Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Mulai Muncul Perasan Suka


__ADS_3

Reihan mengangguk.


"Sorry ya, gue ada urusan," ucap Audy.


"Gak pa-pa kok. Entar sore gue jemput ya!" ajak Reihan.


Audy tersenyum, lalu mengangguk. Reihan mendesak Audy untuk segera menemui pak Bambang.


"Lo kenapa sih, mau saja diajak bareng sama dia?" tanya Reihan kesal.


"Kenapa? Ryan orangnya baik," jawab Audy.


"Baik di awal. Nanti kalau dia sudah dapetin lo, selasai sudah."


Audy menghentikan langkahnya. "Lo kenapa sih! Lo cemburu sama gue."


Reihan terdiam, mulutnya keluh menjawab pertanyaan Audy.


"Kenapa? Lo mau ngomong apa?" Audy seolah mendesak Reihan untuk bicara.


"Gu-gue khawatir saja sama lo. Sudah ah ... gue mau masuk kelas." Reihan mengalihkan pembicaraan.


"Reihan! Katanya gue dipanggil pak Bambang!" panggil Audy.


Reihan tetap berjalan tanpa menoleh.


Audy tersenyum sinis. "Bilang saja lo cemburu sama gue. Emangnya enak dianggurin."


Audy bergegas menuju ruang dosen. Disana tidak ada pak Bambang. Audy sudah bertanya kepada dosen yang ada disana. Katanya pak Bambang sedang mengajar. Ternyata Reihan telah membohonginya.


Audy tau kenapa Reihan melakukan hal itu. Supaya Audy menjauh dari Ryan. Namun, Audy senang, itu tandanya Reihan ada usaha untuk menjauhkannya dengan Ryan.


Sore terlihat masih cerah, Ryan sudah menunggu Audy di depan kampusnya. Reihan memaksa Audy untuk pulang dengannya. Namun, Audy menolak secara baik-baik.


"Lo kenapa sih, Dy? Dulu saja lo minta-minta pengen nebeng sama gue."


"Jadi selama ini lo gak ikhlas boncengin gue " Audy membulatkan mata sambil bertolak pinggang.


Reihan kembali kikuk. "Bu-bukan gitu ... gu-gue hanya khawatir sama lo."


"Lo sudah berapa kali ngomong khawatir sama gue. Gue bisa jaga diri, Reihan." Audy menegaskan, lalu pergi dari hadapan Reihan.


Seorang pria kurus menepuk pundak Reihan dari belakang. "Sabar kawan, kadang kita harus merelakan orang yang kita cintai pergi bersama orang lain."


Reihan menoleh, lalu menyingkirkan tangan pria kurus itu. "Lagak lo bikin gue mules."


Pria kurus itu terkekeh, lalu merangkul Reihan. "Ya sudah, dari pada gak bisa boncengan putri keong, mending boncengin gue saja, gimana?"

__ADS_1


"Ogah." Reihan pergi meninggalkan pria kurus itu.


Pria kurus itu tertawa puas. Dia adalah Levi, anak paling jail di kampus ini.


Ryan menyapa ramah Audy dengan senyuman. Audy membalasnya, lalu menghampirinya.


"Sudah lama, nunggu?" tanya Audy.


"Gak ... ayo." Ryan membukakan pintu depan mobil, lalu berputar membuka pintu kiri setelah Audy masuk mobil.


"Kita ke cafe ku dulu yuk!" ajak Reihan.


"Boleh, tapi jangan lama-lama ya. Soalnya sore nanti aku ada acara."


Ryan mengangguk, lalu melajukan mobilnya. Perjalanan terasa hening, Audy dan Ryan sedari tadi diam saja di dalam mobil. Hanya musik dari Dua Lipa yang membuat Audy dan Ryan manggut-manggut.


Sesampainya di cafe, terlihat spanduk besar bertulis. 'Happy Birthday.' Audy pikir ini ulang tahunnya Ryan, tapi ternyata bukan. Ini adalah satu tahun berdirinya cafeshop yang Ryan dirikan.


"Ayo masuk," ucap Ryan.


Di dalam sudah ada beberapa karyawan memberi sambutan dengan cara meniup terompet. Audy terperanjat, tapi setelahnya dia tersenyum senang saat salah satu pegawai menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Audy ikut berbaur bersama mereka. Ryan sebagai pemilik cafe memotong kue pertama.


