
Malam hari anak SMA membuat api unggun lengkap dengan sebuah permainan, membaca puisi, teatrikal dan kesenian yang lain. Relawan perhutani ikut bergabung dengan para siswa SMA. Mereka tampak gembira saling tertawa satu sama lain.
Hingga tibalah acara utama dari Nadia Fiorentina maju di tengah-tengah para siswa. Para siswa bersorak memberi sambutan kepada Nadia.
"Selamat malam adik-adik ...," sapa ramah Nadia.
"Malam, Kak Nadia ...!" Serentak antusias.
"Masih semangat ...!"
"Masih ....!"
"Malam yang indah ini Kak Nadia ingin membagikan tips kecantikan bagi para cewek yang sering berpergian supaya kulitnya gak kusam. Untuk para cowok jangan iri ya?"
para audience tersenyum melihat tingkah Nadia.
"Nadia Itu katanya adik lo, Dy?" tanya teman yang ada disamping Audy.
"Kata siapa," jawab Audy melirik kesal.
"Kata Reihan."
"Reihan dipercaya, tau sendiri 'kan Reihan kayak gimana?"
"Emang kayak gimana, Dy?" tanya teman di sampingnya.
"Reihan itu suka mainin cewek," bisik Audy.
Teman Audy pun terkejut menutup mulutnya. "Wajah sealim Reihan!"
"Jaman sekarang kalau lihat tampang dari luar, bisa blangsak lo." Audy mencoba menakuti temannya.
"Padahal gue naksir sama dia." Teman Audy tampak kecewa.
"Lo mau habis di pakai, lalu dibuang gitu aja," ucap Audy.
Temen Audy dengan cepat menggeleng.
Acara malam hari tanpa terasa selesai. Para siswa berkerumun mendekati Nadia hendak minta tanda tangan. Nadia terlihat kwalahan karena terlalu banyak siswa mengerumuninya.
Audy yang melihatnya segera menjadi bodyguard untuk Nadia.
"Boleh minta tanda tangan, tapi baris yang rapi ya adik-adik."
"Huhuhu ...." Serentak. Mereka pun berbaris rapi.
Nadia tersenyum, berterima kasih kepada Audy.
"Ya sudah Kakak balik dulu ya, ada pekerjaan lain," ucap Audy.
"Hati-hati ya, Kak!"
Audy kembali bergabung dengan rekan-rekan yang lain. Terlihat tim perhutani sedang duduk berkumpul di depan tenda.
"Malam ini hari terakhir kita ada di sini, terima kasih atas bantuan teman-teman yang bersedia membantu menanam pohon untuk kelestarian lingkungan. Kalian luar biasa!" Ketua tim mengacungkan kedua jempolnya.
Para relawan perhutani bertepuk tangan.
"Malam ini kalian boleh begadang, yang penting besok bangunnya jangan kesiangan," ucap ketua tim.
Seperti biasanya mereka menggelar tikar yang laki-laki bermain catur, ada juga yang bermain kartu remi, yang perempuan mengobrol sambil melihat bintang di langit.
__ADS_1
Nadia menghampiri Audy. "Kak, gue pamit mau pulang."
Audy berdiri menepuk telapak tangan yang kotor dengan debu. "Kamu pulang sama siapa?"
"Nanti ada yang jemput."
"Pasti sama Aldo ya ...."
Nadia mengangguk.
Tak lama berselang, mobil Ayla warna hitam datang. Aldo turun dari mobil memanggil Nadia.
Audy dan Nadia menghampiri Aldo.
"Lo ada di sini juga?" tanya Aldo.
"Gue sama Reihan ada kegiatan sosial di sini," jawab Audy.
Aldo menaik turunkan kepalanya.
"Ayo pulang," ucap Nadia
Aldo mengangguk. "Gue pulang dulu ya kakak ipar."
Nadia menepuk punggung Aldo, wajahnya merah padam.
Audy tersenyum. "Jagain Nadia ya."
"Siap." Aldo membuka kaca jendela pamit kepada Audy.
Seorang Kakak pembina terlihat panik. Audy menghentikan langkahnya hendak bertanya dengan kakak pembina itu.
"Salah satu dari regu kita ada yang hilang, Kak?"
"Dimana?"
"Disana, saat kami sedang jelajah malam." Kakak pembina menunjuk hutan lindung yang ada di bawah tempat perkemahan.
