Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Gagal Berbisnis.


__ADS_3

Nadia merapikan selimut Aldo, dia ikut tidur disamping Aldo. Dia melihat wajah Aldo yang tersenyum. Nadia menatap lekat wajah Aldo, lalu memegang wajah gantengnya. Dia pun terlelap.


Pagi harinya, Aldo begitu kaget saat tau kalau Nadia ada di sampingnya hingga membuat Nadia terperanjat.


"Lo kok ada di sini?" tanya Aldo yang masih menderu.


Nadia terlihat bingung mencari alasan. "I-inikan tempat tidur gue, tempat tidur lo di bawah."


"Kemarin gue 'kan sakit. Lo mau gue tambah sakit?" Aldo membalas.


"Ta-tapi sekarang lo 'kan sudah sembuh. Ya sekarang lo tidur di bawah," alasan Nadia.


"Ini sudah pagi. Gue mau berangkat kuliah." Aldo mendekatkan wajahnya ke wajah Nadia.


Nadia tersentak, dia baru tau kalau ini sudah pagi. Nadia segera mencuci muka di waatafel sambil menunggu Aldo keluar dari kamar mandi.


Sementara Audy sudah terlihat cantik dengan baju casualnya. Hari ini Audy di jemput sama Ryan, dari kemarin Ryan sudah menghubunginya. Audy menunggu Ryan di depan rumahnya.


Terlihat Reihan melewati Audy tanpa menyapa. Audy sedikit kesal. Sebenarnya Audy kangen ingin berboncengan dengan Reihan. Namun, karena Audy punya rencana sendiri, jadi dia mengurungkan niatnya.


Ryan datang dengan mobil alpard warna hutamnya. Seperti biasa sikapnya begitu manis. Wanita mana yang tidak jatuh hati kepada Ryan. Sudah ganteng, kaya, sopan sama cewek. Audy bukannya suka sama Ryan, tapi lebih ke tidak enak hati saja.


Ryan melajukan mobilnya. Terdengar bunyi pesan dari hp nya. Wajah Ryan langsung berubah masam. Itu dari Aldo mengingatkan rencananya kemarin.


"Pesan dari siapa?" tanya Audy.


"Dari Aldo. Aku ada kerjasama dengannya. Mungkin karena dia sudah berkeluarga makanya dia mengajakku kerjasama," ucap Ryan.


"Baguslah, berarti tu anak ada rasa tanggung jawab."


Ryan terkekeh.


"Kenapa?" Audy mencubit manja pinggang Ryan.


"Gak ... memang selama ini Aldo gak bertanggung jawab sama Nadia?"


"Gak tau juga sih, mereka berdua di kamar mulu."


Ryan terpingkal. "Maklumlah pengantin baru."


"Nadia hamil tau, sudah dua bulan."


"Oya ... tokcer juga ya." Ryan kembali bersemangat.


Mobil alpard warna hitam berhenti sempurna di depan kampus Audy. Ryan menatap Audy sambil memegang tangannya. Audy tersenyum menatap Ryan.


"Nanti siang aku bawakan makanan ya. Soalnya aku nanti kesini pengen bicarain bisnis dengan Aldo."


Audy mengangguk, lalu keluar dari mobilnya Ryan. Saat berada di taman, Audy melihat Reihan sedang berbincang dengan Levi.


"Selamat pagi ...?" sapa Audy ramah.

__ADS_1


"Pagi ..." jawab Levi.


Reihan terlihat cuek tanpa menatap Audy.


"Lo kok gak balas salam dari cewek femes di kampus ini sih, Rei." Levi menyenggol lengan Reihan.


"Ngapain, Lev? Sekarang kita bukan levelnya. Tiap pagi selalu diantar pakai alpard. Sekarang mana mau dia naik motor vespa butut," ledek Reihan.


Audy pun menundukan kepala.


"Yang lo maksud itu Audy ya?" tanya Levi.


Reihan mengendikan bahu, lalu pergi dari hadapan Audy. Reihan merasa Audy sudah semakin jauh darinya. Dia merasa rasa cintanya kepada Audy akan berakibat sama saat dia suka dengan Nadia.


"Reihan! Lo kenapa sih!" panggil Audy.


Reihan sama sekali tidak menoleh,dia berjalan semakin jauh dari Audy.


Levi memegang bahu Audy. "Sudah gak usah sedih. Kan ada Aa'."


