
Audy melihat Nadia yang terlihat lemas.
"Nadia kenapa, Rei?" tanya Audy panik.
"Ini ulahnya Aldo," jawab Reihan.
"Aldo? Memang Nadia di apain Aldo?" Audy segera memapah adiknya masuk ke rumah.
"Gue gak tau persis, tapi yang jelas Aldo pasti ingin berbuat kurang ajar sama Nadia," jawab Reihan.
Nadia di rebahkan di kursi tamu, Audy melepas sepatunya.
"Berikan dia air hangat," ucap Reihan.
Audy mengangguk, segera dia mengambil air hangat untuk Nadia
"Minum dulu, Nad?" Audy mengangkat kepala Nadia supaya memudahkannya untuk minum. Audy menyeka keringat di kening Nadia, dia tampak khawatir.
Beberapa menit kemudian Nadia tertidur pulas.
"Gue pulang dulu ya," ucap Reihan.
Audy mengangguk mengucapkan terima kasih kepada Reihan. Audy memijat kaki Nadia supaya rileks.
Tak berselang lama Ayu datang tersenyum kepada Audy. Ayu belum tau kalau Nadia hampir celaka oleh Aldo.
"Tumben adikmu tidur di sofa?" tanya Ayu yang habis belanja.
Nadia tersenyum. "Mungkin lelah, Ma."
"Mama ke kamar dulu ya."
Audy mengangguk.
Beberapa jam kemudian Nadia tersadar, kepalanya masih terasa pusing, pandangan masih samar melihat ke atas.
"Aku dimana? Dimana Aldo?"tanya Nadia sambil memegang kepalanya.
Audy yang duduk di kursi samping menuntun Nadia bangun, lalu memberi air hangat untuk adiknya.
"Minum dulu, Nad?" Nadia menenggak air itu dengan cepat.
"Kak Audy? Aldo mana, Kak?" tanya Nadia lagi.
Audy menggeleng. "Reihan yang mengantarmu kesini."
"Reihan ... Aldo dimana? Tadi aku mendengar teriakan Aldo. Dia lagi terkapar di jalan," ucap Nadia terisak
Audy jadi bingung. "Kata Reihan Aldo yang hampir mencelakai kamu?"
"gak, Kak. Aldo mau mengantarku pulang tapi di jalan ada orang yang mencegahnya," ucap Nadia.
"Ya sudah lo mendingan telpone Aldo deh."
Nadia mengangguk.
Tut ... tut ... tut ...
__ADS_1
📲"Halo, Sayang kamu sudah sadar?"
📲"Lo dimana, Do?"
📲"Aku sedang di rumah sakit, kamu gak pa-pa 'kan, Nad?"
📲"Aku gak pa-pa, kamu gimana?"
📲"Aku hanya mengalami luka kecil sih, paling dua, tiga hari juga sembuh. Maaf ya aku gak bisa nganterin kamu sampai rumah."
📲"Gak pa-pap, Do. Yang penting kamu selamat. Aku khawatir dengan keadaanmu."
📲"Makasih ya, Sayang. see you .. muach."
Nadia menutup telponnya.
"Gimana?" tanya Audy.
"Aldo lagi di rumah sakit." Nadia menjambak rambut panjangnya.
"Lo yakin, Nad?" tanya Audy.
"Yakin, Kak. Lagian ngapain sih Reihan pake acara nganter gue segala. Jangan-jangan dia yang hendak berbuat kurang ajar sama gue," ucap Nadia.
"Reihan gak mungkin ngelakuin itu, Nad."
Nadia kesal memukul sofa, lalu beranjak menuju kamarnya.
"Nad ... Nadia!" panggil Audy yang tidak dihiraukan oleh Nadia.
Audy menghela napas, lalu mencoba menelpone Reihan.
📲"Gue ada di rumah, kenapa?"
📲"Bisa ketemu sekarang?"
📲"Gue capek banget, seharian belum tidur. Besok aja deh?"
📲"Ini penting Reihan ... tentang Nadia."
Reihan terdiam sejenak, lalu berkata oke. Audy menutup hp nya. Audy segera bergegas menuju cafeshop favoritnya. Kali ini Audy berangkat menggunakan taksi.
Reihan menunggu di depan cafeshop. Mereka berdua saling melempar senyum, lalu masuk duduk secara lesehan.
Reihan dan Audy memesan cappucino panas.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan Nadia. Tolong ceritain secara detail sama gue," ucap Audy.
