Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Terbongkar


__ADS_3

KKN sudah berlalu, hari ini mereka berempat akan pulang ke Jakarta. Tiket sudah ada di tangan, mobil sewaan untuk mmgantar mereka berempat sudah ada di depan kost. Tinggal memasukan barang dan duduk manis di mobil. Supir taksi online akan mengantar mereka berempat menuju Stasiun Babat.


Lima belas menit perjalanan, mobil berhenti di stasiun. Seperti biasa mereka berempat makan siang, masih ada satu jam keberangkatan kereta. Pelayan kedai memberikan menu makanan. Mereka berempat sepakat memesan pecel lele khas Lamongan.


Setelah selesai makan, mereka berempat menuju peron. Kereta terlihat dari kejauhan, naik di gerbong yang sudah di tentukan. Wajah lelah, namun gembira terpancar karena sudah bisa menyelesaikan KKN. Tidur terlelap mengistirahatkan diri.


Sepuluh jam perjalanan mereka tempuh, tepat pukul sepuluh malam mereka berempat sampai di Stadiun Pasar Senen. Mereka berempat kembali ke rumahnya masing-masing. Reihan dan Audy kebetulan satu arah, jadi mereka berdua memutuskan memesan satu taxi.


Reihan duduk di depan, tapi Audy memaksa Reihan duduk di belakang di sebelahnya. Reihan pura-pura menolak ajakan Audy.


"Sudah deh gak usah drama, kalau lo duduk di depan, gue keluar nie," ancam Audy.


Reihan tersenyum membelakangi Audy, tapi Audy melihatnya dari kaca spion. Reihan pun pindah ke belakang. Supir mulai melajukan mobilnya. Jantung Reihan mulai bergetar dekat dengan Audy, napasnya menderu, Reihan berusaha untuk menetralisirnya.


Audy terlihat mengantuk, mata sudah tidak kuat lagi. Audy tidur bersandar di pundaknya Reihan. Reihan tersenyum tipis, dengan sedikit nakal, tangannya merapikan rambut Audy yang sedikit berantakan. Dalam hati Reihan berdoa, suatu saat nanti Audy bisa memahaminya.


Tak berselang lama, mobil sampai di depan rumah Audy. Reihan membangunkan Audy dengan suara lembut. Audy terbangun menggosok matanya yang terlihat merah.


"Sudah sampai ya," ucap Audy yang masih ngantuk.


Reihan mengangguk, lalu keluar membantu Audy mengeluarkan barangnya dari belakang mobil.


Audy dengan mata yang masih sipit tersenyum mengucapkan terima kasih. Reihan pun ikut tersenyum berdiri di depan Audy cukup lama. Suara klakson membuyarkan tatapan Reihan. Supir taxi menyuruh Reihan segera naik karena terlalu lama menunggu.


Reihan jadi salah tingkah terhadap Audy, segera dia naik taxi sambil melambaikan tangannya. Audy membalas lambaiannya.


Lampu rumah terlihat masih terang, pintu pagar pun belum di kunci. Padahal Audy tidak memberitahu kepada siapapun kalau hari ini dia akan pulang. Ini hampir jam dua belas malam. Audy melangkah sampai ke pintu masuk.


Terlihat papa dan mamanya sedang duduk bersama Nadia. Perut Nadia semakin membesar. Wajah Nadia terlihat tertekan. Keluarganya menatap Audy dengan wajah serius.


"Papa, Mama ... kalian ..." Audy terlihat bingung.


Nadia menunduk dalam-dalam.


"Kamu sudah pulang, bagus sekalian biar kamu tau kelakuan adik kamu," ucap Reno.


"Memang ada apa dengan Nadia?"


"Adik kamu menikahi Aldo karena sebuah perjanjian," jawab Reno.


"Perjanjian apa sih, Pa. Audy semakin gak ngerti."

__ADS_1


"Sudahlah. Panjang ceritanya," ucap Ayu.


Audy mendekati Nadia, lalu berbisik. "Siapa yang ngasih tau papa sama mama?"


Nadia hanya menggeleng, lalu berkata lirih. "Aldo."


Audy curi pandang menatap mama dan papanya. "Sekarang mana Aldo?"


"Sudah pergi dari sini!" jawab Reno lantang.


"Gak bisa dong, pa? Aldo harus bertanggung jawab," ucap Audy.


