Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Air Terjun.


__ADS_3

Levi tidak terima karena dia juga ingin kejujuran dari Reihan.


"Kita lanjutkan setelah buat tenda," ucap Levi.


"Gak bisalah, 'kan janjinya sampai mobil berhenti di tempat tujuan," balas Reihan.


"Mana ada ... gak ada janji kayak gitu tadi," bantah Levi.


"Iya nie. Curang ... yang lain 'kan sudah dikerjain semua. Tinggal lo doang," cibir Audy.


"Salah sendiri muternya kelamaan," ucap Reihan.


"Tenang, Dy. Nanti kita balas," Bisik Levi.


Audy mengangguk mengacungkan jari jempolnya.


"Buat tenda sekarang atau nanti, Kak?" tanya salah satu adik kelas.


"Gimana, Rei?" tanya Audy kepada Reihan yang rebahan di pendopo.


"Sekarang saja yuk, nanti sore tinggal Istirahat," jawab Reihan terbangun dari rebahannya.


Audy mengintruksikan untuk segera membuat tenda. Ada tiga tenda dua untuk perempuan dan satunya laki-laki. Mereka semua ada delapan orang.


Setelah membuat tenda, Reihan, Levi dan Ibas seorang adik kelas istirahat karena kelelahan. Begitupun dengan para perempuan. Levi langsung rebahan memejamkan mata.


"Lev ... bantuin gue ngumpulin kayu buat api unggun nanti malam," ucap Reihan.


"Capek ah. Entar sore saja," jawab Levi.


"Kalau entar sore keburu habis kayunya."


"Ya sudah beli online saja."


"Lo ngarang ya, ini 'kan pegunungan. Lagian mana ada beli kayu online."


Levi berdecak, terbangun dari malasnya. Reihan dan Ibas keluar tenda di susul Levi.


"Kita mau beli kayu dimana?" tanya Levi.


"Kita turun ke bawah, tadi 'kan banyak penjual kayu," jawab Reihan.


Mereka bertiga membeli tiga ikat kayu kepada seorang perempuan paruh baya.


"Lumayan jauh juga ya," ucap Levi yang mengangkat kayu di pundaknya.


"Gak pa-pa, hitung-hitung olah raga," ucap Reihan.


"Kenapa waktu jalan kita gak beli sekalian saja sih, kalau kayak gini 'kan kita yang repot."


"Kan tadi lo ngajakin main truth or dare, jadi lupa deh kalau mau beli kayu."


"Gue lagi yang disalahin."


"Memang lo selalu salah," cibir Reihan.


Tak terasa di tengah perdebatan, mereka sudah sampai di atas, menaruh kayu itu di dekat tenda. Para wanita berada di pendopo sedang asyik ongbrol. Reihan menghampiri mereka.


"Kompor dimana?" tanya Reihan.


"Ada di tenda," jawab Audy.

__ADS_1


"Masak yuk, buat makan siang," ajak Reihan.


"Ya udah ayo." Audy mengambil dua kompor camping satu buat masak nasi satunya lagi buat masak sayur. Anak perempuan yang lainya ikut membantu mempersiapkan bahan makanan. Sedangkan para pria masuk tenda menunggu makanan matang.


Audy menyuruh salah satu juniornya untuk memanggil mereka bertiga.


"Kakak-kakak yang ganteng, makanan sudah siap," ucap Sherma anak semester dua sepantaran dengan Ibas.


Mereka bertiga bergegas bangun menuju sumber makanan.


"Kita bagi rata ya, makannya jangan banyak-banyak," ucap Audy.


"Kan perbekalan kita banyak?" protes Levi.


"Tapi kan wajan penampung nasinya kecil," jawab Audy.


"Masak lagi 'kan bisa."


"Boleh, tapi masak sendiri. Habis itu cuci piring," ucap Audy tegas.


"Siap."


"Lagian badan kurus kayak sedotan saja. makannya banyak," cibir Audy.


"Iya, kebalikan sama lo."


"Maksudnya?"


"Badan lo gemuk tapi makannya dikit."


"Halah ... Kak Levi ini hina Kak Audy gemuk. Tadi waktu Kak Audy nari erotis Kak Levi ngeces tu," sahut Sherma.


"Mending gue ngeces, dari pada yang ngono bengong saja ngelihatin Audy." Levi menunjuk ke arah Reihan.


