Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Miss Hamil


__ADS_3

Billa sampai di rumah, ia langsung bergegas mandi.


“Honey, setelah mandi, kamu berbaring saja ya! Kamu cuma boleh memeriksa pelajaran saja, memasak untuk makan malam, kita bisa beli saja, atau aku yang memasak, jika kamu tak mau makanan yang dibeli, kemudian jika memeriksa latihan anak-anak, cukup beri aku isi jawaban, biar aku periksa semua.” jelas Jimi mulai mengatur Billa.


Seperti penjelasan Dokter, istrinya tak boleh ke kacapekan dan stress. Jadi, dia ingin mengambil alih semua pekerjaan.


“Hm, iya, iya.”


Setelah mandi, Billa benar-benar tak diizinkan melakukan apapun, bahkan termasuk merapikan ranjang pun untuk dia tiduran, Jimi yang membereskan.


‘Kalau begitu, aku telfon Sakinah deh, rasanya dulu saat Sakinah hamil, gak gini amat, apakah karena waktu itu Sakinah hamilnya udah 4 bukan lebih? Anaknya sudah besar, perut Sakinah juga sudah nampak bagian bawahnya.’ gumam Billa.


“Assalamu'alaikum, Kinah!” sapa Billa saat hpnya tersambung.


“Kamu lagi ngapain?” tanyanya.


‘Lagi baca-baca buku aja, mau periksa buku anak-anak, aku malah gak tau bacaannya. Gak ada kegiatan di sini, kadang aku bosan banget.’ Sakinah mulai mengeluh.


“Nikmati saja hidupmu Nyonya Muda Van Hallen! Hidup seenak itu malah mengeluh, kamu harus bersyukur!”


‘Iya, Bawel! Aku bersyukur, kok. Aku cuma ingin melakukan kegiatan, tetapi gak bisa, bahkan cuci piring sama nyapu aja gak pernah! Mandi aja kadang mau dibantuin, aku nolak keras dong!’


“Ahahahha!” Billa tertawa.


‘Dasar teman yang bahagia di atas penderitaan temannya sendiri!'


“Biarin!”


‘Kalau kamu lagi apa, Bil?’


“Aku lagi nelfonmulah!”


‘Astagfirullah! Yang bilang kamu lagi gosok gigi siapa?’


“Ahahaha! Aku lagi tiduran, gak boleh ngapa-ngapain sama Jimi.”


‘Wah, Nyonya Muda Jimi Ares nih!’ celetuk Kinah.


“Aku udah lama jadi Nyonya, tapi Nyonya Jiming Ho Chen, bukan Jimi Ares.” jawab Billa. “Kinah, sebenarnya aku mau kasih kabar gembira nih samamu!”


‘Kabar gembira apa? Gajimu naik?’


“Ini anak, otaknya duit muluk, sama kayak anaknya Arsen Ares!”


‘Kan Ibu dan anak, jadi wajarlah!’ Kinah terkikik menjawab Billa. ‘Tapi berita bahagia apa nih, aku kepo deh, Bil!'


“Dengar baik-baik ya, tarik nafas, hembuskan!”


‘Cepetan! Jangan banyak gaya deh!’

__ADS_1


“Cieee, penasaran! Hahahaha!”


‘Ish, cepetan, cerita!’


“A... aku hamil!”


‘Apa??!’ teriak Kinah di Belanda. ‘Billa, coba ulangi lagi? Kau hamil? Aku tak salah dengar 'kan?! Alhamdulillah! Alhamdulillah!’ lanjut Sakinah penuh syukur.


“Iya, Alhamdulillah. Do'ain ya, supaya berjalan dengan baik semuanya.” pinta Billa.


‘Iya, Bil. Tentu! Selamat ya Sayang! Aku sangat bahagia mendengarnya.’


“Iya, semoga kamu segera menyusul juga. Agar sikembar dapat adik.”


‘Aamiin.’


Tak lama, mereka pun mengakhiri perbincangan mereka di telfon.


“Kamu telah mengabari berita kehamilan pada Sakinah, ya? Jangan lupa kabari Ayah dan Ibu juga di kampung. Aku juga akan mengabari Nainai, Wai Po dan Yeye. Tadi barusan aku memberi kabar pada Mama dan Baba.”


“Ok, Honey!”


~~


Di Belanda.


“Mom, apakah Miss hamil dan akan memiliki anak?” tanya Ardhen.


Arhen dan Arsen juga ikut merapatkan duduknya karena penasaran.


“Iya. Kalian do'akan Miss ya!”


“Iya, Mom.” sahut mereka bertiga.


“Apakah sekarang perut Miss sudah besar?” tanya Arhen.


Pletak! Arsen menggentik kening adiknya.


“Aduh! Mom, lihat Abang, dia melakukan kekerasan dalam peradikkakakkan!” adu Arhen sembari mengelus keningnya.


“Siapa suruh bodoh! Masa perut Miss besar, dia 'kan langsing, beberapa hari yang lalu juga masih langsing!” jawab Arsen.


