
Malam harinya fatah kembali menuju ruko itu lagi, tapi ruko sudah di tutup. Fatah sudah menduga tentang hal ini, dia menelpon anak buahnya untuk melacak keberadaan Sonia dan kawan-kawannya. Di balik peti kemas yang bertumpuk muncul orang-orang dengan membawa balok kayu dan senjata tajam.
Ternyata Fatah sudah dijebak. Fatah sudah di kepung, mau tidak mau dia harus menghadapi orang itu. Pistol yang biasa dia bawa ada di mobil. Penjahat itu berjumlah sepuluh orang.
"Mau lari kemana kamu," ucap penjahat itu dengan senyum sinis.
Tidak mungkin Fatah menghadapi semua ini. Tapi tidak ada cara lagi. Fatah maju memukul satu orang dengan bogemnya. Namun, dari belakang pungung Fatah dipukul dengan kayu balok. Fatah langsung jatuh ke tanah. para penjahat itu tertawa.
"Kamu tidak akan bisa melawan kami," ucap salah satu penjahat itu sambil tertawa.
Fatah berusaha bangkit, namun dari belakang penjahat itu kembali memukul belakang kepala Fatah dengan balok kayu hingga berdarah.
"Bagaimana kalau kita siksa dulu teman-teman!" teriak salah satu penjahat itu.
"Setuju!" serentak mengatakan itu.
Saat Fatah sudah lemas, tiba-tiba Reihan, Ryan, dan Aldo muncul membantu Fatah. Mereka dari belakang memukul penjahat itu dengan besi panjang hingga dua dari mereka tersungkur ke tanah. Segera Aldo menyelamatkan Fatah.
"Kamu gak pa-pa, Bang?" tanya Aldo.
Fatah berdiri. "Gak pa-pa. Untung kalian datang."
Kini penjahat itu tinggal delapan orang. Dua lawan satu, Reihan dan Fatah yang bisa bela diri bisa mengimbangi penjahat itu, tapi tidak dengan Ryan dan Aldo. Mereka berdua kwalahan menghadapi dua pe jahat itu. Beberapa kali Ryan dan Aldo terkena pukulan dari penjahat itu
"Ryan kita lari!" Ryan dan Aldo lari di antara peti kemas. Mereka berdua hendak menjebak empat penjahat itu dengan bersembunyi dan mengendap di balik peti kemas itu.
Aldo melihat penjahat itu. Ryan memberi tanda untuk berpencar menyergap mereka dari belakang. Dengan pelan namun pasti kerja sama mereka berhasil. Kedua penjahat itu tersungkur menerima balok besi di belakang kepalanya.
Aldo dan Ryan pun saling melempar senyum. Namun, mereka tidak sadar masih ada dua penjahat lagi yang belum dibereskan. Dari belakang kedua penjahat itu menyergap Aldo dan Ryan, lalu memukuli mereka berdua. Aldo dan Ryan tidak bisa melawan karena tubuh mereka sudah dikunci oleh penjahat itu. Wajah mereka seketika babak belur menerima beberapa kali bogem mentah dari penjahat itu.
Wajah Aldo dan Ryan berlumuran darah, berkata lirih meminta tolong. Tubuh mereka sudah lemas karena pukulan bertubi-tubi dari dua penjahat itu.
"Kalian harus mati, kalau tidak akan sangat berbahaya untuk kita." Kedua penjahat itu mengeluarkan pisau dari jaketnya hendak menusukan pisau itu ke tengkuknya Aldo dan Ryan.
Namun, sebelum mereka melakukannya, Reihan dengan heroik memukul ke ubun-ubun dua penjahat itu hingga mereka pingsan.
"Kalian gak pa-pa?" tanya Reihan dengan napas yang menderu.
Mereka berdua berbalik menatap Reihan sambil tersenyum, lalu tubuh mereka roboh karena kelelahan. Reihan dan Fatah memapah mereka masuk ke dalam mobil. Fatah menelpon anak buahnya untuk menangkap dan menginterogasi mereka.
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil compi polisi datang membawa mereka ke penjara.
"Terima kasih atas bantuan kalian," ucap Fatah.
