Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Gara-gara Roselia


__ADS_3

Dua pemuda tampan itu jelas mengerti delikan tajam Andrean.


“Mom, tadi kami berdua jalan-jalan buat beliin Mom hadiah, agak lama karena semua hadiahnya bagus, kami sampai berdebat, maaf ya, kami pulang terlambat,” Arhen menjelaskan alasan mereka terlambat.


“Syukurlah, Mom sampai cemas, karena Papa kalian sudah pulang dari acara itu, Papa bilang kalian tadi sudah duluan pergi,” sahut Sakinah mengelus kepala kedua putranya yang sudah sangat tinggi, sehingga ia harus mendongak ke atas dan tentunya kedua pemuda tampan itu harus sedikit merunduk saat melihat tangan Sakinah terulur.


“Mana hadiahnya Bang, keluarin!” pinta Arhen. Arsen mengeluarkan sebuah mainan kerang yang terlihat unik dan lucu.


“Buat Mila ada 'kan?” tanya Sakinah setelah mengambil hadiah itu.


“Ada Mom, besok pagi Abang berikan pada Princess Milla,” jawabnya.


“Oh, baguslah! Kalau tidak, kalian tahu 'kan bagaimana sikap adik kalian itu!” tutur Sakinah.


“ Iya, Mom. Kami ingat, kalau begitu kami ke atas dulu Mom,” pamit Arsen dan Arhen. Sakinah mengangguk sambil tersenyum.


“Ekhem, kamu duluan saja istirahat di kamar ya, Sayang. Ada yang mau aku bicarakan dulu sama Arsen.”


“Oh, baiklah, ingat jangan terlalu lama sampai kalian begadang, ingat umur dan kesehatan!” Sakinah mengelus pipi Andrean, kemudian mengecupnya kiri dan kanan, lantas berlalu pergi.


Tak lama, Andrean mengetuk kamar sikembar. Kamar yang sangat luas, masih memiliki tiga kasur di satu ruangan itu, sejak kecil hingga sekarang, mereka masih tak ingin berpisah kamar.


“Sudah tidur!” jawab Arhen keceplosan. Lalu menutup mulutnya.


“Bodoh!” dengus Arsen. Kemudian berdiri dan membuka pintu kamar, Arhen hanya bisa nyengir.


Andrean langsung masuk ke dalam kamar dan memilih duduk di tepi ranjang, Arsen yang membuka pintu langsung menutupnya kembali setelah Andrean masuk.


Andrean duduk dengan kaki saling berhimpit, tangannya ia sedekapkan di dada, menatap kedua putranya. “Kemana saja kalian berdua tadi?” tanyanya.


“Kami hanya duduk di pantai, Pa.” jawab Arsen.


“Lalu?”

__ADS_1


“Duduk di pantai berdua saja, apa Papa berharap kami menemukan putri duyung untuk kami kencani?” sambung Arhen.


Andrean mendesah mendengar nya. “Karena kau sudah bahas kencan, Papa jadi terpikirkan gosip-gosip yang beredar selama ini, apa gosip itu benar, Arhen?” Andrean menatap Arhen serius.


“Menurut Papa?” Arhen malah bertanya balik.


“Arsen, apa pendapatmu, bukankah biasanya kau bisa mengatasi semua ini? Kenapa kali ini kau biarkan skandal itu menyerang Arhen?” Andrean menatap Arsen.


“Buah tak akan jatuh jauh dari batangnya, Pa.”


Deg! Andrean langsung terdiam mendengar ucapan Arsen.


Suasana langsung menjadi hening beberapa saat. “Tetapi ... jika Mom kalian tau-” ucapan Andrean langsung dipotong Arsen tegas.


“Mom tidak akan pernah tahu selama Mom masih berada di mansion dan pergi sepengatahuanku, semua Pelayan sudah kuingat kan jangan memainkan hp sembarangan apalagi meminjamkan Mom hp mereka, tidak ada yang boleh membahas skandal Arhen didekat Mom dan Princes Mila. Aku juga sudah memasang kamera pengintai disetiap sudut. Sudah mengatur siaran apa yang bisa mom tonton, sudah mengatur hp Mom juga,” jelas Arsen.


“Hm,” sahut Andrean.


“Karena di dunia ini tak ada yang lebih berharga dari pada bahagia di sini! Ini melebihi segalanya, melebihi ketenaran, kekayaan, dan kemewahan.” Andrean mengelus kepala Arhen, lantas beranjak pergi ke luar.


Arhen dan Arsen terdiam sejenak, lalu Arhen menghempaskan tubuhnya di atas ranjang miliknya.


