
Hari-hari di lalui Reihan, Audy, Levi, dan Vita. Mereka berempat pun semakin akrab, bercanda satu sama lain. Reihan yang sebelumnya jaim, sekarang dia sudah menunjukan tabiat aslinya. Seiring berjalannya waktu Reihan mulai terbuka.
Hari ini adalah hari terakhir mereka melakukan KKN. Mereka berempat ke rumah pak kepala desa untuk pamit dan mengucapkan terimakasih karena selama ini telah membantu kegiatan mereka.
Levi memesan kereta untuk besok, Reihan sedang menulis modul dibantu Audy dan Vita. Mereka begitu kompak saling bertukar pikiran satu sama lain.
Bunyi handphone terdengar di saku celana Audy. Audy melihat siapa yang menelponnya, tapi dia segera mematikan hanpdponenya. Reihan tersenyum saat melihat Audy mematikan panggilan telponnya.
Reihan tau itu panggilan dari Ryan, orang yang membuat dia dan Audy bertengkar. Reihan beberapa kali melihat Audy berbicara dengan Ryan lewat telpon. Kadang-kadang Audy juga marah tidak jelas. Itu membuat Reihan gembira.
Tak berselang lama Levi datang membawakan tiket untuk mereka.
"Kita berangkat besok siang." Levi memberikan satu per satu tiketnya.
"Tugas sudah selesai, pengen banget gue refresing." Audy menelentangkan tangan.
"Gue juga, pikiran sudah kalut nie," sambung Vita.
"Kalian mah enak bisa refresing, lha gue jogrok saja di rumah," ucap Levi.
"Duh kacian ..." ledek Audy.
"Nanti malam kita jalan-jalan yuk!" ajak Audy bersemangat.
"Gak ah, kagak punya duit gue," sahut Levi.
"Lo gak usah khawatir, biar kita yang traktir lo, iya 'kan teman-teman," ucap Audy.
Reihan dan Vita mengamini
"Ya sudah ayo kita siap-siap, biar cepat berangkat." Levi mulai bersemangat.
"Kalau di traktir saja, langsung gercep lo," cibir Reihan yang membuat mereka berempat tertawa.
Sore itu mereka segera bergegas diri, kebetulan di desa sebelah ada pasar malam.
Levi mencengkram bahu Reihan. "Nanti malam lo berani gak nembak Audy."
Reihan terperanjat. "Lo apaan sih!"
"Halah ... mau sampai kapan lo kayak gini terus, Rei?" tanya Levi kesal.
"Lo tau sendiri, kan? Kalau Audy itu sudah ada yang punya," jawab Reihan.
__ADS_1
"Lo juga tau, kan? Kalau hubungan Audy akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja." Levi menimpali Reihan.
Reihan terdiam menatap Levi. "Gak semudah itu, Lev."
"Oke kalau lo gak mau, biar gue saja yang nembak Audy." Levi tertawa.
"Pagar makan tanaman lo," cibir Reihan.
"Dari pada Audy nungguin lo. Keburu tua!" balas Levi yang segera masuk ke kamar mandi.
Reihan tau Levi hanya mengujinya. Reihan akan sangat berpikir keras jika berhubungan dengan Audy. Rasa cintanya kepada Audy terhalang oleh ketidakmampuan dirinya sendiri.
Malam tiba, Mereka berempat menuju ke pasar malam yang berada di kampung sebelah. Suasana begitu ramai, warga terlihat bersuka cita mellihat dan bermain wahana.
"Ramai banget ya, kalau di Jakarta mah sudah sering," ucap Levi.
Reihan yang kesal dengan ucapan Levi pun menoyor kepalanya. "Kalau ngomong dijaga, ini kampung orang."
"Iya nie, mulutnya gak ada remnya. Kita nikmati saja kali," sambung Vita.
"Kita masuk yuk!" ajak Audy.
Mereka berempat masuk, berbaur dengan warga sekitar. Banyak pernak-pernik yang memanjakan mata. Audy membeli kalung yang terbuat dari bambu dan rumah-rumahan yang terbuat sari cangkang kerang. Harganya begitu terjangkau bila dibandingkan dengan harga yang ada di Jakarta.
