
Malam harinya, Ryan sudah berada di depan pintu pagar rumah. Ryan masuk melihat Audy duduk di teras rumah, tampak cantik dengan balutan dress ketat berwarna hitam di atas lutut, berlengan panjang yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambut bergelombang yang tergerai indah menambah daya tarik Audy.
Ryan mematung di buatnya. Audy tersenyum menghampiri Ryan.
"Lo kenapa berdiri di sini?" tanya Audy sambil terkekeh.
Ryan tersadar dari lamunannya. "Lo cantik banget malam ini."
"Jadi biasanya gue gak cantik?" canda Audy.
"Bukan gitu, malam ini cantiknya pakai banget," puji Ryan.
Audy tertawa kecil menutup mulutnya. "Lo bisa saja."
"Ki-kita berangkat?"
Audy mengangguk. Mereka bergandengan tangan.
Reihan dan Levi sudah mengintai dari kejauhan. Mereka berdua juga tertegun melihat paras Audy yang semakin cantik, apalagi saat dia memakai pakaian seksi seperti itu. Reihan seolah tertinggal jauh dari Audy.
"Cantik banget ya Audy," ucap Levi seolah tersihir dengan pesona Audy.
"Bener, Lev." Reihan mengamini ucapan Levi.
Hingga akhirnya mereka tersadar saat Audy masuk mobilnya Ryan. Levi melepas kacamata, lalu mengucek matanya. Reihan mengusap wajahnya, lalu melajukan motornya mengikuti mobil Ryan.
"Lo sadar gak sih, Rei?" tanya Levi.
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu."
"Lo sadar gak sih? Lo tu bagai pungguk merindukan bulan." canda Levi sambil tertawa.
Reihan tau apa yang di maksud Levi. Ada benarnya juga kata Levi. Audy yang sekarang bukan Audy yang dulu. Sekarang Audy sudah berubah menjadi wanita yang feminim nan cantik. Sedangkan Reihan, hanya seorang pria biasa yang setiap hari pergi ke kampus menaiki motor vespa peninggalan ayahnya.
Reihan pun menepikan motornya di pinggir jalan.
"Kok berhenti, Rei?" tanya Levi heran.
Reihan melepas helm, lalu duduk di pinggir trotoar dengan tatapan tajam ke depan.
"Lo kenapa?" Levi duduk disampingnya.
"Kita pulang saja yuk!"
Levi sadar, ucapannya telah membuat mental Reihan jatuh. "Lo jangan patah semangat gitu dong. Cinta itu harus diperjuangkan."
"Mau lo apa sih, Lev? Tadi lo ngecengin gue. Sekarang lo nyemangatin gue," kesal Reihan.
"Gue cuma bercanda, sensi banget sih lo," cibir Levi.
"Sudahlah pulang saja, lagian mobilnya Ryan sudah jauh." Reihan beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Lo jangan nyerah gitu dong? Lo mau Audy di apa-apain sama Ryan," ucap Levi.
Reihan menoleh, lalu kembali duduk. "Maksud lo apa?"
"Lo tau sifat bos Aldo, kan? Pasti temennya juga gak jauh dari itu. Gue juga gak rela kalau Audy kenapa-napa."
Reihan menatap tajam Levi. Dia segera menghidupkan mesin motornya mengajak Levi untuk kembali mengikuti mobilnya Ryan.
"Lo tau gak dimana Audy dan Ryan nonton bioskop." Reihan berusaha mengalahkan suara kendaraan.
"Kita cari ke Mall yang paling dekat saja. Lagian jejaknya sudah hilang," jawab Levi.
Di perempatan jalan Reihan melihat Mall yang cukup besar. Dia memberhentikan motornya disana, lalu dengan langkah cepat mereka berdua mencari Audy dan Ryan di lantai atas tempat ruangan bioskop.
Benar saja, Reihan dan Levi melihat Audy dan Ryan sedang memesan tiket eksklusif.
"Ayo kita ikuti," ucap Reihan terburu-buru.
"Tunggu dulu, lo sanggup beli tiketnya. Ryan membeli tiket eksklusif bukan tiket biasa."
"Terus gimana?" tanya Reihan.
"Ya sudah tunggu saja di sini, mereka gak akan kemana-kemana kok."
