Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Kejutan Untuk Aldo.


__ADS_3

"Kejutan apa, Lev?" tanya Audy.


"Gue mau biar Nadia yang jagain Bos Aldo."


"Ide yang bagus tu, tumben lo pinter," ucap Audy riang.


"Nadia sekarang ada dimana?" tanya Aldo.


"Di rumah, lagi ngurus calon bayinya."


"Ya sudah cepetan telpone suruh kesini," desak Levi.


"Nanti saja, Lev. Buru-buru amat sih lo. Biar nanti Nadia datang bareng gue," ucap Audy.


"Ya sudah terserah lo deh."


Sore harinya Audy hendak mengajak Nadia ke tempatnya Aldo. Nadia begitu senang. setelah izin sama mamanya Nadia dan Audy berangkat menggunakan taksi.


Sampai di sebuah kos kecil lima pintu, Nadia dan Audy turun dari mobil taksi.


"Aldo tinggal di sini, Kak?" tanya Nadia heran.


Audy mengangguk. "Ayo masuk."


Pintu kamar Aldo tertutup. Audy mengetuk pintu memanggil nama Aldo.


"Buka saja gak di kunci," ucap Aldo.


Audy membuka pintu. "Hay, Do?"


"Lo, Dy. Datang bareng siapa?" tanya Aldo yang masih berbaring di tempat tidurnya.


"Ada deh, lo pasti senang."


Perlahan Aldo bangun, bersandar di dinding. "Siapa?"


Audy menepuk tangan memberi kode kepada Nadia. Aldo membulatkan mata melihat Nadia ada di depannya.


"Nadia." Wajah Aldo langsung sumringah.


Nadia menatap haru Aldo, berjalan pelan menghampirinya. Terlihat kerinduan terpancar di mata kedua insan.


Nadia duduk di depan Aldo, dengan lembut dia memegang wajahnya seolah ingin bertanya kenapa wajahnya lebam seperti ini. Aldo sedikit merasakan sakit, tapi tidak masalah asalkan bertemu dengan Nadia itu sudah cukup baginya.


"Gimana keadaan lo?" Audy merusak membuyarkan romantisme Aldo dan Nadia.


Mereka berdua pun segera merubah posisinya, salah tingkah. Audy mengulum bibirnya menahan tawa.


"Baik," jawab Aldo sambil menggaruk tengkuk kepalanya.


"Sudah minum obat belum?"


"Sudah."


"Gue keluar dulu ya, kalian ngobrol saja dulu." Audy keluar kamar kost. Audy sengaja melakukan itu supaya Nadia dan Aldo bisa berbicara dengan nyaman.


Suasana di ruang kost lengang. Lima menit tanpa pembicaraan.


"Gimana kandungan lo, Nad?" Aldo memulai pembicaraan.


"Sehat," jawab Nadia pelan.

__ADS_1


"Jaga anak kita ya?" Aldo tersenyum menatap Nadia lekat.


Nadia mengangguk sambil meneteskan air mata.


"Lo gak pa-pa 'kan, Do?" tanya Nadia terisak.


"Gak pa-pa. Hanya luka kecil."


Nadia mendekat, lalu bersandar di pundak Aldo. "Gue takut lo kenapa-kenapa, Do."


Aldo membelai rambut panjang Nadia. Aldo bahagia punya istri yang tulus seperti Nadia. Tanpa sadar Nadia terlelap sampai magrib berkumandang. Audy kembali melihat Nadia tertidur sambil memeluk Aldo.


"Besok sudah sembuh nie," goda Audy.


"Lo, Dy."


"Nadia dibangunin gie, mau gue ajak pulang. Takut mama nyariin."


Aldo berbisik lembut membangunkan Nadia. Dengan mata sipit, Nadia terbangun dari tidur lelapnya. Nadia akhir-akhir ini memang kurang tidur memikirkan Aldo.


"Nad, pulang yuk! Sudah malam," ucap Audy.


"Jam berapa ini, Kak?"


"Setengah tujuh."


Nadia tersenyum melihat Aldo, lalu mencium punggung tangannya pamit undur diri. Aldo termangu, ini pertama kali Nadia mencium punggung tangannya.


"Pulang dulu ya, Do?" Audy beseru.


Malam itu Aldo begitu senang, rasa sakit yang ada di tubuhnya seolah sembuh dengan seketika. Ada semangat dalam diri Aldo untuk membuktikan kalau dia bisa menghidupi Nadia dan calon bayinya tanpa mengandalkan harta warisan orang tua.


