
"Sabar, Rei. Tahan emosi lo," ucap Audy.
Reihan menggeleng, Hendak menyusul Aldo dan Nadia, tapi Audy memegang lengan Reihan.
"Lo mau kemana?"
Reihan terdiam beberapa saat menatap Audy, lalu tersenyum.
"Sory, Dy. Gue hampir kelepasan."
"Ya sudah ... mending kita duduk."
Reihan mengangguk merangkul Audy sambil menjepit hidung mancungnya. Kepala Audy tenggelam di dada bidangnya Reihan. Bumi terasa berhenti beputar, siang ini Audy ingin merasakan hangatnya di peluk Reihan.
Satu minggu telah berlalu
Aldo mengajak Nadia bertemu di salah satu Mall yang ada di Jakarta. Mereka berdua duduk satu meja di restoran jepang yang berada di lantai dua.
"Oke, gue bersedia nikahin lo. Tapi dengan satu syarat," ucap Aldo.
"Apa, katakan saja."
"Bokap nyuruh gue habis sarjana nerusin S2 ke Amerika. Lo paham maksudnya, kan?"
"Oke gak Masalah. Lagian pernikahan kita hanyak sebatas formalitas saja. Gue kalau gak hamil, gak sudi nikah sama pria bajingan kayak lo."
"Terus kenapa saat itu lo mau jadi pacar gue?"
"Karena lo nipu gue."
Aldo tidak terima dengan tuduhan dari Nadia. "Gue gak pernah nipu lo ya!"
"Halah ... lo pikir gue gak tau siapa Amanda. Dia bukan sepupu lo, kan? Dia cewek murahan yang mau sama cowok bajingan kayak lo!" bentak Nadia.
"Jaga mulut kamu ya, ini di tempat umum." Aldo berkata lirih sambil mengeraskan rahangnya.
"Ya sudahlah, gue gak tertarik ngebahas cewek murahan itu. Terserah lo deh mau ngapain sama tu cewek."
Aldo mendengkus kesal menatap tajam Nadia. Dia tidak menyangka kalau Nadia bisa menjadi cewek yang kuat seperti ini.
"Kalau lo punya syarat gue juga punya." Nadia mengeluarkan map berwarna biru berisikan kertas yang sudah diberi materai.
"Apa ini?" tanya Aldo belum paham.
"Baca dulu," perintah Nadia.
Aldo mulai membaca syarat yang diajukan Nadia. Ada lima syarat yang diajukan Nadia.
'Tinggal di rumah Nadia.'
'Tidak boleh melakukan hubungan badan'
'Harus bersikap harmonis di depan keluarga Nadia.'
__ADS_1
'Tidak boleh pulang di bawah jam sebelas malam atau mobil, dompet, hp, laptop dan barang milik pribadi disita selama satu bulan.'
'Tidak boleh pulang dalam keadaan mabuk.'
Jika syarat ini di langgar maka yang bersangkutan akan membayar denda sebanyak lima puluh milyar rupiah.
Aldo keberatan dengan syarat yang diajukan Nadia.
"Lo mau bunuh gue." Aldo geram menutup kembali map berwarna biru itu.
"Terserah lo ... kalau gak mau siap-siap saja masuk penjara." Nadia menyeringai menatap Aldo.
Aldo tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia pasrah menerima syarat dari Nadia atau keluarganya akan menanggung malu karena ulahnya.
Aldo menandatangani syarat itu, lalu memberikannya kepada Nadia.
Nadia tersenyum licik menatap Aldo.
"Lo tenang saja, Do. Ini berlaku sampai anak kita lahir. Habis itu terserah lo mau ngapain. Gue sudah gak peduli. Besok kita minta izin sama orang tua kita," ucap Nadia yang beranjak dari tempat duduknya.
Aldo berteriak kencang hingga semua pengunjung menatapnya. Aldo lupa kalau dia ada di restoran. Aldo kemudian beranjak dari tempatnya dengan wajah emosi.
Aldo tidak menyangka kalau masalah ini akan menjadi panjang. Setiap kali dia meniduri seorang wanita, biasanya wanita itu pasrah dan tidak menuntut apapun darinya.
