
Malam pun tiba, hari ini malam minggu. Audy dan Reihan bersama teman-teman kampusnya baru saja menonton film terbaru yang di bintangi Reza Rahadian. Film percintaan Yang di adaptasi dari novel itu mampu membuat Audy dan sebagian teman-temannya menangis.
"Film nya sedih banget gak sih, masak si ceweknya harus ngorbanin matanya hanya untuk kebahagian cowoknya yang buta," ucap Audy.
"Iya sih, gak kebayang deh kalau gue jadi tu cewek," teman yang lain menimpali.
"Kita pulang dulu ya," ucap salah satu teman.
"Oke, lain kali kalau ada waktu nonton lagi ya," ucap Audy melambaikan tangannya.
Setelahnya Audy mengajak makan Reihan.
"Boleh, makan dimana?" tanya Reihan.
"Di kios Kfc enak kali ya."
"Ya sudah Ayo."
Mereka menuju kios Kfc yang berada di lantai dua.
"Tadi lo kok diam saja sih, Rei?" tanya Audy.
"Gue tadi ketiduran, habisnya filmnya ngebosenin," jawab Reihan.
"Halah ... bilang saja lo iri sama Reza Rahadian, kan." Audy dan Reihan menuruni eskalator.
"Ngapain gue iri sama Reza Rahadian, lagian gue gak kenal sama dia."
Mulut Audy komat-kamit tidak jelas. Reihan melihat sosok wanita yang bersama Aldo dari arah yang berlawanan. Wanita cantik dengan rambut hitam sepunggung itu sedang menaiki eskalator. Reihan melihat dengan tatapan memutar.
Audy yang melihat pun kesal, dikira Reihan suka dengan perempuan itu. Audy menepuk lengang Reihan hingga Reihan merasakan sakit.
"Baru lihat cewek kayak gitu saja gak kedip mata lo ya," omel Audy.
Reihan masih memegang lengannya bekas pukulan Audy tadi. "Apaan sih, lo gak ingat apa? Itu perempuan yang bersama Aldo tempo hari."
Audy terbelalak. "Kenapa gak lo kejar."
"Mau ngejar gimana, kita kan berlawanan arah," jawab Reihan.
"Ya sudah ayo kita ikuti gadis itu." Audy dan Reihan kembali menaiki eskalator. Diam-diam mengikuti gadis berambut panjang itu.
"Kayaknya mau beli baju, Rei," bisik Audy.
"Sudah tau, kan gue juga lihat," kesal Reihan berkata pelan.
Setelah membeli baju gadis berambut panjang itu kembali turun. Reihan dan Audy diam-diam masih mengikuti sampai ke rumahnya. Tanpa terduga disana ada mobil ayla berwarna hitam yang sering di pakai Aldo.
"Itu 'kan mobilnya Aldo," ucap Audy.
"pasti ada yang gak beres dengan mereka," tebak Reihan.
__ADS_1
"Kita masuk yuk!" ajak Audy.
"Jangan ... nanti kita bisa dikira maling. Tu lihat di kanan kiri dekat atap ada cctv." Reihan menunjukan cctv kepada Audy.
"terus gimana dong, Rei?"
"Kuta tunggu saja sampai mereka keluar," jawab Reihan.
Tak berselang lama Reihan dan dan Audy melihat Aldo dan gadis berambut panjang itu berciuman bibir.
"Gila ... bener-bener kurang ajar itu Aldo. Berani-beraninya dia mainin adik gue," cibir Audy.
Reihan segera memfoto Aldo dan gadis berambut panjang itu. Setelah itu mereka berdua masuk mobil, Reihan dan Audy mengikuti dari kejauhan.
Aldo dan wanita berambut panjang itu turun di sebuah diskotik.
"Pasti mereka lagi ajep-ejep tu, Rei."
"Lo pernah masuk ke diskotik gak?" tanya Reihan.
Audy menggeleng.
"Ya sudah ayo kita masuk."
Audy mengikuti Reihan dari arah belakang. Suasana begitu ramai, banyak orang menari dengan alunan mudik hip-hop. Tanpa terasa kepala Audy ikut bergerak mengikuti alunan musik.
