Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Dingin


__ADS_3

Tak terasa, mereka sudah memancing hampir 2 jam lamanya, jam tangan Agung sudah berbunyi. “Sanak, sudah waktunya pulang!” soraknya mengingatkan.


Semuanya pun bersiap dan berkumpul, mereka membagi ikan pancingan agar dapat sama adil. Akan tetapi, Ardhen mendapatkan ikan paling banyak, karena ia menyukai ikan gabus, sedangkan anak-anak desa hanya fokus dengan belut, lele rawa dan lainnya, kecuali ikan gabus. Mereka sering mengatakan ikan gabus itu dari kodok.


“Hahaha! Gak mungkinlah dari kodok!” tolak Ardhen. Ia tahu, karena teman-teman barunya tidak suka, malah beralasan ikan gabus terbuat dari kodok.


Sepanjang perjalanan, mereka berbincang ini dan itu sambil tertawa, Arsen tersenyum senang. Waktu ia pulang dengan Billa saat itu, ia tidak bertemu dengan kelompok anak-anak ini. ‘Hm, apakah saat itu ... karena aku terlalu fokus sama tes DNA kekerabatan Ayah Ardi, ya? Fokus ingin tahu siapa ayah kandung kami. Akan tetapi sekarang, aku bisa menikmati waktu menyenangkan di desa Mom karena telah menemukan ayah kandung kami, Papa Andrean.’ gumam Arsen dalam hati.


“Eh, eh, tunggu, deh!” Tiba-tiba saja, Agung menghentikan langkah semuanya.


“Ada apa sih, Gung?!” tanya Sudin.


“Eh, wajah Arhen mirip deh, dengan poster di jalan ini, ayo, lihat!” Agung menunjuk poster besar yang terpampang di jalan. “Foto ini 'kan juga terpampang besar di tugu selamat datang di desa kita loh!”


“Ah, iya, ya. Wajahmu mirip loh dengan foto ini Arhen.” seru yang lainnya.


Sikembar langsung membulatkan matanya. Apalagi Arhen langsung berdebar. Untuk pertama kalinya ia tidak berbangga hati saat dikenali, tapi ia menjadi khawatir dan cemas, bagaimana jika teman-teman mereka ini tidak mau berteman dengan mereka lagi.


‘Apa mereka akan terkejut dan berubah sikap padaku?’ gumam Arhen.


‘Waduh, bahaya, apakah mereka tak mau lagi berteman dengan kami nanti?’ Ardhen bermonolog dengan hatinya.


‘Apakah perkataan anak haram akan terlontar dari mulut mereka, saat mengetahui kami anak Mom, sama seperti saat aku ke desa waktu itu?!’ pikir Arsen.


“Hahahha! Udah jangan tegang begitu. 'Kan cuma mirip, bukan beneran. Kalau beneran kamu yang diposter itu, pasti Ibuku langsung minta tanda tanganmu!” ujar Sudin terkekeh.


“Ah, gi-gitu, ya!” jawab Arhen gugup. “mungkin hanya mirip saja.” lanjut Arhen lagi memaksakan senyum.


“Iya, ayo, kita harus segera pulang, sebelum malam semakin larut. Kalau terlalu malam nanti ada .... hihihihi.” bisik Agung menakut-nakuti dengan suara hantu terkikik.


“Aguuuuuuung!” Semua teman-teman memukulnya dan akhirnya mereka semua berlari ketakutan termasuk sikembar.


“Uh, ah, uh, ah!” Mereka menghela nafas setelah sampai di rumah masing-masing.

__ADS_1


“Loh, kok lari-lari, sih?” tanya Sakinah lembut.


“Eh, Mom.” Sikembar langsung mencium punggung tangan Sakinah. “Itu, Mom, temanku yang bernama Agung menakut-nakuti kami dengan suara hantu.” jawab Arhen ngos-ngosan.


“Hantu 'kan gak ada, kenapa mau ditakut-takuti.” ucap Sakinah tersenyum. “Nah, sekarang ganti baju, cuci badan, ikan yang didapat serahkan saja pada Bibi, biar Bibi bersihkan dan masukkan dalam kulkas.”


“Ok, Mom.” jawab mereka, lantas berlalu pergi dari sana.


Sudah jam satu malam, Sakinah sejak tadi menunggu suaminya tercinta. “Kakak belum tidur?” tanya Rukhsa, ia menghampiri Sakinah yang bolak balik sejak tadi diteras.


“Iya, nih. Suami Kakak belum pulang sejak tadi.” jawab Sakinah.


“Gak usah cemas, Kak. Tadi Kakak Ipar sama Pak RT dan bapak-bapak lainnya. Sepertinya mereka musyawarah tentang pembangunan bendungan di sarasah marabuak deh, di pos ronda.” jelas Ruksha.