"Kalau begitu aku akan beritahu teman yang lain, kamu beritahu juga para seniormu."
Kakak pembina itu mengangguk.
Segera Audy memberi tau kepada teman-temannya kalau ada anak yang hilang.
"Hutan lindung itu jalannya terjal dan curam, hati-hati pakai baju pelindung kalian," perintah ketua tim.
"Siap." Tim relawan perhutani menuju hutan lindung itu.
Jalan yang di lalui memang terjal, untung saja beberapa hari ini tidak hujan jadi mereka bisa lebih mudah mencari anak SMA yang hilang itu.
Semua orang berteriak memanggil nama yang bernama Rani. kemungkinan besar anak itu tepeleset dan jatuh ke jurang.
Satu jam pencarian mereka tidak menemukan hasil.
"Rei, kita sudah mencari dari ujung, tapi tidak menemukan juga," ucap Audy
Reihan masih fokus dengan centernya mencari anak itu.
"Tadi kalian menuju rute mana!" tanya Reihan kepada salah satu regu tim yang hilang.
"Kita jalan ke rute satu, Kak. Tapi, pas kita sudah sampai salah satu dari teman kami hilang," jawabnya.
__ADS_1
"Jangan-jangan di makan sama hantu," canda Reihan yang membuat Audy dan adik pembina ketakutan.
"Jangan gitu ah, jadi merinding gara-gara lo ngomong kayak gitu," hardik Audy.
"Iya maaf, sudah yuk cari lagi."
"Kita masuk lebih dalam lagi siapa tau teman kamu ada disana," ucap Audy.
Mereka bertiga berjalan melewati jalanan yang terjal. Tiba-tiba Audy terpeleset, tubuhnya menggelinding jatuh ke semak-semak.
"Audy ...!" teriak Reihan.
Tubuh Audy lemas, dia hanya bisa lirih berkata membalas panggilan Reihan. Audy masih membawa center, kaki kirinya terkilir. Dia mencoba berdiri melihat situasi.
"Audy lo gak pa-pa, kan!" teriak Reihan
"Gue gak pa-pa!" Suara Audy memantul.
Reihan panik terus mengarahkan center ke bawah. Center Audy ternyata tidak menyala karena terjatuh bersamanya.
"Reihan! Cepet selametin gue! Minta bantuan ...!"
"Iya! Lo jangan kemana-mana!" Reihan menyuruh adik pembina mencari bantuan.
"Mau minta tolong kepada siapa, Kak. Kita sudah tidak tau dimana mereka berada. Aku tidak berani berjalan sendiri di hutan ini," ucap adik pembina.
"Tapi, kamu berani 'kan di sini sendirian, jangan kemana-mana," ucap Reihan.
Anak SMA itu tampak ragu menatap Reihan lamat-lamat. Reihan memegang kedua lengan anak itu menatap yakin
"Kamu harus berani, anak pramuka tidak boleh takut dengan gelap. Hutan adalah sahabat kita."
Suasana lengang. Anak itu mengangguk, menyunggingkan senyum.
Reihan ikut tersenyum, segera dia berlari mencari bantuan.
Di bawah, Audy mendengar seorang perempuan menangis minta tolong. Sontak bulu kuduk Audy merinding, dia berpikir itu kuntil anak yang hendak menggodanya. Namun, Audy juga penasaran dengan suara itu.
dengan kaki pincang, Audy memutuskan mendekati sumber suara itu. Terlihat seorang gadis berambut panjang memakai seragam pramuka duduk menelingkup sambil terisak.
"Siapa disana?" tanya Audy ragu.
Gadis itu menoleh, lalu berlari memeluk Audy. "Kak aku takut di sini."
"Kamu Rani, gadis yang hilang saat jelajah malam?" tanya Audy meyakinkan.
Rani mengangguk masih memeluk Audy.
"Kakak tadi berteriak keras, kenapa kamu tidak menjawabnya?"
"Aku pikir itu suara hantu, Kak," jawab Rani polos.
"Gue juga berpikir lo tadi hantu," batin Audy.
Rani masih terisak. Audy melepas pelukan Rani.
"Ya sudah, sekarang ikut Kakak." Audy mengajak Rani ke tempat dia terjatuh.
"Sekarang tunggu di sini bareng sama Kakak, di atas sudah ada teman kamu dan teman kakak sedang mencari bantuan," ucap Audy.
Bersambung ...
__ADS_1