
“Ini piala siapa saja, Pa?” tanya ketiga anak laki-laki itu antusias.
“Sebelah sini punya Papa dan yang itu punya Papa kedua.” jawab Andrean. Lalu, ia meletakkan piala Arsen di tempat yang kosong di sisi lemari lain.
“Nanti ... Papa beli 3 lemari besar buat kalian, disusun juga seperti ini. Mau?” tanya Andrean menatap mereka.
“Mau!” jawab mereka bertiga.
Hari ini, Sakinah sekeluarga pergi ke Indonesia dengan jet pribadi. Mansion mereka di jaga oleh Kepala Pelayan dan yang lainnya. Masalah perusahaan tentu saja di tangani oleh David untuk perusahaan Antaman Wizgold, perusahaan Ar3s oleh Hans dan perusahan Wilplants Groub kembali dipegang oleh Dedrick setelah Wizza memutuskan bersenang-senang dengan Irfan ke luar negeri.
Kurang lebih 14 jam perjalanan, mereka pun akhirnya sampai. Tepatnya di Batam, Sakinah dan Sikembar ingin mengunjungi Billa dan Jimi terlebih dahulu, baru pulang kampung ke desanya.
Billa sangat antusias menyambut mereka hingga ia bersikeras membawa mobilnya, Jimi mengalah dan meminta sang istri membawa mobilnya pelan, lalu ia mengiringi mobil sang istri dengan mobilnya.
“Oh, *My Handsome*!” Ia memeluk Ardhen. Lalu memeluk Arhen dan Arsen.
“Wah, tumben kau tidak mendorong pelukanku?” Ia melirik Arsen penuh selidik. Mata anak laki-laki itu menatap perut besar Billa. “Oh, kau khawatir ya, dengan adik bayi dalam perut Miss?” tanya Billa, lalu mencolek hidung mancung Arsen.
“Kinah, aku sangat merindukanmu.” Langsung memeluk Sakinah. Mereka berdua pun saling berpelukan. Jimi dan Andrean hanya memilih bersalaman.
“Kita beli makan dulu, ya! Aku lapar!” Billa mengelus perut besarnya.
“Ok!”
~~
Mereka sampai di Rosetree Cafe, duduk di ruangan paling nyaman, tentu saja ruangan VIP.
“Ayo, kita pilih menunya!” ajak Billa.
Beberapa menu tertulis di sana, mulai terspesial, terpopuler dan terlaris di cafe ini. Satu hal yang membuat Andrean menatap menu itu lama. Harganya juga cukup murah, disebuah kafe mewah, ada minuman yang harganya cuma 10 ribu rupiah? Ia sangat penasaran dengan minuman itu dan bagaimana rasanya.
__ADS_1
“Sayang, obeng itu besi 'kan, ya? Untuk memutar baut itu?” tanya Andrean menatap Sakinah.
“Obeng?” balas Sakinah bertanya kembali. “Iya, buat buka baut sih gunanya obeng, kenapa Sayang?” Sakinah menatap Andrean balik dengan bingung.
“Hm, kalau gitu, aku pesan ini, ya!” tunjuknya pada menu. Sayangnya, Sakinah tak mendengar dan melihat yang ia tunjuk. Wanita itu terlalu fokus melihat menu makanan.
Arsen malah tersenyum kecil. Melihat Abangnya tersenyum, Arhen dan Ardhen yang sibuk memilih, sejenak berhenti, kemudian juga tersenyum. Lalu, mereka melanjutkan memilih makanan yang mereka suka.
Akhirnya, setelah menunggu, beberapa minuman dan makanan tersaji. Di atas meja, aneka ragam minuman dan makanan menggugah selera, mulai dari es teller toping coklat dan astor, Oreo vanilla full cream, es durian buble, cincau strawberry, es cendol emping tapai. Sedangkan di hadapan Andrean hanya segelas teh es.
Ia memperhatikan minuman itu lama, mengaduk bahkan mengintip gelas itu, perlahan ia mencicipinya. Keningnya berkerut! Lalu, ia kembali menyedot minuman itu.
“*Ice tea*?!” gumamnya.
“*Sure! this is iced tea*, Pa!” (Benar! Ini memang teh es, Pa) sahut Arsen.
“Hahahahahaha! Di Batam, penyebutan teh es memang teh obeng, Pa. Bukan beneran obengnya yang dimasukin kedalam teh dan es nya.” jawab Arhen tertawa, yang lainnya juga sedang menahan tawa sekarang.
“Sayang, kenapa kau tidak menjelaskan sejak tadi? Padahal aku bertanya padamu.” ucap Andrean mengaduk-aduk es tehnya.
