Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Levi Sudah Tau.


__ADS_3

esok harinya, Audy dan Reihan seperti biasa berangkat ke kampus. Mereka berdua hendak mencari Levi.


"Kemana sih tu anak. Giliran di cari susah, gak di cari nongol sendiri." Reihan ngedumel.


Tak berselang lama Audy melihat Levi bersama dengan Aldo. "Tu Levi, ayo samperin."


Reihan menahan Audy. "Jangan dulu, nanti Aldo curiga. Kita tunggu sampai jam makan siang saja."


Audy mengangguk, lalu melihat jam tangannya. "Terus kita mau kemana nie, jam kelas masih lama."


Reihan mengangkat bahu. "Biasalah ke taman."


"Ke taman pagi-pagi gini ngapain?"


Reihan tersenyum sambil berbisik. "Pacaran."


Audy terbelalak menatap perlahan wajah Reihan. Jantung Audy rasanya mau copot. Raut mukanya terlihat tegang.


Reihan tertawa lepas. "Wajah lo kenapa sih! tegang kayak gitu?"


Audy menghela napas, lalu memukul punggung Reihan dengan buku yang dibawanya. Audy berjalan duluan meninggalkan Reihan yang hanya bercanda.


"Mau kemana?" pangil Reihan.


Audy terus berjalan, tidak mengindahkan panggilan Reihan. Namun, Audy suka dengan cara Reihan menggodanya. Dia senyum-senyum sendiri menundukan kepala. Reihan menyusulnya dari belakang.


Mereka berdua akhirnya duduk sambil membaca buku di taman. Nadia datang menyapa kakaknya.


"Baru datang, Nad?" tanya Audy.


Nadia mengangguk. "Iya ... pagi ini gak ada jam pelajaran."


"Sama dong sama kita, makanya kita di sini," ucap Audy.


Nadia memicingkan mata. "Kalau gak ada jam pelajaran pagi, kenapa kalian berangkat


pagi. Pacaran ya?"


Audy dan Reihan gelagapan saling menatap. Mereka berdua tidak mungkin berkata terus terang.


"Ta-tadi ada urusan di perhutani, jadi sekalian saja gitu," jawab Reihan sambil menyikut lengan Audy.


Audy tersenyum nyengir. "Iya, Nad. Ada urusan tadi di kantor perhutani. Sebagai relawan hutan 'kan kita harus siap kapanpun dibutuhkan."


Nadia mengangkat kedua alisnya. "Kirain. Ya sudah Nadia mau ke kelas dulu ya."


"Iya, Nad." Audy melihat punggung adiknya yang semakin jauh.


"Adik lo kadang-kadang ngagetin ya," ucap Reihan mengelus dadanya.


"Nadia dari dulu memang pintar orangnya," jawab Audy.


"Kita masuk kelas yuk, sudah mau mulai nie," ajak Reihan.


Audy mengangguk beranjak dari tempat duduknya. Dia teringat celetukan Nadia barusan. Bagaimana ya kalau dia dan Reihan pacaran? Pasti menyenangkan, tapi Audy dan Reihan sudah bersahabat lama. Masak iya harus pacaran.


Siang hari Levi terlihat berada di kantin. Suasana kantin begitu ramai oleh mahasiswa. Levi terlihat mengantre memesan makanan.

__ADS_1


"Levi." Reihan menepuk pundak Levi.


Levi terperanjat. "Bikin kaget saja lo, Rei. Ada apa?"


"Gak ada apa-apa, iya 'kan, Dy?"


Audy mengangguk. "Kita kesini lagi baik saja sama lo."


"Kalau baik traktir makan gue dong?" pinta Levi.


Audy terkekeh, Levi terkena jebakan. "Ya jelaslah. Tenang saja, lo makan sepuasnya nanti Reihan yang traktir."


Wajah Reihan langsung cemberut berbisik kepada Audy. "Kok gue."


"Terus siapa lagi," balas Audy.


"Beneran nie, gitu dong! Itu baru namanya teman." Levi menepuk pundak Reihan.


Reihan tersenyum kecut. Dia terpaksa mengikuti perintah Audy. Imbas dari kalah taruhannya kemarin.


Levi memesan dua dada ayam dan dua piring nasi lengkap dengan lauknya. Mereka duduk berhadapan satu meja.


"Buset dah ... badan kurus porsi makannya kayak raksasa," gumam Reihan.


Audy tertawa kecil melihat expresi Reihan.


