
Aldo terbakar amarah karena tiba-tiba Reihan datang.
"Apaan sih lo." Aldo mendorong Reihan sampai mundur beberapa langkah.
Reihan hendak melawan, tapi Nadia melerai mereka berdua.
"Kalian ini apaan sih, kayak anak kecil saja," cibir Nadia.
Para mahasiswa ramai-ramai mengerubungi Reihan dan Aldo. Mereka berdua saling menatap tajam. Nadia lalu memegang tangan Aldo mengajaknya pergi. Reihan yang melihat itu begitu terpukul dengan pilihan Nadia.
Audy menemui Reihan menyuruh mahasiswa yang mengerumuninya untuk bubar. Para mahasiswa bubar sambil menerikan kata 'Huu ...!" Merasa kecewa karena tidak melihat Reihan dan Aldo berkelahi.
"Tenang, Rei." Audy mengusap bahu Reihan.
Reihan menatap tajam Audy, lalu pergi meninggalkannya. Audy hanya menghela napas melihat punggung Reihan yang semakin menjauh. Reihan berkali-kali membuat Audy sakit tanpa disadarinya, tapi Audy senantiasa berada di sisinya Walaupun Reihan tidak membutukannya.
Audy berjalan pelan menuju Aula untuk mempersiapkan acara camping minggu depan. Di sana hanya ada Levi tidur tengkurap di kursi panjang. Tingkah Levi kadang memang membuat orang menjadi tersenyum.
Audy membangunkannya. "Levi bangun."
Levi terbangun sambil memakai kacamatanya, menatap Audy lamat-lamat.
"Gue sudah nunggu lo dari tadi di sini, sampai ketiduran," ucap Levi.
"Ngapain lo nunggu gue?"
"Nih ...." Levi memberi sejumlah uang iuran buat acara minggu depan.
"Tumben lo punya duit," canda Audy sambil mengambil uang Levi.
"Gue kalau punya duit langsung gue kasih."
"Iya deh." Audy mengambil buku catatan nya.
"Gue lihatin beberapa hari ini, lo lemes banget, kenapa?" tanya Levi.
"Gak pa-pa, cuma kurang tidur saja." Audy duduk di samping Levi.
"Kurang tidur ... alasan lo itu gak masuk akal."
"Kenapa?"
"Lo 'kan gak pernah begadang, gak pernah ke klub malam, gak pernah neko-neko. Masak iya kurang tidur," ucap Levi.
"Ta-tapi 'kan gue sering nonton film sampai malam," balas Audy.
"Gak sampai pagi, kan?" Jangan-jangan lo patah hati ya," tebak Levi.
Audy salah tingkah. "Apaan sih lo. Mana mungkin gue patah hati. Pacar saja gak punya."
"Pacar memang gak punya, tapi gebetan lo 'kan sudah pindah ke lain hati," ledek Levi.
Audy hampir marah, tapi Reihan muncul dengan wajah masam di susul anak peserta camping yang lain.
__ADS_1
Reihan menghampiri Audy. "Dy, anak-anak urus ya."
Reihan duduk di kursi panjang terlihat murung. Audy mengurusi peserta yang hendak membayar iuran camping.
Levi mendekati Reihan. "Lo kenapa, bro."
"Bukan urusan lo."
"Gue tau pasti lagi patah hati ya," ucap Levi.
"Gue bilang bukan urusan lo!" Reihan mendorong Levi hingga terjatuh dari kursi
Audy menolong Levi, membantu mengambil kacamata yang terjatuh. "Lo gak pa-pa 'kan, Lev."
"Gak pa-pa." Levi terlihat berjalan pincang dituntun duduk oleh Audy.
Audy menatap tajam Reihan. "Reihan ... lo bisa gak sih urusan pribadi lo gak usah di bawa-bawa kesini. Lo gak malu apa diliatin sama junior lo!"
Reihan mengibaskan tangan di udara tidak peduli dengan Audy.
"Lo denger gak sih. Kalau lo masih kayak gini mending gak usah buat acara camping segala," ancam Audy.
"Oke gue salah! Tapi biarin gue tenang. Gue butuh istirahat," ucap Reihan.
"Sampai kapan ... sampai Nadia mau nerima cinta lo!" Audy ikut terbawa emosi.