“Maaf, Sayang. Aku tidak memperhatikan menu yang kau inginkan tadi. Aku pikir, kamu hanya bertanya tentang obeng.” jawab Sakinah.
Ya, Andrean memang sering bertanya tentang beberapa hal, karena dia tidak terlalu fasih dan tahu semua benda atau kata dalam bahasa Indonesia. Jadi, Sakinah pikir, tadi suaminya itu hanya bertanya tentang obeng sesungguhnya.
“Ini pengalaman yang tak terlupakan, aku pertamakali kemari dulu juga begitu. Aku sampai berdebat sama penjual. Aku mengatakan teh es, dia mengulang dengan teh obeng. Hehehe.” Jimi menyela pembicaraan Sakinah dan Andrean.
“Di menu ada tulisan teh O, kopi O, aku sampai bingung, aku pikir awalnya tehnya ditambah dengan donat atau apa gitu. Heheheh.” Jimi melanjutkan ceritanya terkekeh.
Setelah makan, mereka berkeliling untuk berfoto bersama di spot yang indah. Terakhir mereka berfoto untuk menutup senja yang akan hilang di Jembatan Barelang pertama.
__ADS_1
~~
Sakinah sekeluarga menghabiskan waktunya di rumah Billa selama tiga hari, kemudian mereka melanjutkan perjalanannya pulang ke desa dengan jet pribadi.
Selang 1 jam saja di atas jet, mereka pun sampai. Jika seandainya mereka menempuh jalur darat atau laut, setidaknya mereka akan menghabiskan waktu semalam atau sehari lebih, tergantung jenis alat transportasi apa yang akan di pakai.
Ruksha dan Ayah Sakinah menangis haru memeluk Sakinah, Andrean dan Sikembar. Sepanjang jalan tadi, Arhen dan Ardhen tak henti-hentinya mengagumi desa ibunya. Air sungai yang jernih mengalir deras dan berbunyi seperti gemuruh saat beradu dengan batu sungai. Sawah yang tertata rapi dengan piringannya yang hijau. Parit-parit dengan air mengalir yang jernih, ikan-ikan kecil sebesar kelingking berenang di parit itu, sangat berbeda dengan parit-parit di kota yang pernah mereka lihat sebelumnya.
Udara di desa terasa sejuk, kendaraan sangat jarang berlalu lalang. Bunga liar di tepi jalan bahkan terlihat sangat indah, apalagi dengan pohon hijau yang rimbun masih berbaris.
“Bibi!” Arhen dan Ardhen memeluk Ruksha. Cup! Cup! Kedua anak laki-laki itu langsung mencium pipi kiri dan kanan adik Ibunya itu.
Andrean memapah Ayah Sakinah perlahan, pria tua itu kini tak bisa lagi berjalan, keadaannya semakin lemah. “Aku sangat senang, akhirnya kalian pulang.” tangisnya. “Ayah sangat merindukanmu.” Ia memeluk dan mengelus kepala Sakinah lembut penuh kasih dan sayang.
“Makasih menantu, kamu telah menjaga dan mencintai putriku. Tolong jaga dia, mungkin aku tak akan bisa lagi menjaganya.” ucap Ayah Sakinah.
“Iya, Ayah. Saya berjanji.” jawab Andrean, Ia mencium punggung tangan lelaki tua itu. “Ayah jangan khawatir, selama aku hidup dan sehat, Sakinah dan anak-anak akan aku jaga dan lindungi.” janjinya. Ayah Sakinah pun memeluk Andrean, mengelus punggung dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
Mereka pun mandi dan disuguhkan makanan buatan Ruksha, tempoyak ikan lele rawa, goreng ikan asin serta sayur daun ubi dan kacang panjang uap dengan lalapan jengkol muda dan timun.
Andrean menatap makanan itu lama. “Ayo, makan Pa. Ini enak!” ajak Arsen.
Mereka pun makan dengan lahap, apalagi Arsen dan Arhen. “Bibi memasaknya hebat, Adik harus belajar sama Bibi! Tempoyak Bibi lebih enak, dagingnya manis!” puji Ardhen.
“Bukan Bibi yang hebat. Tetapi, daging lelenya memang manis, ini dagingnya alami, soalnya dia gak dibudidayakan seperti lele bibit yang makan pelet.” terang Ruksha.
“Oh! Jadi, Bibi memancing ini?” tanya Arhen dan Ardhen serempak.
“Kalian penasaran, ya? Ayo, kita memancing dan ke sungai setelah ini.” ajak Arsen tersenyum. Arhen dan Ardhen mengangguk, mereka berdua ingat, Arsen telah menghabiskan waktunya saat itu di desa ini, saat menyelidiki siapa ayah kandung mereka.
__ADS_1