
"Sedikit saja gak pa-pa," ucap salah satu teman Sonia.
"Gak usah dipaksa kalau orangnya gak mau!" Sahut Sonia menuruni anak tangga.
Aldo tersenyum simpul melihat Sonia.
"Kamu mau pulang?" Sonia memberikan uang jasa Aldo sebagai pengantar makanan.
"Iya, Tante. Saya permisi dulu." Aldo segera keluar dari rumah besar itu. Perasaannya sangat lega.
"Kenapa kamu membiarkan pemuda itu pergi?" tanya salah satu teman Sonia.
"Sudah biarkan saja dulu, kita main tarik ulur. Nanti akan ada masanya Anak itu jatuh digenggaman kita."
Di luar Aldo terlihat terburu-buru bergegas menemui Reihan.
"Ayo cabut, nanti gue ceritain."
Reihan segera mengikuti Aldo menuju tempat kost nya.
"Gimana, ada yang mencurigakan dari tante Sonia?" tanya Reihan saat berada di kamar kost nya Aldo.
"Sepertinya Tante Sonia dan teman-temannya memang bermasalah. Gue hampir saja dibuat perkedel," ucap Aldo.
Reihan terkekeh. "Maksud lo?"
"Sudahlah, susah untuk dijelasin. Besok kalau gue dapat orderan dari tante Sonia, gue pengen lo gantiin gue, biar lo tau kondisi di rumah besar itu."
"Oke gak masalah. Kalau gitu gue balik dulu, sudah ngantuk." Reihan beranjak dari kamar kost Reihan.
Esok paginya, Reihan menceritakan kejadian tadi malam kepada Audy. Audy tampak terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Reihan. Padahal, saat itu Audy hanya asal menebak saja. Kini, Audy semakin yakin ada yang tidak beres dengan tante Sonia.
"Malam ini giliran gue yang gantiin Aldo jadi pengantar makanan online," ucap Reihan.
"Hati-hati, jangan terbawa nafsu," canda Audy.
"Enak saja, gue gak minat ya sama tante-tante," balas Reihan.
"Kali saja lo nafsu saat tante girang itu ngegodain lo."
"Kagak bakalan!" tegas Reihan.
"Kalau sama gue gimana," goda Audy mengedipkan satu matanya ke arah Reihan.
Kali ini Reihan menatap Audy tajam sambil tersenyum tipis. "Boleh."
"Enak saja, awas lo macem-macem sama gue." Audy mengepalkan tangan ke arah Reihan.
"Kan tadi lo nawarin?"
"Kan gue cuma bercanda."
"Kenapa gak serius saja." Kini giliran Reihan yang memancing Audy.
Audy tersentak, lalu menatap Reihan lekat. "Memang lo gak takut sakit hati lagi."
Reihan berdehem. "Memang lo berani nyakitin hati gue lagi?"
Taman siswa yang rindang seolah menjadi milik mereka berdua. Tatapan mereka saling beradu lama hingga wajah mereka berdua mendekat dengan sendirinya seperti ada magnet yang saling menarik.
"Door!" Levi membuyarkan suasana romantis Reihan dan Audy.
Reihan dan Audy berteriak karena terkaget oleh kedatangan Levi.
__ADS_1
"Gak punya otak lo ya, pagi-pagi sudah bikin jantungan orang," cibir Audy mengelus dadanya.
Levi tersenyum nyengir. "Sorry, habisnya dari tadi gue cariin kalian berdua susahnya minta ampun."
"Lo ngagetin lagi, gue garuk lo, Lev." Reihan terlihat kesal. Harusnya Reihan sudah berciuman dengan Audy. Gara-gara Levi suasana jadi berantakan.
Levi kembali tersenyum tanpa dosa sambil menggaruk tengkuknya. "Kalian lagi pacaran ya tadi?"
Reihan dan Audy terlihat kikuk. "Enak saja lo bilang. Kit lagi diskusi masalah skripsi. Emangnya lo, bisanya cuma gangguin orang saja."
"Ini gue kesini juga pengen minta bantuan sama Reihan masalah skripsi gue," balas Levi
"Kenapa gak ke dosen lo saja sih."
"Kalau ke dosen nanti bisa disuruh revisi mulu, ngabisin kertas hvs gue. bikin capek mata juga," jawab Levi.
