
Setelah Wizza dan Andrean mengucap sepatah kata,mengajak minum, mereka pun kembali turun.
Sekar dan Sakinah duduk berdekatan, Nyonya-nyonya yang berbisnis dengan suami mereka segera mengerubuni. Sedangkan ketiga putranya dibawa Wizza dan Andrean berbincang-bincang.
Sikembar menyimak dengan seksama, tentu saja mereka akan mempertajam telinganya jika itu mengenai dunia mereka. Seperti Arhen kini, Tuan Sumono seorang produser film, sering menorbitkan artis-artis bertalenta. Ia mendengar pria paruh baya itu berbincang dengan Wizza, membahas model dan film baru yang akan ia terbitkan.
Kemudian Ardhen, ia sedang berbicara dengan kepala koki, saat ia disodorkan kue.
“Bagaimana rasanya,Tuan Muda? Apakah sesuai dengan selera kalian?”
“Lumayan!” jawab Arsen dan Arhen, lalu lanjut memperhatikan obrolan orang dewasa.
“Kue salju ini rasanya cukup enak, sedangkan piecook ini terlalu manis. Namun, aku suka chocochip ini, rasanya pas, coklatnya tidak pahit. Menurutku, kue salju ini kurang kembang, sedangkan piecook kurangi lagi manisnya.” jelas Ardhen.
“Terimakasih sarannya, Tuan Muda.”
“Bawakan aku potongan buah!” perintah Arsen tiba-tiba.
“Baik, Tuan Muda.” jawab Kepala koki. Ia bisa menebak, jika yang memerintahnya adalah Arsen. Kepala koki ini bekerja di Mansion mereka biasanya.
Ia tahu dengan selera para Tuan Muda, namun karena ia membuat kue dengan porsi banyak untuk tamu, jadi ia menyesuaikan dengan seleranya saja.
Tak lama ia telah menyodorkan potongan buah apel dan pisang. Arsen langsung mengambilnya, menyuap ke dalam mulutnya dengan garpu.
Arsen sibuk memakan potongan buah, ia sedang mangamati suasana. Di sana ia bisa melihat Irfan berbincang dengan Hans dan Barend serta yang lainnya.
**
Hans bersama pengawalnya datang memberikan kado dan ucapan selamat ala kadarnya, kemudian bersikap seperti orang yang hanya kenal sebagai rekan bisnis dengan Andrean, bukan sebagai bawahan Arsen. Setelahnya ia memilih duduk disofa.
Saat Irfan melihat Hans memilih duduk disofa, ia segera menyusulnya, menyalami dan mengajak pemuda itu berbincang-bincang, ditambah dengan beberapa orang lain juga mendekat, bisa dibilang mereka sedang menjilat!
Barend baru saja datang, ia menggandeng seorang wanita model yang cukup terkenal. Ia mendatangi Wizza dan Andrean, mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah pada sikembar.
“Selamat ulang tahun, Bos Kecil!” bisiknya ditelinga Arsen.
“Makasih, Paman, Tante!” ucap Arhen dan Ardhen saat menerima hadiah.
“Kalian manis sekali.” puji wanita itu.
“Kau tak melihatnya, bagaimana bisa berkata manis?” tanya Arsen dingin.
“Abang!” Arhen dan Ardhen mendelik.
“Karena Ayah kalian sangat tampan, tentu saja kalian juga akan tampan.” balas wanita itu tersenyum.
__ADS_1
Arsen tak menjawab lagi, ia sudah dicubit oleh Arhen dan Ardhen.
Sejak kemarin kedua adiknya itu sudah mewanti-wanti agar sang kakak tidak berucap pedas karena ini adalah acara besar, bisa membuat gosip buruk untuk keluarga Van Hallen.
Arsen mendesah kesal setelah Barend dan wanita itu pergi. Lengan kiri dan kanannya barulah dilepaskan, tangannya terasa nyeri karena cubitan.
‘Hm, sepertinya Tuan Muda Arsen tidak suka dengan wanita ini, kenapa ya?’ gumam Barend disepanjang perjalanannya menuju sofa.
Selama ini, Arsen tidak mempermasalahkan Barend dengan wanita manapun. Ia tak peduli, tapi ... tadi anak itu bicara ketus. Bukankah biasanya, itu ada sesuatu? Ya, semenjak ia bekerja dengan Arsen, ia mulai belajar sikap anak dingin itu.
Barend sampai di sofa dekat Hans dan Irfan duduk. “Malam, Tuan!” sapanya pada Irfan.
“Malam.” balas Irfan sekenanya.
Hans dan Barend pura-pura tak saling kenal, mereka saling bersalaman setelah Irfan memperkenalkan Hans dan Barend.
Mereka berbincang-bincang cukup lama sambil meneguk minuman.
