Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Pura-Pura.


__ADS_3

"Ayo naik," ucap Reihan saat menghidupkan mesin motornya.


"Maju dikit, pantat gue mana cukup segitu."


Reihan mengalah, memberikan setengah tempat duduknya untuk perempuan dengan berat badan 85 kg. Audy duduk di belakang.


"Badan lo makin berat saja," ucap Reihan saat di perjalanan.


Audy memukul helm yang dipakai Reihan. "Enak saja, mulai minggu-minggu ini lo bakalan lihat perubahan tubuh gue."


"Gak yakin gue," Ucap Reihan ragu.


"Mau taruhan sama gue," tantang Audy.


"Oke. Satu bulan turun 20 kilo. Deal."


"Jangan dua puluh kilo, memang tubuh gue mesin perontok lemak apa. sepuluh kilo, gimana?"


Reihan berdecak. "Oke dech. Kalau kalah lo harus beliin gue kamera keluaran terbaru."


"Oke. Tapi, kalau lo yang kalah, lo harus traktir gue selama satu bulan di cafeshop langganan kita. Deal."


"Oke deal," ucap Reihan. Mereka berdua akhirnya saling setuju satu sama lain.


Sesampainya di depan rumah, Audy dan Reihan melihat Nadia memakai dres selutut dan tas kecil yang di kalungkan di pundaknya. Nadia menatap tajam Reihan.


"Mau kemana, Nad?" tanya Audy.


"Mau jalan sama Aldo," jawab Nadia.


"Pagi-pagi begini."


Nadia mengangguk.


Audy menghela napas, melipat kedua tangannya di dada.


"Gue balik dulu ya, Dy." Reihan pamit.


"Yo ... tank you ya, Rei!"


Nadia masih menatap tajam punggung Reihan yang semakin jauh dari pandangannya.


"Kak Audy ngapain sih? Masih berteman sama dia," ucap Nadia.


"Nad, gue itu kenal Reihan sudah dari SMA. Jadi Kakak taulah, Reihan itu kayak gimana."


"Jangan-jangan Kak Audy suka ya sama Reihan," ucap Nadia menyelidik.


Audy terperanjat, wajahnya tampak gugup. Dia pura-pura batuk untuk mengalihkan pembicaraan.


"Lho ... Kak Audy kenapa?" Nadia sedikit panik.


"Pertanyaan lo, aneh-aneh saja. Mana mungkin Kakak suka sama Reihan," sergah Audy.


"Kirain."


Tapi, kenapa setiap mendengar kata Reihan dia menjadi salah tingkah. Apa mungkin Audy mulai jatuh cinta dengan Reihan?


Tak berselang lama, mobil ayla warna hitam datang. Aldo turun dari mobilnya.


Nadia tersenyum melihat Aldo. "Pagi, sayang."


"Pagi juga, sayang." Aldo dan Nadia cipika-cipiki.


Audy yang melihatnya menjadi jengah dengan tingkah lebay mereka.


"Ada calon Kakak ipar juga." Aldo mendekat hendak cipika-cipiki, tapi Audy menolaknya.

__ADS_1


"Mau apa lo, bukan muhrim ya."


"Oke." Aldo mengangkat bahunya.


"Yuk, sayang. Berangkat," ucap Nadia.


Aldo dan Nadia masuk mobil, melambaikan tangan kepada Audy.


"Kita berangkat dulu ya, Kak."


Audy tersenyum tipis melihat Nadia, lalu masuk rumah.


Sedangakan Nadia dan Aldo masih dalam perjalanan.


"Kita mau kemana, sayang?" tanya Aldo.


"Terserah kamu saja, aku kangen sama kamu tau." Nadia mencubit gemas pipi Aldo.


Aldo terkekeh. "Baru sehari gak ketemu kok sudah kangen."


"Habisnya, kemarin malam diajak jalan, kamunya sibuk."


"Oke deh, aku minta maaf. Untuk menebus kesalahanku, seharian ini aku akan mengajak kamu jalan di Mall. Sekalian sarapan," ucap Aldo.


"Oke, sayang."


Mereka berdua menuju Mall terdekat.


"Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Nadia saat berada di restoran ayam yang berada di lantai dua dalam Mall.


"Kentuky paket lengkap saja," jawab Aldo.


"Kentuky paket lengkap satu, sama minuman dinginnya satu."


"Lho kamu gak makan, sayang?" tanya Aldo.


Mereka duduk bersebelahan, sambil menunggu pesanan datang.