Audy melotot ke arah Levi, lalu menyingkirkan tangan Levi dari bahunya. Audy pergi meninggalkan Levi berlawanan arah dari Reihan.


"Sendiri lagi dah gue," ucap Levi saat ditinggal dua temannya itu.


...***...


Siang hari, Ryan menunggu Audy di taman siswa. Ini sudah waktunya istirahat.


Ryan menoleh, lalu tersenyum melihat Audy.


"Sudah lama ya?"


"Gak juga sih. Ini aku bawakan makanan buat lo."


Audy menyungingkan senyum. "Makasih."


Berger isi daging serta es cappucino membuat Audy lahap memakannya.


"Lo gak makan?" tanya Audy sambil menguyah makanan.


"Sudah, tadi makan di restoran."


Audy menaik turunkan kepala.


Aldo memanggil Ryan dari kejauhan, lalu menghampirinya. Disana juga ada Nadia yang ada disampingnya.


"Gimana rencana bisnis kita?" tanya Aldo sambil mengedipkan satu matanya.


Ryan tampak kesal dengan Aldo. Kenapa harus membicarakan bisnis bohong di depan Audy.


"Kita bicara di sini saja. Gak pa-pa didengar Audy," ucap Aldo.

__ADS_1


Audy terlihat bersemangat hendak mendengarkan bisnis yang akan dilakukan dua pria ganteng itu.


"Kita akan membuka cabang baru di Bandung tepatnya di jalan Braga. Disana tempatnya strategis banyak turis yang berlalu-lalang."


Nadia tampak tidak menyukai kalau Aldo membuka bisnis dengan Ryan. Tujuan Nadia menikahi Aldo supaya dia berubah dan mencintai Nadia dan anaknya kelak. Tapi, kalau dia harus sibuk dengan bisnis barunya kesempatan Nadia akan semakin kecil.


"Gue percaya sama lo. Kita patungan, lo lima puluh gue lima puluh," ucap Aldo.


"Oke." Ryan bersalaman dengan Aldo.


"Gue gak setuju." Nadia dengan wajah dingin mengatakannya.


Sontak mereka bertiga menoleh ke arah Nadia.


"Kenapa, Nad?" tanya Audy.


Nadia menyunggingkan senyum ke arah Aldo, lalu memegang pipinya. "Kerja samanya nanti saja habis aku lahiran."


"Aku ingin kerja supaya bisa menghidupi kamu." Aldo beralasan.


"Ikut aku dulu yuk, sayang." Nadia membawa Aldo menjauh dari Audy dan Ryan.


"Lo jangan macam-macam. ingat peraturan pernikahan kita," ancam Nadia.


Aldo tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aldo takut kalau Nadia melaporkannya ke polisi. Apalagi jika sampai papanya tau, bisa hilang hak waris Aldo. Dengan terpaksa Aldo membatalkan rencananya dengan Ryan.


Sejujurnya Ryan lega rencana ini tidak disetujui Nadia. Itu tandanya Ryan sudah tidak di bawah tekanan Aldo lagi. Audy yang tidak tau apa-apa memprotes adiknya itu. Namun, Nadia tidak bergeming, dia beralasan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya lewat endorse dan konten yang dia buat.


"Ya sudah kami pergi dulu ya. Sorry ya Ryan, bisnis kalian gak jadi," ucap Nadia ramah.


Ryan dengan senang hati tidak mempermasalahkannya. Wajah Aldo terlihat tertekan di gandeng Nadia.


"Lo yakin gak jadi jalanin rencana yang telah lo susun?" tanya Audy.


"Gak pa-pa, bisnis gue masih banyak."


Audy tersenyum, merasa kagum dengan Ryan karena sikap dewasa nya.


"Gue pulang dulu ya, Dy. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selsaikan di cafe."


Audy tersenyum, lalu mengangguk. "Hati-hati ya."


Ryan tersenyum, memegang pipi Audy.


Reihan dan Levi tidak sengaja melihat kedekatan Audy dan Ryan. Napas Reihan langsung menggebu, matanya tajam menatap mereka berdua. Levi yang melihatnya sudah bisa menebak kalau Reihan sedang cemburu.


Levi merangkul Reihan. "Sabar, kadang cinta bila tidak tersampai memang menyakitkan. Wahai pujangga cinta kuatkanlah pecinta yang sedang terluka."


Reihan dengan segera berontak melepaskan rangkulan tangan Levi.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2