
Vindo dan Arsen tampak berwajah suram mengotak atik laptop. Di ruangan khusus, bersebalahan dengan ruangan Presdir, ada ruangan yang isinya hanya komputer, laptop, hp, tablet, dan beberapa alat komunikasi lainnya. Sekali-kali Hans mengintip, meletakkan air mineral dan bertanya apa yang dibutuhkan Arsen.
“Kak, bawa data terbaru tentang Lawsen kemari!” Arsen berkata pada Hans sambil memijit pelipisnya. Ia merasa cukup pusing dengan masalah baru ini. “Bagaimana?” Lalu menoleh pada Vindo.
“Hm, susah membobolnya Tuan Muda, sepertinya ada beberapa orang yang bekerja sama untuk melakukan ini semua.” Vindo tak kalah berkeringatnya dari Arsen, mereka berdua sudah 3 jam di ruangan ini.
Arsen terus berpikir dan mencoba, ia jadi teringat perkataan adiknya, Arhen. “Abang, jangan sampai takabur ya! Ingat, di atas langit masih ada langit, dan di atasnya lagi, masih ada lagi! Kau harus tetap belajar mengasah kemampuanmu! Bukankah yang jago IT cukup banyak, waktu di sekolah 'kan ada 15 murid dan tiga orang menonjol, salah satunya Abang! Walaupun, kini terhebat kamu, bisa saja yang tidak mencolok menjadi lebih hebat karena dia terus mengasah kemampuannya, jadi ... ayo bantu aku!”
Disebalik ucapan yang menguntungkan untuk dirinya sendiri, Arhen telah meninggalkan nasehat yang baik untuk kakak laki-lakinya. “Vin, kamu masuk ke jaringan perusahaan ini, aku akan mencari data dua orang teman sekolah ku dulu.” pintanya pada Vindo dengan menunjukkan link sebuah perusahaan, kemudian ia merenung dan bergumam sendiri. ‘Tidak ada orang hebat yang bisa memblokir ku selama ini, apakah ini perbuatan mereka? Diantara mereka berdua, hanya dia yang membutuhkan uang, apakah-?’ Arsen langsung mengotak-atik kembali laptopnya.
**
Arhen telah tiba di Jakarta, teriakan histeris dan sambutan hangat para fans telah meledak di bandara, hingga kerumunan sampai ia masuk ke dalam mobil dan di iringi oleh mobil polisi untuk menjaga ketertiban dan keamanan.
“Ah, aku suka sikap antusias mereka,” gumam Arhen melihat dari kaca mobilnya. Papan nama, slogan dan fotonya di pajang di sepanjang jalan. Ia tersenyum senang.
“Apakah Tuan Muda yakin akan berhenti di dunia hiburan?” Lucas bertanya di sampingnya.
“Ya, Lucas. Aku ingin beristirahat sejenak, aku merasa lelah hidup dengan kepura-puraan, aku juga ingin merasakan kedamaian. Terkadang aku cemburu pada Abang, dia pintar, kaya dan bisa diandalkan, tapi hidupnya terlalu kaku dan dingin. Aku terkadang juga iri pada Ardhen, dia hidup santai, menikmati hidupnya dengan sederhana, memasakan Mom dan kami sekeluarga dengan suka cita, namun sikapnya yang seperti itu, membuat ia tidak peka pada lingkungan sekitar, ia hanya terlalu mencintai dunia masaknya. Makanya, walaupun aku sangat cinta dunia hiburan, aku ingin melihat ke sekitar, aku tak ingin menjadi orang yang tidak peka dan kaku! Jadi aku memilih istirahat, mengenal lingkungan sekitarku.” jelas Arhen.
“Aku ingin bertemu dengan seseorang, aku ingin hidup berdua dengan sederhana dengannya, aku ingin membagi hatiku hanya dengannya, bukan dengan semua orang, lalu aku menebar kata cinta pada semua penjuru.” Arhen menyibakkan rambutnya ke belakang. Mengingat setiap pertemuan dengan fans ia selalu mengatakan cinta dan tersenyum manis.