"Aldo!" panggil seorang wanita dari kejauhan.


Aldo membulatkan mata. Wanita itu menghampirinya.


"Siapa itu, Do?" tanya Nadia.


Aldo tersenyum kecut.


"Kenapa kamu tidak bilang ada di sini?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Amanda.


Aldo bedehem, mengubah posisi duduknya mendongak menatap Amanda. "Kenalin ini pacar gue."


Amanda mengulurkan tangannya. "Gue Amanda sepupunya Aldo."


Nadia berdiri bersalaman dengan Amanda. "Gue Nadia."


"Kenapa baru bilang kalau lo punya pacar yang cantik," ucap Amanda ikut duduk di satu meja dengan Aldo dan Amanda.


Aldo hanya diam tubuhnya terasa kaku.


Amanda berbisik di telinga Aldo. "Tenang, Sayang. Gue gak akan ngrusak acara lo."


"Lo habis dari mana?" tanya Aldo mengubah pembicaraan.


"Habis olah raga, ini baru selesai," jawab Amanda.


"Amanda mau sarapan?" tawar Nadia.


"Gak usah? Gue langsung pulang saja. Rumah gue deket dari sini," jawab Amanda.

__ADS_1


Nadia mengangguk.


"Hefans ya kalian ... daa Aldo." Amanda mencubit gemas pipi Aldo.


Nadia terus memperhatikan Amanda sampai ke lantai bawah.


"Ehem ... sayang aku sarapan dulu ya."


Nadia tersadar langsung menoleh kepada Aldo. "Iya silahkan, sayang."


Selesai sarapan, Nadia dan Aldo hendak melanjutkan perjalanannya.


"Sayang, aku gak bawa uang cash nie," ucap Aldo.


Nadia mengambil dompet dari tas, lalu memberikan dua lembar uang seratus ribu kepada Aldo.


"Ini, Sayang."


Aldo segera membayar makanannya.


"Kita ke cafenya teman kamu yuk, Yang!" ajak Nadia.


"Hari libur gini mah tutup, kita ke puncak saja yuk, mumpung libur, sorenya kita pulang," ucap Aldo.


"Boleh deh."


Mereka berdua bejalan beriringan. Aldo merangkul pundak Nadia, sedangkan kepala Nadia bersandar di pundak Aldo. Mereka terlihat serasi jika dilihat sekilas.


Butuh perjalanan satu jam sampai dua jam untuk menuju puncak. Perjalanan arah puncak macet padat merayap, maklum ini hari libur, banyak warga Jakarta menghabiskan weekend nya pergi ke Bogor untuk melepas penat.


Sekitar dua jam perjalanan Nadia dan Aldo sampai di puncak. Terlihat pemandangan yang indah, banyak villa dan berbagai makanan tradisional. Aldo memarkirkan mobilnya, lalu turun bersama Nadia.


"Kita jalan-jalan dulu yuk, yang?" ajak Nadia sambil merekam pemandangan alam dan aktifitas para warga.


"Boleh ... kita turun bukit, katanya disana ada air terjun."


Nadia mengangguk menyunggingkan senyum. Mereka berdua dan para pengunjung yang lain menikmati pemandangan air terjun.


"Indah banget, aku sering kesini, tapi belum pernah melihat air terjun ini." Nadia menelentangkan tangannya menghirup udara segar di sekitar air terjun


Aldo tersenyum. "Mau foto?"


"Boleh." Nadia berfoto Ria di bawah air terjun.


"Foto bareng yuk," ajak Aldo.


"Sini." Nadia merangkul, mencium Aldo sesekali mereka bercumbu mengabadikan momen ini.


"Bagus gambarnya, ternyata kamu berbakat juga ya jadi fotografer," puji Nadia saat melihat hasil jepretan foto Aldo.


"Sudah siang nie, kita neduh dulu," ucap Aldo.


Nadia mengangguk. Mereka berdua duduk santai di bawah pohon rindang.


"Adem ya tempatnya," ucap Nadia sambil melihat sekellingnya. Nadia menenggelamkan kepala di dada bidangnya Aldo. suasana terlihat lengang.


Aldo berkata lirih, "Nad, lo cinta 'kan sama gue."


"Iya, Do."


Aldo mengangkat kepala Nadia menatapnya dengan lekat.


"Lo mau ngapain, Do." Nadia menatap Aldo nanar.


tanpa basa-basi Aldo ******* bibir Nadia dengan lembut. Nadia hanya pasrah menerimanya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2