Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Nadia terkejut.


__ADS_3

Audy dengan cepatnya menenggak air mineral sampai bersendawa. Reihan yang melihatnya pun tertawa.


"kenapa sih ... ngledek ya!" Audy memasang wajah cemberut.


Reihan tertawa terpingkal. "Bibir lo kayak ikan koi sedang cari oksigen."


Audy menatap Reihan kesal. "Apaan sih."


"Kalau cewek anggun itu minumnya pelan, dirasakan, lalu menaruh botol minumnya di meja sambil mengusap lembut bibirnya pake tisu," ucap Reihan.


"Maksud lo Nadia?"


"Lo yang bilang sendiri ya. Bukan gue."


"Tapi gue tau maksud lo."


Reihan mengangkat bahunya.


Tiba-tiba para mahasiswi berlarian menuju lapangan Basket. Reihan bertanya kepada salah satu mahasiswi itu. Katanya ada pertandingan persahabatan melawan kampus sebelah. Pasti mereka ingin melihat Aldo bertanding.


"Dasar cewek jaman sekarang." Reihan menggeleng menatap para mahasiswi yang berlarian menuju lapangan basket.


"Cowok keren itu kaya gitu! Di kejar para cewek kampus," celetuk Audy.


"Balas dendam nie ceritanya?" Reihan menatap Audy sambil bertolak pinggang.


"Tersinggung 'kan, apalagi gue yang tiap hari dibanding-bandingin dengan Nadia," ucap Audy memperbaiki bando yang melingkar di kepalanya.


"Nonton yuk, lumayan buat hiburan," ajak Reihan.


Audy menyunggingkan senyum. "Boleh."


Mereka pun ikut nonton pertandingan basket antar kampus. para cherleader menari dengan lincah menyemangati sekolahnya masing-masing. Audy yang melihatnya jadi kesal karena mereka memiliki tubuh yang langsing dan pandai menari. Bertolak belakang dengan Audy yang hobinya makan dan menatap layar laptop.


"Kita duduk disana yuk, bareng yang lain," ucap Reihan mengajak Audy duduk di tengah tribun penonton.


Peluit panjang mulai ditiup, pertandingan baru saja dimulai. Audy dan Reihan duduk bersorak bersama suporter yang lain. Terdengar nyaring suara suporter cewek meneriaki nama Aldo.


Mereka sebenarnya tidak niat menonton pertandingan basket ini. Mereka hanya ingin melihat Aldo yang berkeringat memainkan bola basket


Memang Aldo terkenal jago bermain basket, dia juga salah satu anggota klub basket profesional.


Audy dan Reihan pun ikut terbawa atmosfer ruangan. Audy ikut berteriak mendukung tim basket kampusnya. Tanpa sadar Nadia juga ikut menonton disampingnya.


Audy terkejut menatap Nadia. "Lo kok ada di sini?"

__ADS_1


"Suka-suka gue lah," jawab Nadia.


"Lo pasti sama ya kayak cewek alay itu," tebak Audy.


"Apaan sih, mau tau aja," ucap Nadia yang membawa pom-pom cherleader.


Nadia bersorak, melompat kegirangan mendukung Aldo.


"Rei, kita pulang aja yuk!" ajak Audy.


"Nanggung, lagi seru nie," balas Reihan.


Reihan juga menikmati pertandingan ini. Audy jadi kesal menyembulkan bibirnya ke atas memperbaiki anak rambut yang menutupi matanya.


Hingga pertandingan selesai, skor 67 poin untuk kampus sebelah dan 70 poin untuk kampusnya Audy. Semua penonton bersorak merayakan kemenangan tim basket di kampusnya.


Nadia turun dari tribun menghampiri Aldo. membasuh keringatnya. Saling melempar tawa, sesekali Aldo juga mencubit pipi Nadia.


Audy yang masih di tribun penonton bertolak pinggang menatap tajam Nadia.


"Pulang yuk!" ajak Reihan.


Audy menatap Reihan dengan muka masam dan bibir manyun.


"Lo kenapa? Iri ngelihat Nadia selalu jadi yang spesial," ucap Reihan.


"Lo gak usah iri sama adik lo kali ...."


"Siapa yang iri," ucap Audy ketus.


"Raut muka lo itu menunjukan kalau lo itu iri sama Nadia. Mending lo fokus pada kelebihan yang lo punya, dari pada lo ngelihat Nadia mulu." Reihan masih berjalan di belakang Audy sambil menasehatinya.


