Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Reihan Beraksi.


__ADS_3

pelayan wanita itu pun terkaget. "Hay ... minuman itu buat Kakak ini."


"Sama saja, nanti biar dia ambil sendiri," ucap Levi.


"Gak gak pa-pa kok, Mbak." Aldo lalu mengambil minuman botol yang ada di mejanya. "Saya minum ini saja," sambungnya.


Gadis muda itu pun mendengus kesal menatap Levi.


"Dari pada lo ngelihatin gue kayak gitu, mending lo temenin gue keliling yuk!" ajak Levi.


Dengan kesal gadis muda itu beranjak dari tempatnya. "Bodo amat."


Gadis muda itu menemui Ryan yang ada di belakang podium dengan wajah masam.


"Kamu kenapa Lia?" tanya Ryan.


"Minuman yang Bos berikan ke saya untuk pria yang memakai tuksedo diambil sama temannya," ucap Lia.


"Apa! Bodoh kamu!" bentak Ryan hendak menampar Lia.


Lia menunduk sambil matanya terpejam. Ryan pun mengurungkan niatnya, dia lebih memilih menemui Aldo. Ryan kembali mengambil minuman, lalu dicampur nya dengan obat tidur.


"Hey Aldo." Ryan menaruh minuman itu di meja.


Aldo mengamati gelas minuman warna kuning jeruk itu.


"Lama amat lo," ucap Aldo.


"Sekalian tadi aku berada di belakang panggung," jawab Ryan.


"Lo kok gak bareng sama tante Sonia?"


"Gak ah, gue malu kalau jadi pusat perhatian."


"Lha ... bukannya itu bagus."


"Bagi banyak orang sih bagus, tapi kalau gue gak deh."


"Sok idealis lo." Aldo terkekeh.


Levi tiba-tiba duduk disamping Ryan. "Hey, bro. Lama gak jumpa."


"Lo, Lev. Kemana saja lo?" tanya Ryan.


"Kemarin sibuk KKN, ini lagi garap skripsi." Bahu Levi bergoyang karena alunan musik dari band pengiring.


Ryan curiga memicingkan mata menatap Levi. Kanapa Levi masih segar, harusnya Levi sudah tertidur karena efek obat itu.


"Woy ... lo kenapa? malah bengong." Levi menepuk pundak Ryan.


Ryan tersenyum simpul. "Gak pa-pa. Gue pangling saja lihat lo."


"Pangling kenapa?"


"Badan lo agak gemukan." Ryan memperhatikan bentuk badan Levi.


"Lo ngejek ah," sergah Levi.

__ADS_1


"Beneran." Ryan mulai curiga kepada Levi.


"Karena lo pake jas, jadi kelihatan berisi badan lo," sahut Aldo.


"Iya kali."


"Gue mau ke belakang dulu ya. Ada yang harus gue kerjain sebentar, entar gue balik lagi," ucap Ryan.


"Oke." Levi memperhatikan punggung Ryan kala dia semakin menjauh.


"Gimana, Bos. Aman?"


Aldo mengacungkan jempolnya.


Levi berbisik. "Ternyata di dalam minuman yang gue bawa tadi ada obatnya."


"Gue juga curiga dengan minuman itu." Aldo mengendikan kepala ke arah gelas minuman berwarna kuning jeruk itu.


"Kita harus hati-hati, Bos. Kelihatannya mereka sudah mempersiapkan semua ini," ucap Levi.


Aldo mengangguk pelan. "Mending kita jangan terlalu dekat dulu, biar orangnya Ryan dan tante Sonia gak curiga sama lo."


Levi mengangguk, lalu dia segera beranjak dari tempatnya. Ryan memperhatikan mereka dari balik podium. Sepertinya Aldo sudah tau rencananya. Ryan pun mulai melakukan rencana ke tiga.


Jam sudah menununjukan pukul sebelas malam. Ryan mulai mempersiapkan segala sesuatu. Salah satu orang suruhannya berpura-pura jadi pelayan mendekat ke arah Aldo. Ryan menuju tempat genset, lalu dengan sekali tekan semua lampu yang ada di rumah Sonia mati. Semua orang yang ada di dalam rumah panik.


