Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Ada Yang Aneh


__ADS_3

Malam hari saat makan malam, Nadia belum juga keluar rumah. Ayu menjadi khawatir.


"Nadia mana, Ma?" tanya Audy saat duduk di meja makan.


"Masih di kamar, coba kamu panggil, kali saja dia mau makan."


Audy mengangguk, beranjak dari tempatnya.


"Nad ... makan malam, sudah ditunggu sama mama!" panggil Audy mengetuk pintu kamar Nadia.


Nadia yang sedari tadi ada di kamar segera beranjak dari tempat duduknya. Nadia berusaha menutupi aibnya dari orang terdekat.


"Iya ... sebentar, Kak. Nadia cuci muka dulu." Nadia segera merapikan dirinya, memakai parfum dan sedikit bersolek.


Audy kembali ke tempatnya.


"Gimana?" tanya Ayu.


"Sebentar lagi kesini katanya, Ma."


Ayu tampak lega. "Syukurlah."


"Malam, Ma. Sudah lama nunggu Nadia ya." Nadia memasang wajah yang berseri duduk di sebelah Audy.


Ayu tersenyum senang melihat anaknya tampak baik-baik saja.


Audy ikut tersenyum. "Kemarin malam lo kemana, Nad? Mama khawatir tau."


"Nadia kemarin mengisi acara di pesta ulang tahun teman, pas Nadia mau pulang malah di suruh nginep. Awalnya Nadia gak mau cuma karena di paksa, ya sudah deh. Paginya Nadia bangun kesiangan," alasan Nadia.


"Kirain ..." Audy tidak berani melanjutkan ucapannya.


"Kirain apa, Kak?" tanya Nadia.


"Kirain ... kirain Mama, lo di culik," canda Audy yang membuat Ayu tertawa.


"Enak saja ... memang Nadia anak kecil." Nadia cemberut menatap Ayu.


Dibalik gelak tawa, dalam hati Nadia takut. Bagaimana kalau Audy dan Ayu tau kalau Nadia habis di pakai sama Aldo. Bagaimana reaksi keluarganya.


Selesai Makan, Nadia kembali menutup pintu kamarnya. Nadia mendongak menatap langit-langit kamarnya, matanya menggenang, membesar di sudutnya, lalu menetes di pipi. Nadia menangis di balik pintu dengan posisi menelingkup.


Pagi harinya Nadia mendengar suara ketukan pintu. Itu Ayu memanggilnya. Nadia yang baru saja tertidur dengan malas membuka pintu.


"Ada apa, Ma?" Nadia menguap dengan mata masih ngantuk.


"Kamu gak kuliah?" tanya Ayu.


"Ya kuliah dong, Ma. Memang ini jam berapa sih, Ma."


Kamu lihat saja sendiri ini jam berapa," ucap Ayu.


Nadia melihat jam di sebelah tangan kirinya. "Jam sepuluh! Nadia telat deh."


"Lagian kamu semalem tidur jam berapa sih kok sampai bangun kesiangan," omel Ayu.


"Maaf, Ma. Kemarin Nadia marathon nonton drakor," alasan Nadia.

__ADS_1


Ayu bedecak, lalu menggelengkan kepalanya. "Hari ini kamu di rumah saja deh. Mama mau balik ke toko."


Nadia mengangguk tersenyum tipis.


"Jangan lupa kalau keluar rumah pintu di gembok," pesan Ayu.


"Iya, Ma." Nadia menutup pintu kamar. Nadia terlihat stres kedua tangan menjambak rambutnya.


Di kampus, Aldo dan Levi terlihat mencari Nadia. Aldo sudah menelponnya beberapa kali, namun handphone nya Nadia tidak aktif. Aldo dan Levi melihat Audy duduk sendiri di taman siswa.


"Audy!" Aldo menghampiri Audy.


Audy menoleh. "Ada apa?"


"Nadia kemana?" tanya Aldo.


"Mana gue tau. Di kelas kali," jawab Audy.


"Gak ada, tadi gue sudah kesana, nomornya juga gak aktif," ucap Aldo.


"Lha kok bisa, gue pikir tadi Nadia sudah berangkat duluan."


"Lo gak curiga sama Nadia?" Tanya Aldo menyelidik.


"Maksud lo." Audy melirik sinis ke arah Aldo.


"Mak-maksud gue ... Nadia mungkin telat."


