Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Aldo Menemui Nadia.


__ADS_3

Tiba-tiba Levi datang duduk satu meja dengan Audy dan Reihan sambil membawa piring lengkap dengan nasi dan lauknya.


"Apaan sih lo!" omel Audy.


"Yaela mau duduk, ini 'kan tempat umum," balas Levi.


"Tapi kursi 'kan masih banyak yang kosong, Lev?" sahut Reihan.


"Gak mau, gue maunya duduk di sini. Gue makan dulu ya." Levi mulai makan dengan lahapnya.


Audy dan Reihan saling mengendikan kepala. Ini saat yang tepat mengerjai Levi. Reihan punya kecoa yang membuat Levi pasti kabur dari tempatnya.


"Kok minumnya belum ada, Lev? tanya Audy.


"Nanti juga diantar sama mbak nya," jawab Levi.


"Buset ... ada cewek cantik itu siapa ya." Reihan memperdaya Levi.


Levi menoleh ke belakang. "Mana ...."


"Itu, yang pakai baju merah." Reihan segera mengambil kecoa di saku kemejanya, ditaruh kecoa itu di nasi ramesnya Levi, lalu mengaduk kecoa itu biar tidak ketahuan Levi. Audy mengulum bibirnya menahan tawa.


"Itu mah Hesti anak sastra ... biasa saja menurut gue." Levi kembali melanjutkan makannya.


"Enak, Lev? tanya Reihan saat Levi menguyah makanannya.


Levi mengangguk. Tiba-tiba Levi berhenti menguyah saat tau ada yang mengganjal di dalam mulutnya. Levi pelan-pelan mengambil sesuatu yang mengganjal itu. Betapa terkejutnya dia saat tau itu adalah hewan yang paling ditakutinya. Levi berteriak histeris, lalu segera ke toilet hendak memuntahkan makanannya. Para mahasiswa yang ada di kantin terfokus pandangan ke arah Levi.


Reihan dan Audy tertawa puas karena berhasil mengerjai Levi. Mereka berdua melakukan tos tangan untuk merayakannya. Sedangkan di toilet, Levi terus terbatuk di wastafel berusaha mengeluarkan makanan yang ada di dalam perutnya.


Badannya tiba-tiba lemas, kepalanya mulai berkunang-kunang, lalu pingsan di toilet. Teman yang melihatnya segera membantu sambil berteriak minta tolong. Para mahasiswa yang ada di kantin berlari menuju sumber suara. Reihan dan Audy pun penasaran ikut melihatnya. Levi pingsan di bopong beberapa mahasiswa menuju ruang kesehatan.


"Yah ... kok jadinya gitu," ucap Audy panik.


"kita kesana yuk!" Ajak Reihan.


Audy dan Reihan melihat keadaan Levi di ruang kesehatan. Salah satu mahasiswa melepas kacamata besar Levi. Wajah Levi terlihat merah seperti terkena alergi. Reihan dan Audy merasa bersalah karena sudah keterlaluan mengerjai Levi.


"Kalian sih sudah kelewatan ngerjainnya," timpal salah satu mahasiswa.


Audy dan Reihan hanya terdiam.


"Kalian tanggung jawab ya, kalau ada apa-apa dengan Levi. Jelek-jelek gini, dia selalu membuat kita tertawa," timpal mahasiswa yang sama.


"Iya, kita tanggung jawab deh," ucap Audy.

__ADS_1


"Ya sudah ... kalian jagain Levi sampai sadar."


"Kita akan jagain Levi, kalian tenang saja," ucap Reihan.


Mahasiswa yang membawa Levi di ruang kesehatan pun keluar. Tinggal Audy dan Reihan duduk disamping Levi.


"Sudah pingsan, masih saja nyusahin," omel Audy.


"Gak boleh gitu, Levi pingsan 'kan gara-gara kita juga," ucap Reihan.


Audy terdiam sambil memanyunkan mulutnya.


"Terus, kalau dia gak sadar-sadar gimana, Rei?" tanya Audy.


"Ya sudah kita nginep di sini," jawab Reihan.


Audy tersenyum malu memalingkan wajahnya. Audy berharap Levi gak sadar biar dia bisa sama Reihan terus.


"Lo punya minyak angin gak?" tanya Reihan.


Audy mengangguk memberikan minyak angin kepada Reihan.


"Buat apa?" tanya Audy.