Dengan cepat orang suruhannya Ryan memukul belakang kepala Aldo dengan kayu balok. Aldo seketika pingsan, Levi tidak tau kalau Aldo dalam masalah. Dia dengan indera perabanya berusaha menghampiri Aldo. Namun, Karena terlalu banyak orang yang panik, Levi tidak bisa mendekat, malahan dia salah arah menuju pintu keluar.


Reihan yang melihat Lampu rumah mati pun segera masuk untuk mencari keberadaan Levi dan Aldo. Reihan berteriak memanggil mereka berdua. Suasana tampak gelap, banyak orang berteriak panik.


"Dasar suami bodoh, cuma memberi obat tidur kepada satu orang saja harus sampai melakukan ini," gumamnya.


Reihan lalu menggunakan handphonenya untuk menerangi jalannya diikuti para tamu undangan. Kini ruangan rumah Sonia tampak terang. Reihan masih berteriak memanggil Levi dan Reihan.


Levi mendengar suara Reihan, Levi pun berteriak memanggil nama Reihan. Dari Arah berlawanan, Reihan mendengar suara Lev. Reihan pun segera menuju sumber suara.


"Aldo mana, Lev?" tanya Reihan saat menemukan Levi.


"Di ruang tamu depan podium," jawab Levi.


"Ayo kita ke sana." Levi dan Reihan menuju ruang tamu.


Di ruang tamu Aldo sudah tidak ada di tempat.


"Mana?" tanya Reihan.


"Sebelum mati lampu tadi dia di sini."


"Kita berpencar cari Aldo," ucapn Reihan.


Levi mengangguk


Mereka berdua mencari ke segala arah ruangan, tapi tetap tidak menemukan Aldo.


"Sial, pasti terjadi sesuatu dengan Aldo," ucap Reihan.


Lampu kembali menyala, semua orang tampak senang. Acara kembali di lanjutkan. Band pengiring kembali menyanyikan lagunya. Sonia masih tenang duduk di belakang Band pengiring.

__ADS_1


"Ini pasti ulah Ryan," ucap Levi.


"Kita cari Ryan."


Levi mengangguk setuju.


Kali ini mereka berdua kembali mencari Ryan.


"Sial di mana itu anak," umpat Levi.


"Gue masih belum mengerti, kenapa Aldo yang jadi sasaran tante Sonia?" tanya Reihan.


"Gue juga gak tau, yang penting kita temukan Aldo dulu."


Acara sudah selesai, tapi Aldo belum di temukan juga. Levi baru teringat ada kamar yang di jaga dua orang berbadan besar.


"Gue tau dimana Aldo!" seru Levi.


"Dimana?"


"Di kamar belakang podium, tapi kita harus hati-hati, di sana ada dua penjaga tinggi besar."


Reihan mengeluarkan botol obat dari saku celananya.


"Apaan ini?" tanya Levi.


"Obat tidur," jawab Reihan tersenyum menatap Levi.


Levi tersenyum lebar, dia tau maksudnya Reihan.


"Tapi gimana caranya penjaga itu mau minum minuman yang kita beri?" tanya Reihan.


Levi memegang dagunya tampak berpikir.


"Kita pura-pura jadi Waiter," jawab Levi.


"Gimana caranya?"


"Ikut gue." Levi mengajak Reihan ke salah satu ruangan yang di penuhi baju waiter. Segera mereka berdua memakai baju itu.


"Mantap," ucap Reihan.


"Jangan lupa pakai topeng mata, wajah kita sudah di kenali, penjaga itu pasti curiga." Levi memberikan topeng penutup mata kepada Reihan.


Mereka pun naik ke atas, membawa nampan, lalu menuju dapur untuk membuatkan minuman. Dua minuman dingin di atas nampan sudah di campur obat tidur. Kini mereka siap untuk memberikan minuman itu kepada dua penjaga itu.


Reihan dengan sedikit ilmu marketing menawarkan minuman yang dibawa. Mondar-mandir di depan dua penjaga beetubuh kekar itu.


"Silahkan Kakak minuman anti capek dengan bahan herbal yang membuat tubuh dua puluh empat jam nonstop tetap bertenaga."


"Hey ... minuman apa itu?" tanya salah satu penjaga.


"Minuman herbal, Pak." jawab Reihan.


"Apa khasiatnya?" Salah satu penjaga itu kembali bertanya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2