Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Makan Malam


__ADS_3

Aldo pun mengajak Nadia ke sebuah cafeshop. suasananya begitu nyaman dengan lampu kerlap-kerlip yang di pasang di pilar ruangan.


"Oke juga ya tempatnya," ucap Nadia melihat isi ruangan cafeshop.


"kamu suka?" tanya Aldo.


Nadia mengangguk sambil menyunggingkan senyum.


"kalau begitu, aku akan sering mengajakmu kesini," ucap Aldo.


"Aldo ..." panggil sesorang pria dari meja barista.


Pria itu menghampiri Aldo dan Nadia.


"Tumben lo datang kesini?" pria berkemeja biru itu tersenyum riang menepuk pundak Aldo.


"Lagi keingat lo aja," jawab Aldo.


pria itu tersenyum mengangkat kedua alisnya ke arah Aldo, lalu mengendikan kepala ke arah Nadia.


Aldo paham apa maksud dari pria itu. "kenalin ini Nadia temen satu kampus gue."


Nadia mengulurkan tangannya. Pria itu membalasnya. Pria itu bernama Ryan, teman satu tim Basket Aldo di luar kampus.


Ryan memiliki perawakan tinggi, gagah dan memiliki lesung pipi yang menambah ganteng penampilannya.


"Ini cewek lo, Do?"tanya Ryan.


"Bisa dibilang seperti itu," jawa Aldo percaya diri.


Nadia pun mencubit gemas pinggang Aldo.


"Auw ...." Aldo menatap Nadia yang sedang melotot.


"bukan, gue temennya Aldo." Nadia yang menjawab.


Ryan terkekeh. "Kalian serasi lho, cocok jadi pasangan.


Nadia pun bersemu merah, sedangkan Aldo hanya terkekeh.


"Silahkan duduk, selamat datang di cafeshop gue, hari ini buat lo, gratis." Ryan memanggil pelayan cafe untuk melayani Aldo dan Nadia.


"Beneran nie?" Aldo memastikan.


Ryan mengangguk. "Gue ke belakang dulu ya. Kalau mau apa-apa sama pegawai gue aja."


Aldo mengangguk melihat punggung Ryan yang berjalan menaiki tangga.


"Lo mau pesan apa, Nad?" tanya Aldo.


"Gue pesen cappucino panas aja."


"Cappucino satu sama latte caramel satu."


waiters segera mencatat pesanan mereka bedua, lalu mengulang pesanan dari Aldo dan Nadia.


"Temen lo ganteng juga ya, maskulin." Nadia mencoba memancing reaksi Aldo.


Aldo langsung berwajah masam. "Kenapa ... lo suka. Lain kali gak kesini lagi ah."


Nadia terkekeh. "Orang cuma bercanda, jangan diambil hati ah."


Selesai asyik ngobrol di cafeshop, Aldo mengantar Nadia pulang. Di halaman rumah terlihat Audy sedang menyiram tanaman sambil menatap sinis Nadia.


"Kluyuran terus sampai lupa sama waktu," tegur Audy.

__ADS_1


"Ih ... kenapa? Suka-suka gue dong."


Audy langsung membanting selang panjang ke tanah. Dengan wajah kesal dia menghampiri adiknya.


"Ini 'kan giliran lo bersihin halaman, gara-gara lo kelamaan kluyuran gue yang di suruh mama gantiin kerjaan lo."


"Ihhh ... biasa aja lagi ngomongnya. Minggu depan 'kan bisa gue gantiin," ucap Nadia.


Audy semakin kesal saja, matanya melotot rahangnya mulai mengeras. Audy selalu saja kena bantah jika dia marah dengan Nadia.


Ayu keluar mendengar ada keributan di luar. "Kalian ini ... setiap ketemu berantem mulu. Malu didengar tetangga!"


"Kak Audy nie ma, Nadia baru pulang di omelin?"


"Ya iyalah gue ngomel, kerjaan lo gue yang ngerjain. Harusnya lo makasih ma gue, bukan balik ngomelin gue!"


"Sudah-sudah ... Mama pusing dengerin kalian berantem."


Nadia pun ikut kesal, dengan satu hentakan dia masuk ke rumah.


"Audy ... kalau sudah selesai matikan air kerannya."


"Iya, Mah!" Audy mematikan kran, menggulung selang, lalu masuk rumah. Audy merasa puas sore ini bisa marah-marah sama Nadia. Salah sendiri lari dari tanggung jawab.