__ADS_1
“Tuan Muda, kau memang diciptakan Tuhan menjadi seorang pria cantik yang tampan!”
“Hei! Kau kesurupan? Aku menjawab pertanyaanmu sepanjang itu, kau malah ingin menggombaliku.” Arhen mengerucutkan bibirnya sok imut.
“Itulah kebenarannya, kau berdiri di dunia hiburan karena kau memiliki bakat yang didukung oleh fisikmu yang bagus dengan perawakan wajahmu yang sempurna. Jangan pernah iri dan cemburu, mungkin saja Tuan Muda Arsen dan Ardhen juga pernah merasakan itu pada Anda, kalian 'kan kembar, bisa merasakan perasaan satu sama lain.”
“Ck, sok tahu! Kami ini berbeda karakter dan rupa sejak bayi! Abang manusia dingin itu tak punya rasa iri dan cemburu, apalagi Ardhen, adikku yang lembut dan tidak peka itu. Yang dia tahu cuma memasak.” Arhen mendengus, lalu membuka permen, memakan permen itu.
“Tapi, aku rasa setiap orang pasti akan merasakan kejenuhan, cemburu dan iri akan sesuatu hal, itu wajar.”
“Hei, kau kenapa? Sejak tadi kudengar, kau seolah tak ingin aku berhenti.” Arhen menatap Lucas penuh selidik.
“Jika kau berhenti, aku harus kerja di mana lagi. Aku suka bekerja denganmu, Tuan Muda,” jawab Lucas jujur dengan pipi yang merah merona.
Kini, mobil telah berhenti di sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Mereka berdua di sambut dan diantar ke kamar Presidential Suite.
Arhen langsung merendam dirinya di dalam bathup setelah beberapa saat duduk di dalam kamar. Sedangkan Lucas, langsung sibuk untuk mempersiapkan keperluan dan menyusun skedul kegiatan untuk acara nanti.
“Tuan Muda, pakaian Anda telah saya siapkan di atas ranjang, aku akan turun dulu mencari cemilan,” pamit Lucas.
“Ok, kau hati-hati dan jangan lama!”
__ADS_1
**
“Hei Nur, cepat!” Mutiara menarik tangan Aini agar segera pergi ke hotel, karena mereka sudah sangat terlambat, gara-gara melayani tamu yang meminta dibelikan makanan ini dan itu di sebrang jalan.
“Iya, Tiara.” jawab Aini.
Nuraini Putri, nama lengkap Aini, ia baru saja bekerja seminggu di groub perusahaan pelayanan jasa seperti asisten rumah tangga, baby sister, dan cleaning servis. Ini adalah hari keduanya di kirim ke hotel untuk menjadi tukang bersih-bersih. Karena nama awalnya Nur, hingga ia dipanggil oleh teman-temannya dengan nama Nur.
Bukan hanya itu, hampir semua orang yang mengenalnya di Jakarta, memanggil dirinya dengan panggilan Nur, hanya adiknya Ramadhan lah yang memanggil dirinya dengan Uni Aini.
“Ayo, lari!” ajak Mutiara.
Mereka berdua pun berlari dengan sangat terburu-buru. “Sini, sini, biar aku yang bawa saja! Aku akan antarkan ke kamar itu, kau cepat isi data masuk kita di absen pelayan!” pinta Mutiara, ia mengambil dua kantong kresek berwarna putih yang berisi makanan dari tangan Aini. Ia pun bergegas berlari.
Aini pun juga berlari dan di saat ia berbelok, ia menabrak seorang pria yang sangat tampan.
Bruk!
“Awch!” Aini mengaduh kesakitan, tangan, kaki dan dadanya terhempas kuat ke lantai.
Pria tampan itu membantu Aini berdiri. “Maaf, Anda tidak apa-apa Nona?” tanyanya menatap Aini.
__ADS_1
Aini berusaha bangkit dan menatap pria tampan itu tak berkedip.