Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Semakin Bingung


__ADS_3

Ryan membawa dua kotak makanan untuk Audy dan dia. Isinya nasi putih, kentang goreng, ayam krispy dan saus sebagai penyedap rasa. Tak lupa juga minumnya es cappucino.


"Makasih." Audy tersenyum menatap Ryan.


Ryan membalas senyuman Audy. "Nanti malam lo ada acara gak?"


"Hmmm ... gak ada," jawab Audy.


"Kita nonton yuk! Ada film bagus di bioskop."


Audy terdiam sejenak menatap Ryan, lalu mengangguk sambil tersenyum menerima ajakan Ryan.


Reihan dan Levi tiba-tiba datang hendak mengganggu Audy dan Ryan.


"Waduh ... tega lo ya, makan gak ngajak-ngajak," ucap Levi. Reihan mengamini.


"Tadi kalian 'kan sudah gue traktir," ucap Audy.


Ryan merasa terganggu dengan adanya mereka berdua.


"Tapi 'kan makanan enak kayak gitu belum, lagian gue tadi di kantin cuma minum doang," ucap Reihan.


"Lo ngapain sih kesini segala?" tanya Audy kesal.


"Lo tadi belum bayar makanan, ibu kantin tadi nagih, makanya kita kesini," jawab Levi.


"Memang berapa sih." Ryan terlihat jengah dengan Levi dan Reihan.


"Dua ratus ribu," ucap Levi ngasal.


"Gue hajar lo ya. Mana mungkin makanan di kantin harganya segitu. paling kurang dari lima puluh ribu," cibir Levi.


Ryan mengambil dompet di saku celana belakangnya. Audy mendesak Ryan supaya jangan memberikan uang itu kepada Levi.


"Sudah gak pa-pa, biar cepat pergi mereka." Ryan memberikan dua lembaran seratus ribu kepada Levi.


Levi pun dengan senang hati menerimanya. "Thank you ya, bro. Lo memang cocok sama Audy."


Levi segera pergi, diikuti Reihan yang dengan wajah kesalnya.


"Levi! Lo gimana sih, malah nerima uang dari Ryan," ucap Reihan saat sudah menjauh dari Audy dan Ryan.


"Lumayan, bro! Kapan lagi dapat uang dua ratus ribu secara cuma-cuma."

__ADS_1


Reihan menahan langkah Levi. "Lo sebenarnya mau bantu gue gak sih."


"Ya mau lah! Lo 'kan temen gue, masak gak dibantu."


"Terus kenapa lo terima uang dari Ryan?"


"Siapa sih, bro. Yang gak mau duit hari gini. Lo tenang saja nanti malam kita ganggu lagi Audy dan Ryan, biar hidupnya gak nyaman," ucap Levi.


"Ngapain malam-malam ganggu Audy, nanti malah kita yang dikira kurang ajar."


"Lo tadi gak denger, nanti malam mereka mau nonton coy ... nanti malam kita ikutin mereka bedua. Jangan lupa jemput gue ya. Lo gak mau 'kan pujaan hati lo sama cowok lain." Levi menyeringai menatap Reihan.


Reihan terdiam, membulatkan mata.


Sedangkankan Audy tengah asyik suap-suapan dengan Ryan. Mereka berdua semakin dekat, Audy suka cara Ryan mendekatinya. Tidak berlebihan, tapi tetap meninggalkan kesan romantis.


Selesai makan Ryan pamit undur diri, suasana taman terlihat sepi. Ryan menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan susaana aman. Dengan sedikit keberanian, Ryan mendaratkan ciuman di pipinya Audy, lalu kembali menatapnya lekat. Audy tertunduk memegang pipinya, Audy bingung apa yang harus dia lakukan. Audy harus marah atau senang, tapi suasana saat itu memang sedang mendukung.


Audy masih terdiam menundukan kepala, Ryan mengangkat dagu Audy hendak mencium bibirnya. Namun, Audy memalingkan wajahnya. Mata Ryan berkaca-kaca seolah menyimpan berbagai macam pertanyaan.


"Gue gak mau berlebihan, lagian ini di kampus, tidak baik," ucap Audy lirih sambil melepas tangan Ryan dari wajahnya.


