
Audy dan Nadia menunggu Reihan di taman siswa. Tak berselang lama Reihan datang menghampiri Audy.
"Gimana ... lo sudah siap nyiapin hadiah buat gue."
Audy berdiri, lalu menyunggingkan senyum. "Yakin lo minta camera dari gue?"
"Lha ... kan sesuai perjanjian?" Reihan mulai heran.
Audy memperlihatkan dua keramik berwarna coklat dihadapan Reihan. "Ini apa."
Reihan membulatkan mata tersenyum nyengir. "Gu-gue bisa jelasin."
"Lo 'kan yang mengganjal timbangan kampus supaya lebih berat," ucap Audy.
"Buktinya mana?" alasan Reihan.
"Sudah gini saja, kita timbang sekali lagi badan Kak Audy," sahut Nadia.
"Oke gak masalah sih." Reihan terlihat keringat dingin.
Mereka menuju ruang olah raga. Audy kembali menimbang tubuhnya disaksikan Nadia dan Reihan. Dan berat Audy memang tujuh puluh lima kilo gram.
"Lo lihat sendiri, kan. Berapa beratnya Kak Audy sekarang," ucap Nadia.
Reihan hanya bisa menggaruk menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kak Audy ... bulan lalu beratnya berapa?" tanya Nadia.
"Delapan puluh lima kilo."
"Kalau sekarang?"
"Tujuh puluh lima kilo."
Nadia tersenyum sinis, bertanya kepada Reihan. "Sudah jelas 'kan siapa pemenangnya?"
Reihan terdiam menelan salivanya. "Rusak kali nie timbangannya."
"Lo gak usah banyak alasan deh. Kalau kalah ya kalah saja!" bentak Nadia.
"Nad, gak boleh gitu ah," ucap Audy.
"Oke fine, gue kalah. Puas lo!" Reihan pergi dari hadapan Nadia dengan wajah memerah.
"Mau kemana lo!" pekik Nadia.
"Sudah, Nad." Audy memegang lengan Nadia.
"Kok dia kabur sih, Kak."
"Nanti Reihan juga nemuin gue. Reihan orangnya tepat janji kok," ucap Audy.
Nadia mendengus menatap ke depan, lalu berjalan keluar ruang olah raga. Nadia hendak mencari Aldo di lapangan basket. Biasanya Aldo ada disana.
Benar saja, Aldo terlihat sedang bermain basket sendirian.
Nadia menghampiri Aldo. "Pagi, sayang."
"Pagi," balas Aldo yang sedang berlatih lemparan tree point.
"Pagi-pagi kok kamu sudah main basket sih, Do. Memang kamu gak ada jam kuliah?" tanya Nadia sambil memberi air mineral.
"Nanti agak siang. Kamu kok tau aku ada di sini?" Aldo mengambil tas mengajak Nadia duduk di kursi panjang pinggir lapangan.
"Feeling saja," jawab Nadia.
Sambil minum Aldo mengacak-acak rambut Nadia. "Hebat sekali kamu. Jangan-jangan kamu berbakat jadi paranormal."
"Ihh ... apa sih. ada-ada saja deh kamu." Nadia cemberut, lalu tersenyum menatap Aldo.
Aldo terkekeh. "Kamu gak ada jam kuliah?"
Nadia menggeleng sambil mengulum bibirnya yang membuat dia semakin imut.
__ADS_1
"Kok berangkat pagi?"
"Tadi aku nemenin kakakku, habis dikerjain sama Reihan soalnya," jawab Nadia.
Aldo terkekeh. "Ooo ... gitu."
"Nanti malam kamu ada acara?" tanya Aldo.
"Paling cuma bikin konten saja sih. Emang ada apa?"
"Aku mau ngajak kamu jalan."
"Kemana?"
"Ke Mall saja. Nonton, makan jam, sepuluh pulang.
Nadia menyunggingkan senyum menatap Aldo. "Oke."
Aldo mengecup rambut Nadia. "Makasih, sayang."
"Kita ke taman yuk," ajak Nadia.
"Boleh ... sekalian aku mau cari Levi."
Nadia terkekeh. "Memang ada apa kamu cari Levi."
Aldo berdecak. "Nganu ... kunci mobil ku dibawa."
"Lagian kamu aneh-aneh saja sih ngasih kunci mobil sama Levi. Dia 'kan orangnya agak aneh."
Aldo menahan tawa. "Bener tu apalagi kalau lagi jalan. Ringan banget kayak sedotan."
Nadia tertawa. "Gak boleh gitu ah."
