Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Mulai Kembali.


__ADS_3

Sore hari yang cerah, Audy pulang bersama dengan Nadia. Kondisinya masih lemah, hari ini Audy tidak berolah raga. Audy duduk di ruang tamu dengan perban di kepala. Ayu yang melihatnya terlihat panik.


"Audy ... kamu kenapa, Nak?" tanya Ayu.


Audy tersenyum nyengir. "Jatuh, Ma."


"Jatuh gimana?"


"Lebih tepatnya Kak Audy ketimpa badannya Reihan dari atas pohon," ucap Nadia.


"Dari atas pohon gimana? Mama semakin tidak mengerti deh." Ayu mengusap wajah dan rambut Audy.


"Aduh ... Mama membuat Audy tambah pusing."


"Mama 'kan khawatir sama kamu, Audy?"


"Kak Audy tadi mau ngerjain Reihan pake buah rambutan, cuma gagal. Jadian ya kayak gini," ucap Nadia menjelaskan.


Ayu menjawil hidung mancung Audy. "Kamu ini, masih saja kayak anak kecil."


Ting ... tong ...


Suara bell terdengar dari luar. Ayu segera beranjak melihat siapa datang.


"E ... Reihan."


Reihan tersenyum. "Audy ada, Tante."


"Ada di dalam." Ayu membuka pintu pagar.


Reihan berjalan di belakang Ayu sambil membawa buah apel.


"Audy ... ini ada Reihan."


Reihan berdiri di depan Audy yang duduk di sofa tamu, lalu Reihan duduk di soda sebelah Audy.


"Ma, Nadia ke kamar dulu ya, mau mandi."


Ayu mengangguk. "Kalian ngobrol gie, mama juga mau ke kamar. Ada beberapa pekerjaan yang belum Mama selesaikan."


Kini tinggal Audy dan Reihan di ruang tamu.


"Nie gue bawain apel merah, buat diet." Reihan menaruh apel di meja.


Audy tersenyum nyengir. "Thank you."


Suasana lengang. Reihan mengambil pisau, lalu mengupas apel untuk Audy.


"Gimana keadaan lo, udah baikan?" tanya Reihan sambil menyuapi Audy.


"Lumayan, lo sih jatuhnya milih-milih? Coba lo jatuhnya ke Levi, pasti gue gak bakalan kayak gini," canda Audy.


Reihan terkekeh. "Kalau gue niban si Levi. dia bisa meninggal."


Audy dan Reihan tertawa lepas. Nadia diam-diam mengintip dari kamar. Nadia sebenarnya tidak percaya dengan Reihan. Namun, karena Reihan teman Kakaknya, jadi dia hanya bisa memantaunya dari kejauhan. Dari penglihatan Nadia, sepertinya Audy suka sama Reihan.


Tanpa terasa satu buah apel dimakan Audy.


"Ya sudah, gue pulang dulu ya, belum mandi dari pagi," canda Reihan menciumi kemeja kotak-kotaknya.


Audy terkekeh. "Apaan sih lo. Gue anter lo keluar."


"Gak usah ... lo di sini aja. Entar pingsan lagi, gue yang repot."

__ADS_1


Audy langsung bangun dari sofa. "Gue bukan anak lemah ya. Ingat taruhan kita masih berlaku."


"Oke ... gue yang bakal menang," ucap Reihan percaya diri.


"Gak usah ngarep lo. Gue yang bakal ngalahin lo."


"Ya sudahlah, kita lihat besok gimana." Reihan melangkah keluar rumah, disusul Audy dari belakang.


Nadia keluar menggoda Audy. "Cieee ... yang habis diapelin pacarnya."


Audy tertunduk dengan wajahnya yang merah padam. "Apaan sih kamu, Nad." Audy berlalu dari hadapan Nadia.


Suara hp terdengar nyaring dari tangan Nadia. Panggilan dari Aldo. Nadia segera menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga Nadia.


📲"Halo, sayang?"


📲"Ketemuan yuk!"


📲"Dimana?"


📲"Di cafe nya Ryan."


📲"Boleh ... jam berapa?"


📲"Malam saja, sekitar jam tujuh."


📲"Oke deh, sayang."


Nadia tersenyum sambil memutar-mutar hp nya.


Sementara itu di kamar, Audy terlihat senyum-senyum sendiri. Bertanya dalam hati. Apa benar dia jatuh cinta kepada Reihan? Tapi Audy sudah berteman lama dengan Reihan. Kenapa saat mengingat Reihan Audy tampak bahagia. Audy merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


...***...


