Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Nadia Dalam Bahaya.


__ADS_3

"Iya, Ma. habis ini Audy mandi."


Ayu menaruh tas gunung di samping lemarinya. Audy menutup laptopnya, tiba-tiba dia teringat dengan Reihan. Audy senyum-senyum sendiri di kamarnya. Dia membayangkan saat Reihan memapahnya di tenda hingga beberapa detik kemudian dia tersadar menepuk-nepuk pipinya, mengusir bayangan Reihan dari pikirannya.


"Gak mungkin ... gak mungkin!" Audy bergumam dengan dirinya sendiri, lalu segera menuju kamar mandi.


Di tempat lain, Nadia sedang bermesraan dengan Aldo di cafeshop langganannya. Disana juga ada Levi yang sedari tadi tidak mau lepas dari Aldo.


"Bos, minta makan ya, sudah waktunya makan," ucap Levi sambil menunjuk jam dinding pukul sebelas siang.


"Terserah lo, yang jelas jangan ganggu gue dulu," ucap Aldo sambil merangkul Nadia.


"Beres, Bos!"


Nadia besandar di pundak Aldo sambil memainkan game di hp nya.


"Do, pesen makan gie, lapar juga nie lama-lama," ucap Nadia.


Aldo tersenyum mengecup rambut Nadia, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan.


Reihan datang dengan kaos dilapisi kemeja kotak-kotak yang kancingnya di biarkan terbuka. Melihat Aldo dan Audy.


"Hey ... kalian ada di sini juga," ucap Reihan


Aldo tersenyum kepada Reihan.


"Tumben lo sendiri, biasanya sama kak Audy," ucap Nadia.


"Gue lagi malas ngajak dia, lagian Audy juga pasti lagi tidur. Ini gue juga baru balik dari camping."


"Lo kok gak istirahat sih, Rei?" tanya Nadia.


"Gue gak bisa tidur ... gue kesana dulu ya," ucap Reihan duduk di kursi pojok.


Reihan diam-diam memperhatikan Aldo. Reihan sudah tau siapa Aldo sebenarnya. Cuma, dia belum bisa cerita kepada Audy.


Aldo pasti ingin melakukan sesuatu yang buruk dengan Nadia.


"Hey, bro! Lo di sini juga," ucap Levi yang melihat Reihan.


Reihan terperanjat melihat Levi yang tiba-tiba datang.


"Ah lo, bikin kaget saja."


Levi tersenyum. "Gue duduk sini ya."


"boleh, duduk aja."


"Lo lagi ngelihat apa, bro?" Levi melihat Reihan menatap Nadia dan Aldo.


"Gak lihat apa-apa," jawab Reihan menatap Levi.


"Lo tadi ngeliatin bos gue ya?"


"Siapa yang lihat, gue lagi ngantuk aja, habis pulang camping," jawab Reihan.


Levi merapikan rambut klimisnya. "Tidur bro, malah nongkrong di sini."


"Gak bisa tidur gue."


"Lha ... katanya ngantuk?"

__ADS_1


"Iya ngantuk, tapi gue gak bisa tidur," ucap Reihan kesal.


"Ya sudah deh, terserah lo aja bro. Mau makan mie?" Levi menawarkan mie goreng untuk Reihan.


"Gak, makasih!" Reihan melotot ke arah Levi.


Seorang pemilik cafe bernama Ryan sekaligus temannya Aldo datang menyapa.


"Aldo ..." Ryan melakukan salam tangan sebagai tanda pertemanan.


"Lo kemana aja?" tanya Aldo riang.


"Biasalah, ke luar kota. Mau buka cabang baru," ucap Ryan membanggakan diri.


"Keren juga lo," puji Aldo.


Ryan terfokus dengan Nadia yang bersandar mesra di pundak Aldo.


"Makin lengket aja sama tu cewek."


Aldo tersenyum. "Kenalin cewek gue Nadia Fiorentina."


Nadia menatap Aldo, lalu menepuk pundaknya


Ryan pun terkekeh. "Dari awal gue lihat kalian memang cocok."


Nadia menyunggingkan senyum sambil bermain game, sedangakan Aldo tertawa lepas.


"Lo kapan main basket lagi, anak-anak sudah nanyain lo tu."


"Minggu depan juga bisa, lo atur sajalah kapan jadwalnya," ucap Ryan.


"Minggu depan ya."


"Sayang ... minggu depan temenin aku ya," ajak Aldo.