Namun, kali ini berbeda. Nadia yang dianggap gadis yang baik dan lembut. Ternyata menyimpan misteri yang membuatnya mati kutu.
Esok harinya, Nadia dan Aldo sudah bersiap meminta restu dari kedua orang tua mereka masing-masing.
"Ada apa ini, serius sekali kelihatannya," ucap Reno.
Nadia memegang tangan Aldo. "Kami sengaja mengumpulkan Papa dan Mama ingin berbicara sesuatu."
"Iya apa ... langsung saja." Reno terlihat tidak sabar.
"Kami berdua ingin menikah, Pa, Ma."
"What!" Ayu berteriak kaget. "Mama gak salah dengar, kan?"
Nadia menggeleng. "Nadia dan Aldo sudah membicarakan bersama, Ma."
Ayu dan Reno saling menatap tidak percaya.
"Usia kamu belum genap dua puluh tahun, Nadia. Kamu yakin?" Ayu mencoba memastikan
Nadia mengangguk. "Nadia dan Aldo takut zina, Ma."
Ayu mengangkat tangan menyerahkan hal ini kepada suaminya.
"Kenapa kalian bicara sesuatu yang penting secara tiba-tiba?" tanya Reno menyelidik.
"Karena kita sudah yakin satu sama lain, Pa. Iya 'kan, sayang." Nadia tersenyum menatap Aldo.
Aldo terpaksa tersenyum menganggukan kepala.
__ADS_1
Reno menghela napas. "Kalian itu masih kuliah. Ada baiknya selesaikan dulu kuliah kalian. Baru boleh berpikir tentang pernikahan."
"Pa, Kami setiap hari saling bertemu di kampus. Duduk berdua, bercanda berdua, main berdua. Dari pada nanti kami khilaf mending kita menikah biar halal. Lagi pula kita sudah sama-sama yakin. Iya 'kan, sayang."
Aldo kembali mengangguk tersenyum kepada Nadia.
Reno tidak bisa melarang lagi keinginan anaknya. "Gimana, Ma. Setuju anak kita menikah muda?"
Ayu menggeleng. "kalian ingin nikah bukan karena kamu hamil duluan 'kan, Nad?"
"Gak, Ma. Nadia masih virgin."
Ayu mengubah posisi duduknya melipatkan kaki. "Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan."
Nadia tersenyum lebar mengepalkan tangan. "Makasih ya, Ma, Pa."
"Kapan kalian mau menikah?" tanya Reno.
"Sebelum masuk semester baru, Pa."
"What!" Teriak Ayu. "Itu berarti kurang dari satu minggu dong!" Ayu kembali terkejut.
Nadia mengangguk. "Nikah seadanya dulu 'kan bisa, Ma." Yang penting halal dulu."
"Mama tidak tau harus bahagia atau sedih. Pernikahan itu bukan sesuatu yang main-main, Nadia."
"Nadia tau, Ma. Nadia akan menjadi istri yang baik nantinya. Iya 'kan, sayang." Nadia tersenyum menatap Aldo.
Aldo mengangguk. "Aldo juga berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Nadia, Tante."
"Ya sudah terserah kalian saja. Yang penting kalian bisa menjaga amanah," ucap Reno.
"Siap, Pa. Nadia dan Aldo akan jaga Amanah."
"Kamu sudah berbicara sama papa?" tanya Reno kepada Aldo.
"Belum, Om. Habis ini saya dan Nadia mau ke rumah. Papa yakin beliau akan setuju."
"Bagus. Om akan siapkan acara pernikahan kalian secepatnya."
"Makasih ya, Pa?" Nadia tersenyum riang.
Reno berdiri menghampiri Aldo, lalu memegang lengannya. "Jaga Nadia ya Nak Aldo."
"Siap, Pa. Aldo akan menjaga Nadia dengan sepenuh cinta.
Reno menatap lekat Aldo, lalu memeluknya. Suasana lengang sesaat.
"Ya sudah, Kita pergi dulu ya, Pa, Ma." Nadia dan Aldo pamit untuk meminta restu orang tua dari Aldo, menaiki mobil. Reno dan Ayu menatap mereka berdua di depan pintu.
"Kok Mama merasa ada yang janggal ya, Pa?" Ayu bersandar di pundak Reno.
Bersambung ...
__ADS_1