
Aldo ternyata ada di rumah Amanda, Mereka berdua habis bercumbu mesra. Napas mereka berdua masih menderu hanya tertutup selimut tebal tanpa sehelai kain yang menempel di tubuhnya.
"Sayang, kapan kamu akan bercerai dengan Nadia?" tanya amanda sambil memegang wajah Ryan.
"Sebentar lagi sayang, setelah aku bercerai dengan Amanda, kita bisa bersenang-senang lagi seperti dulu," ucap Aldo.
Amanda tersenyum, lalu mencium pipi Aldo. "Kamu jangan bohong lagi ya?"
Aldo mengangguk, tersenyum tipis. Aldo beranjak dari tempatnya, mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu memakainya.
"Mau kemana?" tanya Amanda lirih.
"Ke kampus, sayang. Ada mata kuliah."
"Jangan pergi, aku ingin kamu menemaniku," pinta Amanda.
Audy tersenyum. "Kali ini aku harus pergi, aku harus lulus di tahun ini, kalau tidak papaku bisa marah denganku. Kalau papaku sudah marah, mungkin kita tidak akan bertemu lagi."
Amanda terlihat khawatir. Dengan tanpa busana Amanda memeluk Aldo dari belakang.
"Kamu jangan berkata seperti itu, aku takut kehilangan kamu."
Aldo berbalik badan, lalu memegang kedua lengan Amanda. "Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu."
Amanda menatap lekat Aldo
"Aku pergi dulu." Aldo mencium kening Amanda.
Jam makan siang Nadia terlihat masih mencari Aldo. Kesana kemari dia mencari tapi tetap tidak melihatnya.
"Bos Aldo belum ketemu?" tanya Levi.
"Belum nie ..." Nadia menyeka keningnya.
"Lo sudah ke kelasnya belum?"
"Belum, gue 'kan tadi ada jam kuliah," jawab Nadia.
"Coba lo tanya temen satu jurusannya," usul Levi.
Nadia mengangguk. Dari lorong kampus Levi melihat Aldo yang terlihat tersenyum tebar pesona.
"Itu si bos," ucap Levi.
Nadia tersenyum, lalu berlari menuju Aldo.
"Lo kemana saja, gue cariin dari tadi?"
"Gue ada urusan, perut gue lapar nie ... makan yuk," ajak Aldo.
__ADS_1
Dengan senang hati Nadia setuju.
"Bos!" Levi menghampiri Aldo dan Nadia. "Dari tadi di cariin kemana saja?"
"Alah ... lo gak perlu tau. Mau makan gak?"
"Maulah, bos ... makan!" Levi begitu bersemangat saat ditraktir makan sama Aldo.
"Gue perhatiin lo makin deket sama si Reihan," ucap Aldo saat sedang makan di kantin kampus.
"Kemarin dia minta bantuan sama gue, bos."
"Bantuan apa?" tanya Aldo.
"Buat ngejauhin Audy sama Ryan, tapi gagal," jawab Levi.
Aldo menahan tawa.
"Lagian, nyuruh orang kayak lo ya pasti gagal lah!" sahut Nadia.
"Kalau Reihan mau saingan sama Ryan ya jauhlah!" sambung Aldo.
Levi menggeleng. "Tau deh. Kasian tu bocah."
"Sekarang Reihan kemana? Tumben dia gak ada, Kak Audy juga gak ada," ucap Nadia.
"Belum tentu juga, siapa tau Reihan lagi sakit, Audy lagi jalan sama Ryan," ucap Aldo.
"Tadi Reihan ada, cuma lagi kemana ya?" Levi menoleh ke sudut lorong.
"Sudahlah jangan dipikirin, itu urusan mereka berdua," ucap Nadia.
"Gak bisa gitu dong ... kalau Reihan sampai jadian sama Audy, gue mau minta bonus sama dia," ucap Levi.
Nadia terkeleh. "Memang lo dibayar berapa sama Reihan?"
"Seratus ribu," jawab Levi.
"Lo ngapain sih minta duit sama tu bocah. Lo 'kan tau si jambang satu itu gak punya duit. Kalau lo butuh duit bilang saja ke gue," ucap Aldo.
"Kemarin-kemarin kan Bos sibuk dengan tuan putri, jadi gue terpaksa nebeng sama Reihan," keluh Levi.