"He'em." Nadia masih fokus dengan permainan game ya.


Aldo mencium kepala Nadia.


Sampai sore hari Reihan di cafeshop, Aldo tidak melakukan apa-apa kepada Nadia. Mereka berpacaran seperti biasa.


Hingga saat cafe sepi, Nadia mulai merasa pusing di kepala. Reihan masih duduk di kursi paling ujung.


Aldo terlihat memapah Nadia. Reihan bergegas menghadang langkah Aldo.


"Mau di bawa kemana Nadia?" tanya Reihan.


"Ya pulanglah," jawab Aldo.


"Sudah, biar gue aja yang nganterin Nadia pulang," paksa Reihan.


Aldo melawan. "Gue tau lo kesini naik motor, kan. Kalau Nadia sama lo malah makin parah keadaannya."


"Duh ... kalian ini kenapa sih, Sudah cepet, Do! Anterin gue pulang," ucap Nadia lemas.


"Lo denger sendiri, kan." Aldo tersenyum menyeringai.


Reihan menatap tajam Aldo.


"Aldo cepetan, gue udah gak tahan nie, badan gue lemes banget," pekik Nadia dengan wajah terlihat sayu.

__ADS_1


"Lo apakan Nadia sampe kayak gini?" tanya Reihan dengan tatapan tajam.


Aldo tersenyum menyeringai sambil memperbaiki kerah bajunya Reihan.


"Bro, mending lo jangan cari gara-gara di sini deh," ucap Levi.


Reihan berganti menatap tajam Levi. Sedangkan Aldo berjalan keluar cafe. Reihan mengikuti dari belakang, Levi mencoba menghadang Reihan, tapi dia di dorong Reihan hingga jatuh menabarak kursi pengunjung.


Aldo mulai melajukan mobilnya, Reihan mengikuti dari belakang.


"Brengsek! Ngapain tu bocah ngikutin gue," umpat Aldo.


Nadia duduk di samping Aldo dengan tubuh yang tidak berdaya. Aldo tersenyum licik sepertinya dia mempunyai ide untuk menjebak Reihan.


Aldo memberhentikan mobilnya, lalu turun menghadang Reihan. "Ada masalah apa sih lo sama gue!"


Reihan turn dari motor vespanya. "Balikin Nadia. Gue tau lo mau berbuat kurang ajar sama Nadia."


"Lo 'kan tau gue mau nganter pulang Nadia?"


"Alah ... gak usah basa-basi lo, mau nganterin pulang kemana lo. Rumah Nadia itu ada di barat lo jalan ke timur!" pekik Reihan.


"Terus mau lo apa," tantang Aldo mendekati Reihan.


Dengan tatapan tajam Reihan mengirim bogem mentah tepat di pipi kiri Aldo hingga tersungkur di jalanan aspal. Reihan segera memapah Nadia.


Nadia yang masih lemas dan pusing remang-remang menatap Reihan.


"Lo siapa? lo mau bawa gue kemana?" tanya Nadia lirih.


Reihan mendudukan Nadia di kursi belakang motornya, lalu melingkarkan tangan Nadia di perut Reihan.


"Nadia! Dia orang jahat!" teriak Aldo.


Nadia mendengar samar suara Aldo.


"Lo siapa? Lo mau bawa gue kemana!" Nadia berusaha melawan, tapi karena tubuhnya masih lemas dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tenang, lo aman sekarang," ucap Reihan melajukan motornya.


Aldo yang melihat kepergian Reihan tersenyum sinis.


"Kena lo," ucap Aldo.


Sesampainya di rumah Nadia, Reihan langsung menelpone Audy. Namun, panggilannya tidak di angkat.


Reihan menekan bel rumah beberapa kali, tidak ada yang membukakan pintu pagar.


"Lo mau bawa gue kemana? Lepasin gue." Nadia masih saja mengigau. Nadia mengira yang membawanya pulang adalah orang jahat.


Reihan mencoba menelpone Audy kembali. Sambungannya di angkat.


📲" Apa Rei ... gue ngantuk banget nie."


📲"Cepet bukain pintu pagar, adik lo lagi sakit nie."


📲" Apa ... bukannya dia jalan sama Aldo."


📲" Bukain dulu pintu pagarnya, nanti gue ceritain."


📲" oke, oke ... gue segera turun." Audy berlari hendak membulakan pintu pagar rumah.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2