Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Mencari Tau.


__ADS_3

Ternyata Ryan hanya dijadikan Sonia barang dagangannya saja. Siska tampak kesal melihat Ryan yang tampak menyesal setelah berhubungan badan dengannya.


"Pria sialan, jangan sok nyesel deh. Lo gak tau ya, berapa banyak pria yang ingin tidur sama gue. Lo harusnya beruntung, sudah di bayar dapat enak lagi," cibir Siska.


"Diam kamu!" bentak Aldo.


Siska pun teeperanjat.


Sonia tiba-tiba datang membuka pintu. "Ada apa ini?"


"Pria tidak tau diuntung ini, sudah dapat enak, sok-sok'an nyesel main sama gue." Siska menarik bibir atasnya merasa ilfil.


Sonia dengan mata tajam mendekati Aldo, lalu menampar wajahnya dengan keras.


"Memangnya gue mau nikah sama lo itu gratis. Ingat, lo itu dulunya gembel. Jangan belagu deh. Lo harus ngikutin apa mau gue, atau lo tau sendiri 'kan akibatnya," ancam Sonia.


Ryan hanya menatap datar wajah Sonia yang pergi dari kamar dengan Siska. Ryan pun menangis menyesal kenapa dulu dia mau menikahi Sonia setelah tau tujuan sebenarnya.


"Gimana, enak gak goyangan suami gue?" tanya Sonia.


"Payah, menang ganteng sama tubuh atletis doang." Siska dan Sonia pun tertawa.


"Nanti aku cariin yang lebih perkasa dari si borokokok itu," ucap Sonia.


"Pria pengantar makanan online itu gimana? Kelihatan gagah dan perkasa," ucap Siska.


"Memang kamu mau sama tukang nganterin makanan?"


"Selama dia bisa memuaskan hasratku, aku sih yes," jawab Siska.


Sonia tertawa kecil. "Oke akan aku usahakan. Ini pria masih liar jadi susah untuk di dapat, tapi tenang saja gue punya banyak cara untuk bisa mendapatkan mangsa."


"Top ... itu yang gue suka dari lo." Siska mengacungkan dua jempolnya ke arah Sonia.


"Aku juga penasaran dengan pria itu, aku pernah menjebaknya, tapi gagal," ucap Sonia.


"Huuu ... gairahku semakin naik, sudah ah jangan ngomongin badboy, nanti aku bisa pingsan," ucap Siska.


Di kampus, Audy diam-diam menghampiri Aldo yang sedang duduk di taman siswa. Dia ingin bertanya lebih detail siapa yang memukulinya. Aldo curiga ini ada hubungannya dengan Sonia dan Ryan.


"Gimana kalau kita interogasi Ryan," ucap Audy.


"Gimana caranya?" tanya Ryan.


"Kita minta bantuan Levi sama Reihan untuk menculik si Ryan."


"Mana bisa mereka berani menculik orang, bisa masuk penjara nanti."


Audy menghela napas. "Terus gimana dong."


"Gue gak tau," ucap Aldo.


"Gue bisa ngelakuin itu!" Sahut Reihan dari balik pohon besar menghampiri Aldo dan Audy.


"Reihan, lo ..."

__ADS_1


"Gue sudah denger semua rencana lo, gue bersedia ngelakuin supaya semuanya jelas."


"Yakin lo?" Aldo memastikan ucapannya Reihan.


Reihan mengangguk.


Audy dan Aldo saling menatap, lalu mengangguk satu sama lain.


"Apa rencana kalian berdua untuk menculik Ryan?" tanya Reihan.


"Jujur kita belum ada rencana, kita ngomongin masalah ini sehabis pulang saja. Sore nanti kita kumpul ke kost gue, ajak Levi juga," ucap Aldo.


Audy dan Reihan menyetujuinya.


"Ya sudah gue mau ke kelas dulu." Aldo dengan kaki pincang berjalan pelan menuju kelas.


Audy tersenyum simpul berterima kasih kepada Reihan karena mau membantunya.


"Gak perlu berterima kasih, apapun akan gue lakukan buat lo," ucap Reihan dengan tatapan penuh arti.


Audy tersenyum lebar. "Termasuk gue suruh nyemplung dari sumur?"


"Memang lo tega?"


"Memang lo mau gue suruh nyemplung sumur?"


"Mau." Reihan mengangguk pelan.