“Oh, gitu, ya.”


“Iya. Nih, air minum baru aku ambil. Kakak minum dulu deh.” Rukhsa memberikan segelas air minum yang ia pegang, tadinya hendak ia minum, namun ia berikan pada Sakinah karena wajah sang kakak tampak khawatir.


Tak lama, Andrean diantarkan pulang oleh warga yang searah dengan rumah Sakinah. “Tuh, Kakak Ipar udah pulang, aku masuk duluan, Kak.” pamit Rukhsa.


“Sayang.” sapa Sakinah, Ia langsung mencium punggung tangan Andrean. “Kok lama pulangnya?” Sakinah mengambil sarung dan peci Andrean. Ia melipat sarung dengan rapi, lalu menggandeng Andrean masuk ke dalam kamar.


“Hm, ada musyawarah tentang pembangunan bendungan air terjun marabuak. Juga rencana penerimaan beberapa karyawan dari desa ini. Rencana aku akan membantu pemuda di sini terlebih dahulu untuk lulus di PT saya, syarat minimal tamat SMA. Ada pun untuk OB atau OG minimal tamat SMP.” jelas Andrean.


Sakinah memeluk Andrean. “Makasih, Sayang.” Mengecup bibir Andrean sekilas.


“Sayang, apa kau sedang menggodaku? Ingin memberikan hadiah untuk kebaikanku 'kan?” tanyanya dengan tatapan mesum, mulai menyentuh lengan Sakinah, membenamkan wajahnya di ceruk leher Sakinah.


“Hei, aku tidak sedang menggoda.” Sakinah mendorong kepala Andrean pelan.


“Akan tetapi, aku merasa kau sedang menggodaku, Sayang.” Ia mengecup tangan yang mendorong kepalanya itu.


Perlahan ciuman itu mulai menjalar dari tangan ke bahu, leher, bibir, seluruh wajah, dada dan berakhir pada penyatuan cinta mereka.

__ADS_1


~~


Sakinah telah memasakkan air sepanci besar karena di sini bukanlah mansion mewah Andrean yang memiliki air shower hangat. Andrean berjongkok kedinginan. “Sayang, aku tak kuat mandi sedingin es begini, kenapa desamu terasa dingin seperti musim salju.” Dagu Andrean bahkan bergetar saat bicara.


Sakinah tersenyum kecil. “Namanya juga desa, airnya murni dari pegunungan, ya, seger lah. Udah, ayo, mandi. Nanti gak dingin lagi kok.” ajak Sakinah.


Mereka mandi berdua dengan secepat kilat, biasanya kalau di Belanda, jika mandi berdua, dijamin bukannya mandi, Andrean malah menggendongnya ke ranjang. Kali ini, lelaki gagah itu benar-benar kedinginan walau sudah mandi di campur air panas.


“Lihat tuh, anak-anak saja mandi gak bilang dingin!” Sakinah menunjuk Sikembar yang juga telah selesai mandi di kamar mandi sebelah.


Andrean menatap semua orang, Ayah Sakinah, anak-anak sudah mandi. Rukhsa sepertinya juga sudah mandi, pakaiannya sudah diganti. pikir Andrean, karena ia tak bisa melihat rambut basah Rukhsa yang ditutupi pakai hijab.


~~


Sikembar dan Rukhsa berjalan terlebih dahulu ke Mushola sedangkan Andrean mengikuti dari belakang.


“Ayo, Yah. Kita sholat berjamaah juga.” ajak Sakinah setelah melepas kepergian adik, suaminya dan anak-anaknya, dengan mengunci pintu. Ia mendudukkan sang ayah di sajadah, karena tidak kuat lagi berdiri, Ayah Sakinah hanya bisa sholat duduk.


“Hei, Arhen, Ardhen, Arsen!” seru Sudin dan Agung.


“Hei!” balas sikembar.


“Kalian juga ikutan didikan subuh, ya?” tanya Agung.


“Hm, enggak, cuma ikut Bibi Rukhsa aja.” jawab Arhen.


“Oh, kirain. Ayo, kita ambil shaf!” ajaknya.


Di sudut sana, anak yang kemarin menganggu sikembar di sungai tengah menatap tajam, ia berbisik-bisik dan menunjuk ke arah sikembar. Lalu, seorang pemuda remaja menoleh pada Sikembar.


“Paja pangadu! Bagak dikandang!” sinis Sudin. (Dia suka mengadu, berani di kandang)


“Dia siapa?” tanya Arsen berbisik pada Sudin.

__ADS_1


“Oh, dia itu Erik anak Tek Sariman, pemuda di sebelahnya itu, abangnya yang bernama Edi, mereka sama aja, belagu, sok, di lawan nangis.” sindir Sudin berbisik membalas pertanyaan Arsen.


__ADS_2