Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Shaleh Yusuf


__ADS_3

Di Batam.


Seorang lelaki berumur 40 tahun menekan bel rumah Billa. Wanita hamil itu berjalan perlahan ke depan, ia berdiri di depan pintu, seorang satpam penjaga rumah yang berjaga di pagar berjalan mendekat ke arahnya.


“Nona Billa, seseorang ingin bertemu, katanya ia dari desa yang sama dengan Nona, nama dia Shaleh Yusuf.” jelas satpam itu.


Billa sejenak terdiam, kemudian mengangguk mengizinkan pria itu masuk. Sang satpam pun membuka pagar dan mempersilahkan tamu untuk masuk ke dalam.


“Assalamu'alaikum, Billa.” sapanya, ia menangkupkan kedua telapak tangannya di dada, sebagai ganti berjabat tangan.


“Wa'alaikumsalam, Bang Shaleh ... anak Pak Syafri, bukan?” tanya Billa memastikan.


“Iya, Dik Billa.” jawabnya tersenyum ramah.


“Oh, Abang! Ayo, silahkan duduk, sudah lama ya, kita tidak berjumpa.” Shaleh pun duduk.


“Mbak, tolong buatkan minuman untuk tamu, ya.” pintanya. Semenjak hamil, Billa memperkerjakan seorang wanita untuk membantunya di rumah, sedangkan satpam semenjak Sakinah dan sikembar pindah. Biasanya dulu, tak ada satpam ataupun pelayan.


“Iya, Non. Tunggu sebentar.” jawabnya.


“Apa kabar, Bang? Tidak menyangka kita jumpa di sini, ya.” ujar Billa.


“Iya, Billa. Alhamdulillah. Sudah berapa bulan ini?” Ia sedikit melirik perut Billa yang sudah membuncit. “Hm, suami kamu belum pulang, ya? Aku jadi tak enak. Aku kira jika sore hari kemari, suami kamu akan ada di rumah. Soalnya kata Mbak Nike, suami kamu selalu di rumah setiap sore.” lanjutnya.


“Ini ... sudah masa waktunya, nunggu-nunggu mau melahirkan, sih, Bang. Biasanya, suamiku memang pulang sore. Tetapi, tadi ada banyak pekerjaan, mungkin agak telat pulangnya. Tidak apa-apa, di rumah ada orang lain kok, bukan kita berdua saja, kita juga ngobrol di teras depan nih.” jawab Billa menjelaskan.


“Hm, jadi, Mbak Nike, ya, yang kasih tau alamat saya sama Abang?” tanya Billa.


“Iya.” jawab Shaleh.


Beberapa saat mereka terdiam, tak tau harus mengobrol apa lagi. Mereka selama ini juga tidak dekat. Shaleh dulu sekolah, 3 tahun di atas Sakinah dan Billa, jadi mereka tidak akrab.


“Hm, Sakinah sekarang tinggal dimana?” tanya Shaleh.


“Kinah tinggal di Belanda, Bang.” jawab Billa.


“Be-Belanda?? Ko-kok, jauh banget.” ucapnya terbata. Ia tak percaya sekaligus sedih.

__ADS_1


Billa memicingkan matanya, sikap Shaleh terlihat sedikit aneh. Apalagi pria itu sekarang mendesah, menghembuskan nafas panjang.


“Memangnya kenapa Bang? Ada yang ingin Abang bicarakan sama dia? Ada perlu gitu?” tanya Billa penuh selidik.


“Gak da kok, Bil. Bukannya dia melahirkan anak kembar ya, dulu? Dia bawa anaknya merantau ke Belanda? Apa dia aman di sana? Dia 'kan tidak lancar bahasa Inggris, dia pendiam dan ....” Shaleh menghentikan perkataannya.


“Iya, dia punya tiga anak laki-laki kembar. Dia aman di sana. Suami dan keluarga suaminya baik, gak kayak keluarga Ardi.”


Wajah Shaleh terlihat sendu. “Oh, dia udah nikah lagi. Kalau dia aman dan bahagia. Aku senang mendengarnya. Alhamdulillah.” jawabnya.


“Iya, Alhamdulillah lah Bang. Kalau Abang gimana? Anak dan istri Abang ikut ke Batam juga?” tanya Billa.


“Aku belum nikah, Bil.”


“Hah?!” seru Billa kaget. “ma-maksud Abang gimana? Masa Abang belum nikah? Anak kecil yang Abang gendong waktu itu?” tanya Billa tak percaya.