"Mungkin kali," ucap Audy mengangkat bahu.


"Kalau gitu gue ke kelas dulu ya," Aldo berjalan menuju kelas.


Levi masih berdiri menatap Audy dengan kacamata besarnya.


"Apa lo lihat-lihat, naksir lo sama gue!" hardik Audy.


Levi langsung bereaksi. "Kalau iya kenapa? Mau gak neng pulang bareng sama abang."


Audy berdiri tersenyum kecut menatap Aldo. "Bang ... becaknya mana, Bang."


"Becak! Mobil kali," ucap Levi.


"Halah ... mobil pinjam saja bangga."


"Pinjam dulu. Belinya nanti kalau sudah kita sudah jadian." Levi tersenyum menaik-turunkan alisnya.


Audy kembali duduk. "Sudah sana, gue lagi sibuk."


Levi semakin menggoda Audy, dia duduk disamping Audy tersenyum sambil merapikan rambut klimis belah tengahnya.


"Apaan sih lo senyum-senyum." Audy mendorong Levi hingga jatuh ke tanah.


"Galak amat sih jadi cewek!" hardik Levi.


"Sukurin." Audy beranjak dari tempatnya meninggalkan Levi.


"Gue doain lo tambah kurus!" seru Levi.

__ADS_1


Audy tidak memperdulikan Levi. Audy hendak menghampiri Reihan yang sedang bersama teman gunungnya di lapangan kampus. Reihan terlihat sedang mengajari beberapa anak cewek bagaimana caranya memotret alam.


Reihan terlihat senang bercanda dengan cewek-cewek itu. Audy yang melihatnya pun cemburu, dia duduk di pinggir lapangan bersama beberapa pria ingin melihat bagaimana reaksi Reihan.


Audy ikut bercanda dengan beberapa pria yang ada disana. Namun, reaksi Reihan datar, bahkan Reihan tidak sekalipun melirik Audy. Ini tidak adil bagi Audy, masak yang cemburu cuma dia saja.


"Reihan! Lo ngapain sih centil sama cewek!" teriak Audy yang terbakar cemburu.


Reihan dan teman-teman gunung lainnya menatap heran Audy.


"Apa?" tanya Reihan heran.


Audy menjadi salah tingkah, tidak seharusnya dia berteriak memanggil Reihan.


"Lo kenapa, Dy?" tanya salah satu teman Reihan.


Audy tersenyum simpul. "Gak pa-pa. Tadi gue cuma ngigau."


Audy kembali duduk bersama anak gunung pria yang lain. Namun, mata Audy terus melihat Reihan yang tengah asyik mengajari para cewek itu. Audy hanya bisa menahan cemburunya di dalam hati seoalah Audy tidak rela Reihan bersama wanita lain.


Selesai kegiatan, Reihan dan Audy berjalan beriringin menuju kantin.


"Lo tadi ngapain teriakin gue, Dy?" tanya Reihan.


"Hah ... itu ..." Audy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tadi gue kayak lihat kecoa gitu di atas kepala lo. Makanya gue teriak," alasan Audy.


"Lo kok tau kalau gue bawa kecoa?"


Audy menghentikan langkah menatap nanar Reihan, lalu tersenyum nyengir. "Feeling saja sih."


"Gue bawa kecoa buat jaga-gada kalau Levi rese lagi sama kita."


"Bener tu, memang rese tu Levi," ucap Audy.


"Kalau dia macem-macem, tinggal gue lempar saja kecoanya."


"Memang kecoanya dimana?" tanya Audy.


Reihan merogoh saku kemeja yang ada di dada kirinya. "Ini ... di tas juga masih ada satu lagi."


Audy terlihat senang. "Dapat dari mana?"


"Kemarin gue nemu di kamar mandi gue," jawab Reihan.


"Lo gak pernah bersihin kamar mandi ya," tebak Audy.


"Gue bersihin tiap tiga bulan sekali," jawab Reihan.


"Jorok amat, bersihin kamar mandi itu seminggu sekali," cibir Audy.


"Kalau seminggu sekali itu motong kuku bukan bersihin kamar mandi." Reihan tidak mau kalah.


"Terserah lo deh." Audy duduk di meja kantin berhadapan satu meja dengan Reihan.


Mereka berdua hendak makan siang, kantin seperti biasanya selalu ramai dengan pengunjung. Audy dan Reihan harus giliran mengantre makanan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2