"Kue pertamanya untuk siapa, bos!" seru salah satu karyawan.


"Jadi ini alasan lo ngajak gue kesini?" tebak Audy.


Ryan mengangguk, lalu mengajak Audy duduk di meja panjang yang sudah dilapisi kain merah dengan minuman serta makanan yang tersedia. Para pegawai menyusul duduk satu meja bersama menikmati hidangan yang tersaji.


"Ternyata lo peduli juga sama pegawai lo," puji Audy.


"Kita sebagai bos gak usah memberi sekat, karena hakekatnya kita saling membutuhkan," jawab Ryan.


Audy terkagum mendengar penjelasan dari Ryan. Di usianya yang masih muda dia sudah bisa berpikir dewasa. Siang itu sengaja cafe tutup, hanya para pegawai, Ryan dan Audy yang ada di cafeshop itu.


Setelah Selesai acara, Ryan mengantar Audy pulang. Audy belajar banyak dari Ryan hari ini. Bagaimana dia begitu akrab dengan pegawainya, dan cara dia memperlakukan seseorang seperti temannya. Audy mulai ada rasa ketetarikan dngan Ryan.


Tak terasa mobil Ryan sudah berada di depan rumah Audy. Ryan tersenyum menatap wajah ayu Audy. Suasana kini lebih cair. Sebelum turun, Ryan dan Audy sedikit bercanda tentang para pegawainya yang lucu-lucu itu.


Audy tertawa sebagai tanda penghormatan, walaupun ceritanya garing. Ryan bukanlah orang yang pandai membuat Audy tertawa seperti Levi atau Reihan. Ryan lebih mengarahkan Audy bagaimana bersikap dengan orang lain.


Audy melambaikan tangan, lalu masuk rumah. Pintu rumah tertutup. tidak biasanya sore seperti ini pintu rumah tertutup. Biasanya mamanya jam sore seperti ini sudah pulang, mobil yang biasa berada di halaman rumah pun tidak ada di tempat. Audy membuka pintu, rumah terlihat sepi.


Terdengar suara dari Nadia berada di ruang tamu sambil menonton tv.


"Nad, Mama belum pulang?" tanya Audy menghampiri Nadia.

__ADS_1


"Belum, Kak."


"Tumben jam segini belum pulang," ucap Audy.


Nadia mengangkat bahunya.


"Lo sudah telpon, Nad?"


Nadia menggeleng. "Nanti juga pulang, Kak. Ngapain di telpone."


Audy tiba-tiba teringat tentang cerita Reihan. Audy mencoba memancing pertanyaan kepada Nadia.


"Suami lo mana? Tumben gak sama lo."


"Lagi tidur di kamar."


Audy duduk melipat kaki di sebelah Nadia. "Lo gak ada masalah 'kan sama suami?"


"Masalah apa sih, kak. Nadia baik-baik saja kok."


"Usia kandungan lo sudah berapa bulan?"


"Dua bulan." Nadia mulai curiga dengan Kakaknya. Tidak biasanya Audy cerewet dengannya.


Suara mobil terdengar dari dalam rumah.


"Itu mama sudah datang." Nadia beranjak menghampiri mamanya.


Audy merasa ada yang mencurigakan dari adiknya. Mungkin ucapan Reihan ada benarnya. Tidak ada salahnya Audy mencari tau tentang pernikahan Nadia dan Aldo yang tiba-tiba itu.


"Mama ... kok baru datang?" tanya Nadia.


"Ceritanya panjang, nanti mama ceritakan di dalam saja."


Nadia membawakan tas mamanya. "Di cariin tu sama kak Audy."


"Mama ... tumben pulang sore?" tanya Audy.


Ayu duduk diruang tamu. Audy dan Nadia terlihat penasaran mendengarkan ceritanya.


"Tadi di toko ada karyawan yang mencuri beberapa kue. Sudah sejak lama mama curiga sama dia. Baru hari ini ketangkap basah."


"Kan di toko Mama ada cctv?" tanya Nadia.


Ayu menghela napas. "Namanya maling pasti pinter. dia ganti baju sama pakai topeng saat karyawan istirahat. Jadi pegawai Mama gak tau kalau itu oknum pegawai mama."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2