
Audy dan Vita datang. "Levi sudah pulang?"
"Lagi di kamar mandi," jawab Reihan.
Audy memukul pintu kamar mandi secara keras menyuruh Levi untuk secepatnya keluar dari kamar mandi.
"Iya lagi mandi!" Teriak Levi dari kamar mandi.
Audy, Vita, dan Reihan menunggu sampai Levi keluar. Sepuluh menit, lima belas menit menunggu Levi tak kunjung keluar juga. Audy menjadi kesal.
"Lo mandi apa tidur sih, Lev!" teriak Audy.
"Bentar lagi, ini lagi pakai baju! Lo mau gue keluar gak pakai baju!"
Audy pun tersentak, Dia tidak bisa membayangkan kalau Levi keluar tidak memakai baju.
"Ya sudah cepetan!" Wajah Audy terlihat merah padam
Reihan yang melihatnya hanya bisa menahan tawa, begitupun dengan Vita.
Levi keluar hanya memakai celana kolor dan handuk yang melingkar di lehernya.
"Apa? Ganggu orang mandi saja," ucap Levi saat menghampiri Audy.
"Pakai baju dulu sana," ucap Vita yang terlihat geli melihat tubuh kurus Levi.
"Mending badan lo bagus, Lev. Badan kurus gitu lo pamerin ke kita," cibir Audy.
"Bilang saja lo nafsu, tapi lo malu," ucap Levi saat mengambil pakaian dari lemari.
Audy pun bergidik geli mendengar pernyataan Levi yang terlalu percaya diri.
"Nie gue sudah pakai baju, sekarang mau tanya apa, serius amat," ucap Levi.
"Lo kenapa tadi gak pulang bareng sama Reihan?" tanya Audy dengan wajah kesal.
"Kan tadi gue bantuin bapak petani tambak," jawab Levi.
"Halah ... lo jangan bohong deh, kita sudah tau. Lo minta upah 'kan sama Bapak petani tambak itu?" tebak Vita.
Levi tersenyum nyengir.
"Ingat ya, Lev. Di sini kita itu sedang KKN bukan lagi nyari kerja. Lagian lo 'kan ketua kelompoknya, harusnya lo dong yang mengatur jadwal untuk kita," omel Audy.
"Iya-iya, gue salah. Gue minta maaf."
__ADS_1
"Syukurin, makanya serius biar waktu pulang ke Jakarta bisa dapat nilai bagus," sahut Reihan.
"Sekarang biar gue yang ngambil alih jadi ketua," ucap Audy.
"Gak bisa gitu dong. Harus ada persetujuan bersama," protes Levi.
"Oke, mumpung pada ngumpul di sini. Sekarang gue tanya Vita sama Reihan. Gue pantes gak gantiin Levi jadi ketu kelompok?"
Reihan dan Vita menjawab pantas. Levi pun pasrah menyerahkan jabatan ketua kelompok kepada Audy.
"Sudah, gak pa-pa. Lebih enak gak jadi apa-apa. Bisa lebih bebas. Kita tinggal ikut saja program dari cewek cerewet itu." Reihan memegang bahu Levi berusaha menguatkan.
"Oke, kalau gitu besok jam tujuh kita kumpul di depan. Kalau telat satu menit push up lima kali, jadi per menit di hitung lima kali push up," ucap Audy.
"Wah gak bisa gitu dong," protes Reihan.
"Ini perintah dari ketua, lo berdua harus ngikutin," ucap Audy tegas.
Reihan dan Levi pun tidak punya pilihan lagi. Audy tersenyum kecut, lalu pergi dari kamar kost, disusul oleh Vita.
Malam harinya, Reihan terbangun, masih pukul satu pagi. Levi terlihat pulas tidurnya dengan liur yang membentuk pulau di area bantalnya. Reihan keluar menuju balkon menikmati pemandangan desa di malam hari.
"Lo belum tidur?" tanya seorang wanita.
Reihan terperanjat, melihat Audy yang juga ada di balkon sebelah sambil memegang gelas. Audy terlihat cantik dengan rambut tergerai indah dan celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, itu membuat Reihan susah berkedip.
"Lo kenapa gak bisa tidur?" tanya Reihan sedikit melunak.
"Mikirin lo."