"Kalau Audy di apa-apain di dalam, gimana?"
"Gak bakalan, paling cuma di raba sambil di cium."
"Sudah di sini saja, mending kita nunggu sambil makan popocorn, oke. Lo bayarin ya," ucap Levi tersenyum menaik-turunkan alisnya.
"Ogah, bayar sendiri-sendiri."
"Tu kan, Lo 'kan yang ngajak gue kesini. Jadi lo harus bertanggung jawab."
Reihan memutar manik matanya merasa jengah dengan Levi.
"Lo memang suka bikin kesel orang ya. Mau nya pengen untung mulu. Gimana mau dapat cewek kalau gak mau mengubah sikap lo," cibir Reihan.
Levi terkekeh. "Sudah cepet gak usah banyak alasan. Mana duit lo, biar gue yang beliin."
Reihan dengan wajah masam memberikan uang kepada Levi.
Di sisi lain, Audy dan Ryan memilih duduk pojok ruangan paling atas. Ryan sengaja memilih tempat duduk paling pojok supaya bisa berduaan lebih intens dengan Audy. Suasana ruangan bioskop begitu gelap, layar lebar mulai menyala. Remang-remang Audy menatap Ryan.
Ryan merangkul pundak Audy mulai mencari kesempatan. Audy bersandar di pundak Ryan. Film sudah memasuki tahap awal. Perkenalan para tokoh.
Tangan yang satunya memegang tangan Audy. Mereka terlihat mesra sampai film itu selesai. Ryan sebenarnya ingin sekali menciumi Audy, cuma dia takut Audy marah.
"Filmnya bagus ya," ucap Audy yang berada di depan Ryan.
Ryan tersenyum.
__ADS_1
Reihan dan Levi segera bersembunyi ketika pintu ruangan bioskop terbuka. Mereka melihat Audy dan Ryan saling melingkarkan tangan. Wajah Reihan masam karena cemburu melihat kemesraan Audy dan Ryan.
"Pasti mereka mau makan. Kita ganggu saat mereka makan. Kita pura-pura tidak sengaja melihat mereka," ucap Levi.
Audy dan Ryan makan di restoran mewah yang semua dindingnya terbuat dari kaca. Lagi-lagi Reihan dan Levi tidak berani masuk kesana karena makanan disana terkenal mahal.
"Dasar sok kaya tu orang," cibir Reihan.
"Terpaksa deh kita tunggu lagi,"
Reihan mencengkram rambutnya terlihat kesal. "Kita kayak bodyguardnya mereka berdua."
"Sudah sabar ... nanti akan ada masa lo bisa dekat sama Audy." Levi mencengkram pundak Reihan.
Reihan melepasksn cakalan tangan Levi dari pundaknya. Dia tak henti-hentinya berwajah masam.
Di dalam restoran, Audy dan Ryan makan dengan berbagai macam menu seefod. Mereka benar-benar menikmati malam ini.
"Gimana makanannya?"
"Enak." Audy tersenyum menatap Ryan.
Ryan menaruh sumpit di mangkok, lalu memegang tangan Audy. Audy menaikan bahunya.
"Gue ngajak lo kesini pengen ngomong serius sama lo."
"Apa?"
Ryan bedehem memperbaiki posisi duduknya. "Mungkin ini terlalu cepat, tapi gue benar-benar serius sama lo. Malam ini gue berharap lo jadi pacar gue."
Audy memegang tangan Ryan, tangan mereka kini saling bertumpuk di atas meja.
Audy menghela napas. "Gue belum bisa kasih jawaban. Sorry ...."
"Terus kapan gue nerima kepastian dari lo."
"Jangan paksa gue. karena cinta tidak bisa dipaksa," ucap Audy lirih.
Ryan tersenyum mendengar penjelasan dari Audy. "Oke ... berarti tugas gue ngebuat lo jatuh cinta."
Audy mengangguk.
"Kalau begitu izinkan gue nunjukin kalau gue beneran cinta sama lo." Ryan memegang wajah mulus Audy.
Reihan yang melihatnya dari kaca dinding memanas. Rasa cemburunya tidak bisa tertahan lagi. Di dengan gegabah masuk menghampiri Audy.
"Audy ....!"
Pelayan resto menyapa Reihan dengan lembut.
Bersambung ...
__ADS_1