Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Aldo Tidak Berkutik


__ADS_3

Reihan diam-diam memperhatikan Audy dari kejauhan. Levi masih duduk di kursi sambil menggoda mahasiswi yang lewat. Gayanya songong, seperti orang kaya yang baru dapat warisan. Walaupun begitu, Tetap saja Levi tidak pernah bisa membuat mahasiswi di kampus ini tertarik dengannya.


Mungkin karena sifat menyebalkan dan bentuk tubuhnya yang kurus yang membuat perempuan tidak tertarik dengannya. Dasar Levi, dia tetap cuek dan selalu melakukan aksinya walaupun selalu gagal. untung saja sifat Levi tidak seperti Reihan yang gampang mewek dan patah hati jika ditolak wanita.


Levi orangnya berani mengungkapkan perasaan kepada perempuan, Reihan selalu memendam perasaan jika suka dengan perempuan. Sama-sama jomblo yang satu terlalu percaya diri yang satu rendah diri.


Reihan menghampiri Levi.


"Eh lo, Rei. Ada apa? Mau ngajak kerja sama lagi ya," ucap Levi riang.


"Kagak, gue mau tanya sama lo?"


"Tadi Audy mau nanya, lo sekarang juga mau nanya. Kalau gini terus gue bisa kasih tarif nie kalau ada orang nanya sama gue," canda Levi.


Reihan langsung menonyor kepala Levi. "Lo tu ya, apa-apa selalu diukur sama duit."


Levi tersenyum nyengir. "Lo mau nanya apa?"


"Tadi Audy ngapain duduk sama lo?" tanya Reihan lirih.


Levi terdiam menatap Reihan, lalu tertawa lepas. "Lo belum move on juga dari Audy?"


Dengan segera Reihan menyumpal mulut Levi yang berucap dengan keras.


"Lo bisa pelan gak sih kalau bicara. Gue bukanya belum move on, gue cuma mau nanya sama lo." Reihan berkata sambil mengeraskan rahang.


"Sama saja," balas Levi lirih.


"Sudah lo tinggal jawab apa susahnya sih," desak Reihan.


Levi terkekeh. "Oke deh, kali ini gue akan kasih tau lo. Tadi si putri keong lagi nyari Aldo."


"Ngapain Audy nyari Aldo?"


Levi mengangkat bahu. "Mana gue tau."


Reihan terdiam sejenak, dia tampak berpikir. Tanpa sepatah kata dia pergi meninggalkan Levi.


"Mau kemana lo! Dasar orang gak tau terima kasih!" cibir Levi karena Reihan tidak berterima kasih kepadanya.


Reihan diam-diam juga mencari keberadaan Aldo. Reihan menduga ada sesuatu yang tidak beres dengan Aldo. Secara, Reihan sudah tau siapa itu Aldo. Reihan bertemu Nadia sedang mengobrol dengan temannya.


Reihan mendekati Nadia. "Nad, lo lihat Aldo gak?"


"Ada apa lo cari suami gue," jawab Nadia yang tiba-tiba berwajah dingin.

__ADS_1


"Gak sih, cuma mau nanya masalah KKN."


"Ya sudah, lo ngomong saja sama gue nanti gue sampein," ucap Nadia.


Reihan tersenyum nyengir, menggaruk belakang kepalanya. "Jangan deh, soalnya agak sensitif."


"Yeee ... main nylonong saja," cibir Nadia saat melihat Reihan pergi.


Nadia mengira kalau Reihan bekerjasama dengan Audy untuk mencari tau Aldo. Makanya Nadia bersifat dingin terhadap Reihan. Nadia hanya tidak ingin urusan keluarga nya diketahui banyak orang.


Reihan masih mencari Aldo sampai di sudut kampus, tetap saja tidak ada. Reihan bertanya dengan anak hukum yang satu kelas dengan Reihan.


"Kalian lihat Aldo gak?"


"Gak lihat, kita juga lagi nyari, tapi gak ada," jawab salah satu teman satu jurusan Aldo.


"Lo sudah coba telpon?"


"Sudah, cuma kagak diangkat."


Jemari Reihan mengepal, lalu memukul telapak tangannya. "Aldo pasti sedang bersenang-senang dengan Amanda."