Reihan yang melihat Audy tampak kesal dan menyuruhnya untuk bersikap biasa. Audy tersenyum nyengir mengangkat tangan membentuk huruf V.
"Kita cari Aldo dimana?" tanya Audy berusaha mengalahkan suara musik hip-hop.
"Oke." Audy mengacungkan jempolnya.
Reihan dan Audy berusaha mencari Aldo dan gadis berambut panjang itu diantara keramaian orang. Hingga mata Audy tertuju dengan sofa merah yang di duduki Aldo dan pasangannya itu.
"Itu Aldo, Rei." Audy menepuk lengan Reihan.
Reihan menoleh Menatap Aldo yang sedang berduaan sambil minum miras dengan gadis itu.
"Kita sembunyi." Reihan mengajak Audy membalikan badannya duduk di depan meja bar.
Seorang pelayan bar mendekatinya, menawarkan pesanan.
"Pesan kopi dua," ucap Audy.
Pelayan diskotik itu segera pergi menyiapkan pesanan.
Aldo semakin lama semakin kurang ajar, dia berani berciuman bibir dengan gadis putih berambut panjang itu di depan umum. Reihan pun memfoto Aldo yang sedang berciuman.
"Kurang ajar tu orang, beraninya dia mainin adik gue," hardik Audy.
"Lo jangan ke pancing emosi dulu. Yang penting kita sudah dapat bukti kuat untuk membongkar kebusukan Aldo," ucap Reihan.
__ADS_1
Audy tersenyum. "Kita pulang yuk! Gerah gue di sini."
Reihan mengangguk. Mereka berdua beranjak dari tempatnya. Tapi, seseorang yang kurus dengan kaca mata besarnya mencegah Reihan dan Audy sambil merapikan rambut klimis belah tengahnya.
"Halo ... kalian di sini juga." Pria itu adalah Levi.
"Kok lo ada di sini sih, Lev!" teriak Audy.
"Harusnya gue yang nanya sama kalian. Kenapa ada di sini?" timpal Levi.
"Kita habis ngopi sebentar, Lev. Ini mau pulang," ucap Reihan melangkahkan kakinya.
Levi menghadang Audy dan Reihan. "Gue tau kalian kesini mau ngapain."
"Apa sih lo, Levi. Minggir gak!" ancam Audy.
"Eits, gak bisa. Bagaimanapun juga Aldo adalah bos gue. Jadi gue gak bisa membiarkan kalian pergi begitu saja," ucap Levi.
"Oya ... lo pikir lo bisa ngalahin gue, cungkring!" cibir Audy.
Levi tersenyum, lalu menepuk tangan memanggil teman-temannya. Beberapa pria datang mengerubuni Audy dan Reihan.
"Apa-apaan nie," ucap Reihan.
"Gue dari tadi sudah tau kedatangan kalian," ucap Levi.
"Kurang ajar lo, Lev!" hardik Audy.
"Tenang saja bro, gue masih nganggap kalian teman. Gue hanya ingin memeriksa hp lo berdua."
Audy dan Reihan berusaha mencari cara untuk kabur, tapi tangan Audy dan Reihan sudah keburu di kunci oleh teman-temannya Levi.
"Ambil hp nya." Teman-temannya Levi mengambil Hp nya Reihan dan Audy dari saku kantong mereka berdua, lalu menyerahkan kepada Levi.
"Kuncinya apa?" tanya Levi kepada Reihan.
Reihan hanya diam saja menatap tajam Levi.
"Gak mau bilang? Ya sudah Hp lo gue sita," ucap Levi.
"Oke gue kasih tau!" teriak Reihan.
Reihan mengetik kunci hp nya, lalu menyerahkan kepada Levi. Levi membuka camera hp Reihan, lalu menghapus foto yang ada di galerynya.
"Ini Hp lo. Lain kali kalau mau ambil foto bilang sama yang punya ya," ucap Levi tersenyum kepada Reihan.
Reihan dan Audy di lepaskan.
"Sudah sana, silahkan pulang." Teman-teman Levi melepas cakalan tangannya.
Audy menatap Levi geram. "Awas lo ya, gue gak bakal maafin lo."
__ADS_1
"Yeee ... ngancem. Memang gue takut sama lo!" seru Levi.
Bersambung ...