Audy berhenti menatap Reihan. "Emang kelebihan gue apa, bandan gendut, atau tukang makan," ucap Audy meluapkan kekesalannya.


Reihan menatap mata Audy lekat, lalu memegang kedua lengannya. "Lo punya jiwa sosial yang tinggi, dan itu tidak dimiliki setiap orang."


Audy mematung, menelaah kata-kata Reihan.


...***...


Selesai pertandingan, para cherleader membentuk lingkaran memutari Nadia. suara terompet nyaring ditelinga serta hiasan rumbai warna-warni jatuh di lantai. Nadia tampak bingung sekaligus senang.


Seorang pria berjalan gagah membuka jalan menghampiri Nadia. Aldo dengan pesonanya berlutut memberi seikat bunga mawar dihadapan Nadia.


"Nadia Fiorentina ... aku lelaki yang mencintaimu sedari dulu dengan penuh kesadaran memberanikan diri untuk menjadi pelindungmu. Di hari yang bersejarah ini, aku Renaldo promes ingin mengungkapkan isi hati yang selama ini kupendam. Sudikah kau menjadi kekasihku," ucap Aldo seraya berpuisi.

__ADS_1


Nadia pun terharu menutup mulutnya. Para audience yang melihatnya bersorak meneriaki dengan kata terima.


Nadia tanpa sadar meneteskan air mata dan mengangguk menerima seikat bunga sebagai tanda dia menerima cintanya Aldo.


Aldo berdiri menatap lekat Nadia, lalu mereka berpelukan. Para pendukung Aldo bersorak gembira merayakan hari jadi Princes and Queen di kampus ini.


"Terima kasih kamu telah menerima cintaku," bisik Aldo.


Nadia mengangguk sambil terisak. Nadia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini dari Aldo.


Aldo melepas pelukannya, lalu memutar kepala. "Kalian yang ada di sini akan gue traktir sebagai rasa syukur gue karena telah mendapatkan wanita tercantik di kampus ini."


Semua audience berteriak senang.


Nadia dan Aldo bergandengan tangan keluar dari lapangan basket. Mereka berdua menuju tempat parkir mobil. Rencananya mereka berdua akan menuju cafeshop nya Ryan.


Aldo dan Nadia sudah memutuskan cafeshop itu menjadi tempat favorit mereka berdua.


Aldo membukakan pintu mobil dengan wajah manis untuk Nadia. Dengan senang hati Nadia masuk di kursi depan. Aldo memutar masuk ke pintu sebelah mulai menghidupkan mobilnya menuju cafeshop Ryan.


Dua puluh menit perjalanan Mereka tiba.


"Kita duduk lesehan saja yuk," ajak Nadia.


Aldo mengangguk. " kita duduk di ujung sana."


Mereka duduk berdampingan di sudut ruangan dengan lampu kerlap-kerlip. Suasana cafe lumayan ramai, banyak pengunjung silih berganti datang di cafe Ryan.


Seorang Waiter laki-laki lengkap dengan celemek dan seragam berwarna hitam. menghampiri Aldo dan Nadia hendak memberikan menu. Nadia mengambil buku menu itu.


"Bos lo dimana?" tanya Aldo kepada waiter.


"Pak Ryan sedang keluar kota, ada urusan pekerjaan katanya," jawab waiter itu.


"Gue pesen cappucino panas saja, kalau kamu pesen apa, Yang?" tanya Nadia yang sudah berani memanggil sebutan sayang.


"Aku sama kayak kamu saja deh," jawab Aldo.


"Cappucino panas dua segera diantar," ucap waiter itu.


Sambil menunggu pesanan datang, Audy dan Nadia bercanda mesra layaknya pasangan yang di mabuk asmara. Aldo terus melontarkan rayuan manisnya sambil merangkul bahu Nadia. Sesekali dia juga curi kesempatan mencium kening Nadia.


"Ehem ...." Waiter sedari tadi berdiri hendak menaruh pesanan mereka berdua.


Aldo dan Nadia tidak menyadarinya karena mereka sedang kasmaran. Aldo dan Nadia terkejut saat melihat Waiter tersenyum nyengir di hadapan mereka.

__ADS_1


"Sejak kapan lo ada di sini?" tanya a Aldo dengan mata membulat.


Bersambung ...


__ADS_2