Reihan kembali terperanjat memasang expresi terkejut. Audy tertawa kecil saat melihat Reihan salah tingkah.
"Gak usah GR, gue cuma bercanda," ucap Audy.
"Si-siapa yang GR, gue sudah ngelupain lo ya. Buktinya gur mau KKN bareng lo," alasan Reihan sambil mengelus dadanya.
"Iya- iya, gue paham." Audy tau kalau Reihan hanya beralasan saja.
Mereka berdua terdiam. Audy terlihat santai saja sambil meminum kopi yang ada di gelas. Sedangkan Reihan, tampak tidak bisa berkutik. Tangannya berkeringat, wajahnya tegang dan selalu menunduk, sesekali curi pandang kepada Audy.
"Lo kenapa, Rei?" tanya Audy sambil terkekeh.
"Oh ... gak pa-pa, di sini hawanya dingin, gue masuk dulu ya." Reihan segera masuk, lalu menutup pintu kamar.
Audy hanya tersenyum melihat Reihan yang terlihat gugup.
__ADS_1
"Dasar laki-laki," gumam Audy sambil seteguk meminum kopi.
Pagi harinya mereka berempat siap untuk melakukan tugas KKN. Kali ini Audy yang mengatur pasangan tugasnya.
"Vita sama Levi, Gue sama Reihan. Ada pertanyaan?"
Semua terdiam, Reihan terlihat gugup, wajahnya terlihat tidak nyaman.
Levi menyenggol lengan Reihan. "Lo kenapa, Rei."
Reihan tersenyum simpul. "Gak pa-pa. Kapan kita mulai."
"Ya sekarang lah, masak nanti," ucap Levi.
"Ayo, Rei." Audy memegang tangan Reihan. Itu membuat Reihan terkejut sekaligus senang. Dia merasa masih punya harapan dengan Audy.
Kali ini Reihan dan Audy saling bekerja sama. Reihan yang meneliti Audy yang mencatat. Sesekali juga mereka bercanda yang membuat suasana cair. Reihan terlihat lepas, tidak seperti hari-hari kemarin yang terlihat kaku.
Namun, Reihan tetaplah Reihan. Pria yang tidak berani mengungkapkan perasaannya. Walaupun Audy beberapa kali memancing Reihan, tapi tetap saja dia masih tetap kaku.
Sore telah tiba, mereka berkumpul di sebuah warung sederhana mendiskusikan hasil penelitian mereka berempat.
"Kita balik ke kost dulu, besok baru kita lanjut diskusi," ucap Audy.
Levi kembali menyenggol lengan Reihan. "Ciyee ... sudah baikan niye ...."
Reihan berdecak melirik Levi kesal. Reihan berjalan cepat mendahului Levi supaya tidak di goda. Levi tidak menyerah, dia ikut berjalan cepat mengimbangi langkah Reihan. Audy dan Vita pun heran melihat tingkah mereka berdua yang seperti anak kecil.
"Apaan sih lo?"
"Gimana? seneng 'kan lo deket sama Audy lagi," tebak Levi menaikan-turunkan alisnya.
"Biasa saja." Reihan melipat kedua tangan.
"Halah ... lo pikir gue gampang dibohongi. Dasar cowok lemah," cibir Levi.
Reihan melotot hendak membalas ucapan Levi, tapi Audy dan Vita keburu datang, jadi Reihan mengurungkan niatnya.
"Kita duluan ke dalam ya," ucap Audy matanya tidak lepas dari pandangan kepada Reihan. Reihan pun seperti terhipnotis, dia juga menatap Audy yang masuk ke dalam ruko.
Levi dengan iseng meraup wajah Reihan. "Jangan diliatin terus, nanti bisa kesurupan."
"Apaan sih lo, orang gue lagi mikir," alasan Reihan.
"Lo kalau gak mau jujur sama diri lo, sejuta cewek yang lo deketin gak bakal lo dapetin." Levi pergi dari hadapan Reihan.
__ADS_1
Reihan tampak berpikir dengan ucapannya Levi. Reihan sebenarnya juga ingin mengungkapkan isi hatinya, tapi dia begitu gugup. Seperti ada yang menahan di kerongkongannya. Reihan berteriak, kesal terhadap dirinya sendiri.
Bersambung ...