Reihan tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa mengusap wajahnya yang tidak bersahabat.
"Gimana nie, Kak. Jadi gak acara campingnya," ucap salah satu peserta.
Di sisi lain, Aldo sedang bermain basket dengan beberapa temannya. Nadia duduk di bangku tribun. Nadia sebenarnya masih belum memaafkan Aldo, tapi karena dia mengandung anaknya, jadi Nadia terpaksa mengalah berbaikan dengan Aldo.
Apalagi kemarin Audy menceritakan tentang Amanda yang berpura-pura menjadi sepupunya. Terlepas benar atau salah, Nadia sudah terlanjur sakit hati dengan Aldo. Aldo menyuruh Nadia turun untuk menemaninya. Nadia tersenyum menghampiri Aldo.
"Nanti malam kita keluar yuk!" ajak Aldo.
Nadia memalingkan wajah, memencongkan bibir atasnya, lalu tersenyum untuk membohongi dirinya.
"Sorry, Do. Kan gue lagi mengandung. Lagian nanti malam gue ada acara sama Kak Audy," alasan Nadia.
Aldo angkat tangan. "Oke. No problem. Tapi kalau nanti sore ke kafe nya Ryan mau dong."
Nadia terdiam sejenak, lalu mengangguk karena tidak enak hati.
"Oke." Aldo tesenyum riang.
"Gue mau ke kelas dulu ya." Nadia beranjak dari duduknya. Nadia harus lebih berhati-hati dengan Aldo.
Di tempat lain, Reihan terlihat membasuh wajahnya di wastafel. Reihan baru tersadar kalau tadi yang dilakukannya itu salah. Reihan menghadap cermin merenungi dirinya. Dia harus meminta maaf kepada Audy. Siang seperti ini pasti Audy ada di kantin. Audy terlihat makan satu meja dengan Levi.
Reihan menghampirinya. "Gue boleh duduk bareng gak?"
Audy dan Levi tidak menggubris ucapan Reihan. Mereka tengah Asyik makan. Reihan mengambil satu kursi duduk disamping Audy.
__ADS_1
"Gue minta maaf, Dy. Gue salah, bertingkah kayak anak kecil tadi pagi."
Audy menaruh garpu dan sendoknya. "Ngapain minta maaf sama gue. Lo harusnya minta maaf sama Levi. Gara-gara lo kaki Levi sakit."
Levi masih makan sambil sesekali menatap Reihan.
"Lev, gue minta maaf ya sama lo. Lo mau maafin gue, kan? Gue janji gak bakal ngelakuin lagi," ucap Reihan.
"Lo mau gue maafin?" Levi memperbaiki posisi kacamatanya.
Reihan mengangguk pelan.
"Bayarin makanan gue sama Audy ya," ucap Levi.
Reihan tersenyum. "Oke tidak masalah."
Audy dan Levi tertawa karena melihat wajah Reihan yang terlihat culun.
"Kalian bikin gue deg degan saja," ucap Reihan.
"Lagian lo tadi kayak anak kecil," cibir Audy.
"Gue lagi gak mood saja tadi."
"Memang tadi lo mikirin apa sih, Rei?" tanya Levi.
"Sudah gak usah dibahas, Lo nanti pulang bareng ma gue ya, Dy!" ajak Reihan.
"Boleh tapi ada syaratnya," jawab Audy.
"Ya ampun syarat mulu. Apa syaratnya?"
"Lo gak boleh boncengan sama Nadia lagi."
Reihan menghela napas, terasa berat bagi Reihan, tapi dia menyetujui syarat dari Audy.
"Nah gitu dong." Audy melakukan ini supaya Reihan tidak sakit hati lagi dengan Nadia. Audy baru tau kalau Reihan patah hati emosinya tidak bisa dikendalikan.
"Pulang yuk!" ajak Reihan.
"Bayarin dulu!" sahut Levi.
Reihan menepuk kening. "Oiya ... lupa."
Reihan segera membayar makanan Levi dan Audy.
"Reihan tadi kenapa sih?" bisik Levi kepada Audy.
Audy mengibaskan tangan. "Ah ... gak usah dipikirkan."
"Pelit lo." Levi pun pergi.
"Mau kemana, Lev." panggil Audy.
__ADS_1
Levi menoleh. "Mau ke tempat si bos."
Bersambung ...