
Sesampainya di cafe, semua mata pengunjung melihat ke arah Audy.
"Rei, kenapa semua orang lihatin gue ya," ucap Audy merasa tidak nyaman.
"Gak pa-pa, sudah jangan dihiraukan," jawab Reihan.
Audy masih belum mengerti kalau sebagian besar laki-laki yang melihatnya itu terpukau dengan kecantikan Audy. Audy mengira orang-orang yang melihatnya itu karena Audy salah berpakaian.
"Kita duduk di pojok saja, Rei?" Audy masih merasa risih.
Salah satu pengunjung pria bersiul menggoda Audy. Audy pun langsung mendelik ke arah pria itu. Seketika pria berambut gimbal itu terdiam dan menggerutu tidak jelas.
"Kenapa sih orang-orang yang ada di sini jadi aneh semua," cibir Audy saat duduk lesehan dengan Reihan.
"Lo gak sadar juga. Lo itu dilihatin karena lo tu cantik banget malam ini." Reihan berkata jujur.
Audy tersipu malu, menundukan wajahnya. "Masak sih?"
Reihan mengangguk yakin. "Makanya cuekin saja tu orang yang ngegodain lo."
"Gue kira mereka godain karena gue pake mini dres," ucap Audy polos.
Reihan terkekeh. "Gue juga heran sih. Sejak kapan lo suka mini dres?"
"Sejak tadi," jawab Audy singkat.
"Sudah gue duga. Lo 'kan bukan tipikal cewek kayak Nadia," ucap Reihan.
Audy menatap sinis Reihan. Audy sudah berdandan cantik seperti ini, Reihan masih saja membicarakan Nadia. Gak tau apa kalau Audy rela berpenampilan seperti ini cuma untuk mendapat perhatian darinya.
Seorang pria tampan dengan wajah maskulin mendatangi Audy. Pria itu mengulurkan tangannya. "Hay."
Audy dan Reihan menaikan satu alisnya, tidak kenal dengan pria itu.
"Lo Audy, kan. Adiknya Nadia?" tebak pria itu.
Audy menyambut uluran tangan pria itu. "Betul. Anda siapa ya."
"Nama gue Ryan pemilik cafe ini. Gue temennya adik lo."
"Oh ... ya gue Audy. Senang berkenalan dengan anda." Audy mencoba memanas-manasi Reihan.
"Gak usah formal gitu. Biasa saja. Gue denger Nadia sama Aldo sudah nikah ya?"
Audy mengangguk menyunggingkan senyum.
"Kok gue gak diundang. Sialan tu Aldo," cibir Ryan.
"Pernikahannya mendadak, jadi yang diundang hanya kerabat dekat saja," jawab Audy.
Ryan tersenyum, melihat Reihan yang sedari tadi menatap tajam ke arahnya. Audy juga melihat raut wajah Reihan yang terlihat masam.
"Gue ke atas dulu ya. Selamat menikmati hidangan di cafe kami."
"Di sini saja dulu, cerita dulu bagaimana lo bisa kenal dengan Nadia." Audy memanfaatkan situasi.
Ryan duduk di samping Audy. Seketika Reihan berdiri. Dengan Nada ketus Reihan beralasan mau ke toilet.
Ryan menatap Reihan heran. "Kenapa dia?"
"Sudah biarin saja." Audy tersenyum melihat Reihan yang kesal.
__ADS_1
"Dia pacar lo?" tanya Ryan.
"Bukan. Lebih tepatnya teman."
Ryan mengangguk. "Baguslah."
"Bagus kenapa?"
"Ya bagus. Pria ngambekan kayak gitu mah gak usah dipacarin, bikin susah," ucap Ryan.
Audy terkekeh. "Ya sudah coba ceritain kenapa lo bisa kenal adik gue."
"Gue kenal Nadia dari Aldo. Dulu Nadia sering kesini sama Aldo. Nadia juga sering cerita kalau dia punya kakak perempuan yang gendut dan culun, tapi hatinya baik."
Audy cemberut. "Maksudnya gue?"
Ryan tertawa. "Iya. Tapi sekarang lo beda, lebih cantik dari Nadia.
Audy balik tertawa. "Bisa saja lo gombalnya."
"Beneran?"
"Kok lo bisa tau gue Kakaknya Nadia?"
"Ya taulah. Lo 'kan juga sering kesini sama temenmu itu."