"Lempar batu sembunyi tangan," ucap Levi


Audy terlihat mencuri pandangan kepada Reihan yang terlihat menunduk malu.


...***...


Sore pun tiba, mereka berdelapan hendak berkeliling di sekitaran lapangan. Katanya di dekat mereka berkemah ada air terjun. Mereka berdelapan begitu semangat menuju air terjun itu untuk mengabadikan moment.


"Mana sih air terjunnya, katanya dekat," protes Sherma.


Iya nie. Kita sudah jalan setengah jam nie belum juga kelihatan air terjunnya." Audy ikut mengomel.


"Sabar ... kata bapak tadi 'kan kita harus ikuti jalan ini," ucap Levi yang tampak kecapean.


"Tapi kita sudah jalan jauh lho, Lev.


"Ya sudah kita istirahat dulu," perintah Reihan sebagai ketua.


"Jangan-jangan bapak itu salah lagi," ucap Levi.


"Tadi 'kan lo yang nanya, gimana sih," omel Audy.


"Tadi kata bapaknya ikuti jalan setapak ini terus saja," balas Levi.


"Lo nanyanya gimana tadi," ucap Reihan.


"Air terjun glondongan mana ya, Pak? gitu."

__ADS_1


"Memang namanya air terjun glondongan?" tanya Audy.


"Setau gue sih gitu."


"Kita tanya lagi deh, kalau ada orang lewat," ucap Reihan sambil menyeka keningnya.


Terlihat seorang paruh baya membawa kayu menuju arah mereka.


Audy bertanya ramah. "Bapak, numpang nanya."


"Nanya apa ya, Neng."


"Air terjun glondongan itu dimana ya, Pak?"


"Ikuti saja jalan ini, Neng."


"Masih jauh gak, Pak."


"Mungkin sekitar lima kilo lagi. Neng dari mana?"


"Dari lapangan perkemahan, Pak?"


"Kenapa jalan kaki kalau dari sana, mending naik motor muter dari arah desa ngelewatin air terjun arjuna."


"Memang di dekat sini ada air terjun, Pak?" tanya Audy.


"Ada di dekat lapangan. Neng masuk saja di hutan kecil. di tengah-tengahnya ada air terjun arjuna."


Audy tersenyum berterima kasih kepada bapak itu, lalu kembali ke teman-temannya.


"Gimana?" tanya Levi.


"Lo tadi nanyanya kliru, oncom!" cibir Audy.


"Hah, kok kliru."


" kalau kita ke air terjun glondongan masih lima kilo. Harusnya nanyanya air terjun arjuna. itu paling dekat tempat kita berkemah." Audy kesal menonyor kepala Levi. Teman-teman yang lain ikut kesal menjambak rambut klimisnya Levi.


"Lo gimana sih, Lev." Reihan ikut kesal.


Levi terlihat pusing. "Sorry ... gue salah informasi."


"Iya nie, Kak Levi gak bisa diandelin," cibir sherma.


"Kita balik lagi, dengerin Levi bisa tersesat," ucap Audy menuntun mereka menuju air terjun terdekat.


Dua puluh menit perjalanan kedelapan anak muda itu diperlhatkan pemandangan air terjun yang indah di depan mata. semua menelentangkan tangan menghirup udara di sekitarnya.


"Indah banget!" teriak Sherma yang langsung berlari mendekati air terjun.


Teman-teman yang lain pun mengikuti sherma. Levi mengajak mandi di kolam air terjun. Namun Reihan menolaknya karena takut kena masuk angin. Tapi, Levi tidak peduli. Dia tetap bersi keras mandi di kolam air terjun yang dingin.


"Levi! Dibilangin susah amat sih!" cibir Reihan yang melihat Levi menceburkan dirinya di kolam air terjun.


"Bodo amat, di sini segar banget rugi kalau gak mandi." Levi terlihat riang mempengaruhi teman-teman yang lain.


Audy dan yang lainya pun terlihat terpengaruh.


"Kayanya seger deh, Rei." Audy juga ingin mencoba nyebur, walaupun Audy tidak bisa berenang.


"Jangan ... ini sudah sore, kalian nanti bakalan masuk angin. mending besok saja kesini lagi. kita berenang sama-sama," ucap Reihan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2