Arsen melepas pakaiannya, hendak membersihkan diri. Sedangkan Arhen sudah membersihkan diri terlebih dahulu tadi, sebelum Andrean masuk ke dalam kamar.


“Bang, apa menurutmu Papa tidak percaya padaku?” tanya Arhen, wajahnya ia tekuk ke dalam bantal yang ia peluk.


“Kau bicara apa? Tidak jelas!” Arsen menarik handuk, bersiap ke kamar mandi.


Arhen melempar bantalnya sembarangan, lalu duduk dari tidurnya. “Apa Papa tidak percaya padaku, Bang?”


Arsen berhenti tepat di pintu kamar mandi. “Tanyalah pada hatimu sendiri!” Setelah menjawab seperti itu, Arsen langsung masuk ke dalam kamar mandi. Merendam tubuhnya dengan air hangat beraroma terapi lembut yang menyegarkan.


Ia pejamkan matanya, teringat di saat kemarin ia datang ke apartemen dengan berbagai alasan. Roselia gadis yang sangat ia ingin lihat itu masih bersikap biasa padanya, coklat itu masih utuh dalam kotak dengan bungkusnya, bunga yang ia berikan tidak dipress seperti bunga Arhen. Lalu, bunga 99 mawar yang ia berikan, gadis itu tak bisa menebak darinya, malah mengatakan pemberian kakak laki-lakinya.

__ADS_1


Cemburu, kesal, marah, menjadi satu gara-gara Roselia. Selama hidupnya, ia selalu mendapatkan apapun yang ia mau, uang, kekuasaan, pengakuan, apalagi? Wanita juga banyak yang terpesona dengannya.


‘Kenapa sih, dia berubah? Bukannya dulu dia suka padaku? Satu-satunya perempuan yang memberikanku hadiah? Satu-satunya perempuan yang begitu percaya diri mendekatiku dan mempedulikanku!’ gumam Arsen mendesah.


‘Apa aku tidak menarik lagi di matanya? Apa aku tidak tampan lagi? Apa dia tertarik pada Arhen karena ramah? Memangnya waktu kecil sikapku bagaimana?’ Arsen bermonolog dengan pikirannya.


“Apa alasannya?” teriak Arsen kesal.


“Woy, Bang! Kau kenapa?” Arhen mengetuk pintu kamar setelah mendengar teriakan Arhen, namun teriakan itu terdengar kurang jelas apa yang diucapkannya.


Arsen langsung menutup mulutnya. ‘Ahhh! Kenapa aku harus memikirkan dia juga! Dia 'kan yang lebih duluan suka padaku! Palingan sekarang dia itu lagi jual mahal aja! Seperti buku yang aku baca, perempuan itu suka kalau laki-laki yang harus lebih agresif dan mengejarnya. Baiklah, aku paham!’


“Aku tidak apa-apa, aku hanya kesal karena terpeleset!” sahut Arsen berteriak.


“Oh! Cepatlah mandi, jangan terlalu lama! Nanti kau masuk angin, Bang!”


“Ya!” jawab Arsen.


Tak lama, Arsen keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, rambut hitam legamnya basah dan terlihat diujungnya buliran air yang hendak menetes turun. Sangat tampan, sexsy dan bisa menggoda kaum hawa.


Arhen duduk dengan memeluk bantal, kemudian menatap pada Arsen yang baru saja keluar kamar mandi. Arsen langsung menuju lemari pakaian, meletakkan pakaian yang sudah ia ambil di ranjang, hendak memakainya.


Sebelum memakai pakaiannya, ia meraih bantal dan melemparkannya pada Arhen. “Kenapa kau menatapku sejak tadi?” serunya kesal.


“Ahahaha! Kau terlihat sangat tampan dan memesona, Bang!” Arhen menjawabnya dengan terkekeh.


“Aku tahu, aku tampan! Aku tak butuh pujianmu yang penuh dengan maksud itu!”


“Tidak, kali ini aku sungguh memujimu tanpa meminta imbalan. Kau benar-benar tampan, Bang! Pantas saja para ladies di acara tadi, menatapmu penuh gai*rah mem*bara!" Arhen terkekeh kecil di ujung kalimatnya.


Arsen menoleh dan menatap tajam pada Arhen, kemudian melempar guling ke wajah adiknya itu.


“Ahahahaha!” Arhen malah terkekeh dan membalas melempar bantal pada Arsen, sehingga dua beradik kakak itu malah main lempar bantal.

__ADS_1


__ADS_2