"Bener sih. Tapi gue gak pernah lihat lo?"
"Gue di atas. Gue mantau lewat cctv," jawab Ryan.
Obrolan mereka cair, Ryan dan Audy saling bertukar nomor hp. Reihan diam-diam melihat dari kejauhan.
"Sialan tu orang, belum pergi juga," gumam Reihan. "Kok gue jadi kayak gini sih." Reihan menepuk wajahnya, lalu menghampiri Audy dan Ryan.
Audy mengangguk melihat Ryan tanpa berkedip.
"Lo kemana saja sih, Rei. Untung ada Ryan yang ngajak gue ngobrol, kalau gak bisa boring gue," cibir Audy.
"Perut gue mules. Pulang yuk!" ajak Reihan.
"Lha ... kan belum pesen makan?"
"Makan di rumah saja perut gue lagi mules nie," desak Reihan sambil memegang perutnya.
Audy berdecak. "Gak asyik lo! Toilet sini 'kan bisa."
"Gue gak bisa kalau pup di toilet sini, bau." Reihan mengibaskan tangan di dekat hidungnya.
Dengan terpaksa Audy mengikuti keinginan Reihan.
Di rumah, Aldo mulai bosan seharian ada di kamar. Aldo meminta izin kepada Nadia untuk keluar sebentar. Nadia mengizinkannya dengan syarat Nadia ikut.
"Ngapain ikut sih, gue pengen ngopi sebentar habis itu pulang," ucap Aldo.
"Ya sudah gue ikut, mau gak!"
Aldo tidak ada pilihan lain. Terpaksa dia mengajak Nadia.
"Ya sudah lo yang nyetir," ucap Aldo nelempar kunci mobilnya.
Nadia menangkapnya. Mereka berdua keluar dari kamar.
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" tanya Ayu.
Nadia langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Aldo. "Kita mau keluar sebentar, Ma."
"Hati-hati ya ... di jaga dedek bayinya."
Aldo dan Nadia tersenyum.
"Oke, Ma." Nadia mengacungkan jari jempolnya.
Suara motor vespa Reihan terdengar.
"Itu Kayak suara motornya Reihan," ucap Aldo saat ke garasi rumah.
"Itu memang Reihan, tadi keluar sama Kak Audy."
"Gue duluan ya," ucap Reihan.
Audy tersenyum melihat Reihan yang semakin jauh dari sorot matanya. Aldo dari pintu garasi terkejut melihat penampilan Audy.
"Itu Kakak lo!"
"Iya, memang kenapa? kaget ngelihatnya!" Nadia melotot ke arah Aldo.
Aldo menunduk tidak berani menatap mata Nadia. Aldo tidak menyangka kalau Audy bisa secantik itu.
Audy masuk ke rumah, merangkul Ayu. "Mama."
"Gimana tadi jalan-jalannya?"
"Gak asyik. Reihan ngajakin pulang mulu," jawab Audy.
"Memang Kenapa?"
"Sakit perut katanya, Ma."
"Kan besok bisa ketemu lagi sama Reihan."
"Mama apaan sih ...?" Wajah Audy bersemu merah.
Ayu tersenyum menatap anak sulungnya yang bertambah cantik.
"Audy ke kamar dulu ya, Ma?"
Ayu mengangguk. Audy naik ke atas menuju kamarnya.
Di kamar, Audy teringat wajah Reihan yang terlihat cemburu saat Audy ngobrol sama Ryan. Ternyata penampilan memang Sangat berpengaruh kepada setiap mata yang melihatnya.
Di tempat lain, Aldo dan Nadia tengah asyik makan di sebuah Mall. Tanpa di undang, seorang wanita cantik berambut sepunggung duduk satu meja dengan Nadia dan Aldo tanpa permisi.
"Ngapain lo kesini!" bentak Nadia.
"Gue kesini diundang sama suami lo." Wanita itu adalah amanda.
"Jadi kalian sekongkol," cibir Nadia.
"Tenang dulu, gue kesini cuma mau mengklarifikasi saja."
"Klarifikasi apa!" Nadia tak henti meninggikan suaranya.
"Gue sudah ngasih tau sama Amanda kalau pernikahan kita hanya sementara. Supaya gak terjadi salah paham," ucap Aldo.
__ADS_1
Nadia terdiam sejenak menatap tajam Aldo dan Amanda. "Maksudnya kalian apa?"
bersambung ...