Esok paginya Reihan dan Audy melihat Aldo yang sudah berangkat ke kampus, walaupun dengan luka lebam yang belum sembuh. Audy dan Reihan menghampiri Aldo.


"Do, jangan dipaksain," ucap Reihan membantu Aldo berjalan.


"Gak pa-pa. Sudah gak terlalu sakit kok. Bosen gue di kost," ucap Aldo.


"Tapi masih kayak gini, Do? Mending istirahat dulu," desak Reihan yang diamini oleh Audy.


"Gak pa-pa." Aldo bersih keras. "Gue mau segera ngerampungin skripsi."


Reihan dan Audy pun menyerah kagum dengan semangatnya Aldo.


"Jadi kagum deh," ucap Audy saat Aldo sudah jauh.


"Ihh ... ingat suami orang," cibir Reihan.


"Reihan apaan sih, gitu-gitu juga adik ipar gue. Gak usah cemburu kali," pancing Audy.


"Siapa yang cemburu," sahut Reihan.


"Lo."


"Terus kalau gue cemburu memang kenapa?" tanya Reihan.


Audy menonyor kepala Reihan, lalu berlari. "Laki-laki cemen."


"Apa lo bilang." Reihan berlari mengejar Audy.


Audy dan Reihan terlihat bahagia karena masa-masa indah mereka kembali lagi.

__ADS_1


Di tempat lain, Sonia sudah mempersiap pesta ulang tahunn di rumahnya. Teman-temen sejiwanya juga membantu perhelatan acaranya. Ryan juga sibuk menyuruh tukang untuk memasang baner selamat datang bergambar Wajah Sonia di depan rumahnya.


"Suami lo oke juga ya, wajahnya kayak orang Korea," ucap Siska teman Sonia.


"Kalau lo mau, ambil saja."


"Beneran nie ..." Siska memastikan.


Sonia mengangguk.


Siska terlihat menatap Ryan dengan tatapan menggoda. Ryan tidak menyadari kalau dia jadi incaran salah satu tante girang.


"Tapi ingat lo harus bayar," ucap Sonia.


"Beres ... entar gue transfer. Duit suami gue gak ada limitnya," jawab Siska.


"Oke, campur ini ke dalam minumannya." Sonia memberikan sebutir obat.


"Ini obat apa?" tanya Siska.


"Itu obat tidur. Dia bakalan gak sadar saat lo pakai."


"Kurang greget dong."


"Dari pada dia gak mau," ucap Sonia.


"Oke deh." Siska mengambil obat itu, lalu Sonia menyuruh salah satu pembantu untuk membuatkan minuman dingin untuk Ryan.


"Ini minumannya, Nyonya," ucap salah satu pembantu.


"Campur." Sonia menyuruh Siska mencampur obat itu.


"Sayang, minum dulu gie," ucap Sonia.


"Lho kok minumannya cuma satu, minuman buat tukang-tukang kita mana?" tanya Ryan.


"Lagi dibuatin sama pelayan kita, ini aku buatkan spesial untuk kamu," ucap Sonia.


Ryan tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. Tanpa curiga, dia langsung menenggak minuman dingin itu sampai habis. Sonia tersenyum ceria karena Ryan telah masuk ke dalam perangkapnya.


"Aku ke dalam dulu ya, Sayang?"


Ryan mengangguk.


Beberapa menit kemudian, obat itu mulai bekerja. Ryan tiba-tiba merasakan kantuk yang sangat. Dia berusaha melawan kantuk itu, tapi efek obat itu terlalu kuat. Ryan pun tertidur di teras rumah.


Sonia menyuruh salah datu tukang membawa Ryan di kamar yang sudah ada Siska di sana. Direbahkannya tubuh Ryan di kasur empuknya. Sonia tersenyum sambil keluar dari kamar. Siska yang sedari tadi sudah tidak tahan, segera melucuti pakaiannya Ryan, lalu melakukan permainannya.


Setelah beberapa jam Ryan terbangun, dia menoleh di samping sudah ada Siska yang tersenyum menatapnya sambil memainkan rambutnya.


"Kamu sudah bangun ya, Sayang."


Ryan terkejut, tubuhnya tidak memakai sehelai benang pun.


"Habis ngapain gue lo!" seru Ryan.


Siska tersenyum tipis. "Tenang, gue sudah kasih bayaran sama Sonia. Nanti kamu bisa minta setengahnya."


Ryan tampak stress menjambak rambutnya sendiri.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2