Suasana lengang sejenak.
"Ayo." Aldo dan Nadia beranjak dari tempatnya.
"Bos!" Levi berlari menghampiri Aldo.
Aldo terlihat kesal melihat Levi. Aldo menarik tubuh Levi menjauh dari Nadia. "Ada apa sih."
"Jadi gak malam ini," ucap Levi pelan.
"Lo jangan ngomong saat gue sama Nadia, bego'. Nanti siang temuin gue di lapangan basket."
Levi menaik-turunkan kepala, lalu mereka berdua menghampiri Nadia.
"Sudah?" tanya Nadia.
"Sudah. Iya kan, Levi?" Aldo menepuk punggung Levi hingga tubuhnya membungkuk.
"Gue pergi dulu, bos." Levi mulai jaga jarak dengan Nadia.
Aldo mengangguk.
...***...
Siang hari Audy menghampiri Reihan yang sedang makan. Audy duduk berhadapan dengan Reihan. Reihan terlihat cuek sambil mengunyah makanan.
"Reihan! Kok diam saja sih. Lo masih marah sama kejadian tadi pagi?"
Reihan hanya diam, dia tetap asik makan. Audy kesal, dia mengambil piring Reihan.
Reihan menatap Audy. "Apaan sih!"
"Kalau ada orang ngomong didingerin ngapa?"
"Lo gak lihat apa gue lagi makan. Kalau ada orang makan jangan diajak ngomong dulu." Reihan balik menimpali Audy. Mengambil kembali piring makanannya.
Audy hanya bisa menghela napas, lalu pergi meninggalkan Reihan.
"Mau kemana?" Reihan dengan sigap memegang tangan Audy.
__ADS_1
Audy menoleh menatap Reihan. "Percuma ngomong sama karung beras. Mending gue pergi."
"Duduk saja dulu. Kan gue lagi makan. Nunggu selesai makan dulu," bujuk Reihan.
Audy jengah. "Sambil ngomong 'kan bisa, Reihan."
"Kalau tersedak gimana?"
Audy mengeraskan rahang, hingga terlihat gigi putihnya. "Ya sudah deh fine. Gue tunggu lo selesai makan."
"Kamu sudah makan?" tanya Reihan.
"Gue lagi diet."
"Kan taruhannya sudah selesai?"
"Terus kalau taruhannya sudah selesai. Gue harus makan banyak lagi gitu. Lo mau badan gue gendut lagi," omel Audy.
"Baguslah ... itu berarti duit gue masih utuh." Reihan tersenyum nyengir.
Audy menggerutu tidak jelas.
Reihan beranjak dari tempatnya.
"Mau kemana?" tanya Audy dengan suara tinggi.
"Mau bayar. Atau hari ini lo yang bayarin." Reihan tersenyum menaik-turunkan alisnya.
"Ogah," jawab Audy.
Reihan kembali duduk di depan Audy. "Mau ngomong apa?"
"Anterin gue ke toko buku."
"Oke ... anggap saja ini sebagai ganti traktir makan siang," ucap Reihan.
Mereka menuju parkiran. Audy duduk di belakang motor Reihan. Kali ini Reihan tidak usah memberikan setengah tempat duduknya karena tubuh Audy sudah turun 10 kg.
Sepuluh menit perjalanan mereka berdua sudah sampai di toko buku.
"Lo mau beli buku apa, Dy?" tanya Reihan.
"Buku diet," jawab Audy.
"Bukannya di rumah lo banyak ya bacaan buku diet."
"Itu bukunya Nadia, gak enak gue minjem terus," ucap Audy sambil berjalan di rak buku.
Reihan mengangguk.
Lelah berjalan akhirnya Audy menemukan buku yang dia cari. Audy pergi ke kasir untuk membayarnya.
"Nanti malam ada acara di kantor perhutani. Lo mau ikut gak?"
"Acara apa, Rei? Kok gue gak tau?" tanya Audy saat naik motor di belakang Reihan.
Reihan melajukan motornya. "Lo mah sok sibuk. Jarang baca wa."
"Gue baca ... emang gak ada pesan masuk dari kantor perhutani."
"Ada, keselip kali," balas Reihan.
"Ah, sudahlah. Emang apa sih pesannya."
"Kan tadi gue bilang. Makan-makan."
Audy memanyunkan bibirnya, menepuk punggung Reihan. "Jam berapa?"
"Jam tujuh, Habis magrib gue jemput lo."
Tanpa disadari Audy tersenyum sendiri
Bersambung ...
__ADS_1