Reihan segera menuju ke rumah amanda untuk membongkar kebusukan Aldo. Namun, Aldo terlihat berjalan di taman siswa. Reihan termangu melihat Aldo.


"Kenapa lo lihat gue kayak gitu, naksir lo sama gue," ucap Aldo sinis.


"Sorry, tadi gue ada urusan, maklumlah istri gue lagi hamil, jadi sebagai suami yang baik gue harus ngurus rumah tangga gue dulu," jawab Aldo seolah meledek Reihan.


Reihan pun pergi menjauh dari Aldo. lalu dia menghubungi Audy.


📲"Halo Reihan."


📲"Aldo ada di taman siswa sama temannya." Reihan langsung mematikan hp nya secara sepihak.


Audy meracau karena Reihan tiba-tiba mematikan panggilannya. Namun, informasi dari Reihan membuatnya melupakan sikap egois nya Reihan. Audy segera menuju taman siswa. Aldo terlihat sedang berdiskusi dengan temannya.


Audy menghampiri Aldo. "Aldo."


Aldo menoleh melihat Audy.


"Gue mau ngomong sama lo," ucap Audy dengan wajah dingin.


"Ngomong saja di sini," jawab Aldo.


"Gak bisa, kita cari tempat yang lain," desak Audy.

__ADS_1


Aldo berdecak. "Lo gak lihat gue lagi sibuk."


Audy mendekat menatap tajam Aldo sambil mengeraskan rahang, lalu berkata lirih. "Lo mau ikut gue, atau gue bongkar kebusukan lo di depan temen-temen lo."


Aldo sedikit takut, wajahnya langsung berkeringat, dia terpaksa mengikuti arahan dari Audy. Audy mengajak Aldo berbicara di belakang Aula.


"Gue mau tanya sama lo jawab jujur. Siapa cewek yang ngantar lo semalem?"


"Dia temen gue," ucap Aldo.


Audy mendelik menunjuk Aldo. "Lo pikir gue gak tau tu cewek. Dia Amanda, kan? Cewek simpanan lo."


Aldo terdiam hanya bisa menelan ludah.


"Kalau lo sampai nyakitin adik gue, gue pastiin lo gak bakalan dapat warisan dari bokap lo!" ancam Audy.


Aldo tertawa meledek. "Memang lo siapa? Lo cuma kakak ipar sementara gue. Lo gak berhak ngatur harta warisan bokap gue."


Audy tersenyum sinis. "Nadia sudah cerita semuanya. Jadi gue tinggal telpon bokap lo semuanya akan selesai."


Aldo kembali tertawa. "Lo mikir gak sih. memang lo bisa apa, ada bukti apa sehingga lo bisa mempengaruhi bokap gue."


"Lo minta bukti." Audy menunjukkan video saat Aldo mabuk dan terdengar suara amanda.


Semenjak keperawanannya diambil oleh Ryan. Audy mulai curiga dengan Aldo, dan kecurigaan Audy ternyata benar. Apa lagi dengan track rekor Aldo yang suka bermain perempuan.


Aldo bergeming, wajahnya mulai pucat.


"Kenapa? Lo takut kalau gue kasih video ini sama bokap lo. Gue juga masih punya video yang lain sih."


"Sejak kapan?" Aldo terlihat bingung. Malam itu Audy terlihat tidak mebawa handphone.


"Gue sengaja naruh cctv kecil ke arah pintu pagar supaya gue tau apa yang lo lakukan. Karena sedari awal gue gak percaya sama lo." Audy tersenyum menyeringai.


Aldo terdiam.


"Gue saranin lo, baik-baik deh sama Nadia." Audy menepuk pundak Aldo, lalu pergi dari hadapannya.


Aldo hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya. Kini Aldo kembali seperti dulu lagi, dikekang tidak bisa kemana-mana. Mau tidak mau dia kembali mengikuti perintah Nadia.


Aldo segera mencari Nadia untuk meminta maaf. Nadia terlihat sedang ngobrol di depan kelas dengan temannya.


"Sayang." Aldo menghampiri Nadia.


Nadia menoleh, menatap lekat Aldo. "Ada apa?"

__ADS_1


Aldo menggenggam kedua jemari Nadia. "A-aku mau minta maaf sama kamu."


Bersambung ...


__ADS_2