“Dia yang membantu saya membuat kerangka kalung yang ku perlihatkan kemarin, Tuan Hans.” Irfan berkata dengan antusias.
Hans hanya mengangguk dengan elegan.
**
“Bang, ayo pergi, aku ngantuk!” ajak Arhen menepuk pundak Arsen.
“Pergilah dulu bersama Ardhen, aku akan menyusul sebentar lagi.” balasnya, kemudian melanjutkan memakan potongan buahnya.
“Baiklah, aku akan membantu Abang menghabiskan buah!” Arhen mengambil buah dengan banyak dan memasukkan ke dalam mulutnya, kemudian mencoba mengambil lagi.
Plak! Arsen menepuk tangannya.
“Sana!” ucapnya ketus.
“Ada apa?” tanya Wizza melihat cucunya mulai berdebat.
“Mereka ngantuk!” jawab Arsen datar, ia masih dengan santainya memakan buah.
Wizza menelfon Sekar, meminta Sakinah mendekat ke arah mereka karena sikembar ingin tidur.
Sakinah berjalan ke arah mereka.
Bruk! Seseorang dengan sengaja menabraknya.
“Auwwch!”
__ADS_1
Prang! Suara gelas pecah membuat banyak mata tertuju ke sumber suara. Apalagi bintang utama yang terjebak di sana.
Pakaian Sakinah basah, tepatnya dilehernya.
“Sorry, i'm so sorry!”
Wanita itu terus bicara, Sakinah diam saja karena tidak mengerti. Ya, wanita itu berbicara dengannya dengan bahasa Belanda.
“Ok!” jawab Sakinah, instingnya mengatakan jika ada orang menangkup tangan kedepan, bukankah orang itu sedang minta maaf. Jadi dia menjawab ok, lalu berlalu pergi.
Wanita itu mengibas roknya, menatap Sakinah tajam. ‘Huh! Angkuh sekali dia. Dasar wanita aneh!’ dengusnya, kemudian tersenyum licik karena telah membasahi hijab dileher Sakinah.
Seorang pria mendekat ke arah wanita itu. “Aku kira, wanita itu istri Andrean sungguhan, bukan hanya pencitraaan, barang yang ia pakai sungguh berkualitas tinggi, gaun itu sangat mahal, bahkan bisa membeli dua mobil yang kau pakai. Lalu, kalung permata diamon emerald itu harganya sangat fantastis!”
“Hm, begitu ya. Aku punya rencana!” Ia mendekatkan bibirnya pada telinga wanita itu, kemudian berbisik.
Kejadian itu tentu saja dilihat oleh Arsen dan Arhen yang sedang menunggu Sakinah berjalan, sedangkan Ardhen dan Andrean baru menoleh setelah mendengar gelas pecah.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Andrean berbicara lembut, ia menyusul Sakinah. Sikembar juga mengikutinya.
“Apa menurut Papa, Mom terlihat baik?” ucap Arsen.
“Zakdoek!!” teriak Arsen dengan lantang sembari menaikkan tangannya ke atas.
Clara yang berdiri agak jauh bersama pelayan lain segera berlari mendekat, mengeluarkan sapu tangan.
Arsen meraih sapu tangan itu kasar. “Mom, tolong merunduklah sedikit.” pintanya lembut pada Sakinah.
Sakinah merunduk dengan patuh, Arsen segera melap hijab itu. “Kirain kenapa! Sini, Mom bisa sendiri.” Sakinah mengambil sapu tangan itu.
“Ingat, jangan ganggu orang itu, dia tidak sengaja! Mom akan segera ganti baju, bukankah kata Grandpa kalian ingin tidur.” ucap Sakinah memperingati, ia menggoyangkan telunjuknya kiri dan kanan sebagai tanda larangan.
“Nah, ayo pergi bersama Mom!” ajak Sakinah, mereka bertiga pun patuh pergi.
Clara dan Nani segera mengekori mereka berempat.
Arsen mengambil hp di dalam kantong celananya, mengirim pesan pada Hans dan Barend.
‘Tandai wanita itu!’
Andrean terperangah, lagi, ia kecolongan. Bagaimana ia bisa dapat kepercayaan Arsen penuh? Jika hal seperti tadi saja, ia lambat bertindak. Bukankah seharusnya ia harus melepaskan jasnya, seperti pria gantleman, meletakkan jas yang ia buka di bahu istrinya?
Andrean mendesah, ia memang penggoda dan suka mengganti wanita, itu dulu ... sebelum hatinya berlabuh pada satu wanita. Tetapi, wanita-wanita itu memang tipe wanita gampangan dan matre. Sedangkan Sakinah, istrinya yang sederhana, membuat dadanya selalu berdebar dan ia sering salah tingkah di depannya, terkadang bertindak konyol karena grogi.
‘Maaf, aku masih terlalu buruk....’ lirihnya dalam hati.
__ADS_1