"Buat Levi, Lo buka tu sepatunya, biar dapat angin." Reihan mengoleskan minyak Angin di lubang hidungnya Levi.


"Kenapa?"


"Kakinya bau banget, pasti gak pernah ganti kaos kaki nie anak," cibir Audy.


"Orang pingsan masih saja lo hina," ucap Reihan.


Audy nyengir. "soalnya kalau lihat muka Levi bawaannya pengen hina mulu."


...***...


Di tempat lain, Aldo terlihat sedang menemui Nadia. Aldo menekan bel yang ada di tiang pagar rumahnya. Nadia masih saja di kamar, dari tadi belum keluar kamar juga. Sedangkan bel terus berbunyi.


Nadia lama-lama merasa risih juga. Nadia membuka pintu kamar, lalu melihat jam dinding yang ada di atas kulkas. masih jam satu siang. Nadia mengira itu adalah Audy. Namun, tebakannya ternyata salah.


Aldo sudah berdiri di depan pintu pagar rumahnya. Nadia menatap tajam dari pintu rumah, lalu berjalan pelan menghampiri Aldo.


"Mau apa lo kesini," ucap Nadia cuek.


"Gue kesini mau ketemu sama lo, Nad?"

__ADS_1


Nadia memasang wajah cuek sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Bisa dibukain, Nad. Gue pengen ngomong sama lo," ucap Aldo dengan nada memohon.


"Ngomongnya di sini saja, gak usah masuk. Lagian gak ada orang di dalam."


"Oke ... gue kesini cuma mau minta maaf sama lo. Gue tau kemarin malam gue salah. Dan gue bakalan bertanggung jawab jika lo kenapa-kenapa, Nad." Aldo berusaha membujuk Nadia.


"Sudah ngomongnya.?" Nadia tersenyum sinis.


Aldo hanya diam, bersikap manis kepada Nadia.


"Kalaupun lo bertanggung jawab, tidak akan bisa menyembuhkan rasa sakit gue ke lo, Do. Lo kejam, laki-laki bajingan!" Nadia menangis meluapkan semua amarahnya yang dia pendam.


Aldo ikut menangis sambil menampar pipinya sendiri. "Gue memang bajingan, gue gak pantas hidup."


Nadia yang melihatnya merasa kasihan."Do, lo ngapain sih. Jangan gila deh."


"Gue gak bisa maafin diri gue sendiri sebelum lo maafin gue, Nad." Aldo berlutut sambil terisak.


Nadia akhirnya membuka pintu pagarnya, lalu mengangkat bahu Aldo.


"Lo ngapain sih, Do. Lo mending pulang, gue belum siap ketemu sama lo, Do." Nadia ikut menangis melihat kesungguhan Aldo.


Aldo menyeka pipinya, lalu memegang kedua lengan Nadia. "Lo percaya percaya sama gue 'kan, Nad?"


"please, Do. Gue butuh sendiri dulu." Nadia sebal mengernyitkan dahinya.


"Oke ... tapi lo harus janji sama gue, setelah lo tenang langsung temuin gue." Aldo menatap Nadia penuh arti.


Nadia berpikir sejenak menatap Aldo, lalu menganggukkan kepala.


Aldo tersenyum mengucapkan terima kasih kepada Nadia. "Gue pulang dulu."


Nadia segera menutup pintu pagar, lalu berlari masuk ke dalam rumah. Terduduk di lantai, berteriak sekencang-kencangnya. Nadia kembali teringat saat Aldo menyetubuhinya.


Sedangkan Aldo tertawa puas karena telah berhasil memperdaya Nadia. Ternyata tujuan Aldo datang ke rumah Nadia hanya untuk melihat reaksi Nadia kalau dia meminta maaf. Rupanya Nadia di mata Aldo hanya perempuan yang gampang diperdaya.


Aldo tidak akan mau bertanggung jawab kalau nanti Nadia hamil. Aldo sudah memikirkan alasan untuk menolak bertanggung jawab.


Sedangkan di kampus, Audy dan Reihan masih menunggu Levi siuman. wajah Audy mulai cemberut karena Levi tak kunjung siuman juga.


"Pulang yuk, Rei!" ajak Audy.


"Kalau pulang Levi siapa yang nungguin."

__ADS_1


"Gue bosan di sini. Dari tadi duduk gak ada kegiatan," ucap Audy.


Bersambung ...


__ADS_2