"Kalian gak makan?" tanya Levi.


"Gue lagi diet, kalau Reihan lagi puasa," jawab Audy ngasal.


"Puasa? puasa apaan?" tanya Levi penasaran.


Audy tertawa lepas. Reihan mencubit kecil pinggang Audy. "Puas lo."


"Gue makan dulu ya." Levi tidak sabar memakan makanan yang ada di meja.


Reihan dan Audy terkejut melihat cara makan Levi yang begitu cepatnya.


"Lo nguyah apa nelen?" tanya Reihan sedikit meledek.


Levi menyunggingkan senyum, mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Kalau kayak gini gimana mau nanya?" bisik Audy kepada Reihan.


Reihan berdecak sambil menggaruk tengkuknya.


"Tumben lo gak sama, Aldo?" tanya Audy.


Levi sudah selesai makan, dia menghabiskan dua porsi nasi beserta lauknya. Sambil minum Levi menjawab pertanyaan Audy.


"Si bos kalau jam segini mah lagi di lapangan basket," jawab Levi.


"Lo gak ikut kesana?" tanya Audy.


"Malas ah, mending di sini, dapat makan gratis," jawab Levi sambil tertawa.


Audy mengendikan kepala ke arah Reihan. Reihan mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Lo kalau jalan sama Aldo biasanya kemana, Lev?" tanya Audy lagi.


"Biasalah ke cafe, menenangkan pikiran."


"Gak ke diskotik? Biasa anak kayak Aldo sukanya pergi ke diskotik?"


"Walaupun bos gue tampangnya kayak playboy, tapi dia rajin beribadah," jawab Levi.


Audy menaik-turunan kepalanya.


Reihan beranjak dari tempat duduknya hendak membayar makanannya Levi.


"Gue cabut dulu ya, ada urusan nie." Levi beranjak meninggalkan Audy.


Reihan kembali menghampiri Audy. "Kelihatannya Levi sengaja gak mau membocorkan keburukannya Aldo."


"Masak sih. Kelihatannya dia jujur deh, Rei?"


"Gue itu tau siapa Aldo, dia gak mungkin rajin ibadah,"ucap Reihan pelan.


Audy memainkan bibirnya ke kiri dan ke kanan, "Benar juga ya, gue juga tidak pernah lihat Aldo ibadah."


"Kayaknya kita harus pake trik supaya Levi mau membuka mulutnya," ucap Reihan.


"Caranya?" tanya Audy.


Reihan mengubah posisi meletakkan kedua tangan di meja. suasana lengang, mereka berdua tampak berpikir.


"Gimana kalau diam-diam kita ikuti Aldo," usul Reihan.


"Boleh juga," jawab Audy sambil merapikan beberapa rambut yang menghalangi pandangan.


"Kita pikirin besok saja." Audy dan Reihan beranjak dari tempat duduknya. Mereka berdua hendak mengikuti mata kuliah berikutnya.


Sedangakan Levi diam-diam memperhatikan Reihan dan Audy dari kejauhan.


"Gue tau pasti ada maunya, kalian pikir gue gampang di jebak," ucap Levi.


Levi pun menuju lapangan basket untuk memberitahu kejadian ini kepada Aldo. Sedangkan Aldo sedang asyik bermain basket dengan Nadia, mereka terlihat kompak dengan kaos basket yang sama.


"Bos!" panggil Levi.


Aldo menengok ke sumber suara. "Ada apa?"


Levi menyuruh Aldo mendekatinya, sedangkan Nadia masih melanjutkan permainan basketnya.


"Reihan sama Audy curiga sama bos, mereka mau tau apa yang di lakukan bos Aldo seharusnya ini," ucap Levi saat Aldo sudah mendekat.


"Kalau begitu awasi balik mereka, setelah itu lapor ke gue ada dimana mereka. Gue akan melakukan sandiwara supaya mereka terkejut melihat kehidupan gue," perintah Reihan.


"Siap, bos."


"Ya sudah lo pergi sana, gue lagi hefans sama Nadia."


"Bagi rokok dong, bos." Levi tersenyum nyengir.


Aldo mengibaskan tangannya ke udara, lalu pergi tanpa memberi uang rokok kepada Levi. Aldo lebih memilih melanjutkan permainan basketnya dengan Nadia. Levi pun bermuka masam menatap Aldo.

__ADS_1


"Dasar si bos, kalau sudah sama cewek lupa deh sama gue," gumam Levi.


Bersambung ...


__ADS_2