“Oh, itu keponakanku Bila.” jawabnya, lalu ia menekuk wajahnya, terlihat tengah berpikir. “Kapan Kinah menikah lagi?” tanyanya kemudian.


“Udah satu tahun lebih deh kayaknya.” jawab Billa tak yakin.


Billa menatap wajah Shaleh yang terlihat semakin sendu. “Jika dia bahagia dan aman, aku ikhlas. Semoga dia bahagia selalu. Oh, ya, aku harus pergi dulu, nih. Besok aku berkunjung lagi, ya, saat suami kamu ada di rumah.” Shaleh melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. Bersiap hendak pergi.


“Bang,” panggil Billa


“Iya.” jawabnya lembut.


“Apa ada yang ingin Abang katakan?” Lagi, Billa menatap Shaleh dengan selidik. Shaleh diam sejenak.


“Tidak ada, Bila. Hanya ingin berkunjung, kata Ibuku, kalian ada di Batam, ia menyuruhku berkunjung dan bertamu. Biasalah, orang tua akan mengomel jika kita tak saling berkunjung dengan tetangga kampung kita.” Ia tersenyum renyah. Namun, Billa bisa melihat, senyuman yang ia cetak itu masih tampak palsu dan dipaksakan.


“Kalau begitu, Abang harus berkunjung lagi, ya, besok.” pinta Billa masih tak percaya. Ingin rasanya ia bertanya apa yang ada dalam pikirannya. Namun, ia urungkan.


“Insyaallah.” jawab Shaleh, kemudian berdiri. “Semoga nanti proses persalinanmu lancar, kamu dan calon bayimu sehat. Assalamu'alaikum, Billa.” pamitnya, lantas berlalu pergi.


“Wa'alaikumsalam.” jawab Billa masih menatap punggung Shaleh yang pergi dari rumahnya.


~~

__ADS_1


“Yeeeaay! Adik dapat nilai bagus!” teriak Ardhen.


“Kakak juga, lihat nih.” Arhen pamer nilai rapornya pada Ardhen.


Andrean dan Sakinah sudah menunggu sejak tadi, duduk di sofa. Tiga anak laki-laki itu meminta mereka menunggu di rumah, ingin menunjukkan nilai mereka di rumah saja.


Arsen dengan jumawa mendengus. “Abang gak tau sih, apakah nilai itu bagus atau tidak, tapi Abang cuma dikasih ini sih, Mom. Ini buat Mom.” Hadiah dan Piala ia persembahkan pada Sakinah.


Bisa di tebak 'kan kalau anak itu mendapatkan nilai paling terbaik, juara umum. Arhen dan Ardhen sama-sama mendengus. “Walaupun kami tidak punya piala, kami dapat peringkat kelas kok!” protes Arhen.


“Hu'uh.” jawab Ardhen menimpali.


“Sini, duduk di pangkuan Mom. Kalian semua adalah kebanggaan Mom dan Papa. Kalian putra-putra terbaik.” Sakinah mencium pipi ketiga putranya, lalu Andrean juga mencium pipi dan mengusap kepala sikembar.


“Kalian mau hadiah apa dari Papa?” tanya Andrean.


“Tidak ada!” jawab Arsen.


“Aku mau studio khusus untukku, Pa.” sahut Arhen.


“Aku ingin kuliah di Italia, Pa.” balas Ardhen.


Andrean menatap ketiga putranya yang menjawab serempak tapi tumben berbeda.


“Baiklah, Papa akan mengabulkannya. Kalau kamu mau apa, Nak?” Andrean menatap Arsen.


“Jika Adik ingin kuliah di Italia, aku ingin kuliah di Harvard.” jawab Arsen.


“Baiklah. Setelah kalian besar.” Arsen mengusap kepala putranya itu.


“Oh, ya, kita jadi 'kan pulang ke Indonesia Mom, Pa?” tanya Arhen.


“Hm, tentu. Papa sudah menyiapkan semuanya, kamu tenang saja.” jawab Andrean tersenyum. “kalau begitu, ayo, kita simpan dulu piala milik Abang.” ajak Andrean.


Tiga anak laki-laki itu mengikuti langkah Andrean yang menuju lemari besar di sebuah ruangan yang jarang sekali di buka.


“Waaaaw!!!” tiga anak laki-laki itu ternganga.

__ADS_1


__ADS_2