"Sama-sama, Pak." Reihan tersenyum bangga.
"Berikutnya, biar kami yang menyelidiki kasus ini," ucap Fatah.
Reihan, Ryan, dan Aldo di antar menuju rumah sakit. Sedangkan Fatah menginterogasi salah satu penjahat yang masih sadar di kantor polisi.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Fatah dengan wajah serius duduk di depan penjahat yang sudah di borgol tangan dan kakinya.
Penjahat itu malah tertawa. "Untuk apa aku mengatakan padamu!"
"O ... jadi itu maumu." Fatah menamanggil petugas yang berjaga, petugas itu memberikan sebuah tank penjepit.
Penjahat itu terbelalak. "Mau apa kamu."
Fatah mencabut kuku di jempol kirinya hingga membuat penjahat itu berteriak kesakitan.
"Masih tidak mau menceritakan?" tanya Fayah dengan tatapan tajam.
"Jangan! Baik aku akan mengatakannya. Ini rencana Sonia."
Fatah tersenyum, seolah sudah mengetahuinya. "Coba terangkan kepadaku."
"Sonia yang telah merencanakan ini. Dia memindahkan seluruh anak psk nya di gedung yang terletak di Jakarta selatan. Aku hanya menjalankan perintahnya," ucap penjahat itu.
Fatah dengan tatapan tajam mencengkeram wajah penjahat itu, lalu menonjoknya sampai hingga babak belur.
"Petugas, bawa dia ke penjara." perintah Fatah.
Fatah duduk sebentar, memanggil anak buahnya. "Kita bergerak malam ini."
"Tapi, kondisi ketua masih belum pulih," ucap salah satu anak buahnya.
"Tidak masalah, aku masih sanggup. Malam ini kita harus membersihkan semuanya," ucap Fatah.
"Siap, Ketua."
__ADS_1
Dengan membawa dua mobil compi Fatah dan anak buahnya menuju tempat yang ditunjukan oleh anak buah Sonia.
"Kita bagi tiga tugas, sebagian ada di belakang gedung sebagian ada di depan gedung sebagian lagi ikut aku masuk menyergap mucikari itu," perintah Fatah.
"Siap!" Serentak.
Fatah dan beberapa anak buahnya masuk dengan menaiki lifh di lantai dua. Terdengar suara musik DJ menghentak di ruangan itu. Terlihat banyak wanita dan lelaki hidung belang sedang becumbu di ruangan itu tanpa rasa malu.
Dengan sekali tembakan peringatan ke atas Fatah menegaskan bahwa dia adalah polisi. Semua pengunjung berlarian berteriak histeris. Fatah memerintahkan anak buahnya untuk mencari Sonia.
Salah satu anak buah Fatah menangkap psk untuk dimntai keterangan.
"Dimana ruangan Ibu Sonia?" tanya polisi tegas.
"Ada di lorong ujung sana."
Segera polisi itu mengajak temannya menuju ruangan Sonia. Polisi itu membuka pintu itu, tapi Sonia susah tidak ada di ruangannya.
"Masuk, cari barang bukti," ucap polisi itu.
Sonia dan teman-temannya lari melewati pintu belakang menuruni tangga. Mereka tidak tau kalau gedung itu sudah di kepung.
"Brengsek, siapa yang memberitahu polisi tempat ini!" pekik Sonia sambil menuruni tangga.
"Cepat sebelum polisi menemukan kita," ucap Siska.
Saat membuka pintu belakang Polisi sudah menodongkan pistol di hadapan Sonia dan temannya.
"Angkat tangan, kalian sudah di kepung!" titah polisi.
Donia dan teman-temannya mengangkat tangan. Polisi segera memborgol tangan mereka, lalu dibawanya masuk kedalam mobil compi.
"Pak saya bisa jelaskan," protes Sonia.
"Jelaskan di kantor polisi."
Gedung tempat lokalisasi diberi garis police line. Para psk anak buah Sonia akan dibina masuk ke sebuah lembaga. Sonia dimasukkan ke dalam penjara.
"Bapak tidak bisa seenaknya memasukan saya kedalam penjara. Saya punya pengacara!" teriak Sonia.
__ADS_1
Bersambung ...