“Terus, kapan perut Miss besar?”


“Nunggu Miss melahirkanlah!” jawab Arsen ketus.


“Kapan Miss melahirkan?”


“Itu 'kan cuma Allah yang tahu!” jawab Arsen lagi dengan pintarnya.

__ADS_1


“Ish!” Arhen berdecak sebal mendengar jawaban Arsen. “Kalau begitu, Kami juga tahu!” sungutnya.


“Miss hamilnya sudah 3 bulan. Biasanya Ibu hamil itu usia kandungannya 9 bulan 10 hari. Jadi, perkiraannya 6 bulan 10 hari lagi. Makanya, kita harus berdo'a, agar Miss menjalani semuanya dengan baik.” jelas Sakinah mengusap kepala ketiga putranya.


“Oooh!” jawab mereka bertiga.


“Berarti perut Miss kapan besarnya? Biasanya 'kan ibu hamil perutnya besar Mom. Miss kemarin gak besar perutnya.” tanya Ardhen bingung. Intinya, mereka cuma berpikir ibu hamil itu perutnya besar.


Sekarang Arsen tak menyentil kepala kedua adiknya lagi, dia juga penasaran.


“Perut Ibu hamil itu akan perlahan membesar, biasanya di usia 5 bulan, perutnya terlihat sedikit membuncit.”


“Seperti Grefello, ya?!” tanya Ardhen.


“Siapa Grefello?!” Arhen dan Arsen menatap Ardhen.


“Paman bunga, yang memetik bunga Poppy Arizona kemarin!” jawab Ardhen.


“Hahahha! Iya iya!” Arhen terkekeh, sedangkan Arsen hanya tersenyum simpul.


“Perutnya sebesar ini Mom, berarti Paman itu hamil ya, wah seharusnya kita gak boleh repotin Paman Grefello itu kemarin!” ucap Ardhen menyesal.


Pletak! Kali ini Arsen menggentik kening Ardhen. “Mana ada bapak-bapak hamil?! Kalau Bapak hamil, kita pasti lahir dari perut Papa, bukan perut Mom. Iya 'kan Mom?” Arsen berkata, meminta persetujuan ibunya.


“Iya, yang hamil itu cuma perempuan saja. Kalau hamil 5 bulan, segini besarnya, kalau 7 bukan udah sebesar ini, nah kalau 9 bulan, udah besar banget, sebesar ini, udah susah jalannya.” Sakinah menjelaskan dengan gerakan tangan.


“Waah, apakah nanti saat kita pulang liburan ke Indonesia, kita bisa lihat perut Miss besar? Sekarang baru 3 bulan, kita liburan 'kan sebulan lagi.” Ardhen menimpali.


“Kalau begitu Mom kapan hamil?” tanya Arhen ke arah topik berbeda. Sama-sama membahas tentang hamil, tetapi objeknya bukan Miss lagi, tetapi Ibunya.


“Mom? HM?” Sakinah menggaruk kepalanya, memikirkan jawaban yang bisa dimengerti anak-anak.


Dulu, saat ia hamil sikembar, itu benar-benar anugerah. Hanya sekali saja, langsung jadi tiga. Sekarang sudah diniatkan, ikut program, masih belum isi juga. Ia mulai khawatir, apakah ia akan menunggu selama 10 tahun lagi? Tentu saja umurnya sudah tua menunggu selama itu. Ia sudah monopuse.


“Doa'kan ya, semoga Mom segera punya adik untuk kalian.” jawab Sakinah.


“Kalau begitu ayo kita beli bibit yang subur Mom, waktu itu Mom beli bibit untuk kami dimana?” tanya Arsen bersemangat dengan kepolosannya.


“Iya Mom, dimana?” Arhen dan Ardhen juga bertanya penuh semangat.


Bagaimana caranya menjelaskan pada anak berumur 8 tahun tentang bibit anak? Walaupun mereka genius, tentu saja pikiran mereka masih polos dari hal negatif, Sakinah berpikir keras bagaimana menjelaskan dengan baik pada anak-anaknya yang genius ini. Khawatir jika salah jawab.


“Bibitnya hanya Allah yang memberikan, makanya Mom dan Papa hanya bisa berdo'a.” jawaban terakhir Sakinah.


“Ooh, kirain bisa dibeli. Habisnya kata teman kami, Papanya beli obat buat bikin adik bayi. Terus gak lama, Mamanya hamil Mom.”


“Oh itu.. Hehehe. Iya, Papa kemarinnya juga udah beli obat dan bibit, Mom juga udah berobat. Tapi kita hanya bisa berdo'a. Mungkin yang dibeli sama Papa teman Adik itu cocok sama dia.” Sakinah mengelus kepala sikembar.


“Aamiin, semoga Papa bisa membeli obat dan bibit yang cocok, agar kita punya adik.” seru Ardhen dan Arhen. Sedangkan Arsen hanya tersenyum antusias.

__ADS_1


__ADS_2