"Kita naik biang lala, yuk!" ajak Reihan.
Semua mengangguk setuju.
"Lo jangan jauh-jauh dari gue," ucap Vita kepada Levi. Vita takut kalau terjadi apa-apa dengan barang belanjaannya.
Sedangkan, Reihan dan Audy duduk berdua. Biang lala mulai memutar pelan. Suasana malam yang romantis tanpa bintang, mungkin bintangnya ada di mata Audy. Reihan berusaha memulai pembicaraan, tapi bibir nya terasa keluh
Audy terlihat cuek, sesekali melirik Reihan yang tampak kaku. Audy tidak akan memulai pembicaraan kalau Reihan tidak memulainya. Biang lala terus berputar, angin membelai tubuh mereka ketika putaran itu ada di puncak.
"Lo sudah makan belum?" tanya Reihan mengumpulkan sekuat tenaganya.
"Gue dari tadi 'kan bareng sama lo, kira-kira gue sudah makan belum?" Audy balik bertanya sewot. Pertanyaan Reihan bagi Audy tidak bermutu.
Reihan bukanlah pria yang pandai merangkai kata, tapi terkadang kata juga dibutuhkan untuk melengkapi suatu perbuatan. Biang lala berhenti berputar. Mereka berempat turun, Reihan terlihat masam, dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri yang tidak berkutik dihadapan Audy. Levi yang melihatnya paham kondisi temannya itu.
Levi berisik kepada Reihan. "Payah."
Reihan melirik kesal, Levi pura-pura tidak melihat Reihan sambil bersiul diantara keramaian.
__ADS_1
"Kita makan yuk!" ajak Vita yang mulai lapar.
Mereka berempat makan di sebuah lapak mie ayam yang sederhana. Audy masih terlihat cuek kepada Reihan. Audy hanya ingin Reihan bisa mengalahkan dirinya sendiri. Sebenarnya Reihan hanya perlu mengungkap isi hatinya saja untuk membuat Audy yakin.
"Kalian berdua gue lihatin diem saja kayak karung beras," cibir Levi kepada Reihan dan Audy.
"Lo tu yang karung beras," balas Audy.
Reihan terlihat keringat dingin, mie ayam yang dia pesan belum sesuap pun dimakan. Levi menepuk tangan Reihan yang terlihat tegang.
"Ini lagi malah ngelamun."
Reihan terperanjat, Levi memang menyebalkan, selalu saja mengganggu di saat yang tidak pas.
"Lo gak suka sama mie nya ya." Levi melihat mangkok mie ayam Reihan yang masih penuh.
Reihan berdecak kesal.
"Lo kenapa sih, Rei? Aneh banget deh," ucap Vita.
Reihan tersenyum simpul. "Gak pa2 cuma gak enak badan saja."
Audy terkekeh sambil memalingkan wajahnya. Audy sangat paham dengan kondisi Reihan.
"Sudah jam 11 malam nie, kita pulang yuk!" ajak Vita.
Mereka berempat pulang ke kost karena besok siang harus berangkat ke Jakarta.
Malam hari di kamar Reihan tampak tidak bisa tidur. Dia ingin menghubungi Audy, handphone nya sedari tadi hanya bisa dilihat. Jarinya kini giliran yang kaku.
Dengan keberanian Reihan melihat kontak Audy. handpone nya masih aktif. Dengan jari yang gemetar dia mengirim pesan dengan huruf P. Centang dua warna biru, Audy membacanya, tapi tidak ada balasan darinya.
Reihan kembali mengirim pesan, kali ini dengan kata "Hay." Kali ini Audy membalasnya dengan kata yang sama. Reihan kembali memutar otaknya.
🔔"*Lagi apa?"
🔔"Mau tidur."
🔔"Selamat bobok ya?"
Audy tidak membalasnya, sengaja dia melakukan itu. Reihan yang ada di kamar pun terlihat stres menjambak rambut dengan kedua tangannya.
Bersambung ...
__ADS_1