Malam tiba, Nadia tengah besiap jalan dengan Aldo. Terlihat cantik dengan celana skinny dan suiter berwarna pink.


"Mau jalan sama Aldo, Kak."


"Gak makan dulu?"


"Gak, Nadia masih kenyang."


Audy mengangkat kedua alisnya.


Tak berselang lama suara klakson mobil terdengar dari rumah. Mobil Ayla berwarna hitam milik Aldo datang.


"Nadia pamit dulu, Kak."


Audy mengangguk. "Hati-hati."


"Hay, sayang ..." sapa Nadia membuka pintu mobil.


Aldo tersenyum mengusap rambut Nadia saat duduk disampingnya. Aldo melajukan moblnya dengan kecepatan sedang. Lima belas menit kemudian, mereka berdua sampai di depan cafe.


Aldo dan Nadia duduk lesehan berdampingan. Tiba-tiba seorang perempuan menepuk bahu Aldo. Itu adalah Amanda yang tidak sengaja melihat Aldo dan Nadia.


"Hey ... kok kamu ada di sini?" tanya Aldo heran.


"Aku dari tadi duduk sendiri di pojokan sana, terus melihat kalian. Boleh aku gabung?"


Aldo dan Nadia mengangguk. Amanda duduk di depan Aldo dan Nadia.


Aldo berdehem sedikit kikuk.

__ADS_1


"Kamu mau pesan apa, Amanda?" tanya Nadia yang terlihat senang dengan kedatangan Amanda.


"Apa saja yang penting hangat," jawab gadis berambut sepunggung itu.


Pelayan datang membawa pesanannya Aldo dan Amanda.


"Mas, pesan cappucino panas satu lagi ya," ucap Nadia.


"Aduh ... jadi ngrepotin nie. Makasih ya, Nad?"


"Santai saja." Nadia tersenyum menatap Amanda.


"Kamu beruntung punya cewek kayak Nadia, Do. Sudah cantik, baik, seorang selebgram lagi," puji Amanda.


Aldo hanya meyunggingkan senyum sambil memutar-mutar sedotan yang ada di gelasnya.


"Sayang, sebentar ya. Aku mau ngomong sama Amanda," ucap Aldo menarik lengan Amanda, lalu menjauh dari Nadia.


"Lepasin, Do. Sakit." Amanda berontak melepas cakalan tangan Aldo.


"Lo ngapain sih di sini," ucap Aldo pelan.


"Gue bener-bener gak sengaja lihat lo sama Nadia."


"Kita 'kan sudah setuju tentang hubunganku dengan Nadia."


Amanda memegang wajah Aldo. "Tenang saja, Sayang. Kita masih tetap sepupu jika dihadapan Nadia."


"Oke. Aku percaya sama kamu." Mereka bedua kembali menghampiri Nadia.


"Nad, gue pulang dulu ya. Mau ngerjain tugas kampus," ucap Amanda.


"Iya. Kamu naik apa kesini?"


"Ada mobil di parkiran."


Nadia melihat punggung Amanda yang tidak terlihat saat keluar dari cafe.


"Sepupu kamu itu rajin ya," ucap Nadia.


"Maksudnya?"


"Besok 'kan hari libur, dia masih ngerjain tugas."


"Ya begitulah Amanda. Di kampus dia juga termasuk anak yang berprestasi gitu."


Beberapa jam kemudian Aldo mengantar Nadia pulang. Nadia tersenyum melambaikan tangannya. Nadia mulai berpikir kalau Aldo memang sudah berubah.


Pagi harinya, Audy terlihat bersemangat hendak berolah raga. Dia hendak berlari kecil menuju taman kompleks. Disana juga sudah ada Reihan yang sedang melakukan pemanasan.


Reihan menghampiri Audy. "Lo sudah sehat?"


"Kalau gue gak sehat ngapain gue kesini, Rei."


"Yakin mau joging?"


Audy memukul Reihan dengan handuk putih yang ada di tangan kanannya. "Awas kalau lo ngerjain gue lagi."


"Iya ... gue juga ngeri lagi, kalau lo sampai pingsan lagi."


Audy berdecak melingkarkan handuk putih di leher sambil berlari kecil mengelilingi taman.


Reihan menyusulnya dari belakang.

__ADS_1


Tiap hari libur suasana di taman memang ramai. Banyak penghuni kompleks yang keluar untuk berolah raga.


Bersambung ..


__ADS_2