"Tadi sehabis gue nganter lo pulang dari camping gue gak bisa tidur, lalu gue mampir kesini. Gue juga melihat Nadia dan Aldo duduk lesehan di tempat duduk kita ini. Tiba-tiba Nadia badannya lemas hendak di antar Aldo. gue curiga, kan? Gue hadang dia di jalan, disana gue sempat adu pukul dengan Aldo. Sampai akhirnya gue bawa Nadia pulang." jelas Reihan.
"Lo yakin Aldo mau berbuat kurang ajar sama Nadia?" ucap Audy.
Reihan mengangguk. "Gue tau siapa Ado, Dy? Dia itu suka mainin cewek."
Audy menghela napas. "Tapi Nadia nuduh lo yang gak-gak."
Reihan secara spontan memegang tangan Audy. "Lo percaya sama gue, kan?"
__ADS_1
Audy tersentak, dengan sendirinya dia mengangguk. Suasana lenggang, hanya suara alunan musik melankolis yang mengiringi mereka.
"Duh ... kenapa gue salah tingkah sih di depan Reihan," batin Audy.
Audy melepas pegangan tangan Reihan, lalu memperbaiki bando yang melingkar di kepalanya. Menyeruput seteguk cappucino yang ada di meja. Tubuhnya mulai berkeringat, entah kenapa dia gugup saat Reihan memegang tangannya.
"Pulang yuk! gue mau tidur," ucap Reihan.
Audy mengangguk dengan wajah bersemu merah.
Pagi tiba, seperti biasa Reihan sudah ada di depan rumah Audy. Nadia juga berada di pintu pagar menunggu Aldo menjemputnya.
"Hey ... lo 'kan yang kemarin mukul Aldo!" hardik Nadia.
Reihan menatap Nadia cukup lama. "Kemarin gue nyelametin lo."
Nadia mendorong Reihan hingga dia dan motornya hampir terjatuh. "Halah ... lo gak usah muna deh. Lo 'kan yang mau berbuat kurang ajar sama gue."
"Jaga mulut lo ya." Reihan berdiri menunjuk Nadia.
"Ada apa nie ...." Audy datang melerai mereka berdua.
Beberapa detik kemudian mobil ayla milih Aldo datang. Aldo turun menghampiri Nadia, lalu menatap tajam Reihan.
"Berani jangan sama cewek lo!" tantang Aldo.
Reihan tersulut emosinya, tapi Audy menahan Reihan untuk tetap tenang. Aldo tersenyum sinis kepada Reihan.
"Ayo, Do. Berangkat." Nadia menarik tangan Aldo segera masuk mobil.
Reihan melihat tajam belakang mobil Aldo yang menghilang saat berada di tikungan.
"Lo ngapain sih, Rei. Pagi- pagi sudah berantem," ucap Audy.
Reihan tampak kesal menatap ke depan. Tanpa melihat Audy Reihan memberikan helm untuk dipakai. Audy segera duduk di belakang dengan posisi miring.
Di perjalanan Reihan hanya terdiam, dia fokus menatap ke depan. Audy juga tidak berani mengajak Reihan bicara. Mereka berdua saling diam seperti benda mati. hanya suara bising kendaraan yang memekakkan telinga.
Sesampainya di kampus pun Reihan masih diam. Audy pun sudah tidak tahan ingin menegurnya.
"Reihan, lo kenapa sih dari tadi diam, wajah dotekuk."
Reihan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Audy. "Gue kesel sama adik lo."
Audy memperbaiki tas punggungnya. "Gue juga tau lo kesel sama Nadia, tapi rasa kesel lo jangan ngerugiin orang lain juga dong."
Reihan terkekeh. "Ngrugiin siapa, Audy."
"Gue ... lo dari tadi jalan diam aja, lo pikir gue karung beras?"
Reihan tersenyum tipis, lalu mencubit gemas kedua pipi Audy. Waktu terasa berhenti bagi Audy, tubuhnya mematung membuka mulutnya dengan tatapan kosong. Audy seperti tersihir oleh Reihan. Tanpa sadar beberapa detik setelahnya Reihan telah menjauh dari hadapan Audy.
"Hey ... bengong saja! Ayo cepat masuk kelas nanti bisa dihukum lagi kalau terlambat."
Audy tersadar dari lamunannya, segera dia berjalan membelakangi Reihan.
"Tunggu gue, Rei! Gue gak mau di suruh berdiri menghadap tiang bendera lagi."
__ADS_1
Bersambung ...