Aldo melirik ke Nadia. "Itu karena ..."
"Karena kita pengantin baru, makanya kita sibuk. Tau sendiri kan lo pengantin baru kayak gimana," ucap Nadia memotong pembicaraan Aldo.
Levi tertawa. "Gue paham. Enak ya jadi pengantin baru."
"Entar lo juga ngerasain," ucap Aldo.
__ADS_1
...***...
Di tempat lain, Ryan mengajak Audy di tempat kerjanya. Ruangan cafeshop lantai atas, disana Audy bisa melihat para pengunjung lewat cctv yang di pasang di sudut ruangan. Ryan memeluk Audy dari belakang.
"Sayang, kita main lagi yuk," ajak Ryan.
Audy membalikan badan tersenyum menatap Ryan. "Apa sih yang gak buat kamu. Aku ambilkan minum dulu ya, biar lebih hot."
Ryan mengangguk pelan, dia tidak sabar menikmati tubuh mulus Audy. Audy menuju ke bawah membuatkan dua minuman soda yang satu dicampur dengan obat tidur. Tak berselang lama Audy datang menghadap Ryan.
"Sayang, ini minumannya," ucap Audy.
Mereka berdua bersulang, Ryan menenggak habis minuman itu. Segera dia melucuti bajunya. Namun, dengan segera obat itu bereaksi, Ryan mulai samar melihat Audy. Dia mengalami rasa ngantuk yang amat sangat. Dengan satu dorongan, Audy membuat Ryan tergeletak di sofa.
Audy tersenyum sinis menatap Ryan yang tertidur pulas. Segera dia mencari tau siapa Ryan yang sebenarnya. Audy membuka laci serta benda apapun yang sekiranya menunjukkan identitas Ryan. Audy menemukan sebuah pil, baunya tidak asing untuknya.
Audy membawa pil itu. Audy juga menemukan identitas Ryan. Ternyata dia sudah mempunyai istri, dan umur istrinya hanya tepaut lima tahun dari mamanya. Audy sangat kesal, dia menendang meja kerja begitu keras. Kalau saja membunuh tidak dilarang, mungkin Audy sudah melakukan itu kepada Ryan.
Audy menjadi curiga, jangan-jangan cafe yang dia bangun bukan dari kerja kerasnya. Audy mencari lagi di laci tempat kerja bagian bawah, dia menemukan Ijazah terakhir Ryan. Ternyata dia hanya lulusan SMA. Ryan juga pernah melamar sebagai cleaning service di sebuah perkantoran. Audy mencari bukti lagi, tapi sudah tidak ada.
Bukti ini sudah cukup membongkar siapa itu Ryan yang sebenarnya. Audy segera beranjak dari ruangan Ryan. Dengan langkah cepat dia keluar dari cafehop. botol kecil yang berisikan pil, identitasnya, dan pendidikan terakhir. Audy bisa mencari tau lebih jauh lagi jika bisa bertemu dengan istrinya Ryan yang bernama Sonia Jubaedah. Wanita berumur empat puluh satu tahun.
Di rumah, Audy melihat Nadia dan Aldo duduk di meja makan. Nadia heran dengan cara berpaksian kakaknya yang kelewat seksi.
"Ya Ampun Kak Audy." Nadia menutup mata Aldo dari pandangannya.
Audy tersenyum nyengir. "Kakak ganti baju dulu ya."
Aldo melepas tangan Nadia yang menutupi pandangannya. "Kamu apaan sih!"
"Itu Kak Audy."
"Aku 'kan sudah punya kamu, jadi gak mungkinlah aku tertarik sama kakakmu," ucap Aldo.
"Aku ke atas dulu ya, mau ke kamar kak Audy." Nadia beranjak dari duduknya menuju lantai atas.
"Kakak tadi kemana saja, di cariin sama Levi dan Reihan," ucap Nadia saat duduk di tepi kasur.
"Kakak tadi ada urusan," balas Audy yang sedang mengganti celananya.
"Kakak tadi pergi ya sama Ryan."
"Gak ... kakak tadi pergi ke perhutani ada
urusan disana."
"Kak Audy bohong, mana mungkin ke perhutani memakai baju seksi kayak gini. Lagian Nadia baru kali ini melihat Kak Audy memakai hot pants."
Bersambung ...
__ADS_1