siang, ini masih pukul dua belas siang, masih ada satu jam keberangkatan. Mereka makan siang di kedai sederhana untuk mengisi perut.
"Mana tiket gue, Lev!" pinta Audy.
Levi merogoh tas kecilnya memberikan tiket kepada Audy, Reihan, dan Vita.
"Kita nanti duduk dimana, Lev?" tanya Vita.
"Duduk di keretalah," jawab Levi meninggikan nada suaranya.
"Ya dimana? Gue belum pernah naik kereta soalnya," ucap Vita kesal.
"Itu kan ada tulisannya, kita masuk di gerbong nomor delapan, nomor kursinya juga ada, jangan sampai salah nomor kursi," jelas Levi.
Setelah makan mereka berkemas, menunggu di peron bersama penumpang lainnya. Suara annaucer terdengar merdu di telinga. Kereta akan segera tiba lima menit lagi. Mereka berempat dan penumpang kereta bersiap karena kereta sudah terlihat dari kejauhan.
Kereta eksekutif Jayabaya jurusan Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Babat Lamongan tiba. Reihan, Audy, Vita, dan Levi masuk di gerbong yang sudah di tentukan, lalu mencari nomor kursi mereka.
Perjalanan kurang lebih memakan waktu sepuluh jam. Setelah menaruh tas di bagasi mereka berempat memutuskan tidur. Laju kereta yang cepat dengan suara lirih di telinga membuat mereka berempat terlelap dengan cepat.
Baru setengah perjalanan Levi terbangun melihat jam yang ada di tangan kirinya. Baru jam enam petang. Levi membangunkan ketiga temannya yang masih tertidur. Reihan disebelah Levi, sedangkan Audy dan Vita di depan Levi.
"Bangun-bangun sebentar lagi mau makan malam!" seru Levi.
__ADS_1
Mereka bertiga terbangun dari tidur yang nyenyak.
"Makan malam jam berapa, Lev?" tanya Reihan.
"Jam tujuh," jawab Levi singkat.
Reihan meminum botol air mineral yang ada di samping tempat duduknya.
"Bagi dong? Haus nie gue," pinta Reihan.
"Itu di depan lo 'kan ada." Reihan menunjuk botol minuman yang ada di depan Levi.
Levi tersenyum nyengir. "O iya ya."
Jam makan siang tiba, kereta berhenti di stasiun Poncol Semarang. Setiap penumpang mendapatkan jatah makan malam gratis. Prama dan Prami terlihat sibuk membagikan kotak makanan kepada penumpang.
Levi tersenyum saat melihat seorang prami yang cantik sedang membagikan kotak makanan.
"Praminya cantik ya," ucap Levi kepada Reihan.
"Kambing di bedakin juga lo bilang cantik, Lev." sindir Reihan.
"Ah lo ... pikiran lo hanya Audy saja, tapi gak berani ngungkapin," balas Levi sambil menahan tawa.
Reihan melirik Levi kesal. Kalau berhubungan dengan Audy Reihan sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kalian lagi. ngomongin gue ya," ucap Audy yang menoleh ke belakang."
Reihan pun terkejut, dia langsung membuka kotak makan, pura-pura makan dengan cepat.
"Dikit," jawab Levi.
"Ada orangnya di depan malah di omongin. Pamali tau," ucap Audy.
"Betul itu." Levi menegaskan.
Reihan masih melanjutkan makannya tidak berani menatap ke depan. Audy tau kalau Reihan sedang salah tingkah. Audy hanya ingin tau reaksi dari Reihan saat sedang membicarakannya.
Bersambung ...
__ADS_1