...***...


Makan malam tiba, Keluarga lesmana berkumpul di meja makan.


"Papa mana, Mah?" tanya Nadia.


"Papamu berangkat siang tadi, ada pekerjaan yang harus diselesaikan."


"Kluyuran mulu sih ...! Sampai gak tau papa pergi," celetuk Audy.


"Ngapa ... sewot aja!" balas Nadia.


Kakak dan adik itu terdiam mengambil piringnya masing-masing. Giliran suara sendok dan garpu nyaring saling beradu. Audy mengambil porsi paling banyak, dia tidak peduli tubuhnya bertambah melar. Nadia hanya mengambil sayur dan ikan untuk menjaga tubuhnya agar tetap ideal.


Suara klakson sedikit mengganggu makan Audy.


"Siapa itu malam-malam membunyikan klakson," ucap Ayu.


"Itu Reihan, Ma. Biar Audy yang bukain pintu." Audy bergegas membuka pintu pagar untuk Reihan.


"Lo cepat amat datang kesini," ucap Audy membuka pintu pagar.


"Gue bosan di rumah mulu, dari pada pusing mending nemuin lo!"


"Lo pikir gue puyer apa?"


Mereka berdua saling tertawa.


"Kalau ketawa badan lo ikut geger," cibir Reihan.


"Yee ... masuk dulu gie, gue belum selesai makan," ajak Audy.


"Gue kesini itu mau ngajak lo makan, malah makan duluan."


"Ya gak pa-pa lah, nanti disana makan lagi," ucap Audy nyengir.


"Lo emang ya ... gak pernah kenyang."


Audy tersenyum kecut, lalu mengajak Reihan masuk.


"Malam Tante ..." sapa Reihan.

__ADS_1


"Malam juga Reihan, sini makan bareng."


"Gak usah Tante, Reihan sudah makan."


Reihan duduk di ruang tamu dengan Audy.


"Gue lanjutin makannya ya," ucap Audy.


"Ngapain, mending buru kita pergi. Gue gak enak sama mama lo," ucap Reihan pelan.


"Oke ... tapi lo yang traktir ya?"


"Iya ...." Reihan melenguh kesal.


Tak berselang lama Audy turun dari tangga memakai suiter, rok panjang di atas mata kaki dan bando yang melingkar di kepalanya.


"Yuk berangkat." Audy tersenyum.


Reihan berdiri. "Pamitan dulu sama tante Ayu."


"Ma, Audy pergi dulu ya?"


"Mau kemana ... ini makannya belum dihabisin."


"Audy sudah kenyang, Mah."


"Mau pergi kemana lo, awas ya kalau pulang terlalu malam!" sahut Nadia.


"Apa lo! Mau tau aja urusan orang."


"Biasa aja kali, orang cuma nanya. Sewot amat!" seru Nadia.


"Sudah-sudah ... Reihan cepat ajak Audy keluar, sebelum mereka berdua berantem lagi."


Reihan tersenyum, pamit kepada Ayu.


"Lo tu ya? Tiap hari berantem terus sama Nadia. Memang kalian gak bisa akur apa?" tanya Reihan saat berada di halaman rumah.


"Gak bisa," jawab Audy ketus.


"Kenapa? Kalian 'kan kakak adik?"


"Pokoknya gak bisa, Titik!"


Reihan mengangkat bahu, lalu menghidupkan mesin motor vespanya. Audy duduk di belakang Reihan dengan posisi miring.


Dua puluh menit perjalanan, Reihan memarkirkan motornya di depan cafeshop. Audy dan Reihan pun masuk.


"Keren juga ya tempatnya," kagum Audy.


"Gue nemuinnya minggu kemarin, di dini enak tempatnya ... kita duduk disana aja yuk!"


Mereka berdua duduk lesehan di meja panjang.


Seorang waiter menghampiri Audy dan Reihan, memberikan menu yang ada di cafeshop ini.


"Lo mau makan apa?" tanya Reihan


"Gue mau pesen, omlette dua sama cappucino panas porsi jumbo satu."


"Buset dah! Lo mau makan atau mau meres gue," protes Reihan.


"Ya makanlah, 'kan lo sudah bilang mau traktir. Mumpung ada yang traktir, gue puas-puasin deh makan."


Reihan hanya Menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2