"Ya sudah sini mana modul lo, biar nanti gue yang merevisi."
Levi menyunggingkan senyum, lalu merogoh tas nya memberikan lembaran kertas kepada Reihan.
"Di kantin saja, sambil makan."
"Sekarang?"
"Ya nanti sianglah, sekarang mau ada jam kuliah," jawab Reihan.
"Oke, ditunggu ya."
Sore harinya, Aldo memberitahu Reihan dan Audy kalau tante Sonia mengundang di acara ulang tahunnya.
"Ya sudah lo iyain saja, nanti gue sama Reihan yang ngebekap lo," ucap Audy.
"Yakin lo."
"Gak ah, gue ragu sama lo berdua."
"Dicoba saja dulu," desak Reihan.
"Lo bilang saja, bawa temen boleh gak?" usul Audy.
Aldo tersenyum setuju dengan usulnya Audy.
"Rei, lo temenin Aldo ya," ucap Audy riang.
"Jangan gue lah, mending sama Levi saja," ucap Reihan.
"Tante Sonia mana nafsu sama cowok cungkring kayak Levi. Tante Sonia itu sukanya cowok yang tinggi kekar kayak Aldo gini," ucap Audy.
Reihan berdecak. "Ya sudah deh, gue temenin. Kapan acaranya, Do?"
"Malam minggu."
"Lo bilang gie sama tante girang itu, boleh bawa teman gak?" desak Audy.
"Iya nanti, jangan di sini gak enak di dengerin banyak orang."
"Kan bisa Wa atau DM Aldo ...."
"Gak sopan lo, Tante Sonia itu sukanya ditelpon."
Audy mengakat bahunya, terserah Aldo.
"Ya sudah gue balik dulu, Rei. Jangan lupa entar malam ya?"
__ADS_1
"Oke, beres."
Nadia datang menghampiri Audy. "Kak Audy."
"Eh lo, Nad? Ada apa?"
"Kak Audy sudah tau tempatnya Aldo belum?" tanya Nadia lirih.
"Belum, Nad? Aldo sama Levi ditanya gak mau jawab "
"Kenapa gak Kakak ikutin saja Levi?"
"Sudah, Nad. Levi kelihatannya juga gak tau deh dimana Aldo tinggal," alasan Audy.
Nadia menghela napas.
"Nad, lo mending di rumah dulu deh, perut lo sudah gede banget, takut kenapa-napa sama lo." Audy mengalihkan pembicaraan.
"Tanggung ah, Kak. Mau lewat semester juga. Lagian ini kandungan Nadia 'kan baru tujuh bulan."
"Yaela, Nad. Tujuh bulan itu saatnya ibu hamil istirahat, entar kandungan lo kenapa-kenapa gimana?"
"Kakak tenang saja, Nadia setiap hari minum susu kok."
Reihan berdehem. "Gue masih ada di sini lho ...."
Nadia melirik Reihan, dia baru sadar kalau Reihan masih berdiri disamping Audy.
"Lo pulang naik apa, Nad?" tanya Audy.
"Naik taxi, Kak."
"Bareng yuk!" ajak Audy riang
"Lha ... gak jadi pulang bareng?"
"Gak jadi." Audy menjulurkan lidah kepada Reihan.
Nadia terkekeh.
"Daa Reihan ..." Audy menggoyangkan jemarinya.
Reihan tersenyum lebar melihat Audy yang semakin hari semakin cantik. Apalagi dia dan Audy sudah kembali akrab lagi. Tinggal bagaimana cara mengutarakan perasaannya kepada Audy.
"Woi!" seseorang menepuk bahu Reihan dari belakang.
Reihan terperanjat, segera dia melepaskan tangan orang itu.
"Apaan sih lo, Lev? Bikin kaget saja."
"Lagian gue lihatin senyum-senyum sendiri. Kesambet baru tau rasa lo," ucap Levi.
"Iya. Kesambet setan kayak lo." Reihan langsung pergi dari hadapan Levi.
"Tungguin, Rei! Mau bonceng, gue gak ada ongkos pulang!" Levi berlari mengikuti Reihan.
"Bonceng mulu lo, gak pernah ngisi bensin," ucap Reihan saat Levi berjalan disampingnya.
"Lo 'kan tau duit gue ngepas."
"Makanya jangan taruhan mulu lo," cibir Reihan.
Bersambung ...
__ADS_1