"Kalau kita berdebat terus, kapan kita bisa menyelesaikan masalah," ucap Ayu.


Malam itu Audy langsung mengerti permasalshan adiknya. Satu-satunya cara Aldo harus bertanggung jawab.


Flas Back on


Malam saat Aldo baru pulang dari KKN, dia sedang bersama dengan Ryan di salah satu diskotik. Aldo menceritakan tentang Audy yang mulai ikut campur dengan urusannya. Audy bisa membuat Aldo terkekang lagi.


"Kenapa?" tanya Ryan.


"Gue takut kalau warisan bokap gue diserahkan kepada orang lain."


"Gue kasih tau rahasia. sebenarnya gue bukan anak kandung bokap gue," ucap Aldo lirih.


Ryan terbelalak. "Beneran lo?"


Aldo mengangguk pelan. "Lo ngerti 'kan maksud gue? Dan Nadia, sudah menceritakan semua sama Audy. Gue gak bisa apa-apa kalau sudah menyangkut bokap gue."


"Lo gak pernah nanya sama om Tio?"


"Mana gue berani, bokap gue itu galak, sekali gue nanya warisan raut mukanya langsung berubah."


"Coba lo bilang jujur sama keluarganya Nadia, lo sedikit bermain drama, lo lihat reaksi bokap lo seperti apa, kalau bokap lo marah, lo minta maaf sama Nadia, tunjukin kalau lo benar-benar berubah di depan Nadia. Bukankah Nadia mengharapkan lo berubah, setidaknya saat lo ada di sisinya," ucap Ryan memberi solusi.


"Kalau bokap gue benar-benar marah gimana?"


"Lo harus berani mengambil resiko, ambil hati bokap lo lewat Nadia."


Aldo menyeringai menatap Ryan. "Lo memang pintar Ryan, pantas saja Audy yang bawel bisa lo kadalin."

__ADS_1


Ryan tersenyum sinis. "Sekarang gue juga harus hati-hati dengan Audy."


"Gue tau, pasti hubungan lo takut ketahuan sama tante Sonia, kan?"


"Lebih dari itu, gue curiga kalau Audy tau siapa gue sebenarnya."


"Gak masalah bro, yang penting lo pernah nidurin dia," ucap Ryan.


"Lo ini gimana sih, kalau sampai kebongkar siapa gue yang sebenarnya, hubungan gue sama Audy bisa hancur."


Ryan terkekeh. "Jadi lo beneran suka sama Audy?"


Ryan mengangguk.


"Lo sama kayak gue, bro." Namun, karena sifat bajingan kita, lo dan gue gak bisa mencintai cewek seutuhnya."


"Lo aja kalee, gak usah ngajak gue," ucap Ryan sambil bersulang dengan Aldo.


Setelah mendapat solusi dari Ryan, Aldo langsung pulang ke rumah Nadia. Disana kebetulan ada papa Reno. Napas Aldo masih tercium bau alkohol, tapi Aldo tidak peduli.


"Pa, Ma ... Aldo mau ngomong."


"Nak Aldo, sudah pulang?" Ayu belum tau kalau Aldo baru saja minum dengan Ryan, tapi dia tidak terlalu mabuk, masih sadar.


Reno mencium bau alkohol dari mulut Aldo. "Nak Aldo habis dari mana?"


"Dari diskotik, Pa. Diajak minum sama temen." Aldo berkata jujur.


Reno menaikan satu alisnya, sedangkan Ayu menatap Aldo dengan getir.


"Aldo hanya ingin bilang kalau pernikahan Aldo sama Nadia hanya formalitas saja, karena Nadia sudah hamil duluan. Sampai Nadia lahiran Aldo sudah gak jadi suami Nadia lagi," ucap Aldo dengan santainya.


"Maksud kamu apa!" Reno berdiri saking marahnya. Ayu memegang tangan Reno supaya tidak kelepasan.


"Papa tanya saja sama anaknya."


"Ma, panggil Nadia kesini!" perintah Reno.


Ayu segera memanggil Nadia yang sedang tertidur. dengan mata yang masih sipit Nadia membuka pintu kamar.


"Ada apa, Ma? Nadia ngantuk banget nie ...?"

__ADS_1


"Di panggil papa kamu, cepet!"


Bersambung ...


__ADS_2