Ryan tersenyum tipis. "Oke. Gue pulang dulu."


Ternyata jadi orang cantik susah juga ya, di rebutin banyak pria. Membuat Audy pusing. Audy tau Reihan meminta tolong kepada Levi untuk mengganggu hubungannya dengan Ryan. Audy sudah hapal kelakar Reihan. Dia masih belum berani menyatakan cintanya kepada perempuan. Audy membiarkan dulu sampai dia betul-betul dewasa.


...***...


Sore harinya, Aldo menunggu Nadia di parkiran kampus. Kali ini dia ingin mengubah rencananya. Tadi Aldo sudah berbicara lewat sambungan telpon dengan Ryan. Kata Ryan, dia harus bisa mengambil hati Nadia. Jangan membuat curiga, buat Nadia nyaman.


Aldo sebagai playboy paling jago menaklukan hati perempuan, menyetujui ide dar Ryan. Nadia datang menghampiri Aldo. Perut Nadia mulai kelihatan membesar. Sudah sekitar tiga bulan usia kandungannya.


"Hay ..." sapa Aldo.


Nadia mengangkat satu alisnya saat Aldo membukakan pintu mobil untuk Nadia.


"Tumben lo baik sama gue." Nadia sedikit curiga dengan Aldo.


"Gini-gini 'kan gue suami lo, jadi hari ini dan seterusnya gue bakalan mulai memperbaiki sikap gue," ucap Aldo.


Nadia masih terlihat dingin. "Jalan."


Aldo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


"Lo kalau butuh sesuatu bilang saja, gak usah sungkan," ucap Aldo.


Nadia masih memasang wajah dingin. Sesampainya di rumah Nadia masih cuek dengan Aldo. Namun, di dalam hati Nadia bertanya-tanya, apakah Aldo berniat untuk berubah. Nadia ingin mengujinya dalam beberapa hal.


Aldo kembali membukakan pintu untuk Nadia.


"Terima kasih." Wajah Nadia masih tetap dingin. Namun, Aldo sudah puas dengan ucapan dari Nadia.


"Lo mau makan apa biar gue buatin?" pinta Aldo.


"Gak usah biar gue buat sendiri saja."


"Hey Ayolah ... biar gue sebagai suami lo melayani istri tercinta yang sedang hamil." Aldo sedikit mendesak.


Nadia menatap Aldo, lalu menghela napas. "Oke ... buatin gue susu. Anak ini butuh asupan yang sehat."


Aldo tersenyum. "Oke deh ... papa mau buat susu dulu ya, Nak?" Aldo mengelus perut Nadia.


Nadia tertegun, jiwa kewanitaannya berontak. Pikirannya berkata kalau Aldo sudah berubah, tapi nuraninya berkata jangan mudah percaya, lebih baik di uji terlebih dahulu.


Aldo keluar kamar menuju dapur hendak membuatkan susu.


"Lagi apa lo, Do?" tanya Audy yang baru saja pulang.


Aldo menoleh. "Lagi buat susu untuk calon bayi."


"Rajin juga lo sebagai calon bapak."


Aldo tersenyum. "Gimana Ryan?"


"Gimana apanya?"


"Yaela pura-pura gak tau. Lo sudah jadian belum sama Ryan?"


"Gue sama Ryan cuma temen kali." Audy duduk di kursi meja makan sambil memakan krupuk.


"Kenapa? Ryan orangnya baik lho ... gak pernah neko-neko. Kalau gue jadi cewek sih mau banget sama Ryan," ucap Aldo.


"Lo mau promosiin Ryan?"


"Gak juga sih. Soalnya jarang 'kan ada cowok seperti Ryan. Gue sih cuma ngasih saran saja sama lo," ucap Aldo, lalu pergi menuju kamar."


Audy tampak berpikir, dia semakin bimbang harus memilih Ryan atau Reihan. Kalau untuk masa depan Ryan memang lebih unggul dari pada Reihan. Namun, hati Audy masih tertuju kepada Reihan. Kebersamaannya dengan Reihan tidak akan mudah hilang dalam ingatan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2