
Pagi harinya Audy terlihat sudah bersiap berangkat menuju kampus.
"Cantik sekali anak Mama," puji Ayu.
"Iya dong, Ma. Pokoknya hari ini dan hari-hari seterusnya Audy harus berpenampilan maksimal," ucap Audy riang.
Ayu menyunggingkan senyum. "Pasti karena pria yang setiap hari boncengin kamu itu, kan?"
Audy tersipu malu. "Mama apaan sih."
Ayu tertawa melihat expresi anaknya yang salah tingkah.
"Nadia sudah berangkat, Ma?" tanya Audy mengalihkan pembicaraan.
"Oiya, Mama sampai lupa." Ayu segera ke kamar Nadia mengetuk pintu.
"Nadia ... kamu masih di kamar, Nak?" panggil Ayu.
Nadia terlihat masih malas untuk Berangkat ke kampus. Dia memakai bedak putih supaya wajahnya terlihat pucat, lalu berbaring menarik selimutnya.
"Masuk, Ma. Pintu gak Nadia kunci kok," ucap Nadia dengan suara parau.
Ayu membuka pintu kamar. "Kamu kenapa, Nak?"
"Gak tau nie, Ma. Badan Nadia panas."
"Ke dokter gimana, nanti biar Mama yang antar."
"Gak ah, Ma. Nanti siang juga enakan," jawab Nadia.
"Kamu yakin?"
Nadia mengangguk. "Biar Nadia minum obat rumah saja dulu, Ma."
Ayu mengusap rambut Nadia. "Ya sudah, jangan lupa makan ya, Nak."
Nadia mengangguk, sambil menggigil. Audy ikut masuk kamar.
"Lo sakit, Nad?"
Nadia mengangguk.
Suara klakson motornya Reihan terdengar di telinga.
"Gue berangkat dulu ya, Reihan sudah datang." Audy mencium punggung tangan mamanya. Audy terlihat terburu-buru menemui Reihan.
"Pagi, Reihan ...." Audy tersenyum menatap Reihan.
"Tumben lo nyapa gue, biasanya juga ngomel, Kalau gak cemberut," jawab Reihan.
"Terus gue harus gimana sama lo?" tanya Audy kesal.
Reihan terkekeh mrnghidupkan mesin motornya. "Ayo naik."
Audy sedikit kecewa karena Reihan tidak bisa menangkap maksudnya. Audy duduk di belakang kembali cemberut menepuk pundak Reihan.
"Jalan, Bang."
"Lo pikir gue tukang ojeg," ucap Reihan melajukan motornya.
"Lagian pagi-pagi lo sudah nyebelin," cibir Audy.
"Iya deh, gue minta maaf."
"Gue berpenampilan ramah 'kan buat lo." Audy berkata spontan.
"Apa!" Reihan ingin mendengar ucapan Audy sekali lagi."
"Ma-maksud gue ... gue dandan kayak gini biar gak dikatain cewek galak."
__ADS_1
Reihan terkekeh. "Kirain lo suka sama gue."
Audy terdiam.
"Memang gue suka sama lo, jambang. Kapan sih lo sadar," batin Audy
Sesampainya di kampus, Audy dan Reihan dihampiri sama Aldo dan Levi.
"Ehem." Aldo berdehem.
"Ada apa lo. Mau nyari masalah sama kita," ucap Audy sewot.
"Pagi-pagi sudah marah-marah saja. Gue kesini cuma mau nanya kabar Nadia."
"Lo 'kan pacarnya, masak gak tau keadaan Nadia," cibir Audy.
Aldo menunjukan handphonenya di hadapan Audy. "Nadia nomornya gak aktif, makanya gue kesini mau nanya sama lo."
Audy melirik kesal Aldo. "Nadia hari ini gak masuk. Dia lagi sakit."
"Sakit?" Aldo terdiam sejenak memegang dagunya. "Oke terima kasih atas informasinya."
Levi nenyunggingkan senyum, lalu menjawil dagu Audy.
"Apaan sih lo!" Audy tampak emosi dagunya di jawil sama Levi. Namun, Reihan menenangkan Audy. Levi segera menjauh dari Audy.
"Sudah, tenang. Ini masih pagi. Mending kita kuras pikiran kita untuk menghadapi kelasnya pak Bambang," ucap Reihan.
Audy menarik napasnya, lalu menghembuskan secara kasar.
Di sisi lain, Aldo dan Levi duduk di kantin sambil sarapan soto.
"Bos gak jenguk Nadia?" tanya Levi sambil memakan soto.
