
"Hey .... kalian gak mau nyoba?" Levi bergaya bak seorang perenang handal.
"Levi ... sudah sore ayo pulang keburu malam!" teriak Reihan.
"Iya bawel!" Levi segera memakai bajunya kembali, dia tampak menggigil kedinginan. tubuhnya yang kurus dan hanya memakai celana kolor yang basah membuat teman-temannya menahan tawa.
"Apa gue bilang, makanya jangan kelamaan berendam," cibir Reihan.
"Sudah ayo cepet pulang ... lo gak tau apa dingin banget di sini."
Malam harinya, badan Levi terasa panas. Ini karena dia susah diberitahu, tapi ngeyel. selimut tebal menutupi tubuhnya yang menggigil. Obat influenza juga sudah diminumnya.
"Lo yakin gak ikut api unggun?" tanya Reihan.
"Iya nie Kak Levi, gak asik ah," ucap Ibas.
"Lo gak lihat apa, badan gue menggigil kayak gini," ucap Levi.
"Lo dibilangin ngeyel sih," ucap Reihan.
"Kalian ye ... bukan doain gue cepet sembuh, malah pada nyalahin gue." Levi masih menggigil kedinginan.
"Lo jaga tenda ya, Gue sama Ibas mau gabung sama anak-anak yang lain."
Reihan dan Ibas keluar tenda bergabung dengan anak camping yang lain. Api unggun sudah membesar. Semua peserta camping membentuk lingkaran saling bergandengan tangan bernyanyi lagu yang sama.
Suasana malam yang romantis. Beberapa peserta camping yang lain juga ikut berbaur satu sama lain. Mereka saling bertukar pikiran dan mengadakan lomba.
Lomba pertama membacakan puisi. Sherma anak jurusan ekonomi yang puitis menjadi jagoan di timnya Reihan. Puisi tentang alam yang dilantunkan peserta lomba membuat suasana malam lebih hidup.
Berikutnya lomba menyanyi. Audy dan Reihan dipaksa berduaet oleh junior mereka. Reihan memang pandai memainkan gitar, tapi Audy tidak pandai menyanyi. Hasilnya, suara cempreng Audy membuat bahan tertawaan orang yang melihatnya. Namun, tidak perserta api unggun kecewa. Justru semakin meriah dengan acara penutup.
Renungan malam yang dibacakan oleh pria setengah baya. Suara menggelegar menyentuh hati setiap yang mendengarkan. Semua peserta ikut terbawa, menangis, tatkala sang orator malam membacakan kisah tentang ibu.
Renungan malam membawa peserta bisa lebih menyadari tentang pentingnya bersyukur. Sang orator membungkuk tanda penampilannya telah selesai. Semua peserta bersorak bertepuk tangan.
Malam semakin larut, bintang malam bertaburan di langit puncak Kota Bogor. Acara api unggun sudah selesai, semua peserta kembali ke tendanya masing-masing. Reihan duduk di depan tenda sambil menikmati kopi hangat yang menjadi favoritnya.
Audy mendekati Reihan duduk disamping tersenyum menatap Reihan.
"Belum tidur, Rei?"
Reihan tersenyum tipis. "Belum. Lo gak tidur?"
"Belum bisa tidur," jawab Audy.
__ADS_1
"Asyik ya malam ini?" Reihan mendongak menatap langit.
"Iya ...syukurlah berjalan lancar."
Reihan menghela napas. "Entah kenapa setiap kali melihat alam batinku rasanya tenang banget."
"Lo memang suka alam, kan?"
"Setelah lulus kuliah gue pengen jadi fotografer alam. keliling dunia melihat keindahan alam."
Audy terdiam menundukan kepala. Setelah lulus kuliah dia pasti jarang bertemu dengan Reihan.
"Lo setelah kuliah mau kerja dimana, Dy?"
Audy terperanjat. "Gue."
Reihan mengangguk menatap Audy.
"Belum tau, Rei. Mungkin kerja kantoran atau ngelanjutin kuliah lagi."
"Lo mah anak orang kaya, jadi bebas jadi apa. Bokap lo pengacara."
Audy tersenyum menepuk pundak Reihan. "Hey orang kaya juga butuh usaha. Buktinya gue sama lo duduk bersama di sini, kan."