"Jangan. Gue gak mau kehilangan lo," ucap Audy lirih.


Tatapan mata mereka saling menarik, wajah dari mereka semakin dekat dan tidak bisa dibendung.


"Woy! Ini kampus!" Teriakan dari seseorang yang kurus dan menyebalkan menghancurkan rentetan cerita yang sudah dibuat.


"Apaan sih lo! Ganggu orang saja!" pekik Reihan.


Levi menghampiri mereka berdua, wajah Audy tampak bosemu merah, dia menyembunyikan wajahnya dari Levi.


"Kalau mau pacaran jangan di kampus, gak baik," ucap Levi.


"Iya! Dasar tukang ganggu!" Reihan terlihat kesal.


Levi tersenyum menyeringai menatap Audy yang malu-malu kucing. 'Putri keong kenapa? Malu ya kepergok sama Aa' Levi."


Audy masih menundukan kepalanya, dalam hatinya begitu kesal dengan Levi. Sedangkan Reihan hanya terdiam melihat kelakar Levi.


"Nanti saja kalau sudah sepi dilanjut," ucap Levi terkekeh.


"Apaaan sih lo, Lev. Hiii ...."Audy menghentakan kakinya ke tanah bergantian, lalu pergi meninggalkan Levi.


Levi tertawa melihat tingkah Audy.


"Tu 'kan pergi, padahal sedikit lagi," ucap Reihan.


"Dasar lo, otak mesum. Nembak cewek gak berani main nyosor saja," ucap Levi.

__ADS_1


"Apaan sih lo! Gue bukannya gak berani ya, gue cuman lagi menentukan waktu yang pas untuk nembak Audy," alasan Reihan.


"Halah, banyak alasan lo, kayak pejabat," cibir Levi.


"Terserah lo." Reihan pergi dari hadapan Levi.


"Lho, kok pada pergi sih, gue kesini 'kan mau minta bantuan si jambang," Levi segera menyusul Reihan.


Sore harinya Reihan mengajak Levi ke tempat kost nya Aldo. Audy dan Aldo sudah ada di sana.


"Cepetan, Aldo sama Aydy nungguin tu!" desak Reihan dari balik pintu toilet


"Iya bentar, kalau lo teriak terus susah keluarnya." Levi ngeden sekuat tenaga hingga bola matanya membesar.


"Lama amat, sudah setengah jam gue nunggu lo. Cepetan keluar!"


"Emmmk ...." Levi masih mengeluarkan sisa hajatnya.


Reihan sudah tidak bisa menunggu lagi, tapi Levi harus ikut kalau tidak bakalan susah untuk menjalankan rencana ini. Reihan pun menemukan ide, dia berteriak sambil bilang kebakaran di depan pintu toilet. Levi yang mendengarnya bergegas keluar.


"Mana yang kebakaran." Levi terlihat panik.


Reihan menyunggingkan senyum menatap Levi.


"Rese lo, baru juga keluar dikit," cibir Levi.


"Lagian lo ke toilet kayak orang tidur. Lama banget," ucap Ryan.


"Pup itu butuh keikhlasan, kalau lo teriak mulu gimana bisa keluar," balas Levi.


Ryan mengibaskan tangan ke udara. "Sudahlah gak perlu dibahas, ayo berangkat. Audy sama Reihan sudah nungguin."


Sesampainya di kost terlihat wajah Audy tampak cemberut. "Kalian ini lama amat sih!"


"Sorry, Dy. Nie si cungkring pup nya lama banget."


"Itu karena lo gangguin," sahut Levi.


"Sudah-sudah jangan berantem, kita langsung saja," ucap Audy.


Levi dan Reihan duduk ikut menyimak.


"Gue sama Aldo punya rencana nyulik si Ryan karena kita yakin, Ryan tau siapa yang mukulin Aldo."


"Waduh, gimana caranya?" tanya Levi terkejut.


"Gue sudah beli obat bius, kita tinggal tunggu waktu yang tepat, saat keadaan sepi kalian bedua segera culik tu bocah."


"Gue?" Levi nenunjuk jati telunjuk ke wajahnya.


Audy mengangguk.


"Ogak ah, gue gak berani. Resikonya besar," ucap Levi.


"Lev, lo tenang saja? Kita gak bakalan kenapa-kenapa. Kalau sampai Ryan lapor polisi dia juga bakalan ketangkep," ucap Aldo.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2