"Gak usah, kemarin gue udah jenguk dia," jawab Aldo.
"Kok gak ngajak gue, bos." protes Levi.
Levi tersenyum nyengir.
"Lo kemarin kemana sampai pulang malam?" tanya Aldo kesal.
"Gue pingsan, bos. Kemarin gue diantar sama Reihan."
"Tu kan apa gue bilang. Lo tu kebanyakan main," Aldo melempar tisu ke arah Levi.
...***...
Di tempat lain, Nadia terlihat sudah rapi dengan baju celana jeans serta atasan menggunakan kaos polos berwarna putih. Nadia hendak pergi ke suatu tempat. Dia menggunakan taksi menuju pasar swalayan.
Sesampainya disana, dia melihat Amanda sedang membawa rak belanja. Nadia menghampiri gadis berkulit putih itu.
"Hay Amanda?" sapa Nadia.
"Nadia ... Lo kok ada di sini." Amanda terkejut riang.
Nadia mengangguk. "Aku hari ini gak kuliah."
"Kenapa?" tanya Amanda.
"Lagi malas saja." Nadia tersenyum tipis.
"Kita belanja bareng saja yuk! Aku juga baru sampai kok," ajak Amanda.
Nadia tersenyum, lalu menganggukan kepala.
"Oya, Nad. Gimana hubungan lo sama Aldo?" tanya Amanda.
"Baik."
__ADS_1
"Aldo orangnya bawel ya." Amanda sambil mengambil keperluan belanjanya.
"Gak ... Aldo orangnya perhatian." Nadia berbohong. dia tidak mau ada orang yang tau tentang hubungannya dengan Aldo.
Suara telpon berdering di saku celana Amanda. "Sebentar ya, Nad. Gue angkat telpon dulu." Amanda menjauh dari Nadia.
📲"Halo Aldo."
📲"Nanti malam ketemuan bisa, kan? Gue kangen banget sama kamu, sayang."
📲"Pasti kamu mau nakal 'kan sama gue?"
📲"Hahaha ... ini yang gue suka dari kamu."
📲"Gue lagi bareng Nadia nie, lo mau ngomong gak?"
📲"Apa! Kenapa lo gak bilang!"
📲"Tenang saja, sayang. Gue gak bakal bocorin rahasia kita."
📲"Ya sudah, gue mau ngomong sama Nadia?"
📲"Oke." Amanda menghampiri Nadia.
"Nadia, Ada yang mau ngomong nie sama lo." Amanda menyodorkan handphone nya kepada Nadia.
"Siapa?"
"Dari Aldo," jawab Amanda.
"Nadia terkejut, dia tampak ragu menerima telpon Aldo. Amanda terus membujuk Nadia untuk mau menerima telponenya.
Nadia mengambil telpone genggam dari tangan Amanda. Tangan Nadia bergetar saat mendekatkan hp itu di telinganya.
📲"Halo."
📲"Nadia!"
📲"A-ada apa?"
📲"Kamu lagi sama Amanda."
📲"Iya."
📲"Aku seneng banget dengernya, akhirnya kamu mau keluar rumah. Kamu kapan ke kampus?"
📲"Sudah dulu ya, Do. Gue lagi sibuk." Nadia mematikan handphone secara sepihak, lalu mengembalikannya kepada Amanda.
"Kok dimatiin?"
Nadia tersenyum tipis. "Gak pa-pa."
Amanda memperhatikan raut wajah Nadia yang tampak bersedih.
"Gue ke kasir dulu ya. sudah selesai nie."
Amanda mengangguk, tersenyum sinis saat melihat punggung Nadia yang semakin menjauh dari pandangannya.
Di tempat lain, saat jam istirahat. Di kantin begitu ramai dengan pengunjung. Audy dan Reihan kali ini mengantre panjang untuk mendapat giliran makanan.
Levi tiba-tiba datang menyerobot antrean. Sontak Audy dan teman-teman yang lain protes kepada Levi.
"Levi, kalau mau antre di belakang jangan nyerobot saja," ucap Audy yang di setujui teman-teman yang lainnya.
"Gue tadi ke toilet dulu, posisi gue tadi ada di sini," balas Levi.
"Ya gak bisa dong. salah sendiri lo kebelet. Ngantri gak lo!" ancam Audy
Levi tetap kukuh mempertahankan posisinya. Dua orang mahasiswa mengangkat kakinya Levi, lalu di taruh di antrean paling belakang.
__ADS_1
"Lo jangan curang, kita dari tadi ngantri belum lihat lo sama sekali. ucap salah satu mahasiswa.
Bersambung ...