"Lo memang sahabat terbaik gue, Dy."
Hati Audy rasanya remuk setiap Reihan menganggapnya sebagai sahabat. Namun, untuk saat ini Audy menerimanya.
"Lo masih ngarep sama Nadia?" tanya Audy.
"Namanya cinta susah untuk dihilangkan. Seberapapun disakiti kalau orang sudah cinta akan ada beribu maaf yang mengalir deras untuknya," ucap Reihan puitis.
Audy menatap Reihan lekat, Reihan benar, namanya orang jatuh cinta akan selalu bersama walaupun orang itu tidak pernah menganggapnya.
"Lo gak pernah cerita sama gue," ucap Reihan.
"Tentang?"
"Cowok yang lo taksir di kampus, masak gak ada?"
"Ada sih, tapi cowok yang gue taksir lebih memilih cewek lain dari pada gue," pancing Audy.
"Siapa?"
Audy tersenyum, lalu beranjak dari tempatnya. "Sudah ah, gue ngantuk mau tidur."
__ADS_1
Reihan menatap Audy yang masuk ke dalam tenda. Malam itu begitu romantis dengan langit bertaburan bintang. Reihan memotret langit yang penuh dengan bintang. Sambil meminum kopi sampai habis barulah dia kembali ke tenda.
...***...
Pagi harinya, peserta camping sudah tidak sabar untuk mandi di air terjun lagi. Kemarin mereka mengurungkan niatnya karena tidak membawa perlengkapan berenang dan juga cuaca begitu dingin. Kali ini cuaca begitu bersahabat sangat cocok untuk mandi di kolam air terjun.
Levi masih sakit, dia harus meringkuk di tenda karena ulahnya sendiri. Tim Reihan mulai berlari menuju air terjun arjuna. Mereka begitu antusias, tidak sabar untuk menceburkan air jernih nan dingin itu. Sesampainya disana, ternyata sudah banyak orang dari peserta camping yang lain memadati air terjun.
Tidak mau kalah, tim Reihan mulai menceburkan diri di kolam air terjun satu persatu. Air jernih dan dingin, mata air yang langsung dari pegunungan.
"Seger banget!" ucap salah satu junior.
Audy tidak berani ke tengah, dia tidak bisa berenang. Namun, teman-temannya menyuruhnya untuk berani ke tengah. Audy tetap menolaknya, dia takut tenggelam.
"Ayolah, Kak. Nanti sherma bantu!"
Audy tetap menolak. Reihan secara tiba-tiba muncul dari bawah air, lalu menyeret Audy ke tengah. Audy pun berteriak histeris, tapi dia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Audy mencoba mengepakan tangannya san berteriak minta tolong.
Namun, tanpa di sadari tubuh Audy bisa mengambang.
"Aku bisa berenang, Rei!" Secara spontan Audy memeluk Reihan.
Reihan pun terkaget dan tidak bisa menjaga keseimbangan. "Lepasin, Dy. Badan lo berat gue bisa tenggelam.
Semua mata tertuju pada Reihan dan Audy. Tim Reihan pun tidak henti menggoda mereka.
"Cie ... Kak Audy ...." Para junior Reihan pun tertawa.
Audy segera melepas pelukannya, dia terlihat malu, tapi juga suka.
Sherma mendekati Audy. "Tu kan apa Sherma bilang, Kak Audy itu bisa berenang."
"Bener juga ya, tapi kok dulu gue gak bisa berenang ya."
"Karena Kak Audy takut mencoba," jawab Sherma.
Audy tersenyum nyengir menggaruk kepalanya. Reihan kembali muncul dari bawah air. Audy dan Sherma terkaget tidak sengaja memukul kepala Reihan.
"Aduh, sakit!" pekik Reihan.
"Habisnya lo bikin kaget." cibir Audy.
Reihan pun menyiram air ke arah Audy dan Sherma. Mereka berdua membalas lemparan air ke arah Reihan. Di susul dengan perempuan yang lain dan satu pria yaitu Ibas. Reihan dan Ibas kwalahan karena kalah jumlah. Akhirnya mereka berdua lari ke tepi. Audy dan teman ceweknya bersorak atas kemenangan mereka.
Bersambung ...
__ADS_1